NovelToon NovelToon
Takdir Paranormal Gadungan

Takdir Paranormal Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin / Iblis / Anak Yatim Piatu / Roh Supernatural
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
​Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
​Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
​Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
​Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kutukan lahan sengketa

Ambang pintu mewah rumah Keluarga Vongrak terasa kontras dengan tujuan mereka: lokasi proyek yang gelap dan sunyi. Freen dan Nam masuk ke dalam mobil sedan hitam Tuan Vongrak. Supir itu mengemudi dengan sangat hati-hati, sementara Nam terus memeriksa informasi terakhir di tablet.

Perjalanan menuju lokasi proyek memakan waktu lebih dari satu jam. Semakin jauh mereka dari pusat kota, semakin gelap dan sepi suasana di luar. Lampu jalan semakin jarang, dan bangunan-bangunan mewah berganti menjadi lahan-lahan kosong dan pepohonan rindang.

Saat mobil memasuki jalan tanah yang tidak rata, Freen bisa merasakan perubahan energi di udara.

Hawa dingin yang tajam langsung menusuk, dan kabut spiritual yang sebelumnya ia lihat di kamar Rebecca kini terasa menyelimuti area ini dengan sangat pekat. Mata batin Freen menunjukkan bahwa seluruh lahan proyek itu diselimuti oleh aura hitam kemerahan, yang merupakan perwujudan kemarahan yang intens.

"Kita sudah sampai di lokasi, Nona," ujar Supir itu, menghentikan mobil.

Mereka turun. Di sana sudah menunggu seorang pria paruh baya mengenakan helm proyek, Mandor yang ditunjuk Tuan Vongrak. Ada sebuah tenda kecil didirikan di sudut yang agak jauh dari area pembangunan, dengan beberapa senter dan termos besar.

"Selamat malam, Nona Freen, Nak Nam," sapa Mandor itu dengan nada hati-hati.

"Kami sudah siapkan tempat peristirahatan kalian. Saya sudah diperintahkan Tuan Vongrak untuk membantu kalian sepenuhnya. Apa yang harus saya lakukan?"

Freen mengabaikan tenda dan kopi. Ia menatap ke tengah lahan proyek. Di sana, tumpukan material dan kerangka bangunan beton tampak menyeramkan di bawah cahaya bulan yang tersembunyi di balik awan.

"Kami datang untuk menenangkan para leluhur," kata Freen, suaranya tegas.

"Anda bilang Patung Penjaga Makam disimpan di gudang material. Tunjukkan kami gudang itu."

Mandor itu tampak ragu. "Tapi, Nona. Gudang itu gelap, dan kami sudah mengunci semua peralatan di dalamnya. Lagipula, itu hanya batu tua."

Freen menatapnya lurus-lurus. Aura Mustika Merah Delima membantu Freen memancarkan wibawa yang membuat Mandor itu tidak berani membantah.

"Batu tua itu adalah kunci perdamaian. Jika Anda tidak ingin Tuan Vongrak mengalami kerugian besar dan putrinya kembali sakit, bawa kami ke sana sekarang juga," desak Freen.

Mandor itu akhirnya menyerah. Ia mengeluarkan kunci dan memimpin Freen dan Nam menuju gudang material yang terletak di pinggiran lahan, dikelilingi pagar kawat.

Begitu mereka tiba di gudang yang gelap gulita, Mandor membuka kunci. Freen menyalakan senternya. Di dalam, tumpukan besi, semen, dan peralatan konstruksi berserakan.

Mata batin Freen langsung menangkapnya. Di sudut gudang, di balik tumpukan karung semen, tergeletak Patung Penjaga itu. Patung batu itu tidak memancarkan aura hantu, tetapi memancarkan aura kesedihan dan rasa terhina yang kuat.

"Itu dia," bisik Freen. "Patung itu."

"Tuan Mandor," perintah Freen. "Patung ini harus segera dikembalikan ke posisi asalnya di area makam, sebelum ritual besok pagi. Ini adalah simbol permintaan maaf Tuan Vongrak."

"Tapi Nona, patung itu berat sekali. Saya tidak punya pekerja malam ini. Dan ini sudah tengah malam," Mandor itu mengeluh.

"Kita hanya bertiga," kata Freen, tidak gentar.

"Jika Tuan Vongrak ingin putrinya selamat, kita harus melakukannya. Patung itu tidak boleh berada di sini semenit pun lebih lama."

Freen Sarocha, sang Paranormal Gadungan, kini bersiap untuk pekerjaan fisik, didorong oleh ancaman leluhur dan janji bayaran besar. Misi memindahkan Patung Penjaga itu dimulai di bawah pengawasan kegelapan malam.

Freen melirik Patung Penjaga itu. Batu itu cukup besar, tingginya mungkin satu meter lebih, dan tampak sangat berat. Dia tahu bahwa dalam kondisi normal, mereka bertiga pun akan kesulitan memindahkannya, apalagi setelah dia menghabiskan energinya dalam pertarungan spiritual tadi sore.

"Kita tidak punya pilihan," kata Freen, menghela napas.

Ia melangkah mendekati patung itu. Freen meletakkan kedua telapak tangannya di permukaan batu yang dingin dan berlumut itu. Ia memejamkan mata, memfokuskan seluruh perhatiannya pada Mustika Merah Delima di lehernya.

Saat ia memfokuskan niatnya—niat untuk membawa kedamaian dan memenuhi janji—Freen merasakan lonjakan energi yang aneh. Itu bukan hanya kehangatan biasa; energi dari mustika itu terasa mengalir, menyebar ke lengan dan tubuhnya. Seketika, rasa lelahnya menghilang.

Tubuhnya terasa ringan dan kuat. Itu adalah dorongan energi instan, seperti power-up yang tiba-tiba.

Batin Freen: "Terima kasih, Matahari. Ini baru namanya perlindungan!"

Freen membuka matanya, ekspresinya berubah menjadi tekad yang kuat.

"Nam, Mandor. Kita tidak punya waktu. Bantu aku memiringkan patung ini sedikit. Jangan angkat seluruhnya, cukup dorong agar dia bisa menggelinding," perintah Freen.

Nam dan Mandor itu tampak bingung melihat perubahan mendadak pada Freen, yang tadinya terlihat pucat kini memancarkan aura energi yang intens.

"Siap, Nona Freen," kata Nam.

Ketiganya bekerja sama. Nam dan Mandor mendorong bagian bawah patung, sementara Freen, menggunakan kekuatan yang entah datang dari mana—mungkin dorongan energi dari Mustika Merah Delima—mampu menopang sebagian besar beban Patung Penjaga itu.

Dengan kekuatan luar biasa yang baru ia miliki, Freen mampu memandu pergerakan patung itu. Mereka perlahan-lahan menggulingkan dan mendorong Patung Penjaga itu keluar dari gudang material.

Proses yang seharusnya memakan waktu setengah jam dengan peralatan, berhasil mereka lakukan hanya dalam sepuluh menit.

Kini, tugas mereka adalah memindahkan Patung Penjaga itu melintasi lahan proyek yang gelap dan tidak rata. Freen, seperti Wonder Woman yang tiba-tiba mendapatkan kekuatan super, memimpin di depan, menarik dan menopang beban patung itu dengan mudah, sementara Nam dan Mandor hanya perlu membantu mengarahkan dan menjaga keseimbangan.

Saat Patung Penjaga itu melintasi area proyek, Freen melihat reaksi dari dimensi spiritual: aura hitam kemerahan yang menyelimuti lahan itu seolah sedikit mereda, menarik diri dari jalur Patung itu. Roh-roh yang marah tampak diam, mengawasi kembalinya penjaga mereka.

Mereka akhirnya mencapai area makam kuno yang dilindungi, yang kini menjadi pusat kontroversi proyek. Freen menunjuk ke lokasi persis di mana patung itu seharusnya berdiri—sebuah fondasi batu tua.

Dengan dorongan terakhir, dan Freen menggunakan kekuatan penuhnya, mereka berhasil menegakkan Patung Penjaga itu di posisi asalnya.

Begitu Patung itu berdiri tegak, Freen merasakan energi dari Mustika Merah Delima mereda, dan rasa lelah yang terpendam segera menghantamnya. Namun, ia juga merasakan aura kegelapan di sekitar lahan proyek berkurang drastis, digantikan oleh ketenangan yang dingin.

"Selesai," kata Freen, terengah-engah, bersandar pada patung yang baru dipindahkan itu.

"Simbol sudah dikembalikan. Sekarang, Roh-roh Leluhur akan menganggap janji perdamaian Tuan Vongrak itu tulus."

Mandor dan Nam menatap Freen dengan mata lebar. Mereka tahu, pekerjaan fisik yang baru saja dilakukan Freen tidak mungkin dilakukan oleh seorang wanita bertubuh kecil sendirian.

"Nona Freen... Anda... Anda luar biasa," bisik Mandor itu, tampak ketakutan dan hormat.

"Nam," kata Freen, suaranya kembali normal dan lelah. "Kita berjaga. Dan setelah ini... kita tidur di tenda yang nyaman itu. Besok pagi, kita hanya perlu menyaksikan ritual perdamaian. Tugas kita selesai."

Freen Sarocha, sang paranormal yang memiliki jimat super, telah berhasil membersihkan jalan bagi ritual besok pagi, mengamankan keselamatan Rebecca, dan yang terpenting memastikan bayaran tinggi yang dijanjikan Tuan Vongrak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!