NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Perjanjian Di Balik Pintu Tertutup

Suasana kamar yang sempit itu terasa semakin menyesakkan. Dagu Amara masih berada dalam cengkeraman jemari Arlan yang kuat, memaksanya menatap sepasang mata gelap yang tampak berkilat antara amarah dan obsesi. Amara bisa merasakan napas hangat Arlan menerpa wajahnya, menciptakan sensasi aneh yang membuatnya merinding sekaligus lemas.

"Tuan... tolong, saya akan lakukan apa saja asal tidak dipecat," bisik Amara dengan suara serak. Air mata yang tersisa masih menggantung di bulu matanya yang lentik.

Arlan tidak langsung menjawab. Matanya kembali turun, menatap kaos tipis Amara yang kini tampak basah di dua titik bagian depan. Cairan itu mulai merembes, mempertegas bentuk dadanya yang penuh. Arlan merasakan tenggorokannya benar-benar kering. Logika seorang pengusaha sukses di kepalanya kini sedang bernegosiasi dengan insting liarnya sebagai seorang pria.

"Apa saja?" ulang Arlan dengan nada rendah yang berbahaya. Ia melepaskan dagu Amara, lalu mundur satu langkah sambil bersedekap, mencoba menguasai dirinya sendiri.

"I-iya, Tuan."

"Baik. Aku tidak akan memecatmu malam ini. Dokter bilang anakku memang membutuhkan asupan darimu karena dia menolak hal lain. Tapi, jangan berpikir kau bisa bersantai setelah kelancanganmu tadi," Arlan menatap Amara dengan tajam, memberikan tekanan pada setiap kata.

Amara mengangguk cepat, merasa ada secercah harapan. "Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak."

"Dengar syaratku," potong Arlan cepat. "Pertama, besok pagi kau harus menjalani pemeriksaan kesehatan total oleh dokter pribadiku. Aku harus memastikan tidak ada satu pun virus atau bakteri yang masuk ke tubuh anakku melalui dirimu. Mengerti?"

"Mengerti, Tuan."

"Kedua..." Arlan menjeda kalimatnya. Ia berjalan mengitari Amara seperti singa yang sedang mengitari mangsanya. "Mulai detik ini, kau dilarang keras menyusui Kenzo sendirian. Setiap kali Kenzo butuh asupan, kau harus melapor padaku. Dan aku... aku akan mengawasi prosesnya secara langsung di hadapanku."

Mata Amara membelalak. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi merah padam sekejap mata. "T-tapi Tuan... itu... itu sangat tidak sopan. Saya malu..."

"Malu?!" Arlan tertawa sinis, langkahnya kembali mendekat hingga dada bidangnya hampir menyentuh Amara. "Kau sudah menunjukkan semuanya di taman tadi tanpa izin. Sekarang kau bicara soal malu? Pilihannya hanya dua: kau menyusuinya di bawah pengawasanku untuk memastikan semuanya bersih dan benar, atau kau angkat kaki dari rumah ini sekarang juga tanpa membawa sepeser pun uang."

Amara meremas ujung kaosnya. Pilihan itu seperti buah simalakama. Jika ia pergi, keluarganya di desa akan menderita. Tapi jika ia setuju, ia harus menanggalkan rasa malunya di depan pria yang sangat mengintimidasi ini.

"Kenapa diam? Kau ingin adik-adikmu kelaparan hanya karena rasa malumu yang tidak berguna itu?" pancing Arlan, suaranya terdengar sangat manipulatif.

Amara memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan wajah ibunya yang lelah dan adik-adiknya yang polos melintas di benaknya. Dengan berat hati, ia akhirnya mengangguk kecil. "Baik, Tuan... saya setuju."

"Bagus," ucap Arlan dengan seringai tipis yang hampir tak terlihat. "Malam ini Kenzo sudah tidur. Besok pagi setelah pemeriksaan, kita akan mulai. Dan satu lagi, Amara..."

Arlan mendekatkan wajahnya ke telinga Amara, berbisik dengan suara serak yang membuat jantung Amara hampir copot. "Jangan coba-coba memeras asimu secara diam-diam. Aku ingin melihat setiap tetesnya masuk ke mulut anakku... atau mungkin, aku yang akan memastikannya sendiri nanti."

Setelah mengatakan itu, Arlan berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Amara yang luruh ke lantai. Amara menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa dunianya baru saja berubah menjadi penjara emas yang penuh dengan gairah yang membingungkan.

Sementara itu, di koridor yang gelap, Arlan menyentuh bibirnya sendiri. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia tahu, alasannya ingin "mengawasi" bukan sekadar soal kesehatan Kenzo. Ia hanya ingin kembali melihat keindahan merah muda yang sempat membuatnya kehilangan akal di taman tadi.

***

Matahari pagi mulai menembus tirai jendela, namun ketegangan di mansion Aditama justru semakin memuncak. Setelah menjalani pemeriksaan medis yang melelahkan oleh dokter pribadi Arlan—yang menyatakan Amara dalam kondisi kesehatan prima—tibalah saat yang paling Amara takuti.

Suara tangisan Kenzo mulai terdengar dari lantai atas, menandakan waktu makan pagi telah tiba. Amara berdiri gemetar di depan pintu kamar utama milik Arlan. Ia belum pernah masuk ke sana. Itu adalah wilayah terlarang bagi siapapun kecuali pelayan yang ditunjuk untuk membersihkannya.

Tok, tok, tok.

"Masuk," suara berat Arlan terdengar dari dalam.

Amara mendorong pintu jati besar itu. Kamar Arlan sangat luas, didominasi warna gelap dan aroma parfum kayu yang mahal. Di tengah ruangan, Arlan duduk di sofa kulit panjang sambil memangku Kenzo yang mulai rewel. Arlan sudah tidak memakai jasnya; ia hanya mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka.

"Kau terlambat dua menit," ucap Arlan tanpa menoleh, matanya terpaku pada Kenzo. "Kemari."

Amara melangkah mendekat dengan kepala tertunduk. "Maaf, Tuan."

"Duduk di sini," Arlan menepuk sisi sofa di sebelahnya.

Amara menelan ludah. Jarak itu terlalu dekat. "Tuan... b-bolehkah saya duduk di kursi seberang saja?"

Arlan mengangkat wajahnya, menatap Amara dengan tatapan dingin yang tak terbantahkan. "Aku bilang di sini, Amara. Aku harus memastikan posisi menyusunya benar agar Kenzo tidak tersedak. Jangan membuatku mengulang perintah."

Dengan tubuh gemetar, Amara duduk di samping Arlan. Ia bisa merasakan panas tubuh pria itu merambat ke kulitnya. Arlan kemudian menyerahkan Kenzo ke pelukan Amara. Begitu bayi itu berpindah tangan, Kenzo langsung meronta mencari-cari di dada Amara, membuat kaos yang dipakai Amara tertarik dan memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sangat berisi.

"Lakukan sekarang," perintah Arlan. Ia tidak bergerak sedikit pun, justru memperbaiki posisi duduknya agar bisa melihat dengan jelas dari jarak yang sangat dekat.

Tangan Amara gemetar hebat saat ia mulai membuka satu per satu kancing seragam barunya. Setiap inci kulit putih yang terbuka seolah membuat udara di kamar itu semakin menipis. Saat kain itu tersingkap, memperlihatkan dadanya yang bengkak dan penuh, Amara memejamkan mata rapat-rapat karena malu yang luar biasa.

"Kenapa ditutup? Lihat anakku," bisik Arlan. Suaranya terdengar serak, matanya tak berkedip menatap keindahan alami yang ada di depannya. Pemandangan itu jauh lebih menakjubkan daripada yang ia lihat di taman kemarin. Puting merah muda yang cantik itu kini nampak lebih gelap karena sedang terangsang secara hormonal oleh kehadiran bayi.

Kenzo langsung menyambar dengan rakus. Suara isapan yang tenang pun memenuhi keheningan kamar. Amara menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, namun ia sadar betul bahwa mata Arlan tidak pernah beralih dari dadanya.

Arlan merasa jantungnya berdebar kencang. Ia belum pernah melihat pemandangan seintimidasi sekaligus seindah ini. Ada dorongan aneh di dalam dirinya untuk ikut menyentuh kulit yang nampak selembut sutra itu.

"S-sudah benar posisinya, Tuan?" tanya Amara dengan suara yang hampir habis, mencoba memecah kecanggungan yang membakar.

Arlan tidak langsung menjawab. Ia justru sedikit mencondongkan tubuhnya, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari bahu Amara. Ia menghirup aroma manis asinya yang menyeruak ke udara.

"Posisi kepalanya sedikit kurang tinggi," gumam Arlan. Ia mengulurkan tangannya yang besar, telapak tangannya menyentuh bagian bawah dada Amara untuk membantu menyangga posisi Kenzo.

Sentuhan kulit kasar Arlan pada bagian sensitifnya membuat Amara tersentak. "Tuan..."

"Diamlah. Aku sedang membantumu," desis Arlan, namun jemarinya tidak segera ditarik. Ia justru perlahan merasakan kehangatan dan kekenyalan kulit Amara di bawah telapak tangannya.

Suasana menjadi sangat panas. Kenzo yang sedang menyusu dengan tenang seolah menjadi satu-satunya alasan mengapa Arlan masih bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh. Namun di mata Arlan, Amara bukan lagi sekadar pengasuh; ia adalah godaan paling nyata yang pernah masuk ke dalam hidupnya.

1
Naila Saputri
ini Amara seperti g ad harga diri y ,bus d bentak dan di hina oleh arlan ,mau aja d gituin
Bedjho
si Arlan minta di sapih 😭
Bedjho: 😭😭 pesona duda ga kaleng²🤌🏻
total 2 replies
Vicky Aulia
agak menyebalkan sih episode ini huhu
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok arlan jahat banget..udah kamu kanir aja amara...biar arlan nyesel...
Linda Ayu Tong-Tong
kasihan amara...adih arlan..kamu jadiin amara pelacurmu..jahat banget...lebih jahat dari peran arya🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
double 🤣🤣🤣
Linda Ayu Tong-Tong
you crazy arlan🤣🤣🤣
Naila Saputri
arlan udh gila 🤣🤣🤣
Achom
laah si Arlan dia yg salah godain Amara mlulu tp dia yg marah² hadeuhh 😑
Ikaculeng
tulisan terrtata dengan baik
Uthie
menarik ceritanya 👍👍👍
Uthie
mampir 👍
Linda Ayu Tong-Tong
thorrr gerah geraah thor🥵🤣
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok kyak diperlakukan kyak binatang
Linda Ayu Tong-Tong
oooohhh🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
waaaow panaasss,🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
next
Linda Ayu Tong-Tong
wakakaka panas dingin aq thor🤣
afaj
kwkwkwk untuk u g nenek bareng anak u arlan
Linda Ayu Tong-Tong
ohh arlan kamu ketagihan nenennya amara🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!