"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 The Chef's Oath
Pagi menyingsing dengan suasana yang berbeda di kediaman keluarga Kim. Tidak ada lagi keheningan yang mencekam, melainkan suara denting peralatan masak dari arah paviliun tamu yang kini telah beralih fungsi menjadi markas pribadi Jeon Jungkook.
Di ruang kerja utama, Jin duduk dengan rahang yang mengeras, menatap selembar dokumen legal di atas meja mahoninya. Di sampingnya, Suga berdiri menyandarkan bahu pada rak buku, matanya yang sembab karena kurang tidur menatap kosong ke arah jendela. Semalam adalah titik balik yang memaksa mereka menelan harga diri demi satu alasan: keselamatan Shine.
"Aku sudah memeriksa kembali data medisnya semalam," suara Suga memecah kesunyian, parau dan dingin. "Hasilnya tidak berubah. Kehadiran Jungkook di dekat Shine bukan lagi sekadar pilihan, Hyung. Itu kebutuhan vital. Sel-sel Shine merespons energinya seolah-olah mereka adalah kunci dan gembok yang akhirnya bertemu."
Jin menghela napas panjang, lalu memijat pangkal hidungnya. "Jadi kau ingin aku memberikan izin resmi padanya? Mengizinkan orang asing tinggal di tanah kita, membiarkan dia menyentuh adik kita kapan pun dia mau?"
"Jika kau ingin Shine tetap bernapas, ya," jawab Suga tanpa ragu.
Pintu ruang kerja diketuk dua kali. RM masuk, diikuti oleh Jungkook yang masih mengenakan kaos hitam santai namun dengan tatapan mata yang sangat tajam dan waspada. Jungkook tidak menunduk; ia berdiri tegak, menantang aura intimidasi yang dipancarkan oleh dua pria paling berkuasa di rumah itu.
Jin mendorong dokumen di atas meja ke arah Jungkook. "Ini adalah kontrak tinggal. Kau akan menempati paviliun tamu secara permanen. Tugasmu hanya satu: pastikan Shine tidak pernah kehabisan energi lagi. Kau akan mendapatkan akses ke fasilitas rumah ini, tapi jangan pernah lupa di mana batasmu."
Jungkook tidak segera mengambil pulpen. Ia menatap Jin, lalu beralih ke Suga, sebelum akhirnya kembali menatap sang CEO besar tersebut.
"Tuan Kim, Dokter Min," Jungkook menyebut nama mereka dengan nada yang tidak lagi sekadar formalitas, melainkan penuh penekanan. "Saya akan menandatangani ini, tapi bukan karena saya butuh kontrak dari kalian. Saya menandatangani ini karena Shine memanggil saya di sela-sela rasa sakitnya semalam."
Jungkook melangkah maju, meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Jin, mencondongkan tubuhnya hingga mereka berada pada posisi sejajar.
"Kalian boleh menjadi pelindungnya di mata dunia. Kalian boleh menjaga keselamatannya dengan uang, pengawal, dan peralatan medis canggih kalian. Silakan, jaga tubuhnya agar tidak terluka sedikit pun," Jungkook menjeda, matanya berkilat penuh tekad yang posesif. "Tapi soal jiwanya... soal apa yang dia rasakan saat kegelapan penglihatan itu datang menyerangnya... itu bagianku. Kalian menjaga keselamatannya, aku yang akan menjaga jiwanya."
Ruangan itu mendadak sunyi. Jin bisa merasakan amarahnya mendidih mendengar klaim berani dari pria yang jauh lebih muda darinya ini. Namun, ia juga melihat kejujuran yang menakutkan di mata Jungkook.
"Kau berani sekali bicara soal jiwanya di depanku," desis Jin, suaranya rendah dan mengancam.
"Karena saya satu-satunya yang bisa merasakan detak jantungnya kembali normal saat saya memeluknya, Hyung," balas Jungkook, sengaja menggunakan sebutan Hyung untuk menegaskan bahwa ia kini adalah bagian dari lingkaran terdalam mereka, mau tidak mau.
Suga mendengus, berjalan mendekat dan menepuk meja dengan jarinya yang pucat. "Cukup omong kosongnya. Tanda tangani itu, lalu segera ke dapur. Shine sudah bangun dan dia terus menanyakan aroma masakanmu. Dia tidak mau menyentuh sarapan yang dibuat koki utama kita."
Jungkook mengambil pulpen dan menorehkan tanda tangannya dengan goresan yang mantap. Begitu selesai, ia langsung berbalik menuju pintu tanpa menunggu perintah lagi.
"Satu lagi," suara Jin menghentikan langkah Jungkook di ambang pintu. "Jangan pernah berpikir untuk membawanya pergi dari rumah ini."
Jungkook menoleh sedikit, memberikan senyum miring yang tipis. "Saya tidak akan membawanya pergi. Saya hanya akan memastikan bahwa ke mana pun dia pergi, saya adalah satu-satunya rumah yang dia ingat."
Setelah Jungkook pergi, Jin melemparkan dirinya ke kursi kerjanya, menatap langit-langit dengan ekspresi kalah yang jarang terlihat. "Namjoon, pastikan pengawasan di paviliun tamu ditingkatkan. Aku ingin tahu setiap inci gerakan mereka."
RM hanya membungkuk kecil. "Baik, Tuan. Tapi sepertinya Nona Shine sendiri yang tidak ingin pengawasan itu ada."
Di dapur paviliun, Shine berdiri di ambang pintu, memperhatikan Jungkook yang sedang menata piring-piring porselen berisi shrimp scampi yang aromanya memenuhi ruangan. Begitu Jungkook menyadari kehadiran Shine, raut wajahnya yang tadi keras saat menghadapi Jin langsung melunak selembut mentega yang meleleh.
"Kau sudah bangun?" tanya Jungkook, berjalan mendekat dan secara alami meletakkan telapak tangannya di dahi Shine, memeriksa suhunya.
Shine sedikit berjengit, pipinya merona. "Aku mendengar suara ribut di ruang kerja Jin Oppa tadi. Kau... kau tidak apa-apa?"
Jungkook tersenyum manis, jempolnya mengusap pelan pelipis Shine—sebuah gerakan 'penandaan' yang ia lakukan tanpa sadar. "Hanya sedikit negosiasi antara pria dewasa. Mulai sekarang, aku tidak akan pergi ke mana-mana, Shine. Aku punya kunci paviliun ini, dan aku punya izin untuk memelukmu kapan pun kau merasa dingin."
Shine menunduk, jantungnya berdebar kencang. "Kenapa kau melakukan ini? Kakak-kakakku bisa sangat mengerikan kalau mereka mau."
Jungkook menarik dagu Shine agar gadis itu menatap matanya. "Karena semalam, saat kau memanggil 'Oppa' pada mereka dengan suara ketakutan, aku merasa gagal. Aku ingin suatu saat nanti, saat kau merasa dunia runtuh, nama yang kau panggil pertama kali bukan Jin Oppa atau Suga Oppa..."
Jungkook mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di depan bibir Shine. "...tapi namaku. Jeon Jungkook."
Sumpah itu bukan sekadar kata-kata. Sejak hari itu, Jungkook resmi menjadi penghuni kediaman Kim. Ia adalah koki, pelindung, baterai, dan mungkin—sesuatu yang paling ditakuti Jin dan Suga—pemilik hati sang Oracle yang paling dalam.
...****************...