NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

"Rumah Mbak hanya sepuluh langkah dari sini," jawab Hilman tegas tanpa menoleh. Langkah kakinya dipercepat.

"Tapi kan—"

Belum sempat Keyla menyelesaikan kalimatnya, sebuah mobil SUV hitam mewah berhenti mendadak di depan gerbang masjid. Suara deru mesinnya memecah kesunyian pagi. Pintu kemudi terbuka, dan keluarlah seorang pria bertubuh tegap, modis, dengan kacamata hitam yang disampirkan di kaos bermereknya.

Itu adalah Arkan (25 tahun), kakak laki-laki satu-satunya Keyla yang baru saja pulang dari luar kota setelah sukses bekerja di dunia entertainment Jakarta.

"KEYLA?!" teriak Arkan dengan suara baritonnya yang ceria.

Mata Keyla membelalak. Sifat hyper-nya langsung meledak seribu kali lipat. Ia melupakan Gus Hilman sejenak. "ABANG ARKAANNN!!!"

Keyla langsung berlari kencang seperti anak kecil, kakinya yang jenjang melompat ke arah Arkan. Arkan dengan sigap menangkap tubuh adiknya, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan memutar-mutarkannya di udara. Keyla tertawa lepas, memeluk leher kakaknya erat, persis seperti adegan film drama.

"Ya ampun, makin berat aja kamu, Cil!" Arkan tertawa, lalu menggendong Keyla di punggungnya (piggyback) sambil berlari-lari kecil di halaman masjid yang masih sepi.

Gus Hilman tertegun di tempatnya. Ia sempat salah paham dan mengira itu adalah pacar Keyla yang lain. Dadanya mendadak terasa sesak—perasaan yang ia sendiri tidak mengerti apa namanya.

"Key, turun! Malu dilihat orang masjid!" tegur Arkan sambil menurunkannya. Matanya kemudian tertuju pada Hilman. "Eh, ada siapa nih? Temen kamu?"

Keyla turun dari gendongan kakaknya, rambutnya acak-acakan, pipinya merona karena senang. Ia langsung mendekat ke arah Hilman dan dengan berani menggandeng lengan Arkan sambil menunjuk ke arah sang Gus.

"Bang Arkan, kenalin! Ini Gus Hilman, guru privat ngaji aku yang paling ganteng sejagat raya tapi kaku banget kayak kanebo kering!" celoteh Keyla tanpa dosa.

Arkan mengerutkan kening, menatap Hilman dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan menyelidik khas seorang kakak yang protektif. "Gus? Guru privat?" Arkan tersenyum miring, lalu mengulurkan tangan. "Arkan. Kakaknya si pembuat onar ini."

Hilman menjabat tangan Arkan dengan sopan, meski batinnya masih terguncang melihat kedekatan fisik kakak-adik yang begitu bebas di depannya. "Hilman. Salam kenal, Mas Arkan."

"Gus, jangan cemburu ya liat aku peluk-pelukan sama Bang Arkan," bisik Keyla sengaja didekatkan ke telinga Hilman hingga Arkan bisa mendengarnya. "Kalau mau digendong juga, daftar dulu ya!"

"Keyla! Jaga bicaramu," tegur Hilman, namun kali ini ada nada yang berbeda di suaranya—ada sedikit sisa keterkejutan dan... mungkin sedikit rasa tidak nyaman melihat Keyla begitu intim dengan pria lain, meskipun itu kakaknya sendiri.

Arkan tertawa lebar melihat wajah kaku Hilman. "Wah, kayaknya seru nih punya guru ngaji kayak Mas Hilman di rumah. Yuk Gus, mampir dulu ke rumah, saya bawa banyak oleh-oleh dari Jakarta!"

Suasana di halaman masjid yang tadinya penuh tawa dan candaan berani Keyla mendadak membeku seolah waktu berhenti berputar. Dari balik pilar masjid, muncul dua sosok yang paling dihormati di desa itu: Abah Kiai, kakek dari Gus Hilman yang merupakan pengasuh pesantren, dan Pak Lurah, ayah Keyla.

Abah Kiai tampil sangat karismatik dengan jubah putih dan sorban yang tersampir rapi, sementara Pak Lurah berjalan di sampingnya dengan wajah yang kembali tegang melihat pemandangan di depan matanya.

"Ehem!" dehem Abah Kiai cukup keras, namun tetap terdengar tenang.

Keyla yang tadinya masih nempel di lengan Arkan langsung menjaga jarak, meskipun sifat hyper-nya membuatnya susah untuk benar-benar diam. Arkan sendiri segera merapikan posisinya dan menyalami kedua orang tua tersebut dengan sopan.

"Lho, Arkan? Kapan kamu sampai, Le?" tanya Pak Lurah, mencoba mencairkan suasana yang canggung karena ia tahu persis putrinya baru saja berteriak-teriak dan berpelukan di halaman masjid.

"Baru saja, Yah. Pas sekali selesai Subuhan," jawab Arkan sambil mencium tangan Abah Kiai.

Mata teduh Abah Kiai beralih menatap cucunya, Hilman, yang berdiri kaku seperti patung, lalu beralih ke Keyla yang masih memakai kemeja putih tipisnya. Abah Kiai tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan namun membuat siapa pun yang melihatnya merasa "terbaca".

"Alhamdulillah kalau keluarga sudah berkumpul," ucap Abah Kiai lembut. Beliau menatap Keyla. "Nduk Keyla, semangat sekali ya Subuhannya hari ini sampai membawa semangat Jakarta ke masjid."

Keyla tersipu, ia menunduk sedikit tapi matanya tetap melirik nakal ke arah Hilman. "Iya, Mbah Kiai... soalnya guru privatnya hebat banget, jadi Keyla semangat."

Abah Kiai terkekeh pelan, lalu menepuk bahu Hilman. "Hilman, sepertinya tugasmu membimbing Nduk Keyla akan semakin ramai dengan adanya Mas Arkan di sini. Ajari mereka berdua, biar Mas Arkan juga ingat jalan pulang ke pesantren."

"In-Insya Allah, Abah," jawab Hilman dengan suara rendah, tak berani menatap mata kakeknya.

Pak Lurah yang merasa tidak enak hati melihat pakaian Keyla yang masih kurang pantas di depan Abah Kiai, langsung angkat bicara. "Gus Hilman, Mas Arkan, mari kita lanjut ngobrol di rumah saja. Bunda sudah siapkan sarapan. Abah Kiai, mohon maaf jika ada tingkah anak-anak kami yang kurang berkenan."

Saat mereka mulai berjalan menuju rumah Pak Lurah yang hanya menyeberang jalan, Arkan merangkul bahu Hilman dengan akrab—sebuah gestur yang membuat Hilman merasa makin tidak nyaman karena tidak terbiasa dengan kontak fisik seakrab itu..

"Gus, nanti ceritain ya, gimana rasanya ngadepin adik saya yang 'ajaib' ini selama saya nggak ada," bisik Arkan sambil tertawa kecil.

Keyla yang berjalan di depan mereka sengaja memperlambat langkahnya. Saat Pak Lurah dan Abah Kiai sudah masuk ke pagar, ia berbalik dan mendekatkan wajahnya ke arah Hilman yang sedang dirangkul kakaknya.

"Gus... tadi Abah Kiai bilang 'ajarin kami berdua' kan? Berarti nanti kalau privat, kita bertiga di ruang tamu. Tapi kalau Abang Arkan tidur... kita tetep berdua ya?" bisik Keyla dengan kerlingan mata yang penuh kemenangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!