Novel INDA dari episode 1-133 (Tamat)
Part selanjutnya Sequel dari Novel INDA.
-----
Ciuman tanpa disengaja menyebabkan wanita bernama Amrita Venisa harus menikah dengan pria bernama Aziz.
Amrita yang jaim kerap kali mengerjai suaminya. Dan Aziz yang baik hati dia tidak pernah marah akan tindakan konyol sang istri. Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta pun tumbuh dalam hati keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INDA. Episode 10
Rasa sakit di kaki Amrita seakan menghilang saat ia berlari menuruni anak tangga. Ia takut Aziz akan membalas kenakalannya dengan hal yang tidak pernah Amrita pikirkan. Saat dia melihat Aziz dengan santai menghampiri dirinya, terbesit di dalam pikirannya bahwa Aziz bisa berbuat lebih dari apa yang ia telah lakukan.
Di dalam kamar, Aziz tengah berteriak sekencang-kencangnya. Hal itu membuat Pa Sofyan berlari ke luar dari kamar menuju kamar putranya. Saat melewati ruang keluarga, Pa Sofyan melihat Amrita tengah mengatur napasnya dalam-dalam.
"Apa yang terjadi?" tanya Pa Sofyan sembari berjalan menghampiri Amrita.
"Papa! Ikat kaki dan tangannya, aku ingin memberinya pelajaran!" teriak Aziz dengan napas memburuh.
"Dilihat dari penampilanmu sepertinya Papa akan berpihak pada Amrita" kata Pa Sofyan. Menyembunyikan Amrita dibelakangnya. Bagaimana tidak, Aziz menuruni anak tangga tanpa mengenakan baju terlebih dahulu.
Tak tak tak... terdengar bunyi heels Tante Eka berjalan menghampiri putranya yang tengah berdiri disamping tangga dengan tangan kanan yang disandarkan ditangga.
"Berani sekali kamu menakuti menantu Ibu!" hardik Tante Eka menjewer kuping Aziz sekuat tenaga hingga meninggalkan jejak merah.
"Aku yang anak Ibu. Kenapa Ibu tidak membelaku!" ketus Aziz memegang tangan ibunya.
"Bagaimana mungkin Ibu mau membelamu! Lihat keadaanmu yang sekarang saja buat Ibu ingin memakanmu hidup-hidup" kata Tante Eka tanpa melepaskan tangannya dari telinga putranya.
"Tante, jangan lepaskan tangan Tante dari telinga Om Aziz. Tunggu aku ke luar sampai di depan pintu" ujar Amrita. "Pa, aku pamit pulang ya" kata Amrita lalu menyalami Pa Sofyan. Amrita melangkah dengan cepat menuju pintu.
"Tante, sudah..." teriak Amrita. Sebelum ke luar dari pintu Amrita masih sempat-sempatnya mengejek Aziz yang tengah menatapnya tajam.
Pondok Mega
Amrita merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya. Nonton TV adalah kegiatannya saat ia merasa lelah. Tiba-tiba saja dia tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang membuatnya terlihat seperti orang gila di pagi hari.
"Aku pastikan Om akan menyesal telah mencari masalah denganku. Om harus membayar semua yang sudah Om lakukan" gumam Amrita tersenyum menyeringai.
Terdengar nada dering telepon dari ponsel Amrita. Amrita mengambil ponselnya melihat siapa yang menghubunginya. Ia tersenyum saat melihat nama kontak dengan tulisan Om Aziz dilayar ponsel.
"Assalamualaikum Om"
"Waalaikumsalam. Aku pulang kerja pukul 14:00 P.M, sepulang dari rumah sakit aku akan datang menjemputmu" kata Aziz.
"Aku tidak tanya kapan Om pulang" balas Amrita dengan santai.
"Jangan membuatku marah, Amrita!" seru Aziz.
"Om, ancaman Om tidak mampan lagi. Aku sudah lulus sekarang. Aku tidak perduli lagi, mau nikah dengan tidaknya aku tidak perduli. Jika tidak ada laki-laki yang mau menerimaku nanti maka itu bukan masalah lagi untukku" kata Amrita. Ia hanya ingin membuat Aziz marah. Namun ide gilanya membawa malapetaka untuknya.
"Itu lebih bagus. Setidaknya akulah orang pertama yang menciummu dan yang memelukmu. Ingat Amrita! Laki-laki itu tidak masalah mau seperti apapun keadaannya tapi perempuan, kamu tahu apa maksud perkataanku" kata Aziz.
"Amrita, karena kamu tidak mau menikah denganku lagi maka----" Amrita memotong kalimat Dokter Aziz.
"Om ganteng yang baik hati dan suka mesum, aku hanya bercanda kok. Jemput aku ya, aku tunggu di kos" kata Amrita. Berharap Aziz menanggapinya sesuai harapan Amrita.
"Aku tidak bercanda Amrita. Tidak akan ada pernikahan atau apapun itu. Kita berdua tidak ada hubungan apa-apa lagi" ujar Aziz lalu memutuskan panggilan.
"Rasain kamu boca kecil. Berani sekali kamu membuatku marah" gumam Aziz sembari memainkan ponselnya.
Terdengar dering dari ponsel Aziz. Aziz kembali menyugingkan senyum saat ia melihat siapa yang menghubunginya.
"Dasar bocah, dikasih hati mau ambil jantung" gumamnya. Aziz menjawab panggilan Amrita. "Ada apa lagi?" tanyanya.
"Om, maafkan aku. Kata orang, sesama manusia itu harus saling memaafkan. Allah saja bisa memaafkan umatnya kenapa Om tidak. Ingat Om, Allah paling tidak suka umatnya menyimpan dendam antar sesama" kata Amrita mencoba menasehati Aziz.
"Aku tahu dan aku sudah memaafkanmu. Hanya saja, aku tidak mau menikah denganmu lagi" kata Aziz enteng.
"Om jahat! Hiks hiks hiks" seru Amrita disertai tangis. Ia menangis terisak isak. "Aku harus beracting dengan baik" batin Amrita.
"Hiks hiks hiks. Aku benci Om Aziz mesum hiks hiks hiks" kata Amrita. Actingnya semakin sempurna saat Aziz memintanya berhenti menangis dan memintanya untuk menunggunya.
"Sekarang kamu istrahat, nanti aku hubungi kamu jika aku sudah berada di jalan pulang" kata Aziz. Ia merasa iba mendengar seorang anak yatim menangis karena ulahnya. Sejujurnya ia hanya mengerjai Amrita dengan berkata untuk tidak mau menikah dengannya lagi.
"Om jadi menikahiku kan?" tanya Amrita sesegukan.
"Iya jadi, aku akan menikahimu" balas Aziz dengan nada suara yang agak pelan.
"Sekarang Om lanjut kerja, aku mau istrahat dulu" kata Amrita lalu memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
Di rumah sakit, Aziz duduk di kursi kerjanya. Ia menatap ponselnya dan hampir saja ia membanting ponselnya saat Amrita memutuskan panggilan secara sepihak.
"Dasar bocah tengik. Seenak jidatnya dia memutuskan panggilan secara sepihak. Apa pelajaran yang tadi tak membuat otaknya bekerja dengan baik" gumam Aziz dengan kesal.
Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 14:00 P.M, Aziz ke luar dari ruangannya menuju parkiran mobil. Sepanjang jalan ia terus tersenyum pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Sesampainya di parkiran Aziz masuk ke dalam mobil. Mobil perlahan bergerak menuju jalan rasa.
"Apa yang dia lakukan sekarang" gumam Aziz. Aziz mengambil ponselnya untuk menghubungi Amrita.
Ting!! Ting!! Ting!! panggilan telepon masuk namun tak ada tanda-tanda dijawab. Aziz memakirkan mobilnya di depan Pondok Mega. Ia mencoba menghubungi Amrita namun hasilnya tetap sama. Aziz melihat salah seorang wanita ke luar dari kos, wanita itu adalah Kak Yuli.
"Permisi. Mau nanya, apa ada Amrita di dalam?" tanyanya dengan serius.
Kak Yuli menatap Aziz dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Untuk apa Dokter mencari Amrita?" tanya Kak Yuli menyelidik.
"Ada urusan dengannya tapi dia tidak menjawab panggilan telepon" kata Aziz lalu melirik ponselnya.
"Amrita ada di kamarnya. Dokter masuk saja lalu naik dilantai dua, ketuk kamar nomor dua" kata Kak Yuli.
"Baik, terimakasih" kata Aziz lalu masuk ke dalam pondok mega. Ia naik dilantai dua mencari kamar nomor dua. Senyum terukir di wajahnya saat ia melihat kamar nomor dua. Aziz mendekat, ia melihat kamar Amrita tidak terkunci. Tanpa mengetuk pintu, Aziz pun masuk ke dalam. Matanya membulat, emosinya memuncak, rahangnya mengeras saat ia melihat wanita yang ia tunggu sedang tidur sembari memeluk bantal guling.
"Aku terlantar di bawah dan kamu tidur dengan nyenyak di situ" kata Aziz dengan kesal. Ia berniat memberi pelajaran pada Amrita. Aziz mendekat, ia membuka baju jas Dokternya. Memindahkan bantal yang dipeluk Amrita lalu berbaring di sprinbed milik Amrita yang sangat kecil.
"Aku yakin, kamu akan berteriak saat membuka mata" batin Aziz tersenyum. Dan benar saja, Amrita berteriak saat membuka mata. Dengan segera Aziz membungkam mulut Amrita dengan ciuman. Amrita membulatkan matanya, lagi-lagi Aziz bersikap kurang ajar padanya.
"Ambil semuanya agar Om puas..." seru Amrita dengan amarah memuncak, ia duduk dibibir tempat tidur.
"Aku bisa mengambil semuanya jika kamu mengizinkan" kata Aziz, Aziz menarik tangan Amrita hingga Amrita jatuh diatas tubuhnya.
"Oku benci Om! Om terus menciumku" kata Amrita dengan mata berkaca-kaca. Ia beranjak dari tempat tidur lalu duduk ditempat ternyamannya. Sudut kamar, itulah tempat ternyaman baginya untuk ia duduk. Amrita memeluk kedua lututnya, menenggelamkam wajahnya di sana. Air mata terus menetes membasahi pipinya.
Aziz menatap Amrita hingga rasa bersalah menghampiri dirinya. Aziz mendekat, memegang kedua pundak Amrita. Amrita terperanjat, ia mendongak menatap manik mata Aziz.
"Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi" kata Aziz sembari menyeka air mata Amrita.