Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Terjepit di Balik Pintu Putih
Ketegangan di area tunggu ICU Rumah Sakit Medika merayap seperti kabut dingin yang mencekik. Amara, yang masih berada di dalam ruang steril, bisa melihat melalui kaca besar bagaimana dua pria tegap itu berdiri dengan angkuh. Tatapan mereka tajam, menyapu seisi ruangan seolah-olah Amara adalah mangsa yang sudah masuk ke dalam jaring laba-laba.
"Bunda... Amara harus keluar sebentar. Bunda bertahan ya," bisik Amara dengan suara bergetar. Ia mengecup dahi ibunya sekali lagi sebelum melepas jubah sterilnya dengan gerakan cepat.
Amara tahu ia tidak bisa bersembunyi selamanya di dalam ruangan yang hanya memiliki satu pintu keluar itu. Dengan keberanian yang tersisa, ia melangkah keluar. Begitu pintu otomatis bergeser, kedua pria itu langsung bergerak memutus jalan Amara menuju lift.
"Nona Amara, selamat datang kembali di Jakarta," ujar salah satu pria itu dengan nada yang dibuat ramah namun terdengar sangat mengancam. "Tuan Bastian sangat merindukanmu. Dia berpesan, meskipun dia sedang berada di balik jeruji di Amerika, koneksinya di sini masih sangat kuat untuk menjemputmu."
Amara mundur selangkah, punggungnya menempel pada dinding rumah sakit yang dingin. "Apa yang kalian inginkan? Ayah tiriku sudah kalah! Pergi kalian!"
"Kami tidak butuh Bastian. Kami butuh dokumen yang kamu bawa dari Amerika. Serahkan secara baik-baik, atau ibumu yang ada di dalam sana tidak akan pernah bangun lagi dari komanya," ancam pria itu sambil melangkah maju, mempersempit jarak.
Di saat yang kritis itu, sebuah suara lantang memecah suasana.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan pada Mbak ini?!"
Amara menoleh. Di ujung koridor, berdiri seorang gadis mungil dengan gamis hitam dan cadar yang menutupi wajahnya. Aisyah. Gadis itu tampak mengatur napasnya yang memburu, matanya memancarkan kemarahan sekaligus kekhawatiran.
Kedua pria itu tertawa meremehkan. "Lihat ini, ada ninja kecil yang ingin jadi pahlawan. Pergi kamu, Dek! Ini urusan orang dewasa."
Aisyah tidak bergeming. Ia justru mengeluarkan ponselnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Saya sudah menekan nomor darurat dan menyalakan siaran langsung di media sosial saya yang memiliki ribuan pengikut santri! Jika kalian menyentuhnya, wajah kalian akan viral di seluruh Indonesia dalam hitungan detik!"
Tentu saja Aisyah sedikit menggertak, namun ketegasannya membuat kedua pria itu ragu. Di rumah sakit besar seperti ini, keributan yang viral adalah hal terakhir yang diinginkan oleh organisasi kriminal yang ingin bergerak rahasia.
"Sial! Kita pergi dulu. Urusan kita belum selesai, Amara!" salah satu pria itu mendesis sebelum akhirnya mereka berbalik dan berjalan cepat menuju tangga darurat.
Amara hampir saja jatuh terduduk karena lemas jika Aisyah tidak segera berlari dan memegang lengannya.
"Mbak... Mbak tidak apa-apa?" tanya Aisyah cemas.
Amara menatap Aisyah dengan pandangan tidak percaya. "Aisyah? Kenapa kamu ada di sini? Bagaimana kamu bisa menemukanku?"
Aisyah membantu Amara duduk di kursi tunggu. "Tadi Mbak bilang ibu Mbak kritis di rumah sakit, dan saya merasa ada yang mengganjal di hati saya. Saya mencari rumah sakit terdekat dari bandara yang memiliki fasilitas ICU terbaik, dan firasat saya membawa saya ke sini."
Aisyah terdiam sejenak, lalu menatap Amara dengan tatapan yang sangat dalam. "Mbak... boleh saya bertanya sesuatu? Nama lengkap Mbak... Amara Nagita Slavina?"
Amara tersentak. "Bagaimana kamu tahu nama lengkapku?"
Aisyah menarik napas panjang di balik cadarnya. "Karena kakak laki-laki saya, Gus Hannan, sedang menggila di California mencari istrinya yang bernama Amara. Mbak... Mbak ini ipar saya, kan?"
Mendengar kenyataan itu, Amara menutup wajahnya dengan tangan dan menangis sejadi-jadinya. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat akhirnya terbongkar di depan adik iparnya sendiri dalam situasi yang paling kacau.
Di Belahan Bumi Lain: Los Angeles, California.
Di dalam kamar apartemennya yang kini terasa hampa, Hannan sedang mengemasi pakaiannya ke dalam tas ransel dengan gerakan yang kasar—sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh seorang Gus yang biasanya tenang.
"Nan! Kamu gila?! Kamu mau pulang sekarang?" Gus Malik berdiri di ambang pintu, mencoba menghalangi jalan sahabatnya.
"Dia istriku, Malik! Dia pulang ke sarang serigala tanpa perlindungan siapa pun!" suara Hannan meninggi, matanya memerah karena belum tidur dan terlalu banyak menangis.
"Tapi Abahmu! Beliau sudah mengeluarkan maklumat di grup keluarga. Jika kamu menginjakkan kaki di Indonesia hanya untuk mencari Amara, beliau tidak akan mengakuimu sebagai anak! Kamu mau jadi anak durhaka?!"
Hannan berhenti bergerak. Ia menatap Gus Malik dengan tatapan yang menghancurkan hati. "Malik... Abah mengajarkanku bahwa seorang laki-laki diuji dari caranya menjaga amanah. Amara adalah amanah yang aku ambil dengan nama Allah di depan saksi. Jika aku membiarkannya mati di tangan penjahat karena aku takut pada amarah ayahku, maka ilmuku selama ini tidak ada harganya."
Hannan menyampirkan tasnya. "Aku akan pulang. Bukan sebagai Gus dari pesantren Abah, tapi sebagai seorang suami yang ingin menyelamatkan istrinya. Sampaikan maafku pada Kiai Hamzah dan Ummi Halimah."
Hannan berjalan melewati Gus Malik, melangkah pasti menuju pintu keluar. Di saku jaketnya, terselip tiket pesawat satu arah menuju Jakarta. Ia tahu, kepulangannya kali ini mungkin tidak akan disambut dengan rebana dan pelukan hangat, melainkan dengan pintu yang tertutup rapat dan pengucilan. Namun bagi Hannan, cahaya di mata Amara jauh lebih penting daripada status sosial yang ia sandang.