NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Gibran membuka mata perlahan-lahan, merasa sedikit lebih baik setelah beberapa hari di rumah sakit. Rangga, yang selalu ada di sisinya, membantu dia turun dari mobil dan masuk ke dalam mension mewah pribadinya.

"Selama ini, kamu tinggal disini," kata Rangga, sambil membantu Gibran duduk di sofa."Kamu akan tinggal disini sampai sembuh total."

Gibran memandang sekitar, mension ini memang tidak asing baginya, mungkin benar kata Rangga, sebelumnya ia tinggal di rumah megah ini."Rumah ini....?"ia bertanya.

"Ya, rumah ini milikmu,"jawab Rangga.

"Dulu kamu tinggal disini sendirian, kadang-kadang pulang ke rumah keluarga."

"Bagaimana keadaan Mamih sekarang?" tanya Gibran, tentu ia mengkhawatirkan kondisi Ibunda tersayang. Mamihnya sakit pasti karna terlalu memikirkannya.

"Lumayan membaik, hanya perlu istirahat saja," jawab Rangga,"Nanti saya akan sering kesana dan memberitahu kamu tentang keadaan Mamih."

Gibran mengangguk kecil."Terimakasih, karna sudah membantu saya."

"Rangga tersenyum."Tidak perlu berterima kasih, Bran. Sebagai seorang sahabat sekaligus sekretaris di kantor, sudah kawajiban saya menolong kamu."

Rangga kemudian memanggil dokter terapi untuk Gibran. Dokter itu seorang perempuan, namanya Tita, kebetulan Dokter Tita adalah teman kuliah Gibran dan Rangga dulu. Tita memberikan beberapa terapi untuk membantu Gibran mengingat kembali.

"Gibran, kamu harus berusahamengingat kembali," kata dokter Tita."Kamu harus mengingat siapa kamu, apa yang kamu lakukan, dan siapa orang-orang yang kamu cintai."

Gibran mengangguk, merasa sedikit lebih optimis. Ia tahu, bahwa ia harus sembuh secepatnya. Dokter Tita kemudian memulai sesi terapi, meminta Gibran untuk mengingat kembali kejadian-kejadian sebelum kecelakaan. Gibran berusaha keras mengingat, meskipun ingatannya belum begitu jelas.

Rangga duduk di samping Gibran, menepuk pelan pundak sahabatnya itu, berusaha memberikan dukungan."Ayok Bran, kamu pasti bisa!"

Gibran tersenyum dan mengangguk pelan, ia harus bisa dan sabar, agar ingatannya kembali pulih. Meski bagaimana pun, masa depan perusahaan ada di tangannya.

Beberapa jam berlalu....

Gibran, Rangga, dan dokter Tita duduk di ruang tamu, menikmati secangkir kopi hangat setelah sesi terapi yang melelahkan. Mereka berbincang hangat, di selingi canda dan tawa yang membuat suasana menjadi lebih hangat.

"Ah, Gibran, kamu tidak berubah," kata dokter Tita, tersenyum. "Masih sama seperti dulu, suka membantah."

Gibran tersenyum, "Hei, aku tidak membantah! Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku benar."

Rangga tertawa, "Ya, ya, kamu selalu begitu. Ingat waktu kita kuliah dulu? Kamu selalu membantah dosen kita."

Dokter Tita ikut tertawa, "Aku ingat! Kamu pernah membantah dosen kita tentang teori ekonomi. Kamu bilang bahwa teori itu tidak berlaku di dunia nyata."

Gibran tersenyum, "Aku masih percaya itu. Teori itu tidak realistis."

Rangga dan dokter Tita tertawa lagi, "Dasar kepala batu!"

Mereka terus berbincang, mengingat masa-masa kuliah dulu. Gibran merasa nyaman, seperti kembali ke masa lalu. Ia merasa bahwa ia telah menemukan bagian dari dirinya yang hilang.

Dokter Tita menatap Gibran dengan tatapan yang hangat, "Kamu tahu, Gibran, kamu harus mengingat kembali tentang masa lalumu. Kamu harus mengingat siapa kamu dan apa yang kamu inginkan."

Gibran mengangguk, "Aku akan mencoba, Ta. Aku ingin mengingat kembali."

Rangga menepuk bahu Gibran, "Tenang saja, aku dan Tita ada di sini untuk kamu, Gibran. Kita akan melalui ini bersama."

Mereka terus berbincang, menikmati waktu bersama. Gibran merasa bahwa ia telah menemukan keluarga baru, yang akan mendukungnya dalam perjalanan hidupnya.

**********

Nadia duduk di ruang tamu, menatap ke arah pintu dengan harapan yang mulai memudar. Sudah beberapa hari semenjak Gibran pergi, dan tidak ada kabar apapun. Ia merasa kesepian, Gibran memang menyebalkan, tapi entah kenapa, kepergian Gibran membuat hatinya tidak tenang.

Tiba-tiba, pintu rumahnya berderit terbuka. Nadia merasa jantungnya berdetak lebih cepat, berharap bahwa yang datang adalah Gibran. Tapi, saat pintu rumah terbuka sepenuhnya, ia melihat Mbak Dian, tetangga sekaligus temannya yang datang.

"Nadia, apa kabar?"tanya Mbak Dian, sambil membawa sekotak kue dan dua botol minuman.

Nadia tersenyum," Aku baik-baik saja, Mbak. Cuma..... sedikit kesepian saja."

Mbak Dian duduk di sebelah Nadia,"Aku tahu, Nad. Ini pasti karna kepergian Gibran yang tanpa alasan, kan?"

Nadia diam tak menjawab.

"Jangan murung terus kayak gini, ah! mana Nadia yang selalu ceria dan cerewet," kata Mbak Dian berusaha menghibur Nadia."Bukannya kamu selalu bilang, agar Gibran cepat sembuh dan kembali ke tempat asalnya, terus.... kenapa sekarang setelah Gibran pergi, kamu malah murung dan kesepian? hayoh.... jangan-jangan kamu...... "

"Ih..... Mbak, apaan sih!" kilah Nadia, gadis itu tampak malu-malu ditanya seperti itu oleh Mbak Dian.

Mbak Dian tertawa."Mangkanya jangan murung terus, kamu harus berpikir positif, kalau Gibran pergi bukan tanpa alasan. Melainkan ada alasan tertentu yang menbuatnya pergi dan tidak memberitahu kamu dulu."

"Tapi, kenapa dia nggak bilang gitu loh, Mbak. Padahal paginya kita masih berbicara," ujar Nadia.

"Ya, mungkin.... ada sesuatu yang nggak bisa dia bicarakan dengan kamu. Sudah lah, kamu jangan terlalu memikirian dia, kita ambil baiknya saja, yang buruk buang jauh-jauh."

Nadia mengangguk setuju."Mungkin Mbak Dian benar."

Mbak Dian tersenyum, sambil mengusap punggung Nadia dengan lembut."Gimana kalau aku ajak kamu jalan-jalan ke Kota, yuk? kita bisa jalan-jalan di taman sambil piknik dan melakukan hal yang seru."

Nadia merasa sedikit lebih baik,"Benar juga, Mbak. Aku butuh perubahan suasana."

Mbak Dian tersenyum,"Itu yang aku katakan! aku sudah siap, apa kamu siap?"

Nadia mengangguk semangat."Siap!"

Mereka berdua pergi ke kota naik motor milik Mbak Dian. Keduanya berjalan-jalan di taman, bermain dengan anak-anak, bermain bebek-bebekan di danau, dan menikmati piknik di bawah pohon. Nadia merasa sedikit lebih bahagia, seperti beban di hatinya sedikit lebih berkurang.

Mbak Dian dan Nadia duduk di bawah pohon, tatapan keduanya menatap lurus ke arah danau yang membentang luas di depan sana."Kamu tahu, Nad? Gibran mungkin tidak kembali, tapi kamu masih memiliki banyak hal yang bisa di lakukan.

Kamu masih memiliki hidup yang indah, dan kamu harus menikmatinya."

Nadia tersenyum tipis,"Aku tahu, Mbak. Lagian, aku tidak memikirkan Gibran lagi, toh dia bukan siapa-siapa. Mungkin, aku hanya butuh refresing saja."

"Apah iya?" Mbak Dian tersenyum menggoda."Atau jangan-jangan..... kamu suka sama dia ya, Nad?"

Nadia merasa wajahnya memerah sekarang,"A-apa? tidak! itu tidak benar!"

Mbak Dian tertawa,"Aku tau, aku tahu! kamu tidak bisa bohong, Nadia. Aku lihat, cara kamu menatap Gibran, cara kamu berbicara tentang dia..... kamu pasti menyukainya!"

Nadia merasa dirinya terpojok."Mbak Dian jangan godain aku deh. Mustahil aku menyukai laki-laki menyebalkan seperti Gibran."

Mbak Dian terus menggoda sambil tertawa."Aku tahu kamu merindukan Gibran, kan? tapi kamu terlalu gengsi untuk mengakuinya."

Nadia melotot tak terima,"Ihh....! nggak ya! aku..... aku cuma mengkhawatirkannya saja."

"Masa sih," ujar Mbak Dian menahan tawa.

Nadia tidak bisa untuk tidak mencubit Mbak Dian, sampai akhirnya mereka tertawa bersama, di ikuti oleh senja yang mulai turun.

Di dalam hatinya, Nadia berharap jika Gibran baik-baik saja di luar sana. Semoga laki-laki itu sudah mengingat kembali semua ingatannya yang hilang.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!