"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - Ulangan
Nilai 40 terpampang jelas dalam lembar ulangan milik Giselle. Sudah biasa, gadis itu memang tidak pandai dalam bidang akademik. Dia hanya suka bernyanyi. Satu-satunya bidang yang Giselle kuasai. Suaranya sangat lembut ketika bernyanyi dan mampu membuat semua orang terhipnotis.
Giselle menyimpan lembaran kertas hasil ulangannya ke dalam tas. Dia tidak mau orang lain tahu meski sebenarnya teman-temannya tahu bahwa dia adalah gadis yang bodoh. Bersyukur, tidak ada yang menghakiminya. Mereka tetap bersikap biasa saja. Tidak pernah mengejeknya atau merendahkannya. Apalagi sampai membandingkannya dengan Libra.
Libra sendiri mendapatkan hasil yang memuaskan. Angka 90 menjadi nilai tertinggi dalam kelasnya. Ia memang salah satu murid yang pandai. Peraih tiga besar di kelasnya. Pemuda itu menatap Giselle yang berwajah masam. Libra tersenyum geli melihat Giselle yang mengerucutkan bibirnya.
"Kan udah gue bilang, belajar! Salah sendiri gak belajar," ujar Libra dengan lembut. Sama sekali tidak berniat mengomelinya.
"Kan lo tahu kalau gue belajar tetep aja gak bisa," gerutu Giselle. Yang ada di pikirannya kini hanyalah, jangan sampai ibunya tahu. Habislah dia kalau sampai ibunya melihat nilainya. Dalam hati, Giselle merasa cemas. Rasa takut itu membuat kepalanya pusing karena memikirkan berbagai kemungkinan apa yang akan dilakukan ibunya nanti kalau sampai ketahuan.
"Lo cuma kurang niat aja. Mulai besok kita belajar bareng, deh." Libra selalu mengajak Giselle untuk belajar bersama, tetapi gadis itu selalu menolak dengan alasan dia tidak akan mengerti. Pemuda itu tidak bisa memaksa.
"Diem Liba! Gue pusing!" Giselle menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya. Ingin menangis tapi malu.
Libra menurut, pemuda itu hanya diam sembari terus menatap Giselle. Otaknya sedang menyusun rencana agar gadis itu mau belajar dengan benar mulai sekarang. Sebenarnya Libra merasa kasihan pada sahabatnya itu. Dia tahu, diam-diam Giselle tertekan karena selalu mendapat nilai di bawah rata-rata. Namun, mau bagaimana lagi, manusia tidak ada yang sempurna. Giselle memang tidak terlalu pintar.
Libra merasa tidak suka melihat Giselle yang murung seperti itu. Ia tengah berpikir bagaimana caranya mengembalikan moodnya yang berantakan itu. Satu ide mendadak muncul di kepala Libra.
"Pen, Pendek!" panggil Libra sembari menggoyangkan tubuh Giselle pelan.
"Apa, Ba?" jawab Giselle malas. Ia merasa tidak bertenaga. Bahkan untuk menjawab panggilan Libra pun rasanya sangat sulit.
"Pulang sekolah nanti kita ke mall yuk. Gue mau beli gitar," ajak Libra dengan semangat.
Giselle menoleh dengan cepat ke arah Libra. Matanya berbinar senang mendengar ajakan Libra. Kata 'gitar' membuatnya kembali bersemangat.
"Mau banget!"
Giselle tidak akan menolak, gadis itu sangat bersemangat jika berhubungan dengan musik. Terutama gitar, Giselle pandai menggunakannya. Sama seperti Libra. Keduanya akan menjadi perpaduan yang sangat sempurna ketika sedang bernyanyi.
"Sip, sekarang gak usah cemberut lagi. Muka lo makin jelek," ejek Libra. Pemuda itu sangat senang melihat Giselle kesal.
"Kalau gue jelek, lo jelek banget!" kesal Giselle. Gadis itu kembali mengerucutkan bibirnya. Baru saja dibuat senang, langsung kembali dibuat kesal. Kurang ajar sekali Libra itu.
Libra terkekeh pelan, gemas melihat ekspresi Giselle.
"Kalian kenapa gak jadian aja, sih?"
Kedua sejoli itu kompak menoleh ke arah kiri Giselle. Sosok yang baru saja bertanya itu sedang memakan kacang kulit dengan tatapan malas. Danu merasa bosan melihat pasangan yang duduk di sebelah kanannya itu. Selalu saja bermesraan tanpa memikirkan perasaannya.
"Apaan dah, Nu? Kita mah sodara," ujar Libra sembari merangkul pundak Giselle.
"Bener, gue mau nyari pacar yang ganteng dan baik hati aja, bukan kayak Libra yang jahat!" Giselle menjulurkan lidahnya pada Libra.
"Jahat-jahat tapi lo gak bisa hidup tanpa gue, kan!" Libra mengurung kepala Giselle di ketiaknya sampai gadis itu berteriak kesal. Heran, Libra senang sekali melakukan itu. Untung saja ketiaknya tidak bau, Giselle tidak perlu khawatir akan pingsan.
"Liba, lepasin! Kecekek ini!" Giselle terus meronta, tetapi tenaganya kalah dari pemuda itu.
"Bilang dulu kalau gue ganteng," ujar Libra dengan senyum manis yang dibuat-buat.
"Liba jelek kayak babi!" teriak Giselle.
Danu menghela napas, kenapa mereka terlihat sangat mesra? Dia kan jadi iri.
Sialan.
...***...
17 Januari 2026