Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Langit yang Menangis dan Amuk Sang Wira
Kecepatan Ranu membelah cakrawala menciptakan guncangan hebat di angkasa. Ki Sastro dan Ki Ageng Jagat hanya bisa memejamkan mata, merasakan tubuh mereka ditarik oleh kekuatan yang melampaui logika manusia.
Bagi Ranu, setiap detik adalah keabadian. Di dalam batinnya, ia terus memanggil esensi bintang keenamnya untuk melipat ruang dan waktu.
Namun, saat daratan Kerajaan Durja mulai terlihat di ufuk timur, hati Ranu berdesir tajam. Langit di atas ibu kota tidak lagi biru, melainkan berwarna ungu gelap dengan kilatan petir merah yang menyambar-nyambar.
"Bajingan..." desis Ranu. "Mereka benar-benar membuka celah Alam Antahberantah."
Ranu mendarat di alun-alun kota dengan dentuman yang menggetarkan seluruh daratan. Debu membubung tinggi. Saat penglihatannya jelas, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya. Istana megah itu sebagian telah runtuh. Prajurit-prajurit Durja tergeletak tak berdaya, bukan karena luka pedang, melainkan karena sukma mereka dihisap oleh makhluk-makhluk bayangan yang merayap di dinding bangunan.
Di tengah alun-alun, Ki Garna dan Nyai Sumi tampak terikat oleh rantai energi hitam di bawah sebuah pohon tua yang meranggas. Di depan mereka, berdiri lima orang sisa dari Pendekar Tujuh Bayangan yang dipimpin oleh Sang Penguasa Takdir.
"Den Ranu! Jangan mendekat!" teriak Ki Sastro yang baru saja mendarat, namun suaranya tenggelam oleh tawa mengejek Sang Penguasa Takdir.
"Kau tepat waktu, Wira Candra," ucap Sang Penguasa Takdir dengan nada dingin. "Lihatlah orang tua fanamu. Mereka begitu rapuh, begitu kecil. Hanya butuh satu jentikan jari dariku untuk mengirim mereka ke ketiadaan."
Ranu melangkah maju. Setiap langkahnya meninggalkan bekas telapak kaki yang bercahaya biru safir di atas tanah. "Lepaskan mereka, dan aku akan memberimu kematian yang cepat."
"Kematian? Hahaha! Kami adalah abadi selama Amangkrat memegang takhta!" Sang Penguasa Takdir memberi isyarat. Dua bayangan lainnya, Bayangan Kedua (Sang Penjerat Jiwa) dan Bayangan Ketiga (Si Pencabut Nyawa), melesat menyerang Ranu dengan senjata-senjata hitam mereka.
Ranu tidak menghindar. Ia tidak menangkis.
BUM! BUM!
Kedua senjata itu menghantam tubuh Ranu, namun meledak hancur saat bersentuhan dengan kulitnya. Ranu terus berjalan, matanya yang putih perak kini memancarkan aura emas yang begitu pekat hingga air mata darah mengalir dari mata para bayangan tersebut karena tidak kuat menatap keagungan itu.
"Apa?! Bagaimana mungkin?! Dia bahkan belum membuka bintang ketujuh!" teriak Bayangan Kedua ketakutan.
"Kalian meremehkan apa itu arti kasih sayang seorang anak," suara Ranu kini bukan lagi suara pemuda 15 tahun, melainkan suara menggelegar dari Sang Hyang Wira Candra.
Ranu mengulurkan kedua tangannya. Tanpa menyentuh, tubuh Bayangan Kedua dan Ketiga mendadak terangkat ke udara. Mereka meronta, namun tubuh mereka mulai tercerai-berai menjadi butiran cahaya perak.
"Kembalilah ke ketiadaan," ucap Ranu pelan.
Hanya dengan satu pikiran, kedua pendekar tingkat tinggi itu musnah, lenyap seolah-olah mereka tidak pernah ada dalam sejarah dunia fana.
Sang Penguasa Takdir gemetar. Ia segera menempelkan belati hitamnya ke leher Nyai Sumi. "Berhenti! Atau ibu malang ini akan mati!"
Ranu berhenti. Matanya menatap Nyai Sumi. Wanita tua itu, meski ketakutan, menggelengkan kepalanya. "Ranu... Nak... jangan pedulikan Nyai. Tunjukkan pada mereka bahwa kau adalah cahaya..."
"Diam kau, wanita tua!" bentak Sang Penguasa Takdir.
Saat itu juga, Ranu melakukan sesuatu yang tidak diduga. Ia bersujud di tanah. Bukan bersujud pada musuh, melainkan mencium bumi Durja. "Bumi ini adalah saksi... bahwa di sini aku dilahirkan dari cinta, bukan dari ambisi."
Tiba-tiba, dari punggung Ranu, titik ketujuh yang berada tepat di tengah tulang belikat mulai berdenyut dengan warna yang belum pernah terlihat: Putih Berlian.
Itu bukan lagi energi dewa, bukan pula energi manusia. Itu adalah Energi Kemanunggalan.
"Bintang Ketujuh: Reinkarnasi Sempurna!"
Seluruh Kerajaan Durja seketika disinari oleh cahaya putih yang begitu terang hingga kegelapan Alam Antahberantah sirna dalam sekejap. Rantai-rantai hitam yang mengikat orang tua Ranu hancur menjadi debu. Tubuh Ranu perlahan berubah. Rambutnya memutih perak, bajunya berubah menjadi jubah cahaya yang agung, dan di belakang kepalanya muncul lingkaran rasi bintang yang berputar pelan.
Sang Penguasa Takdir mencoba lari, namun ia mendapati dirinya terjebak dalam ruang yang membeku.
Ranu muncul di depannya dalam sekejap mata. Ia tidak memukul. Ia hanya menyentuh dahi Sang Penguasa Takdir dengan telunjuknya. "Kau tahu, Amangkrat melakukan kesalahan besar. Dia mengirim kalian untuk menyakiti keluargaku. Di dunia ini, itu adalah dosa yang tidak memiliki ampunan, bahkan dari Dewa Tertinggi sekalipun."
KRAK!
Jiwa Sang Penguasa Takdir pecah menjadi jutaan fragmen yang tidak akan pernah bisa bersatu lagi.
Ranu berbalik, berjalan perlahan menuju Ki Garna dan Nyai Sumi. Ia berlutut di depan mereka, kembali menjadi Ranu yang hangat. "Bapak, Ibu... maafkan Ranu yang terlambat."
"Ranu... kau... kau sudah kembali sepenuhnya?" tanya Ki Garna dengan suara bergetar.
"Belum, Bapak. Ada satu urusan lagi di atas sana," Ranu menunjuk ke arah langit yang kini mulai terbuka, menampakkan sebuah tangga cahaya yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang memiliki hati murni.
Di puncak tangga itu, samar-samar terlihat sosok Dewa Amangkrat yang sedang menatap ke bawah dengan wajah pucat pasi. Namun, di belakang Amangkrat, muncul sebuah bayangan raksasa yang jauh lebih mengerikan—sosok iblis kuno yang sesungguhnya, Sang Prahara Abadi, yang selama ini mengendalikan Amangkrat.
Ranu berdiri. Ia menoleh ke arah Ki Sastro, Ki Ageng Jagat, dan Diajeng Sekar Arum yang baru saja tiba dengan nafas tersengal.
"Sastro, jaga Bapak dan Ibu. Diajeng, pimpin kerajaan ini dengan bijak," pesan Ranu.
"Den Ranu! Apakah Anda akan pergi sekarang?" tanya Sastro dengan air mata berlinang.
Ranu tersenyum, senyuman seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan tugas rumahnya. "Hanya sebentar, Sastro. Aku harus menampar seorang teman lama di langit. Pastikan saat aku kembali, nasi jagung ibu sudah siap di meja."
Dengan satu lompatan, Ranu melesat naik menuju tangga cahaya. Setiap anak tangga yang ia injak membuat Alam Dewa bergetar hebat. Gerbang Abadi yang selama ini tertutup kini terbuka lebar, menyambut kembalinya Sang Pemilik Cakrawala.
......................