Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Rangga berlutut di depan sofa, dengan telaten menempelkan handuk hangat ke pergelangan kaki Linggar yang membengkak.
Ia memegang kaki Linggar dengan sangat lembut, kontras dengan sifat tegasnya di kantor.
Linggar hanya bisa terdiam, menatap puncak kepala Rangga dengan perasaan yang kian tersiksa oleh rasa bersalah.
"Sudah lebih baik?" tanya Rangga tanpa mendongak.
"I-iya, terima kasih, Rangga," jawab Linggar pelan.
Rangga berdiri, merapikan baskom kecil di sampingnya.
"Istirahatlah, Linggar. Aku akan keluar sebentar ke balkon untuk menghubungi kekasihku. Dia pasti sudah menungguku karena ponselnya mati terus sejak tadi."
Rangga melangkah keluar menuju balkon, menutup pintu kaca yang memisahkan mereka.
Linggar melihat punggung tegap itu dari balik kaca.
Pria itu tampak cemas, berkali-kali menatap layar ponselnya dengan penuh harap dan berharap sosok 'Nadya' memberikan kabar.
Linggar memejamkan mata rapat-rapat, air mata hampir jatuh di sudut matanya.
Setiap perhatian yang diberikan Rangga sebagai bos terasa seperti sembilu karena ia tahu hati pria itu sedang mencari sosok palsu yang ia ciptakan.
"Aku tidak bisa membohonginya terus. Ini sudah terlalu jauh," gumam Linggar lirih pada kesunyian kamar.
Ia mengambil ponsel rahasianya yang ia sembunyikan di balik bantal.
Layarnya menyala, memperlihatkan belasan panggilan tak terjawab dari Rangga.
Ia merasakan dadanya yang sesak. Ia mencintai pria ini, namun ia mencintainya melalui sebuah kebohongan besar yang jika terungkap, mungkin akan membuat Rangga membencinya selamanya.
"Aku harus mencari akal agar dia membenci Nadya," gumam Linggar lagi, suaranya bergetar.
"Hanya dengan begitu, dia bisa berhenti mengejar bayangan dan mungkin dia bisa melihatku sebagai Linggar yang utuh. Aku harus membuat Nadya terlihat buruk di matanya."
Linggar mulai mengetik sesuatu di ponsel rahasianya, sebuah rencana nekat untuk menghancurkan citra 'Nadya' demi menyelamatkan kewarasannya sendiri, meski itu berarti ia harus kehilangan satu-satunya cara untuk berbicara manis dengan Rangga.
Linggar duduk di tepi tempat tidur dengan jantung yang berdegup kencang, memegang ponsel rahasianya dengan tangan gemetar.
Di balkon, hanya terhalang pintu kaca, ia bisa melihat siluet Rangga yang sedang menempelkan ponsel di telinga.
Ponselnya berdering dan ia melihat Rangga yang sedang menghubunginya.
Dengan suara yang ia buat sedatar mungkin, Linggar mengangkatnya.
"Selamat malam, Sayang," sapa Rangga dengan suaranya terdengar sangat lembut, penuh kerinduan yang mendalam.
"Malam, Ngga," jawab Linggar singkat.
"Sudah tidur? Aku merindukanmu, ponselmu susah sekali dihubungi tadi," tanya Rangga, terdengar cemas sekaligus lega karena akhirnya tersambung.
Linggar menggigit bibir, air mata mulai menggenang.
"Aku mau tidur, Ngga. Dan, Ngga, lebih baik kita berteman saja. Mulai sekarang, jangan panggil aku 'sayang' lagi."
Hening sejenak di seberang telepon. Di balkon, Linggar melihat tubuh Rangga menegang seketika.
"Nad, ada apa? Apa aku berbuat salah? Katakan padaku, jangan tiba-tiba seperti ini," suara Rangga berubah panik, ada nada luka yang sangat jelas di sana.
"Tidak ada yang salah, Ngga. Aku hanya merasa kita tidak cocok. Sudah ya, aku lelah," jawab Linggar, suaranya nyaris pecah karena menahan tangis.
"Nad, jawab! Jangan dimatikan! Atau, kita bertemu saja. Aku tidak bisa mengakhiri ini lewat telepon," seru Rangga dengan nada putus asa.
"Besok, jam empat sore, aku tunggu kamu di Cafe House di Jakarta. Kalau kamu tidak datang, aku akan menganggap ini serius. Aku akan pergi dan meninggalkan kota ini, aku akan pindah ke kantor cabang di luar negeri. Aku tidak bisa berada di tempat yang sama denganmu jika kita berakhir seperti ini!"
KLIK!
Rangga mematikan ponselnya dengan kasar. Dari balik kaca, Linggar melihat Rangga menyandarkan kepalanya ke pagar balkon, bahunya tampak terguncang.
Pria yang biasanya terlihat sangat kokoh itu kini tampak hancur hanya karena beberapa kalimat singkat.
Linggar menjatuhkan ponselnya ke atas kasur dan menutup mulutnya dengan kedua tangan agar isakannya tidak terdengar.
Rencananya untuk membuat Rangga membenci Nadya justru berbalik menjadi bumerang.
Rangga tidak membencinya, ia justru hancur dan mengancam akan pergi selamanya.
"Apa yang telah aku lakukan?" tangis Linggar pecah di balik bantal.
"Jika aku tidak datang besok, aku akan kehilangan dia selamanya. Tapi jika aku datang, dia akan tahu bahwa Nadya adalah aku, si 'babi' yang dia kasihan."
Malam di Bandung itu menjadi malam paling panjang dan menyakitkan bagi mereka berdua, yang hanya terpisahkan oleh selembar pintu kaca namun terbentang jarak kebohongan yang begitu luas.
Linggar menarik napas gemetar, jemarinya dengan cepat mengetik pesan terakhir di ponsel rahasianya sebelum tenaganya benar-benar habis.
[ Lusa kita bertemu, Ngga. Jangan besok. Aku butuh waktu untuk menyiapkan diri.]
Hanya dalam hitungan detik, balasan masuk dari Rangga.
[Baik, Nad. Aku akan menunggumu. Lusa, jam yang sama. Tolong, jangan kecewakan aku lagi.]
Linggar segera mematikan ponsel itu dan menyembunyikannya jauh di bawah tumpukan pakaian di dalam tasnya.
Ia menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan kasar, namun matanya yang memerah dan hidungnya yang sengal tidak bisa berbohong.
Pintu kaca balkon bergeser terbuka. Rangga melangkah masuk dengan wajah yang tampak sangat lesu. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Linggar yang sedang duduk meringkuk di tepi ranjang dengan bahu yang masih sedikit bergetar.
Rangga mendekat, rasa sedihnya sendiri sejenak teralihkan oleh kondisi sekretarisnya.
"Hei, kamu menangis? Ada apa, Linggar?" tanya Rangga, suaranya terdengar parau.
Linggar tersentak, ia segera membuang muka, mencoba mengatur napasnya agar terdengar normal.
"Nggak, Ngga. Aku nggak apa-apa."
Rangga berlutut di depan Linggar, mencoba mencari tatapan matanya.
"Jangan bohong. Matamu sangat merah. Apa kakimu sesakit itu sampai kamu menangis seperti ini?"
"I-iya. Kaki aku agak sakit sedikit... nyerinya sampai ke hulu hati."
Rangga terdiam dan mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya mengusap sisa air mata di sudut mata Linggar.
"Maafkan aku. Mungkin aku tadi terlalu keras saat mengobatimu."
Linggar mendongak, melihat sorot mata Rangga yang juga tampak sangat rapuh.
Ia bisa melihat bayangan kesedihan yang sama di mata pria itu.
"Apa kamu juga menangis, Ngga?" tanya Linggar lirih.
Rangga tertegun. Ia menyentuh wajahnya sendiri, baru menyadari bahwa gurat kesedihan akibat pembicaraannya dengan 'Nadya' tadi terpancar jelas. Ia memaksakan sebuah senyum pahit yang justru terlihat sangat menyakitkan.
"Aku hanya sedang merasa kehilangan arah, Linggar. Wanita yang aku cintai, dia baru saja meminta kami untuk berteman saja. Rasanya lebih sakit daripada ribuan penolakan kontrak bisnis."
Rangga menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, tepat di samping lutut Linggar.
Di kamar hotel yang mewah, dimana dua orang yang saling mencintai namun terhalang oleh identitas palsu itu saling berbagi kesedihan yang sama, tanpa Rangga menyadari bahwa sumber air matanya ada tepat di hadapannya.
"Tidurlah, Linggar. Besok kita pulang ke Jakarta pagi-pagi sekali. Aku butuh waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi lusa." ucap Rangga.