kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Fajar Baru Aethelgard dan Benang Harapan
Kepulangan Ryo dan Lyra ke Aethelgard adalah sebuah kemenangan yang disambut dengan sukacita dan lega yang luar biasa. Jalan-jalan ibu kota dipenuhi oleh rakyat yang bersorak, melemparkan bunga-bunga ke arah mereka. Raja Aethelgard, dengan senyum yang akhirnya kembali terpancar di wajahnya, menyambut putranya dengan pelukan hangat di gerbang istana, sebuah pemandangan yang tidak pernah terlihat sejak Ryo mengasingkan diri. Pangeran yang dulunya terasing dan ditakuti, kini disambut sebagai pahlawan, penyelamat kerajaan.
Namun, di tengah keriuhan perayaan, Ryo tetaplah seorang Dalang Jiwa. Ia merasakan setiap benang kebahagiaan yang meluap dari rakyatnya, namun ia juga merasakan benang-benang kesedihan dan trauma yang masih menggantung, jejak-jejak Kekosongan yang belum sepenuhnya terhapus. Ia tahu, pekerjaan yang sesungguhnya baru saja dimulai: membangun kembali, menyembuhkan, dan memastikan Aethelgard tidak akan pernah lagi dilahap oleh kehampaan.
Raja, dalam pidatonya yang penuh emosi, secara terbuka mengakui kekuatan Ryo sebagai Dalang Jiwa, namun menekankan bahwa kekuatan itu digunakan untuk melindungi, bukan mengendalikan. "Pangeran Ryo telah menghadapi kegelapan terdalam, dan ia kembali membawa cahaya," kata Raja, suaranya lantang, membungkam bisikan-bisikan ketakutan yang masih tersisa. "Ia telah menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan sejati terletak pada kebijaksanaan, pada keseimbangan, dan pada tekad untuk melindungi. Bukan pada dominasi."
Lyra berdiri di samping Ryo, memegang tangannya saat mereka berhadapan dengan rakyat. Ia merasakan kepercayaan dan rasa hormat yang mendalam dari Ryo, sebuah benang yang teranyam begitu erat di antara mereka. Ia tidak lagi hanya menjadi tabib istana, tetapi juga penasihat Ryo, orang kepercayaannya, dan satu-satunya yang memahami sepenuhnya beban dan keindahan menjadi seorang Dalang Jiwa.
Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Ryo tidak lagi mengasingkan diri di menaranya. Ia turun ke bawah, bertemu langsung dengan para korban Kekosongan, berbicara dengan para Ksatria Templar yang telah menjadi bagian dari Anyaman Sucinya. Ia menggunakan kemampuannya, bukan untuk memanipulasi, melainkan untuk memahami. Ia merasakan trauma yang mendalam di benang jiwa para penyintas, kekosongan yang masih tersisa. Dengan bimbingan Lyra, ia mulai mengembangkan metode baru untuk membantu mereka, sebuah kombinasi pengobatan herbal untuk tubuh dan latihan spiritual untuk jiwa.
"Kita tidak bisa mengisi kekosongan mereka dengan paksa," Ryo menjelaskan kepada Lyra suatu sore, saat mereka mengunjungi sebuah desa yang dulunya hancur dan kini sedang dibangun kembali. "Kita harus membimbing mereka untuk mengisi kekosongan itu sendiri, dengan ingatan baru, dengan harapan baru, dengan ikatan baru."
Lyra mengangguk setuju. "Seperti simpul yang Anda buat di Mulut Jurang. Bukan menghancurkan, tapi mengintegrasikan. Membuat mereka menerima kehampaan itu sebagai bagian dari diri mereka, dan kemudian membangun di atasnya."
Ryo, dengan bantuan Lyra, mendirikan 'Ordo Penjaga Benang', sebuah kelompok yang terdiri dari para penyihir dan tabib yang dilatih untuk merasakan dan memahami benang eterik, meskipun tidak dengan kekuatan penuh seorang Dalang Jiwa. Mereka bertugas menyembuhkan luka-luka tak terlihat, menguatkan ikatan komunitas, dan membangun kembali jaring-jaring sosial yang terkoyak.
Kekosongan di Mulut Jurang tetap ada, namun ia kini netral. Sebuah pengingat yang mengerikan, namun tidak lagi aktif mengancam. Ryo kadang-kadang masih memproyeksikan kesadarannya ke arahnya, merasakan simpul yang telah ia buat. Simpul itu stabil, namun ia tahu bahwa butuh perhatian konstan untuk menjaga keseimbangan.
Hubungan Ryo dan Lyra semakin mendalam. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka bersama, membahas masalah kerajaan, mempelajari gulungan-gulungan kuno, atau sekadar berbagi momen tenang di taman istana. Ryo, yang dulunya tertutup dan pendiam, kini lebih terbuka pada Lyra. Ia berbagi pemikiran terdalamnya, ketakutannya, dan harapan-harapannya. Lyra, dengan kebijaksanaan dan empati alaminya, menjadi pendengar yang sempurna, selalu menawarkan sudut pandang yang berbeda, sebuah jangkar di tengah kompleksitas dunia Ryo.
Suatu malam, saat mereka duduk di menara Ryo, melihat bintang-bintang di atas Aethelgard yang damai, Ryo mengeluarkan boneka kayu Elara. Boneka itu kini memancarkan cahaya yang sangat samar, hampir tak terlihat, namun terasa menenangkan.
"Aku tidak lagi merasakan beban," kata Ryo, mengusap boneka itu dengan lembut. "Benang Elara... ia akhirnya bebas."
Lyra menatap Ryo. "Itu karena Anda telah membebaskan diri Anda sendiri, Ryo. Dengan menerima masa lalu, dan mengubahnya menjadi kekuatan. Elara akan bangga pada Anda."
Ryo menoleh ke arah Lyra, matanya yang merah memancarkan kehangatan yang mendalam. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu, Lyra. Kau adalah jangkarku. Kau adalah benang yang menarikku kembali saat aku tersesat."
Lyra tersenyum, pipinya sedikit merona. Ia merasakan benang eterik Ryo yang begitu kuat, namun kini dipenuhi dengan kebaikan, tanggung jawab, dan... cinta. Bukan cinta yang mendominasi, melainkan cinta yang mengikat, yang menguatkan, yang memberi kebebasan.
"Kita akan melakukannya bersama," Lyra berbisik, memegang tangan Ryo. "Selalu."
Di bawah langit Aethelgard yang berbintang, sebuah fajar baru telah tiba. Pangeran Ryo, Dalang Jiwa, telah menemukan tempatnya di dunia. Ia bukan lagi seorang pangeran terasing yang terbebani oleh kutukan, melainkan seorang pemimpin yang bijaksana, seorang Dalang yang menggunakan kekuatannya untuk menenun benang-benang harapan, ikatan, dan perdamaian di Aethelgard yang baru. Dan di sampingnya, Lyra berdiri, sang tabib yang cerdas, yang telah membantu Dalang Jiwa menemukan kembali jiwanya, dan menuntunnya pada takdir sejatinya. Bersama-sama, mereka adalah benang-benang terkuat dalam anyaman kehidupan Aethelgard, merajut masa depan yang lebih cerah, yang penuh dengan keseimbangan dan harmoni. Kisah mereka baru saja dimulai, dan benang takdir Aethelgard akan terus teranyam oleh tangan-tangan mereka yang saling terikat.