Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan di Kos Mawar
Sekar Arum mengikuti Ibu tersebut masuk ke dalam rumah kos. Ruang tamu terlihat sederhana, namun bersih dan rapi. Di dinding, tergantung beberapa foto keluarga yang terlihat bahagia dan lukisan pemandangan sawah yang menenangkan. Aroma harum masakan menguar dari dapur, membuat Sekar Arum merasa seperti berada di rumah sendiri. Suasana rumah terasa hangat dan akrab.
"Ini kamar yang kosong, Nak. Silakan dilihat," kata Ibu tersebut dengan senyum ramah, membuka pintu sebuah kamar di ujung ruangan.
Sekar Arum melangkah masuk ke dalam kamar. Kamar tersebut tidak terlalu besar, namun cukup untuk seorang mahasiswa. Di dalam kamar, terdapat sebuah tempat tidur berukuran single, meja belajar sederhana, kursi plastik, dan lemari pakaian kayu berpintu dua. Jendela kamar menghadap ke halaman belakang, memberikan cahaya alami yang cukup dan pemandangan kebun kecil dengan tanaman bunga yang berwarna-warni.
Sekar Arum mengamati kamar tersebut dengan seksama. Kamar tersebut tampak bersih dan terawat. Tempat tidur sudah dilengkapi dengan sprei dan bantal yang bersih, meja belajar terlihat rapi, dan lemari pakaian cukup untuk menyimpan pakaian dan barang-barangnya. Ia membuka jendela dan menghirup udara segar yang beraroma bunga.
"Bagaimana, Nak? Kamarnya sederhana, tapi insya Allah nyaman," kata Ibu tersebut, menunggu reaksi Sekar Arum.
Sekar Arum tersenyum. "Kamar ini bagus, Bu. Saya suka," jawabnya tulus.
"Alhamdulillah. Kalau gitu, mari kita bicarakan harganya," kata Ibu tersebut. "Untuk kamar ini, harganya lima ratus ribu rupiah per bulan. Sudah termasuk listrik, air, dan wifi."
Sekar Arum sedikit terkejut mendengar harga tersebut. Ia tahu bahwa harga kos di Solo cukup mahal, tetapi ia berharap bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Namun, ia juga mempertimbangkan fasilitas yang diberikan dan suasana kos yang nyaman.
"Apa harganya bisa nego, Bu?" tanya Sekar Arum dengan hati-hati.
Ibu tersebut tersenyum lembut. "Sebenarnya harganya sudah pas, Nak. Tapi, karena kamu mahasiswa baru dan kelihatan anak baik-baik, Ibu kasih diskon jadi empat ratus lima puluh ribu rupiah per bulan," kata Ibu tersebut.
Sekar Arum merasa lega dan senang mendengar tawaran tersebut. "Alhamdulillah, terima kasih banyak, Bu," ucapnya tulus.
"Sama-sama, Nak. Oya, nama Ibu Siti. Kamu bisa panggil Ibu Siti saja," kata Ibu tersebut, mengulurkan tangannya.
"Saya Sekar Arum, Bu," jawab Sekar Arum sambil menjabat tangan Ibu Siti dengan ramah.
"Sekar, kalau kamu mau mandi, kamar mandinya ada di belakang. Ada dua kamar mandi, jadi tidak perlu antri. Kalau mau mencuci, ada mesin cuci yang bisa dipakai bersama. Untuk makan, di depan kos ada banyak warung makan yang murah," jelas Ibu Siti.
Saat mereka sedang berbincang-bincang, datanglah seorang gadis muda yang berpakaian santai dengan rambut dikuncir kuda. "Assalamualaikum, Bu," sapa gadis tersebut dengan senyum ceria.
"Waalaikumsalam, Dewi. Kenalkan, ini Sekar, mahasiswa baru UNS. Dia mau ngekos di sini," kata Ibu Siti, memperkenalkan Sekar Arum kepada gadis tersebut.
"Hai, Sekar. Selamat datang di Kos Mawar," sapa gadis tersebut dengan ramah, mengulurkan tangannya. "Aku Dewi, fakultas ekonomi."
Sekar Arum tersenyum dan menjabat tangan Dewi. "Hai, Dewi. Senang bertemu denganmu," jawabnya.
"Dewi ini sudah lama ngekos di sini, Sekar. Dia anaknya baik, rajin, dan suka menolong. Kamu bisa minta bantuan dia kalau ada apa-apa," kata Ibu Siti dengan nada bangga.
"Ibu bisa aja," kata Dewi sambil tertawa kecil, pipinya merona. "Sekar, kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan ya. Kita di sini sudah seperti keluarga. Apalagi kita beda fakultas, jadi bisa saling tukar informasi."
Sekar Arum merasa terharu mendengar perkataan Dewi. Ia merasa senang karena sudah bertemu dengan orang-orang yang ramah, terbuka, dan peduli. Suasana di Kos Mawar benar-benar hangat dan kekeluargaan, jauh dari bayangan tentang kehidupan kos yang serba individualistis.
"Terima kasih, Dewi. Aku senang sekali bisa bertemu dengan kalian," kata Sekar Arum dengan senyum tulus.
"Ya sudah, Ibu tinggal dulu ya, Nak. Dewi, tolong temani Sekar ya, kasih tahu aturan kos dan lain-lain," kata Ibu Siti, berpamitan dan kembali ke dapur untuk melanjutkan persiapan makan malam.
Setelah Ibu Siti pergi, Dewi mengajak Sekar Arum duduk di kursi teras. Mereka mulai berbincang-bincang tentang banyak hal, mulai dari jurusan kuliah, mata kuliah yang sulit, dosen yang killer, hingga tempat-tempat makan yang enak dan murah di sekitar kampus.
"Sekar, kamu sudah tahu aturan kos di sini?" tanya Dewi.
Sekar Arum menggeleng. "Belum, Dewi. Tadi baru bicara soal harga sama Bu Siti," jawabnya.
"Oke, sini aku jelasin. Di sini, kita harus menjaga kebersihan kamar dan lingkungan kos. Buang sampah pada tempatnya, jangan berisik terlalu malam, dan saling menghormati antar penghuni kos. Kalau ada teman yang kesulitan, kita harus saling membantu," jelas Dewi dengan rinci.
"Terus*, jam malamnya gimana?" tanya Sekar Arum penasaran.
"Jam malam bebas, asal jangan pulang terlalu larut dan memberitahu Bu Siti. Yang penting, kita tetap menjaga nama baik kos dan kepercayaan Bu Siti," jawab Dewi
Mereka terus berbincang-bincang hingga sore hari. Dewi menceritakan pengalamannya selama menjadi anak kos, suka dan dukanya. Ia juga memberikan tips dan trik untuk menghadapi kehidupan kampus, mulai dari cara mendapatkan catatan yang lengkap, cara mengerjakan tugas kelompok yang efektif, hingga cara menghadapi dosen yang galak.
"Yang terpenting, jangan malu bertanya dan bergaul dengan teman-teman lain. Di kampus, kita harus saling membantu dan mendukung," kata Dewi. "Oh ya, kamu sudah punya teman di Ilmu Komunikasi?"
Sekar Arum menggeleng. "Aku belum kenal siapa-siapa," jawabnya dengan nada sedikit khawatir.
"Tenang saja, nanti aku kenalin sama teman-temanku yang juga anak Ilmu Komunikasi. Mereka baik-baik dan ramah," kata Dewi menenangkan.
"Wah, makasih banyak, Dewi," ucap Sekar Arum dengan senyum lega.
"Sama-sama, Sekar. Aku dulu juga merasakan hal yang sama saat pertama kali ngekos. Rasanya sepi dan bingung. Tapi, lama-kelamaan terbiasa kok," kata Dewi.
Saat adzan Maghrib berkumandang, Ibu Siti memanggil mereka untuk makan malam. Mereka berdua bergegas masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan penghuni kos lain di meja makan.
Suasana makan malam terasa akrab dan hangat. Mereka semua bercanda dan tertawa, berbagi cerita tentang kegiatan sehari-hari. Sekar Arum merasa senang karena bisa menjadi bagian dari keluarga kos yang penuh cinta dan persahabatan.
Setelah makan malam, Sekar Arum membantu Ibu Siti mencuci piring. Sambil mencuci piring, mereka berbincang-bincang tentang banyak hal, mulai dari resep masakan, tips merawat tanaman, hingga cerita-cerita lucu tentang kehidupan sehari-hari.
"Sekar, Ibu senang sekali kamu mau ngekos di sini. Semoga kamu betah dan bisa sukses dalam kuliah," kata Ibu Siti dengan senyum tulus.
"Terima kasih, Bu. Aku juga senang bisa tinggal di sini. Ibu baik sekali," jawab Sekar Arum.
Setelah selesai mencuci piring, Sekar Arum kembali ke kamarnya dan mulai menata barang-barangnya. Ia menempatkan pakaian di lemari, buku-buku di meja belajar, dan perlengkapan mandi di kamar mandi. Ia juga menempelkan foto-foto keluarga dan teman-temannya di dinding kamar, agar ia tidak merasa kesepian.
Setelah semua barang tertertata dengan rapi, Sekar Arum duduk di tempat tidur dan memandangi kamar barunya. Ia merasa lega, bahagia, dan bersyukur. Ia telah menemukan tempat yang aman, nyaman, dan penuh cinta untuk merajut mimpi-mimpinya.
Ia mengambil buku catatan dan mulai menulis tentang pengalamannya hari ini. Ia menulis tentang perjalanan yang melelahkan, pertemuan dengan Ibu Siti dan Dewi yang ramah,
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*