Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Baru Sebagai Nyonya Mafia
Aku berdiri di tengah kamar itu seperti patung.
Leonardo melepaskan pelukannya. Berjalan ke kamar mandi sambil melepas jas dan dasinya.
"Mandi dulu," ucapnya tanpa menoleh. "Aku tunggu di ranjang."
Tunggu di ranjang.
Kata-kata itu membuat perutku mual.
Tapi aku sudah janji. Aku sudah setuju.
Demi Arman. Demi nyawanya.
Aku masuk ke kamar mandi dengan kaki gemetar. Mandi dengan air panas tapi tetap merasa dingin. Menggosok tubuh sampai kulit merah tapi tetap merasa kotor.
Setelah selesai, aku pakai baju tidur yang sudah disiapkan. Gaun tidur sutra berwarna putih. Tipis. Terlalu tipis.
Aku menatap pantulanku di cermin.
Orang asing menatap balik.
Perempuan dengan mata kosong. Dengan wajah yang sudah kehilangan cahaya.
Aku keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan.
Leonardo sudah di ranjang. Duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Mengenakan celana piyama hitam. Dada telanjang menampilkan beberapa bekas luka yang mungkin dari pertarungan masa lalu.
Dia menatapku. Mata nya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah.
"Kemarilah," ucapnya sambil menepuk tempat di sampingnya.
Aku berjalan dengan kaki yang terasa berat seperti timah. Naik ke ranjang. Duduk di ujung. Sejauh mungkin darinya.
Leonardo tersenyum tipis. Lalu bergerak mendekat. Tangannya meraih pinggangku. Menarikku sampai punggungku menyentuh dadanya.
"Jangan takut," bisiknya di telingaku. "Aku tidak akan sakiti kau."
Tapi kehadirannya sudah menyakitiku. Setiap detik bersamanya adalah siksaan.
Tangannya mengusap lenganku. Naik turun dengan gerakan yang seharusnya menenangkan tapi justru membuat aku makin tegang.
"Kau gemetar," ucapnya. "Santai. Aku suamimu. Ini yang seharusnya terjadi antara suami istri."
Suami istri. Kata-kata yang terdengar sangat salah di situasi ini.
Tangannya bergerak ke wajahku. Memutar kepalaku supaya aku menghadap dia.
Dan dia menciumku.
Ciuman yang lembut. Tapi terasa seperti dicekik.
Aku tidak membalas. Hanya diam. Membiarkan dia melakukan apapun yang dia mau karena aku sudah tidak punya kekuatan untuk melawan.
Leonardo melepaskan ciumannya. Menatapku dengan tatapan aneh.
"Kau tidak membalas," ucapnya dengan nada... kecewa?
"Aku... aku tidak bisa..." bisikku.
"Kau harus bisa," balasnya. "Kau sudah janji. Tunduk sepenuhnya. Itu termasuk ini."
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Leonardo menghela napas. Lalu dia memelukku. Membaringkanku di ranjang dengan kepalaku di dadanya.
"Baiklah," bisiknya. "Malam ini aku tidak akan paksa kau. Tapi cepat atau lambat, kau harus terbiasa. Karena ini akan jadi rutinitas kita."
Tangannya mengusap rambutku dengan gerakan yang seharusnya menenangkan.
"Sekarang tidur," ucapnya. "Besok akan jadi hari yang panjang."
Tapi bagaimana aku bisa tidur?
Bagaimana aku bisa tidur di pelukan monster yang sudah menghancurkan hidupku?
Tapi entah karena kelelahan fisik atau mental, atau keduanya, mataku perlahan mulai berat.
Dan aku tertidur.
Dalam mimpi buruk yang lebih baik dari kenyataan.
---
# Dua minggu berlalu sejak malam itu.
Dua minggu aku hidup sebagai Nyonya Valerio yang sesungguhnya.
Setiap malam tidur di ranjang yang sama dengan Leonardo. Kadang dia hanya memelukku. Kadang dia menciumku. Tapi dia belum pernah lebih jauh dari itu.
Seperti dia menunggu sesuatu. Menunggu aku yang menyerah sepenuhnya. Bukan cuma tubuh tapi juga jiwa.
Dan pagi ini, Leonardo membangunkanku lebih awal dari biasanya.
"Bangun, sayang," bisiknya sambil mencium keningku. "Hari ini kita punya acara penting."
Aku membuka mata dengan berat. Tubuh masih lelah. Tapi aku tidak punya pilihan selain bangun.
"Acara apa?" tanyaku dengan suara serak.
"Pesta," jawabnya sambil bangkit dari tempat tidur. "Pesta tahunan aliansi RED ASHES. Semua bos dari berbagai negara akan datang dengan istri mereka. Dan kau... kau akan kukenalkan sebagai istriku secara resmi."
Pesta mafia.
Tempat dimana para pembunuh berjas rapi berkumpul sambil berpura-pura beradab.
"Aku... aku tidak mau pergi..." bisikku.
Leonardo berhenti. Berbalik menatapku dengan tatapan tajam.
"Ini bukan permintaan," ucapnya dengan nada dingin. "Ini perintah. Kau akan pergi. Kau akan tersenyum. Kau akan bersikap seperti istri yang bahagia. Karena semua mata akan tertuju pada kita. Dan aku tidak akan biarkan mereka lihat keretakan apapun."
Dia berjalan ke lemari. Mengeluarkan gaun.
Gaun merah darah yang sangat mewah. Sutra halus dengan kristal-kristal yang berkilau. Potongan yang elegan tapi juga sangat terbuka di bagian punggung dan dada.
"Pakai ini," perintahnya sambil meletakkan gaun di tempat tidur. "Sofia akan datang untuk rias kau jam sepuluh. Pesta mulai jam delapan malam. Jangan buat aku malu."
Lalu dia masuk ke kamar mandi. Meninggalkanku sendirian dengan gaun yang terasa seperti kostum untuk pertunjukan yang tidak pernah kuminta.
Tepat jam sepuluh, Sofia datang.
Dia merias wajahku dengan sangat hati-hati. Makeup yang lebih tebal dari biasanya. Mata smokey dengan eyeliner tajam. Bibir merah gelap senada dengan gaun. Rambut ditata ke atas dengan beberapa helai terurai indah di samping wajah.
"Nyonya terlihat sangat cantik," puji Sofia sambil menyemprotkan parfum mahal.
Tapi aku tidak merasa cantik. Aku merasa seperti boneka yang didandani untuk dipamerkan.
Sore itu, aku memakai gaun merah itu. Sepatu hak tinggi hitam yang membuat kakiku sakit walau baru berdiri. Perhiasan berlian di leher dan telinga yang beratnya terasa seperti rantai.
Leonardo masuk saat aku sedang menatap pantulanku di cermin.
Dia mengenakan tuxedo hitam dengan dasi merah gelap yang sama dengan gaunku. Rambut rapi. Wajah bercukur bersih. Terlihat seperti pangeran dari dongeng gelap.
"Sempurna," ucapnya sambil berdiri di belakangku. Tangannya melingkari pinggangku dari belakang. "Kau akan jadi pusat perhatian malam ini."
Aku tidak mau jadi pusat perhatian. Aku mau menghilang.
Tapi aku tidak bilang itu. Hanya diam sambil menatap pantulan kami berdua.
Pasangan yang terlihat sempurna dari luar. Tapi di dalam penuh luka dan ketakutan.
Pukul tujuh malam, kami berangkat.
Bukan ke vila atau restoran. Tapi ke sebuah istana tua di luar kota yang sudah direnovasi jadi ballroom mewah.
Mobil-mobil mewah berjejer di depan. Ferrari. Lamborghini. Rolls Royce. Bentley. Semua hitam atau abu gelap.
Kami turun dari mobil. Leonardo langsung mengaitkan tanganku di lengannya. Genggaman yang kuat. Memastikan aku tidak bisa kemana-mana.
Masuk ke dalam ballroom yang sangat besar. Lampu kristal raksasa di langit-langit. Meja-meja bundar dengan taplak putih dan bunga mawar merah di tengahnya. Musik klasik mengalun lembut dari orkestra langsung di panggung.
Dan orang-orang.
Puluhan orang.
Pria-pria berjas mewah dengan wajah keras. Mata yang dingin. Aura yang menakutkan walau mereka tersenyum.
Dan perempuan-perempuan.
Istri-istri mereka.
Semua cantik dengan gaun-gaun mewah. Perhiasan yang mungkin seharga rumah. Makeup sempurna. Rambut ditata indah.
Tapi matanya... matanya sama seperti mataku.
Kosong.
Takut.
Terjebak.
"Don Valerio!" sapa seorang pria besar dengan aksen Italia kental. "Lama tidak bertemu!"
Leonardo tersenyum dan berjabat tangan dengan pria itu.
"Don Rossi," balas Leonardo. "Senang melihatmu."
Don Rossi menatapku dengan tatapan yang membuat kulitku merayap.
"Dan ini pasti istri mu yang cantik," ucapnya sambil mengangkat tanganku dan mencium punggung tanganku. "Leonardo, kau pria yang sangat beruntung."
"Aku tahu," balas Leonardo sambil menarikku lebih dekat. Posesif.
Kami berkeliling. Leonardo memperkenalkanku pada satu per satu bos mafia.
Don Petrov dari Rusia. Don Chang dari Tiongkok. Don Santos dari Meksiko. Don Al-Rashid dari Timur Tengah.
Semua dengan istri yang terlihat cantik tapi mata yang mati.
Sampai kami bertemu dengan seorang wanita yang sedikit berbeda.
Dia lebih tua. Mungkin sekitar empat puluhan. Berambut pirang dengan sedikit uban yang disembunyikan dengan pewarna. Gaun hijau zamrud yang elegan. Wajah yang masih cantik walau ada garis-garis kelelahan.
"Nyonya Valerio," sapanya dengan senyum tipis. "Saya Isabella Moretti. Istri Don Moretti dari Sisilia."
Kami berjabat tangan. Tangannya dingin.
"Senang bertemu dengan anda," ucapku dengan nada yang terlatih sopan.
"Boleh saya pinjam istri anda sebentar, Don Valerio?" tanya Isabella pada Leonardo. "Saya ingin mengobrol dengan sesama istri. Anda tahu, pembicaraan wanita."
Leonardo menatapku sebentar. Lalu mengangguk. "Jangan lama-lama. Dan jangan pergi jauh."
Isabella tersenyum dan mengajakku menjauh dari kerumunan pria yang sedang membicarakan bisnis mereka.
Kami berdiri di balkon yang menghadap taman belakang. Udara malam yang sejuk membuat aku sedikit bisa bernapas.
"Sudah berapa lama kau menikah dengan Don Valerio?" tanya Isabella sambil menyeruput champagne.
"Beberapa bulan," jawabku pelan.
"Masih baru," komentarnya. "Masih dalam fase... penyesuaian."
Aku meliriknya. Ada sesuatu di nada bicaranya.
"Anda sudah berapa lama dengan Don Moretti?" tanyaku balik.
"Dua puluh tahun," jawabnya sambil menatap jauh ke taman. "Dua puluh tahun dalam sangkar emas."
Hening sejenak.
"Kau tahu apa yang paling menyedihkan?" lanjutnya dengan nada pahit. "Di awal, aku masih melawan. Masih berharap bisa kabur. Tapi sekarang... sekarang aku bahkan tidak ingat lagi bagaimana rasanya punya harapan."
Dia menoleh menatapku.
"Kita semua tawanan, sayang," bisiknya. "Cuma sangkarnya berlapis emas. Cuma rantainya dibuat dari berlian. Tapi tetap saja penjara."
Air mataku hampir jatuh tapi kutahan.
"Apa... apa tidak ada yang pernah berhasil kabur?" tanyaku dengan suara gemetar.
Isabella tersenyum sedih. "Ada. Dua tahun lalu. Istri Don Kozlov dari Ukraina. Dia berhasil kabur sampai ke Prancis."
Harapan kecil muncul di dadaku.
"Tapi tiga hari kemudian," lanjut Isabella dengan nada datar. "Tubuhnya ditemukan di Seine. Tenggelam. Resmi nya kecelakaan. Tapi kita semua tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Harapan itu langsung mati.
"Jadi nasehatku," Isabella menatapku dengan tatapan yang penuh simpati. "Jangan mencoba kabur. Jangan berharap diselamatkan. Jangan bermimpi tentang kebebasan. Karena satu-satunya jalan keluar dari dunia ini adalah kematian. Atau kehilangan kewarasan sampai kau tidak peduli lagi."
Dia meletakkan gelas champagnenya di meja. Lalu menepuk bahuku dengan lembut.
"Selamat datang di neraka kita, Nyonya leonardo," bisiknya. "Semoga kau lebih kuat dari yang lain."
Lalu dia berjalan kembali ke dalam ballroom. Meninggalkanku sendirian di balkon dengan kata-katanya yang terngiang di kepala.
Kita semua tawanan.
Sangkar berlapis emas.
Satu-satunya jalan keluar adalah kematian.
Aku berdiri di sana sambil menatap taman gelap di bawah. Tangan ku mencengkeram pagar besi dengan erat sampai buku-buku jariku memutih.
Apa ini hidupku sekarang?
Apa ini yang akan kulakukan sampai aku mati?
Jadi boneka di pesta-pesta seperti ini sambil tersenyum palsu dan berpura-pura bahagia?
Tiba-tiba aku merasakan tatapan.
Tatapan yang intens. Yang membuat tengkukku merinding.
Aku menoleh.
Di ujung balkon, berdiri seorang pria.
Tinggi. Berambut hitam dengan sedikit uban di pelipis. Mata gelap yang menatapku dengan cara yang... aneh. Bukan tatapan nafsu seperti yang biasa kuliat dari tamu-tamu lain. Tapi tatapan yang lebih dalam. Seperti dia mengenaliku.
Dia mengenakan tuxedo abu gelap. Berdiri dengan postur yang tenang tapi ada aura berbahaya di sekelilingnya.
Kami saling menatap beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam.
Lalu dia tersenyum tipis. Senyum yang membuat perutku bergejolak.
Dan berjalan mendekat.
"Nyonya Valerio," sapanya dengan suara dalam dan aksen yang tidak bisa kutebak. "Akhirnya kita bertemu."
Akhirnya?
Apa maksudnya?
"Maaf," ucapku dengan nada waspada. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Dia tertawa pelan. "Tidak secara langsung. Tapi aku sudah banyak mendengar tentangmu."
Dia mengulurkan tangannya. "Damian Volkov. Adik dari Dmitri Volkov. Dan... seseorang yang sangat tertarik dengan situasimu."
Volkov. Mafia Rusia.
Aku tidak menjabat tangannya. Hanya menatap dengan waspada.
Dia menurunkan tangannya sambil tersenyum.
"Aku tidak bermaksud mengancam," ucapnya. "Sebaliknya. Aku mungkin satu-satunya orang di pesta ini yang bisa membantumu."
"Membantu aku? Untuk apa?"
"Untuk keluar dari sangkar emas itu," bisiknya sambil melangkah lebih dekat. "Aku tahu apa yang Leonardo lakukan padamu. Aku tahu kau di sini bukan karena kemauan sendiri. Dan aku... aku punya rencana."
Jantungku berdegup cepat.
"Kenapa... kenapa kau mau bantu aku?" tanyaku dengan suara gemetar.
"Karena Leonardo Valerio sudah terlalu lama berkuasa," jawab Damian dengan nada dingin. "Sudah waktunya dia jatuh. Dan kau... kau adalah kunci untuk menghancurkannya."
Sebelum aku bisa menjawab, suara Leonardo terdengar dari belakang.
"Damian Volkov."
Nada suaranya sangat dingin. Sangat berbahaya.
Aku berbalik. Leonardo berdiri di pintu balkon dengan wajah yang... mengerikan. Rahangnya mengeras. Mata nya menyala marah.
Di belakangnya, Andrey sudah siap dengan tangan di balik jas. Siap menodongkan senjata kapan saja.
"Don Valerio," sapa Damian dengan senyum santai. "Aku hanya mengobrol dengan istrimu yang cantik."
"Menjauh darinya," ucap Leonardo dengan suara rendah yang lebih menakutkan dari teriakan. "Sekarang."
Damian mengangkat kedua tangannya dengan gesture menyerah. Tapi senyumnya tidak hilang.
"Tentu," ucapnya sambil mundur. "Aku tidak bermaksud mengganggu."
Dia melirik ke arahku sebentar. Lalu berbisik cukup pelan tapi aku masih dengar.
"Pikirkan tawaranku."
Lalu dia berjalan melewati Leonardo dan kembali ke dalam ballroom.
Leonardo langsung mendekatiku. Tangannya mencengkeram lenganku dengan kuat. Sakit.
"Apa yang dia bilang padamu?" tanyanya dengan nada menuntut.
"Tidak... tidak ada... dia cuma... cuma menyapa..." aku gemetar.
"JANGAN BOHONG!" bentaknya. Pertama kali dia bentak aku di depan orang lain.
Beberapa tamu yang ada di dalam melirik ke arah kami.
Leonardo menyadari itu. Dia menarik napas dalam. Mengontrol amarahnya.
"Kita pulang," ucapnya dengan nada yang dipaksakan tenang. "Sekarang."
Dia menyeretku keluar dari balkon. Melewati ballroom dengan langkah cepat. Mengabaikan sapaan dari tamu-tamu lain.
Andrey dan Marco langsung mengikuti di belakang.
Kami masuk ke mobil. Leonardo mendorongku masuk dengan kasar. Lalu dia duduk di sampingku dengan wajah yang masih penuh amarah.
Perjalanan pulang sangat menyeramkan.
Leonardo tidak bicara sepatah kata pun. Hanya duduk dengan rahang mengeras dan tangan mengepal erat.
Aku bisa merasakan badai akan datang.
Dan saat kami sampai di vila, badai itu pecah.
Leonardo menarikku keluar dari mobil. Menyeretku masuk. Naik tangga. Masuk ke kamarnya.
Lalu melempar aku ke tempat tidur dengan kasar.
"APA YANG DIA BILANG PADAMU?!" teriaknya. Wajahnya merah. Urat di lehernya menonjol.
"Dia... dia tidak bilang apa-apa penting... dia cuma..."
"JANGAN BOHONGI AKU LAGI!" Leonardo menghampiri lemari. Membukanya dengan kasar. Mengambil sesuatu.
Pistol.
Dia memutar pistol di tangannya sambil berjalan bolak balik.
"Damian Volkov bukan orang sembarangan," ucapnya dengan nada geram. "Dia musuhku. Rival terbesar RED ASHES. Dan dia baru saja bicara dengan istriku. Pasti ada sesuatu."
Dia berhenti. Menatapku dengan tatapan gila.
"Apa dia tawarkan sesuatu padamu?" tanyanya sambil mengarahkan pistol ke arahku. "Apa dia bilang dia bisa selamatkan kau?"
Aku tidak bisa bicara. Hanya menatap pistol itu dengan mata terbelalak.
"JAWAB AKU!"
"Ya!" aku akhirnya berteriak. "Ya dia bilang dia bisa bantu aku keluar! Tapi aku tidak terima! Aku tidak bilang apapun! Kumohon turunkan senjatanya..."
Leonardo menatapku lama. Pistol masih terarah ke kepalaku.
Lalu perlahan, dia menurunkannya.
Tapi yang dia lakukan selanjutnya lebih menakutkan.
Dia tersenyum.
Senyum yang dingin. Yang gila.
"Jadi dia mau ambil kau dariku," bisiknya. "Dia mau gunakan kau untuk hancurkan aku."
Dia tertawa. Tawa yang terdengar tidak waras.
"Tapi dia salah," lanjutnya sambil berjalan mendekatiku. "Karena kau tidak akan kemana-mana. Bahkan kalau aku harus kunci kau di ruang bawah tanah. Bahkan kalau aku harus rantai kau di ranjang ini. Kau tidak akan pernah pergi."
Dia meraih wajahku dengan tangan yang masih memegang pistol. Logam dingin pistol menyentuh pipiku.
"Kau milikku," bisiknya. "Dan aku akan bunuh siapapun yang coba ambil kau. Termasuk Damian Volkov. Termasuk dirimu sendiri kalau kau coba tinggalkan aku."
Air mataku jatuh.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, aku sadar sesuatu.
Leonardo sudah benar-benar gila.
Obsesinya sudah melewati batas kewarasan.
Dan aku... aku terjebak dengan orang gila yang punya kekuatan untuk bunuh siapapun yang menghalanginya.
Tidak ada jalan keluar.
Tidak ada harapan.
Hanya ada kegelapan.
Kegelapan yang semakin dalam.
Dan aku tenggelam di dalamnya tanpa bisa diselamatkan lagi.