Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Ayyan berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang besar dan kokoh. Ia memutar kunci, lalu mendorong pintu itu pelan. "Ini kamarmu sekarang. Kamar kita," ucap Ayyan singkat.
Namira melangkah masuk dan seketika matanya membulat sempurna. Kamar itu sangat luas, mungkin tiga kali lipat ukuran kamarnya di Jakarta. Wangi aroma kayu cendana yang menenangkan langsung menyambut indra penciumannya. Namun, yang membuat Namira melongo adalah dekorasinya.
Hampir seluruh dinding kamar itu tertutup oleh rak buku tinggi yang penuh dengan kitab-kitab gundul tebal. Tidak ada poster aktor Korea atau koleksi tas seperti di kamarnya. Hanya ada meja kayu besar dengan tumpukan kertas, sebuah sajadah yang terbentang rapi, dan satu tempat tidur berukuran king size dengan sprei berwarna abu-abu gelap yang sangat rapi.
"Mas... ini kamar atau perpustakaan kota?" tanya Namira takjub sambil meraba deretan kitab. "Mas beneran baca semua ini? Nggak pusing?"
"Itu sumber ilmu, Namira. Bukan untuk pajangan," sahut Ayyan sambil meletakkan koper-koper di pojok ruangan.
Malam pun tiba. Suasana pesantren yang tadinya ramai dengan suara santri mengaji, perlahan menjadi sunyi senyap. Namira baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Ia duduk di pinggir tempat tidur, meremas-remas ujung piyamanya yang bergambar beruang—sangat kontras dengan wibawa kamar itu.
Jantung Namira berdegup kencang saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ayyan keluar dengan rambut yang sedikit basah, mengenakan kaos polos putih dan sarung hitam. Ia terlihat jauh lebih santai, tapi bagi Namira, aura kegantengannya malah naik berkali-kali lipat.
Ayyan berjalan menuju meja kerjanya, seolah-olah ingin lanjut membaca kitab. Namun, ia melirik Namira yang duduk kaku di pinggir kasur seperti patung.
"Kenapa belum tidur?" tanya Ayyan datar, meski sebenarnya ia juga merasa canggung.
"I-itu... anu, Mas... aku belum terbiasa tidur di tempat baru," jawab Namira bohong. Padahal, ia hanya bingung harus bersikap bagaimana di malam pertama mereka tinggal berdua saja.
Ayyan menutup kitabnya, lalu berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Ia duduk di sisi lain kasur, memberikan jarak yang cukup sopan. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, sampai akhirnya Ayyan menoleh.
"Namira," panggilnya lembut.
"I-iya, Mas?" Namira menoleh dengan wajah pucat.
"Kamu takut sama saya?"
Namira mengerjapkan mata. "Bukan takut... cuma... Mas kan ustadz besar, pinter, serius. Sedangkan aku cuma anak manja yang hobi makan seblak. Aku takut Mas nyesel nikah sama aku karena aku nggak cocok jadi Ibu Nyai yang pinter kayak di kitab-kitab itu."
Ayyan terdiam sejenak. Ia menghela napas, lalu tangannya bergerak ragu sebelum akhirnya mendarat di puncak kepala Namira. Kali ini, sentuhannya jauh lebih lama dan lembut.
"Saya tidak butuh istri yang sudah sempurna. Kalau kamu sudah sempurna, lalu apa gunanya saya sebagai suamimu?" ucap Ayyan dengan suara rendah yang sangat menenangkan. "Tidurlah. Saya tidak akan memaksamu melakukan apapun malam ini jika kamu belum siap. Saya hanya ingin kamu tahu... kamu aman di sini."
Namira tertegun. Rasa deg-degan yang mencekam tadi perlahan berubah menjadi rasa hangat di dadanya. Ia tersenyum tipis, lalu dengan berani menarik bantalnya sedikit mendekat ke arah Ayyan.
"Mas... kalau gitu, boleh nggak temenin aku tidur sambil ceritain satu kisah dari kitab-kitab itu? Biar aku nggak ngerasa asing di sini," pinta Namira dengan mata berbinar.
Ayyan tersenyum—senyum tulus yang sangat manis. "Baiklah. Mau cerita tentang apa? Nabi Sulaiman atau perjuangan para sahabat?"
"Yang ada romantisnya sedikit ya Mas!" celetuk Namira.