NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: BALAS DENDAM SANG NYONYA MAFIA

Alana masih mematung di kursi kebesaran Arkano. Layar ponsel yang tadi menampilkan wajah Komisaris Hendra sudah gelap, namun bayangan senyum licik atasannya itu masih tertanam jelas di ingatan. Pengkhianatan itu terasa lebih menyakitkan daripada peluru yang menembus daging.

"Sudah selesai menangisnya?" suara Arkano memecah keheningan.

Arkano berdiri di dekat jendela besar kantornya, menatap ke arah halaman mansion yang dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas kristal, lalu menyesapnya perlahan.

Alana mendongak. Matanya yang semula penuh air mata kini berubah menjadi dingin dan tajam. "Kau tahu sejak awal. Kau sengaja membiarkan aku masuk ke sini hanya untuk menertawakanku, kan?"

Arkano berbalik. Ia meletakkan gelasnya di meja, lalu berjalan mendekati Alana. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi, mengurung Alana dalam jarak yang sangat dekat.

"Aku tidak pernah menertawakanmu, Alana. Aku hanya memberimu kenyataan. Di duniaku, kau tahu siapa musuhmu karena mereka memegang pistol di depan wajahmu. Di duniamu, musuhmu adalah orang yang menjabat tanganmu sambil menyembunyikan pisau di balik punggung."

Alana mengepalkan tangannya di bawah meja. "Hendra... dia harus membayar ini."

"Tentu saja dia harus membayar," sahut Arkano sambil menyeringai. Jari jemarinya mengusap dagu Alana yang masih basah. "Tapi kau tidak punya kekuatan apa-apa sekarang. Kau hanya seorang istri mafia yang baru saja kehilangan identitasnya. Kau ingin membalas dendam? Caranya bukan dengan menangis."

"Lalu apa?" tantang Alana. "Menyerah padamu?"

Arkano berdiri tegak kembali. "Gunakan aku, Alana. Gunakan kekuasaanku, senjataku, dan namaku untuk menghancurkan pria yang sudah menjualmu. Jadilah Nyonya Dirgantara yang sesungguhnya, bukan sekadar mata-mata yang gemetar ketakutan di sudut ruangan."

Alana terdiam. Tawaran itu sangat menggiurkan sekaligus mengerikan. Jika ia menerima, tidak ada jalan kembali. Ia akan benar-benar menjadi bagian dari dunia gelap ini. Namun, bayangan wajah Rian yang babak belur di bawah tanah membuatnya mengambil keputusan cepat.

"Lepaskan Rian dan timnya," tuntut Alana. "Itu syarat pertamaku."

Arkano menaikkan sebelah alisnya. "Kau masih ingin melindungi mereka?"

"Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya menjalankan perintah Hendra. Mereka bukan bagian dari permainan kotor ini. Lepaskan mereka ke tempat yang aman, maka aku akan melakukan apa pun yang kau mau."

Arkano terdiam sejenak, menatap Alana seolah sedang menimbang-nimbang nilai kesepakatan itu. "Apapun yang aku mau?"

"Apapun," jawab Alana tegas, meski jantungnya berdegup kencang.

Arkano tersenyum puas. Ia menekan tombol interkom di mejanya. "Marco, bawa tawanan ke perbatasan kota. Beri mereka uang dan peringatkan untuk tidak pernah kembali ke profesi lama mereka jika masih ingin bernapas. Jika aku melihat mereka lagi, itu akan menjadi hari terakhir mereka."

"Terima kasih," bisik Alana.

"Jangan berterima kasih padaku," potong Arkano cepat. "Ingat janji itu, Sayang. Mulai malam ini, kau milikku sepenuhnya. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi laporan untuk kepolisian. Kau akan berada di sampingku dalam setiap urusan Dirgantara."

Malam itu, Arkano mengadakan jamuan makan malam formal. Bukan jamuan biasa, melainkan pertemuan dengan beberapa kolega bisnis gelapnya. Ia ingin memperkenalkan Alana secara resmi.

Alana berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun sutra hitam dengan belahan tinggi di bagian paha. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang kini dihiasi kalung berlian senilai miliaran rupiah.

Cklek.

Pintu kamar terbuka. Arkano masuk dengan setelan tuksedo yang sangat rapi. Pria itu tampak sangat tampan dan berkuasa. Ia berdiri di belakang Alana, menatap pantulan istrinya di cermin.

"Kau terlihat mematikan, Alana. Persis seperti julukanmu, Silent Cat," puji Arkano sambil melingkarkan tangannya di pinggang Alana.

Alana menatap pantulan tangan Arkano di perutnya. "Apa yang harus aku lakukan di bawah sana?"

"Tersenyum. Jadilah cantik. Dan yang paling penting, tunjukkan pada mereka bahwa kau bukan hanya pajangan. Ada seorang pria bernama Baron yang akan datang malam ini. Dia adalah perantara utama Hendra. Aku ingin kau membuatnya merasa tidak nyaman."

Alana mengangguk. Ia mengerti permainannya.

Mereka turun ke aula makan malam. Ruangan itu dipenuhi pria-pria berpakaian mahal namun memiliki aura yang mengintimidasi. Saat Arkano masuk bersama Alana, suasana mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada wanita yang berhasil menaklukkan raja mafia yang terkenal dingin itu.

"Selamat malam, Tuan-tuan," suara Arkano bergema di ruangan. "Perkenalkan, ini istriku, Alana Dirgantara."

Mereka semua menunduk hormat. Alana menjaga wajahnya tetap datar dan elegan. Mereka duduk di kursi utama. Di seberang meja, seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan mata yang licik menatap Alana dengan penuh rasa ingin tahu. Itu Baron.

"Nyonya Dirgantara sangat mempesona," ujar Baron dengan suara serak. "Kudengar Anda dulunya adalah seorang abdi negara? Sungguh perubahan karir yang menarik."

Beberapa orang di meja makan itu terkekeh pelan. Itu adalah sebuah hinaan yang disamarkan.

Alana meletakkan garpunya perlahan. Ia menatap Baron tepat di matanya. "Kadang kita harus meninggalkan tempat yang penuh sampah untuk menemukan tempat yang lebih bersih, Tuan Baron. Bukankah Anda juga begitu? Kudengar Anda sangat ahli dalam membersihkan... uang kotor milik kepolisian?"

Suasana di meja makan mendadak tegang. Baron tersedak minumannya sendiri. Arkano yang duduk di samping Alana hanya tersenyum tipis, tampak sangat menikmati keberanian istrinya.

"Anda sangat blak-blakan, Nyonya," desis Baron, wajahnya memerah.

"Aku hanya suka kejujuran. Sama seperti suamiku," sahut Alana sambil melirik Arkano.

Setelah makan malam yang penuh ketegangan itu berakhir, Arkano membawa Alana ke balkon mansion. Angin malam yang dingin menerpa wajah mereka.

"Kau melakukannya dengan baik," ujar Arkano. "Baron akan segera melapor pada Hendra bahwa kau sudah berubah menjadi ancaman."

"Itu memang tujuanku," jawab Alana. "Aku ingin Hendra merasa tidak tenang. Aku ingin dia tahu bahwa agen terbaiknya sekarang adalah musuh terbesarnya."

Arkano menarik Alana mendekat, menyandarkan tubuh wanita itu di pagar balkon. Ia mengunci pandangan mata Alana. "Kau benar-benar sudah siap untuk perang ini, Alana?"

"Aku tidak punya pilihan lain, kan?"

"Kau selalu punya pilihan. Tapi kau memilih untuk tetap di sini, bersamaku," Arkano mendekatkan wajahnya. "Kenapa?"

Alana terdiam. Harusnya ia menjawab karena ia ingin balas dendam. Harusnya ia menjawab karena ia terpaksa. Tapi saat ia menatap mata Arkano, ia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang selama ini ia tekan dalam-dalam.

"Karena di sini, setidaknya aku tahu siapa yang jujur meskipun dia seorang monster," jawab Alana lirih.

Arkano tidak menjawab. Ia langsung membungkam bibir Alana dengan sebuah ciuman yang menuntut dan penuh gairah. Alana tidak menolak. Ia membalas ciuman itu, meluapkan semua rasa sakit, amarah, dan kebingungan yang ia rasakan.

Di bawah sinar bulan, Alana sadar bahwa identitasnya sebagai polisi sudah benar-benar mati. Di tempat ini, di pelukan pria ini, ia sedang terlahir kembali sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat mendekat ke balkon. Marco muncul dengan wajah serius.

"Tuan, ada masalah. Rian dan timnya... mereka tidak sampai ke perbatasan."

Alana langsung melepaskan diri dari Arkano. "Apa maksudmu?"

"Mobil yang membawa mereka dicegat di tengah jalan oleh pasukan tak dikenal. Mereka semua diculik, Tuan," lapor Marco.

Wajah Arkano seketika berubah menjadi gelap. Ia mengepalkan tangannya hingga urat-urat di lengannya menonjol. "Hendra... dia benar-benar menantangku."

Alana merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. "Rian..."

Arkano menoleh pada Alana, matanya berkilat penuh amarah. "Persiapkan dirimu, Alana. Balas dendammu dimulai lebih cepat dari yang kita rencanakan. Malam ini, kita akan meratakan markas Hendra."

Apakah Rian masih hidup? Dan mampukah Alana menarik pelatuknya saat harus berhadapan langsung dengan mantan atasannya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!