Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3: Kota Yunlong dan Pelatihan Pertama
Suara suara kota yang ramai menyambut Chen Feng ketika kereta memasuki gerbang utama Kota Yunlong. Dinding kota yang tinggi dan tebal dari batu bata merah menjulang tinggi ke langit, dengan menara pengawas yang menjulang di setiap sudutnya. Di bawahnya, pedagang berdesak-desakan di lorong-lorong yang ramai, menjajakan segala sesuatu mulai dari buah-buahan segar hingga senjata yang diasah dengan cermat.
“Kota Yunlong adalah salah satu pusat perdagangan dan pendidikan seni bela diri terbesar di Tanah Seribu Pegunungan,” jelas Ye Linglong sambil menunjuk ke berbagai arah. “Di sini, kamu akan bertemu dengan banyak orang yang memiliki kekuatan khusus, termasuk beberapa keturunan keluarga pemburu naga lainnya.”
Feng hanya mengangguk, matanya tetap mengamati sekeliling dengan cermat. Ia merasa tidak nyaman dengan keramaian yang begitu besar setelah hidup di desa kecil selama bertahun-tahun. Namun, ia juga merasakan getaran energi yang kuat di udara—seolah setiap sudut kota ini menyimpan rahasia dan kekuatan tersendiri.
Kereta berhenti di depan sebuah kompleks bangunan besar dengan gerbang kayu berukir naga emas yang megah. Pagar tinggi yang ditutupi dengan semak-semak bunga merah menjaga keamanan kompleks itu, dan beberapa pengawal berpakaian merah dengan senjata panjang berdiri di setiap pintu masuk.
“Ini adalah Kompleks Keluarga Ye,” ujar Linglong saat mereka turun dari kereta. “Ayahku sudah menunggu kita di halaman utama.”
Mereka memasuki kompleks yang luas, melewati taman dengan kolam ikan emas dan jalan setapak batu yang bersih. Di tengah halaman utama, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan rambut hitam yang sedikit berpucat berdiri dengan sikap tegas. Wajahnya kuat dan penuh dengan kedalaman pengalaman, dan matanya yang sama dengan Linglong memancarkan kekuatan yang tak terbantahkan.
“Ayah,” sapaan Linglong dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.
Ye Tianhong mengangguk kepada putrinya, lalu mengalihkan pandangannya ke Feng. Mata pria itu menyelami setiap sudut wajah Feng, seolah bisa membaca seluruh sejarahnya hanya dengan melihatnya.
“Chen Feng,” ujarnya dengan suara yang dalam dan jelas. “Aku telah menerima kabar tentang apa yang terjadi di Chenjia Cun. Aku prihatin dengan kehilanganmu. Keluarga Ye dan Keluarga Chen telah bersahabat selama berabad-abad, dan kita akan selalu membantu satu sama lain.”
Feng merasakan rasa lega yang jarang dia alami sejak kematian orang tuanya. Ia membungkuk dengan hormat. “Terima kasih, Tuan Ye. Saya berharap Anda bisa membantu saya menjadi cukup kuat untuk menghadapi Sekte Ular Hitam.”
“Kuat fisik saja tidak cukup, anak muda,” kata Ye Tianhong sambil berjalan ke arah sebuah bangunan belakang yang lebih kecil. “Kamu harus belajar mengendalikan energi naga yang mengalir dalam dirimu. Jika kamu tidak bisa mengontrolnya, kekuatan itu akan menguasaimu dan membawamu ke kehancuran.”
Mereka memasuki ruangan pelatihan yang luas dengan lantai kayu yang mengkilap dan dinding yang dihiasi dengan berbagai jenis senjata kuno. Di tengah ruangan, sebuah batu besar dengan pola seperti sisik naga terpasang di atas dasar kayu.
“Ini adalah Batu Pemantul Energi,” jelas Ye Tianhong. “Kita akan menggunakannya untuk pelatihan pertama kamu. Tugasmu adalah merasakan energi naga dalam dirimu, lalu mengalirkannya ke luar tubuhmu dan memantulkannya ke batu itu.”
Feng berdiri di depan batu besar itu, merasa sedikit gugup. Ia mengingat bagaimana kalungnya menyala saat menghadapi Bai Hu, tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengaktifkannya secara sengaja.
“Tutup mata kamu,” perintah Ye Tianhong. “Jangan berpikir tentang balas dendam atau kemarahan. Rasakan saja aliran energi di dalam tubuhmu. Warisan naga tidak merespon kemarahan—ia merespon kedamaian dan keinginan yang jelas.”
Feng menutup matanya dan mencoba untuk rileks. Awalnya, hanya kebisingan dari luar yang ia dengar. Tapi perlahan-lahan, ia mulai merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari kalung di tangannya, menyebar ke lengan, dada, dan seluruh tubuhnya. Seolah ada suara lembut yang berbisik di telinganya—suara yang ia rasakan seperti suara ibunya atau mungkin suara naga yang tinggal di dalam dirinya.
“Sekarang, alirkan energi itu keluar dari telapak tangan kamu,” kata Ye Tianhong dengan suara yang tenang.
Feng mengangkat kedua tangannya ke arah batu. Ia fokus pada perasaan hangat itu, mencoba untuk mengarahkan ke luar. Setelah beberapa saat, secercah cahaya keemasan muncul dari ujung jarinya, perlahan-lahan tumbuh menjadi bola energi yang stabil. Bola itu melesat ke arah batu dan mengenai permukaannya dengan suara lembut, kemudian memantul kembali ke arah Feng.
Ia terkejut dan hampir tidak bisa menghindar, tapi pada saat terakhir, ia merasakan bagaimana energi itu berkomunikasi dengannya. Ia sedikit mengubah arah tangannya, dan bola energi itu berbelok, lalu masuk kembali ke tubuhnya dengan lancar.
“Bagus sekali!” puji Linglong yang telah menyaksikan dari sisi ruangan. “Kamu berhasil melakukannya pada percobaan pertama!”
Ye Tianhong mengangguk dengan senyum kecil. “Bakatmu memang luar biasa, Chen Feng. Banyak orang membutuhkan bulan-bulan untuk bisa merasakan energi naga dengan jelas, tapi kamu berhasil mengalirkannya dalam beberapa menit.” Ia berjalan mendekati Feng dan menepuk bahunya dengan lembut. “Namun ini hanya awal. Besok kita akan mulai pelatihan yang lebih keras—kamu akan belajar teknik dasar pertempuran dan cara menggabungkan energi naga dengan gerakan fisikmu.”
Setelah pelatihan selesai, Linglong mengajak Feng berjalan-jalan di sekitar kompleks. Mereka melewati taman yang indah, di mana beberapa murid sedang berlatih gerakan seni bela diri dengan lancar. Di sudut taman yang tenang, sebuah kolam kecil dengan teratai merah menjadi tempat mereka duduk bersantai.
“Kamu tahu, ayah jarang memuji orang seperti itu,” ujar Linglong sambil memetik seikat rumput yang tumbuh di tepi kolam. “Dia melihat potensi besar dalam dirimu, tapi juga khawatir tentang beban yang kamu pikul.”
“Beban balas dendam adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap hidup saat ini,” jawab Feng dengan suara yang rendah.
Linglong menatapnya dengan mata yang penuh perhatian. “Aku mengerti perasaanmu. Beberapa tahun yang lalu, paman saya juga terbunuh oleh Sekte Ular Hitam karena dia mengetahui rahasia mereka. Aku juga pernah ingin membalas dendam, tapi ayah mengajarkanku bahwa balas dendam hanya akan membuat kita sama dengan mereka yang kita benci.”
“Tapi bagaimana jika mereka tidak mendapatkan hukuman yang layak?” tanya Feng dengan wajah yang penuh dengan kemarahan dan kebingungan.
“Mereka akan mendapatkan hukuman mereka,” jawab Linglong dengan tegas. “Namun kita harus melakukannya dengan cara yang benar—dengan hukum dan keadilan, bukan dengan amarah semata. Selain itu, kamu tidak sendirian dalam perjuangan ini. Aku akan selalu membantu kamu.”
Feng melihat wajah Linglong yang hangat dan tulus. Untuk pertama kalinya sejak kematian orang tuanya, ia merasakan bahwa ada seseorang yang benar-benar peduli dengannya. Rasa hangat yang berbeda dari energi naga muncul di hatinya, membuatnya merasa sedikit terbakar tapi juga tenang.
Di balik pepohonan di kejauhan, Ye Tianhong menyaksikan keduanya dengan ekspresi yang penuh dengan pertimbangan. Ia mengeluarkan sehelai kertas dari saku jubahnya—kertas dengan gambar lambang Sekte Ular Hitam dan beberapa nama yang ditulis di atasnya. Ia meraih dagunya dengan serius, menyadari bahwa perjuangan yang akan datang tidak hanya tentang balas dendam Chen Feng, tapi juga tentang masa depan seluruh Tanah Seribu Pegunungan.
Malam itu, Feng tidur di kamarnya yang baru di kompleks Keluarga Ye. Ia memegang kalung perak di tangannya, melihat bagaimana ia memancarkan cahaya keemasan yang lembut di kegelapan. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan belajar dengan sungguh-sungguh, menjadi cukup kuat untuk melindungi orang-orang yang dicintainya dan memastikan bahwa orang tuanya tidak mati dengan sia-sia.