"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke-dua puluh satu
Sarah tidak gentar, ia justru mengangkat bahunya dengan santai. "Yah, biasanya kan kalau satu ayah-ibu, setidaknya ada satu fitur wajah yang sama. Tapi ini... beneran kayak beda kasta, eh, maksudku beda garis keturunan. Aneh saja menurutku." balas Sarah dengan wajah yang di buat-buat polos.
Adriansyah mengerutkan alisnya, ia mulai membandingkan wajah Najwa dengan wajahnya sendiri lewat pantulan layar ponselnya, lalu beralih menatap Raisa. Sebuah keraguan besar mulai tumbuh di kepalanya.
Adriansyah bergumam pelan namun terdengar sinis "Sekarang kalau dipikir-pikir... bener juga kata Sarah. Kenapa kita bertiga punya tahi lalat di posisi yang hampir sama di dekat alis , tapi Raisa nggak punya ya?"
Alendra terdiam seribu bahasa. Ingatannya kembali pada bisikan Najwa di lobi tadi pagi tentang "kejadian 19 tahun lalu". Ia menatap Raisa dengan pandangan yang tak lagi sama, pandangan yang penuh selidik dan kecurigaan.
Najwa menyentuh tangan Sarah dengan lembut, mencoba menenangkan "Sudahlah, Sarah. Fisik itu pemberian Tuhan. Tidak perlu diperdebatkan."
Najwa lalu melirik Raisa dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah tatapan yang seolah berkata, Kehancuranmu dimulai dari kecurigaan orang lain, bukan dariku.
Raisa berdiri dengan kasar hingga kursinya terjatuh "Kalian semua gila! Jangan dengarkan orang kampung ini!"
Raisa berlari meninggalkan kantin sambil menahan tangis malunya. Teman-temannya yang biasanya membela kini hanya diam, mereka juga mulai menyadari kebenaran dari ucapan Sarah.
" bagaimana menurutmu bang?" tanya Ardiansyah pada Alendra.
" bahkan yang kembar saja kadang tidak ada kemiripan, ya mungkin faktor genetik saja" jawab Alendra asal, walaupun tidak bisa di pungkiri, hatinya sedikit terganggu oleh ucapan teman Najwa itu.
Bel berbunyi....jam istirahat sudah selesai,. mereka kembali ke kelasnya masing-masing.
___
___
___
Suasana rumah besar Suhadi yang biasanya megah dan tenang, seketika berubah menjadi medan perang. Suara tangis histeris Raisa pecah begitu ia menginjakkan kaki di ruang tengah. Ia melempar tas mahalnya ke sembarang arah, rambutnya acak-acakan, dan riasan wajahnya luntur oleh air mata.
"Mama! Papa. HIKS HIKS HIKS....! Aku dipermalukan! Gadis desa itu menghinaku di depan semua orang hiks...!" jerit Raisa sambil memeluk Monica yang langsung berlari menghampirinya.
Monica mendekap Raisa erat, matanya berkilat penuh kebencian ke arah pintu depan. "Apa yang dia lakukan padamu, sayang? Katakan pada Mama!"
"Dia bilang aku bukan anak kandung! Dia bilang aku anak pungut! Dan temannya... temannya menghinaku di kantin, bilang wajahku tidak mirip dengan Kak Alen dan Kak Adrian...hiks hiks hiks dan dia juga bilang kalau Papa laki-laki pecundang yang menjebak mamanya agar bisa Papa nikahi .!" Raisa meraung, tubuhnya gemetar hebat....
" sudah sayang, jangan dengarkan dia, kamu anak mama dan papa" ucap Monica mengelus lembut bahu putrinya yang terguncang.
" ia nak, kamu anak kami, papa yang selalu menjagamu saat kamu sakit, dan papa sendiri yang mengajarimu caranya berjalan " sahut Afkar dengan lembut, ia merasa kasihan melihat putrinya terlihat hancur seperti itu.
Tepat saat itu, Najwa masuk dengan menenteng tas Selempang nya,
" Assalamualaikum ...ucap Najwa dengan sopan?"
Afkar tampak sangat murka, wajahnya merah padam dengan urat leher yang menonjol. Begitu sampai di tengah ruangan, Afkar berdiri dan menatap Najwa dengan tatapan menghunus.
suara Afkar menggelegar memenuhi ruangan "Najwa! Apa yang kau lakukan di kampus?! Kau membawa-bawa masalah nikah siri di depan umum? Kau ingin menghancurkan namaku?!" tanya Afkar berapi-api.
Najwa berdiri tegak, tidak menunduk, tidak pula gentar. Ia menatap papanya dengan sorot mata yang penuh luka namun tetap tegar.
"Najwa tidak menghancurkan nama Papa. Najwa hanya membela kehormatan Ibu Maryam. Ibu tidak pernah menjadi pelakor, Pa. Dia wanita terhormat yang Papa ambil dengan janji manis. Kenapa Papa lebih marah karena aib Papa terbongkar daripada kenyataan bahwa Ibu Najwa dihina habis-habisan oleh Raisa?, Raisa mengatakan kalau Najwa anak haram, Raisa menyebar fitnah kalau Ibunda Maryam adalah pelakor, apa Najwa harus bilang iya begitu...?" Najwa menjawab dengan mulut sedikit bergetar karena hatinya merasa sesak melihat kemarahan papanya, padahal papanya itu yang meminta dirinya agar ikut ke kota dan berjanji akan menebus kesalahannya. Namun kini lebih mendengarkan hasutan Raisa daripada penjelasannya.
Afkar maju satu langkah, tangannya gemetar menahan amarah "Kau anak ingusan tidak tahu apa-apa! Itu urusan orang dewasa! Dengan membocorkan rahasia itu, kau membuat rekan bisnisku mempertanyakan integritas perusahaanku! Kau benar-benar anak yang tidak tahu berterima kasih!"
Monica menimpali dengan nada provokatif. "Lihat, Mas! Aku sudah bilang, anak ini hanya membawa sial! Dia ingin menghancurkan keluarga kita, dia ingin menyingkirkan Raisa agar dia bisa menguasai harta Kakek sendiri!"
Raisa semakin kencang menangis, "Dia bilang aku bukan darah asli Suhadi, Pa... dia memfitnah Mama hiks hiks hiks ....!"
Afkar menoleh ke arah Najwa dengan mata yang hampir keluar. "Soal Raisa... dari mana kau berani bicara seperti itu?! Kau ingin mengadu domba saudaramu sendiri?!"
Najwa tersenyum getir, suaranya tetap tenang namun menusuk "Jika itu fitnah, kenapa Tante Monica terlihat sangat ketakutan sekarang? Kenapa wajah Tante pucat saat Najwa menyinggung soal sembilan belas tahun lalu?"
Monica berteriak histeris "DIAM KAU! KELUAR DARI RUMAH INI! Mas, usir dia sekarang juga!"
"SIAPA YANG BERANI MENGUSIR CUCUKU?!"
Suara bariton yang berat dan penuh otoritas itu menghentikan segalanya. Kakek Suhadi berdiri di lantai dua, memegang tongkatnya dengan sangat kuat. Di sampingnya, ada pak damar, supir sekaligus pengawal pribadinya yang baru saja pulang menjemput Najwa lalu menemui tuan besar.
Kakek Suhadi turun perlahan, setiap langkah tongkatnya di lantai marmer terdengar seperti vonis hukuman bagi Monica dan Afkar.
Kakek Suhadi menatap Afkar dengan penuh kekecewaan "Afkar... kau lebih peduli pada 'integritas bisnismu' daripada darah dagingmu sendiri? Kau marah karena Najwa membela ibunya yang memang kau bohongi?"
Afkar tertunduk, suaranya mengecil "Tapi Ayah... dia mempermalukan kita di kampus."
"Yang mempermalukan keluarga ini adalah kebohonganmu, bukan kejujuran Najwa, lagian kalau Raisa tidak memancing duluan, Najwa juga tidak akan membela diri, aku tahu semuanya tentang putrimu yang kau banggakan itu memfitnah Najwa sebagai anak haram, sebagai anak selingkuhan..!"
Kakek Suhadi kemudian beralih menatap Monica yang kini mulai gemetar hebat. Sang Kakek mengeluarkan sebuah map hitam yang sedari tadi ia pegang.
"Dan kau, Monica... kau pikir aku tidak tahu alasan kenapa kau terus-menerus memprovokasi Afkar untuk membenci Najwa? Kau takut, bukan? Kau takut jika tes DNA dilakukan, dunia akan tahu bahwa Raisa bukanlah cucuku." ucap kakek Suhadi dengan suara beratnya.
Raisa berhenti menangis, ia menatap Kakek dengan wajah linglung. "Kek... apa maksud Kakek?"
Monica mencoba merebut map itu, namun Alendra yang baru masuk dengan sigap menghalanginya dengan tangan yang kokoh. Ia merebut map itu dan segera membukanya.
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong