NovelToon NovelToon
Dibalik Tumpukan Digit

Dibalik Tumpukan Digit

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:407
Nilai: 5
Nama Author: Syintia Nur Andriani

Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Sang Tiran dan Takhta yang Berlumuran Darah

Bab 14: Sang Tiran dan Takhta yang Berlumuran Darah

​Dunia bisnis Jakarta tidak pernah melihat keruntuhan secepat dan semenakutkan jatuhnya Surya Atmadja. Namun, di atas puing-puing itu, sebuah kekuatan baru muncul yang jauh lebih tiran. Reihan kini bukan lagi sekadar Direktur Utama yang ambisius; ia telah menjadi pemilik tunggal Dirgantara Group setelah dokumen asli kepemilikan saham itu disahkan oleh pengadilan.

​Rumah mewah mereka kini tidak lagi terasa seperti rumah. Tempat itu telah berubah menjadi markas komando yang sunyi, di mana setiap pelayan berjalan dengan kepala tertunduk, takut akan amarah tuannya yang tak terduga. Reihan telah memecat semua orang yang pernah memiliki hubungan dengan Surya, menggantinya dengan orang-orang baru yang hanya setia pada satu hal: rasa takut kepada Reihan.

​Yang paling menyakitkan bagi Arini adalah kenyataan bahwa lingkungan sosial yang dulu mengasihaninya, kini justru memihak pada Reihan. Media massa membingkai Reihan sebagai "Korban yang Bangkit", seorang pahlawan yang berhasil membongkar kedok mertuanya yang iblis. Tidak ada lagi yang membicarakan perselingkuhan Arini yang direkayasa itu; semua orang seolah menutup mata karena kekuatan uang Reihan telah membungkam semua narasi negatif.

​"Kau lihat ini, Arini?" Reihan melemparkan tablet digital ke atas meja makan. Di layar itu, terpampang foto Reihan yang bersalaman dengan menteri keuangan. "Semua orang memujaku. Bahkan teman-teman sosialitamu yang dulu menghinamu, kini mengirimkan karangan bunga untuk merayakan keberhasilanku."

​Arini menatap suaminya dengan ngeri. Reihan duduk di ujung meja, menyesap wine merah yang warnanya semerah darah ibunya di pemakaman malam itu. "Kau membeli mereka semua, Reihan. Kau tidak mendapatkan kesetiaan, kau hanya membeli ketakutan mereka."

​Reihan berdiri, langkah kakinya yang berat bergema di lantai marmer. Ia berjalan mengitari meja, mendekati Arini yang gemetar. "Di dunia ini, tidak ada bedanya antara kesetiaan dan ketakutan, Sayang. Hasil akhirnya sama: mereka akan melakukan apa pun yang kuperintahkan. Termasuk memisahkanmu dari dunia luar."

​Reihan mencengkeram bahu Arini, menekannya hingga Arini merintih. "Bahkan Bima, penyelamatmu yang agung itu... kau tahu di mana dia sekarang? Aku sudah memastikan izin praktiknya dicabut. Dia dituduh melakukan spionase industri. Tidak ada seorang pun yang akan membantumu sekarang. Semua orang memihak padaku."

​"Kenapa kau melakukan ini padaku, Reihan? Aku yang membawamu pada kebenaran!" teriak Arini, air mata mulai mengalir.

​Reihan menarik Arini berdiri, memaksanya menatap pantulan mereka di cermin besar ruang makan. "Karena setiap kali aku melihat wajahmu, aku melihat bayangan Surya. Aku melihat darah yang mengalir di nadimu adalah darah pria yang membuat ibuku menderita selama dua puluh tahun. Kau adalah satu-satunya bagian dari Surya yang tersisa untuk kusiksa."

​Reihan menarik Arini ke dalam pelukannya, namun tidak ada kehangatan di sana. Pelukannya terasa seperti lilitan ular sanca—dingin, kuat, dan mematikan. Ia mulai mencium leher Arini dengan kasar, meninggalkan jejak kemerahan yang menyakitkan.

​Gairah Reihan kini terasa sangat gelap. Setiap kali ia menyentuh Arini, itu adalah bentuk hukuman. Ia ingin Arini merasa hancur, namun ia juga tidak akan membiarkan Arini pergi. Ia terobsesi untuk memiliki satu-satunya harta berharga milik musuh besarnya.

​Malam itu, Reihan mengadakan jamuan kemenangan di rumah mereka. Semua tokoh penting hadir. Arini dipaksa mengenakan gaun sutra hitam yang sangat indah namun terasa seperti kain kafan. Ia harus berdiri di samping Reihan, tersenyum pada orang-orang yang dulu memandangnya sebelah mata.

​"Arini, kau sungguh beruntung memiliki suami seperti Reihan," ucap salah seorang istri pejabat dengan nada iri yang kental. "Dia pria yang sangat tangguh. Menghadapi pengkhianatan ayahmu dengan begitu elegan."

​Arini hanya bisa tersenyum getir. Ia melihat bagaimana semua orang di ruangan itu menjilat pada Reihan. Mereka tertawa pada setiap candaan hambar Reihan, mereka memuji setiap langkah bisnisnya. Reihan adalah raja baru, dan Arini hanyalah piala rampasan perang yang dipamerkan.

​Di tengah acara, Reihan merangkul pinggang Arini dengan sangat posesif di depan kerumunan. "Terima kasih semuanya. Keberhasilanku ini tidak lepas dari dukungan istriku tercinta. Meski dia harus melalui masa sulit dengan kondisi mentalnya, aku akan selalu ada untuk menjaganya... dalam pengawasanku yang ketat."

​Semua orang bertepuk tangan. Arini merasa ingin berteriak, namun ia tahu tidak ada gunanya. Bahkan hukum kini seolah bertekuk lutut pada Reihan.

​Setelah tamu-tamu pulang, Reihan menyeret Arini menuju kamar utama. Ia mengunci pintu dengan bunyi klik yang final.

​"Semua orang memihak padaku, Arini. Ayahmu, Bima, semua orang sudah kalah," bisik Reihan sambil menanggalkan jasnya. Matanya berkilat penuh nafsu yang dominan. "Kau sendirian sekarang. Hanya ada kau dan aku di neraka ini."

​Reihan menjatuhkan Arini ke tempat tidur, menindihnya dengan kekuatan yang tidak memberikan ruang untuk bernapas. Malam itu, di bawah kemewahan kamar yang paling mahal di kota itu, Arini menyadari bahwa ia telah terjebak dalam sangkar emas yang jauh lebih mengerikan daripada kemiskinan mana pun.

​Reihan mencumbunya dengan intensitas yang menakutkan, sebuah perpaduan antara kebencian masa lalu dan obsesi yang tak terkendali. Arini mencoba melawan, namun setiap perlawanannya justru membuat Reihan semakin beringas. Di tengah keputusasaannya, Arini menyadari satu hal: ia tidak bisa lagi mengandalkan orang lain. Jika dunia memihak pada iblis, maka ia harus belajar bagaimana cara menggulingkan takhta iblis itu dari dalam.

​"Kau milikku, Arini. Selamanya," gumam Reihan di puncak gairahnya yang gelap.

​Arini menatap langit-langit dengan mata yang kini tidak lagi menangis. Baranya telah membeku menjadi es. Jika kau ingin aku menjadi milikmu, Reihan, pikirnya dalam hati, maka bersiaplah untuk memiliki racun yang akan membunuhmu perlahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!