"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: HARGA SEBUAH KEBEBASAN
Tengah malam telah lewat. Villa mewah itu kini terbungkus dalam kegelapan yang menipu. Hanya suara jangkrik dan gesekan dahan pohon pinus yang terdengar, memberikan latar belakang bagi rencana nekat yang sudah lama disusun oleh Ghea.
Di dalam kamar, Ghea bergerak seperti hantu. Ia tidak mengenakan gaun sutranya, melainkan pakaian yang paling praktis yang ia temukan—setelan baju olahraga hitam milik Adrian yang ukurannya agak kebesaran namun memberinya ruang untuk bergerak. Ia telah mengikat rambutnya dengan kencang. Di saku celananya, ia menyimpan Kunci Titanium yang sudah tajam, dan di tangannya, ia memegang kartu akses perak hasil curiannya semalam.
Cklek.
Kartu itu bekerja. Pintu kamarnya terbuka tanpa bunyi alarm. Ghea menahan napas, menatap koridor yang hanya diterangi lampu sensor remang. Ia berjalan tanpa alas kaki agar langkahnya tidak terdengar di atas lantai kayu. Insting detektifnya kembali sepenuhnya; ia tahu di mana letak kamera CCTV dan ia bergerak di titik buta (blind spot) yang sudah ia pelajari.
Lantai bawah terasa sangat dingin. Ghea berhasil melewati ruang tengah dan menuju pintu belakang yang mengarah ke taman. Ia menggesekkan kartunya lagi.
Bip. Lampu hijau menyala.
Ghea keluar ke udara malam yang menusuk tulang. Ia tidak lewat jalur altar yang sedang disiapkan, melainkan memutar melewati semak-semak lebat menuju pagar luar yang berjarak sekitar dua ratus meter dari bangunan utama. Kakinya yang belum pulih benar terasa berdenyut sakit, namun adrenalin menghapus segalanya.
Sedikit lagi. Hanya beberapa langkah lagi, batin Ghea menyemangati dirinya sendiri.
Ia bisa melihat gerbang besi raksasa di kejauhan. Di sana terdapat pos penjaga kecil. Ghea tahu bahwa gerbang itu hanya bisa dibuka dengan kartu di tangannya. Ia merangkak di antara bayang-bayang pohon, hatinya membuncah oleh harapan. Ia membayangkan dirinya sampai di jalan raya, menghentikan kendaraan apa pun, dan kembali ke markas kepolisian.
Namun, saat ia sampai di dekat pos penjaga, langkahnya membeku.
Di bawah lampu neon pos yang berkedip, ia melihat sebuah pemandangan yang menghancurkan harapannya. Dua orang pria berbadan tegap—anak buah Adrian—sedang berdiri di sana. Dan di antara mereka, terduduk di tanah dengan tangan terikat dan mulut disumpal kain, adalah Bi Inah.
Wanita tua itu gemetar hebat. Sebuah laras senjata api dingin menempel di pelipisnya.
"Ghea?" sebuah suara bariton yang sangat tenang namun berwibawa terdengar dari balik bayangan pos.
Adrian keluar dari kegelapan. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja hitam dengan lengan digulung. Ia tampak sangat santai, seolah-olah ia memang sudah menunggu Ghea di sana sejak tadi. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet yang menampilkan titik merah di atas peta villa—pelacak yang ternyata tertanam di dalam kartu akses cadangan tersebut.
"Kau sungguh detektif yang cerdas," ujar Adrian sambil bertepuk tangan pelan. Suaranya terdengar penuh penghargaan yang mematikan. "Aku sengaja meninggalkan kartu itu di jas karena aku ingin tahu, seberapa besar keinginanmu untuk meninggalkanku."
Ghea berdiri dari persembunyiannya, napasnya tersengal. "Lepaskan Bi Inah, Adrian! Dia tidak tahu apa-apa!"
Adrian berjalan mendekati Bi Inah, mengusap kepala wanita tua itu dengan lembut, gerakan yang terlihat sangat kontras dengan senjata yang masih menempel di kepala Bi Inah. "Bi Inah adalah orang yang memberitahumu tentang gudang, bukan? Dia berkhianat padaku, Ghea. Dan kau tahu apa yang kulakukan pada pengkhianat."
"Ini bukan salahnya! Aku yang memaksanya!" teriak Ghea. Tangannya meraba kunci titanium di sakunya, namun ia tahu senjata kecil itu tidak akan berguna melawan senapan mesin di tangan anak buah Adrian.
Adrian berhenti melangkah dan menatap Ghea dengan sorot mata yang dingin dan penuh perhitungan. "Sekarang, aku akan memberimu sebuah pilihan. Sebuah ujian untuk calon istriku."
Adrian memberi isyarat pada anak buahnya untuk membuka kunci gerbang besar itu. Pintu besi itu berderit terbuka, menampakkan jalan setapak yang gelap menuju kebebasan.
"Gerbang itu terbuka, Ghea. Kau bisa lari sekarang. Aku berjanji, anak buahku tidak akan mengejarmu. Kau bisa kembali ke duniamu yang korup itu," Adrian memberi jeda, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Tapi, saat kakimu melangkah melewati garis gerbang itu, peluru ini akan menembus kepala Bi Inah. Dia akan mati karena kegigihanmu untuk pergi."
Ghea membelalak. "Kau gila, Adrian! Kau tidak mungkin membunuhnya!"
"Coba saja aku," tantang Adrian. "Pilihannya ada di tanganmu, Sayang. Kebebasanmu yang egois, atau nyawa wanita tua yang sudah membantumu ini? Jika kau kembali padaku sekarang, jika kau berjalan ke pelukanku dan mengakui kesalahanmu, Bi Inah akan tetap hidup dan dia akan kupindahkan ke tempat yang lebih baik."
Dunia Ghea seolah berhenti berputar. Gerbang itu terbuka lebar di depannya. Kebebasan yang ia impikan selama berminggu-minggu hanya berjarak sepuluh meter. Ia bisa lari, ia bisa mencari bantuan. Tapi ia melihat mata Bi Inah yang penuh air mata dan ketakutan. Bi Inah telah mempertaruhkan nyawanya untuk membisikkan kata "gudang" tempo hari.
Jika aku pergi, aku bukan lagi seorang polisi. Aku adalah seorang pembunuh, batin Ghea hancur.
Lutut Ghea gemetar. Harapan yang tadi menyala terang kini padam, menyisakan kegelapan yang lebih pekat dari malam itu sendiri. Ia menatap gerbang, lalu menatap Bi Inah, dan terakhir ia menatap Adrian—sang monster yang sedang tersenyum menanti kemenangannya.
"Pilih, Ghea. Waktumu lima detik," Adrian mulai menghitung. "Satu... dua... tiga..."
"BERHENTI!" teriak Ghea.
Ghea menjatuhkan kartu akses perak itu ke tanah. Ia menundukkan kepalanya, bahunya terguncang oleh isak tangis yang tertahan. Dengan langkah yang terasa seberat timah, ia berjalan membelakangi gerbang kebebasan dan melangkah mendekati Adrian.
Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti paku yang menghujam jantungnya. Ia telah menyerahkan dirinya kembali ke dalam sangkar.
Begitu Ghea sampai di depan Adrian, Adrian langsung menariknya ke dalam dekapan yang sangat erat. "Gadis pintar. Kau memilih cinta di atas segalanya. Aku bangga padamu."
Adrian memberi isyarat pada anak buahnya. Mereka melepaskan Bi Inah dan membawanya pergi. Adrian kemudian mengangkat dagu Ghea, memaksa wanita itu menatap matanya yang kini dipenuhi kilat posesif yang tak terbendung.
"Kau sudah mencoba kabur, Ghea. Dan setiap tindakan punya konsekuensi," bisik Adrian. "Mulai malam ini, aku tidak akan membiarkanmu berjalan terlalu jauh lagi."
Adrian menggendong Ghea kembali ke bangunan utama, sementara gerbang besi di belakang mereka tertutup dengan dentuman yang memekakkan telinga—suara pintu penjara yang kini terkunci untuk selamanya.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....