NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tiga belas

Alia masuk ke dalam aula dengan debar jantung yang berdetak semakin kencang, ia berusaha tenang dan terlihat biasa saja, langkah kakinya yang tenang dan bunyi hak sepatunya yang terdengar anggun, menunjukkan alia sudah mampu menguasai hatinya yang kalang kabut.

Alia menatap lurus ke depan, ketika mata pria itu, langit menatapnya tanpa jeda. tatapan langit yang begitu intens, seakan ingin menelanjangi alia yang tetap berjalan anggun menuju kursi di sisi bu wirda direktur devisi pemasaran.

Selama proses perkenalan setiap devisi, mata langit tidak berhenti menatap ke arah alia yang tidak perduli, bara menyadari tatapan langit, dan berulangkali mengingatkan langit untuk fokus.

Seperti biasa giliran devisi mereka selalu terakhir, detak jantung alia kembali berdetak kencang tidak beraturan, ketika tiba gilirannya untuk mengenalkan diri.

"Saya alia maharani pak, manager devisi pemasaran" ucap alia tenang, berusaha untuk tenang sebenarnya.

"Senang berkenalan dengan kamu alia" ujar langit dengan senyum separuhnya, mengulurkan tangan yang di sambut alia dengan tenang.

Alia tidak ingin pria di depannya ini merasa besar kepala merasa mampu mengintimidasi alia dengan senyum separuh miliknya.

"Sama-sama pak, saya mohon bimbingannya"

 jawab alia menggoyangkan tangan langit dengan mantap dan tenang, wajah pria itu berubah, ia tidak menyangka wanita yang ada di hadapannya ini begitu percaya diri.

"Baiklah.." sela bara cepat, ia tidak menyukai cara langit menatap alia, cara langit mengenggam wanita itu terlihat posesif dimata bara.

"Saya harap devisi pemasaran bisa bekerja sama dan membantu pak langit dengan baik, untuk beberapa minggu ini, saya masih akan disini, saya mohon kerja samanya" pinta bara dengan senyum khasnya, tangan langit yang mengenggam tangan alia pun sudah terlepas.

 Ada helaan lega terlihat dari bara dan juga alia, walau dengan sebab yang berbeda. Sebelum alia melangkah keluar mengikuti bu wirda dan fandi, ujung mata alia melirik ke arah langit, yang sempat mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum dengan smirknya yang menyebalkan.

"Sepertinya aku akan betah bekerja di sini, kamu bisa kembali ke jakarta" ucap langit santai, ia menyandarkan tubuhnya di kursi direktur utama, dengan gayanya yang sedikit urakan.

"Aku akan tetap di sini sampai kamu benar-benar paham" jawab bara melirik ke arah langit yang tersenyum sinis ke arahnya.

"Aku tak mau kamu merusak semua yang sudah aku bangun dari awal"

"Iya...iya" jawab langit memutar bola matanya malas.

 "lantas kenapa kamu tidak meminta tetap di sini? Ahhh yah...aku lupa pria tua itu tidak akan mengijinkan"

Terdengar tawa sumbang langit begitu mengejek, ia beranjak dari duduknya berdiri menatap keluar melalui jendela kaca dengan kedua tangan di saku celananya.

"Hhhhhh....., pria yang kamu panggil pria tua itu, menyayangimu tapi kamu seperti tidak menyukai kenyataaan itu"

Bara menghembuskan nafasnya kesal, entah mengapa setiap berbicara dengan langit selalu membuat bara kesal.

"Hahahahha, sayang, hahahhaah, ucapanmu lucu bara" tawa langit terdengar sumbang dan dipaksakan.

 "sejak kapan pria tua itu menyayangiku, aku hanya anak tirinya, dia hanya tidak sanggup membuangku, karena mama"

Bara melirik malas, pembahasan ini selalu membuat kepalanya pusing. Muak, yah muak, bara benar-benar muak mendengar ucapan langit, pria itu selalu merasa bahwa ia bukan bagian dari keluarga.

"Kalau papa tidak menyayangimu, untuk apa dia mempercayakan cabang ini kepadamu?"

"Bara..bara.., naif sekali dirimu, pria itu membuangku kemari, tapi tak apa, aku sudah menemukan mainanku yang hilang, mungkin aku akan betah tinggal di sini, semoga mainan itu masih sebagus dulu"

Tatapan langit terlihat menerawang jauh, senyum simpul terbit di bibirnya, benaknya di penuhi oleh alia, ternyata wanita itu menghilang dan berada di bandung. Tubuhnya semakin seksi, wajah cantiknya terlihat lebih dewasa.

'Heummmm rasa gadis itu pasti lebih baik daripada dulu" batin langit dengan senyum smirknya.

Bara merinding mendengar ucapan langit, entah mengapa pikirannya melayang ke alia, bara tiba-tiba takut, bahwa mainan yang dimaksud adik tirinya itu adalah alia.

 Hatinya mendadak cemas, ia tidak ingin alia terjerumus dalam permainan langit yang memang terkenal laki-laki bajingan, seorang cassanova.

"Langit..." panggil bara menyadarkan adiknya itu dari lamunannya,

"Usiamu sudah pantas menikah, aku harap kamu bisa berubah, kamu bukan lagi seorang remaja tanggung, yang selalu bebas protes mencari perhatian, berubahlah walau hanya untuk dirimu sendiri"

Terkekeh langit mendengar saran dari bara, tawanya yang tidak pernah sampai ke hati dan matanya, selalu terdengar palsu di telinga bara.

"Kamu sendiri juga sudah pantas menikah, kenapa belum menikah?, belum menemukan wanita yang tepatkah? Jangan bercanda bara, gak lucu tahu!"

"Aku sudah menemukannya" bisik bara lirih, terdengar seperti sebuah bisikan.

Senyum manis mengembang dari bibirnya, langit menoleh menatap bara lama, ia melihat senyum mengembang itu penuh keseriusan dan juga, cinta. Entah mengapa tiba-tiba langit merasa jengah, senyum bara terasa menyebalkan baginya.

"Siapa perempuan beruntung itu?" Tanya langit acuh, tidak ada keseriusan dan antusias dalam pertanyaannya.

Bara tidak menjawab, pria itu hanya tersenyum penuh arti menjawab pertanyaan langit, lagi-lagi senyum itu membuat langit jengah, ia membuang pandangannya keluar jendela kembali.

#########

Alia menghela nafasnya berat, ia menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan lesu, Narida yang sedang menyuapi luka terlihat menatap alia penasaran.

"Ada apa dek?" Tanya narida menghampiri alia yang terduduk lesu.

"Pria itu nari!,..pria itu. pria brengsek itu.." ujar alia lesu.

"Siapa?" Tanya narida cepat, kerutan di keningnya semakin terlihat penasaran.

"Langit..?" sambungnya lagi dengan mimik penuh tanya.

"Ya.." sahut alia mengangguk.

"pria itu ternyata adik pak bara"

"Astaga.." seru narida terkejut reflek menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Pria brengsek itu akan jadi direktur utama menggantikan pak bara" keluh alia tidak bersemangat.

"aku tidak tahu bagaimana nasibku ke depannya, nari"

"Al..." panggil narida lembut. Suaranya kembali normal, nari sudah tidak terkejut lagi.

"Aku tahu akan susah bekerja dengan pria yang menjadi traumamu, tapi menurutku dek, jadikan ini pemicu, agar kamu bisa sembuh dari trauma itu"

Alia terdiam, pandangannya jauh menerawang menembus langit-langit rumah, berusaha mencerna saran narida barusan.

"Kamu harus kuat dek!, langit itu bukan siapa-siapa" ujar nari menyemangati alia yang terlihat lesu.

"Apakah menurut kamu, aku mampu nari?" Tanya alia tak percaya, ada keraguan di mata indahnya. Ketakutannya pada lelaki bajingan itu sama sekali belum hilang, Senyum narida mengembang indah, memberikan rasa percaya diri yang begitu besar kepada alia.

"Aku yakin..dek, kamu pasti mampu, ingat kamu masih punya kami"

"Bundaaaa..." teriakan luka dari kamarnya membuat alia dan narida melonjak kaget, dengan reflek, alia berlari ke kamar putranya, narida yang berada di belakangnya juga lari dengan tergopoh-gopoh.

"Robot luka, tangannya patah.." ujar luka mengadu dan menangis keras, menunjukkan robotnya yang kehilangan tangan sebelah kirinya.

Alia yang berdiri di ambang pintu menatap gemas ke arah putranya yang tantrum, ia mengelus dadanya yang berdebar kencang akibat teriakan luka tadi.

Sementara suara tawa tertahan terdengar keluar dari bibir narida yang menutup mulutnya, Alia menoleh ke arah narida, seketika tawa mereka pecah.

Alia merasa kerandoman putranya selalu membuat hari-harinya indah berwarna, beban seberat apapun yang sedang alia pikirkan akan hilang tak berbekas jika ia sampai ke rumah dan memandang luka dengan segala tingkahnya.

"Besok kita beli lagi yah nak" bujuk alia menenangkan luka yang sudah guling-guling di tempat tidur tak karuan.

Istimewanya luka, setantrum apapun putranya itu, jika alia sudah membujuknya, bocah laki-laki itu akan tenang kembali.

"Janji yah bunda" pinta luka masih dengan isakan, mengulurkan janji kelingkingnya, alia tersenyum menyambut janji kelingking dari putranya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!