"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : TANDA CAT DI KAKI AYAM
Aku menyesap kopi pahit di teras rumah, membiarkan uapnya menyentuh wajahku yang mulai menampakkan garis-garis lelah di usia 70 tahun.
Menjadi anak kedua dari empat bersaudara, tapi memikul tanggung jawab sebagai anak laki-laki paling besar, bukanlah perkara mudah dalam adat kita, Batak. Ada beban yang tidak tertulis di pundakku sejak aku lahir di Tarutung dulu.
Pikiran kuseberangkan ke masa lalu, ke sebuah gang sempit bernama Gang Serayu di Pelita 4.
Di sana, aromanya bukan kopi, melainkan aroma persaingan yang menyesakkan. Kami tinggal bersama Opung Boru—satu-satunya tetua yang tersisa. Tapi di rumah itu, kasih sayang punya kasta.
Jabatan Bapak sebagai PNS biasa seolah membuat suara kami lebih kecil dibanding Amangboru yang posisinya lebih mentereng.
Aku masih ingat bagaimana mata Opung Boru menatap kami; hangat untuk mereka, tapi dingin untuk kami.
Sore itu mendung menggantung di langit Medan. Mama dan Bapak sedang urusan keluar. Sebelum pergi, Mama menitipkan pesan sederhana pada kakak sepupuku—anak Amangboru—untuk mengangkat kain dari jemuran jika hujan turun.
Hujan pun turun. Tapi kain-kain itu tetap di sana, basah kuyup memeluk jemuran. Kakak sepupuku lupa, atau mungkin tak peduli.
Namun, yang meledak bukan amarah karena kain basah, melainkan lisan Opung Boru yang tajam menghujam Mama. "Tak becus!" katanya. Semua kesalahan ditimpakan pada Mama, seolah-olah Mama adalah orang asing di rumah itu. Di sudut ruang, aku melihat Bapak mengepalkan tangan. Itulah titik didihnya. Harga diri seorang suami dan ayah terusik.
"Kita pindah," ucap Bapak malam itu. Singkat, tapi bergetar.
Keputusan Bapak sudah bulat. Meninggalkan Pelita 4 bukan sekadar pindah rumah, tapi upaya menyelamatkan kewarasan Mama dan harga diri keluarga kami. Kami beruntung memiliki Kaka Tua (kakak perempuan Bapak). Beliau adalah oase di tengah gurun. Dengan ketulusan yang jarang kami temukan sebelumnya, ia menyerahkan kunci rumahnya di Perumnas Mandala untuk kami tempati.
"Pakailah, supaya tenang kalian di sana," ucapnya singkat saat itu.
Pindah ke Perumnas Mandala terasa seperti menghirup udara segar setelah sekian lama tercekik di Gang Serayu. Lingkungannya lebih lega, dan yang paling penting: tidak ada lagi tatapan pilih kasih dari Opung Boru.
Sebagai seorang PNS, Bapak punya rutinitas yang kaku. Pergi pagi dengan seragam cokelat yang rapi, pulang sore dengan wajah lelah khas abdi negara. Namun, Mandala mengubah Bapak. Setiap pulang kantor, motornya tidak langsung masuk ke dalam rumah. Di atas jok belakang, sering kali terikat keranjang bambu berisi beberapa ekor anak ayam kampung.
Bapak seolah menemukan dunianya kembali. Sambil masih mengenakan celana dinasnya, ia akan mengambil gergaji dan palu, memaku kayu-kayu sisa untuk membuat kandang.
"Ray, lihat ini. Kalau kita pelihara dengan benar, kita tak perlu beli telur lagi," ujar Bapak bangga sambil menunjukkan telur-telur ayam yang ia tandai dengan nomor menggunakan spidol.
Bapak sangat teliti. Setiap telur diberi nomor agar dia tahu mana yang paling lama dan mana yang harus segera ditetaskan. Kami pun merasakan kemewahan sederhana: makan telur ayam kampung asli setiap pagi. Kuning telurnya yang oranye pekat menjadi sumber energi bagi kami empat bersaudara sebelum berangkat sekolah.
Masalahnya, rumah pemberian Kaka Tua ini belum memiliki pagar samping atau pintu pembatas yang mumpuni. Ayam-ayam Bapak yang mulai berjumlah puluhan itu bebas berkeliaran.
Bapak punya cara unik untuk menjaga hartanya. Ia mengambil cat sisa, lalu menandai kaki-kaki ayam itu dengan warna tertentu. "Supaya kalau nyasar ke tetangga, mereka tahu ini punya marga Siahaan," kelakarnya.
Namun, cat di kaki ayam ternyata tidak cukup kuat melawan tangan jahil atau arah angin yang menyesatkan. Hampir setiap sore, ritual kami berubah menjadi pencarian. "Satu... dua... tiga... kok kurang?" suara Bapak terdengar cemas di belakang rumah.
Satu per satu ayam-ayam itu hilang. Ada yang mungkin berakhir di kuali orang lain, ada yang mungkin tersesat terlalu jauh. Bapak mulai rajin menyisir gang-gang Mandala setiap sore, menanyakan ayam dengan tanda cat di kakinya, namun hasilnya sering kali nihil.
Kegetiran memuncak pada suatu pagi yang lembap. Ayam jago kesayangan Bapak nampak lesu, sayapnya terkulai menyentuh tanah. Hanya dalam hitungan jam, gejala itu menular. Satu per satu ayam yang jumlahnya sudah banyak itu mulai jatuh.
Aku melihat sisi lain dari Bapak hari itu. Beliau yang biasanya tenang, nampak panik. Ia pergi ke toko pakan, membeli obat, bahkan belajar menyuntikkan serum sendiri ke sayap ayam-ayamnya. Tangannya yang biasa memegang pulpen di kantor, kini belepotan kotoran ayam dan obat-obatan, berjuang menyelamatkan nyawa mahluk-mahluk kecil itu.
Namun, takdir nampaknya sedang ingin menguji kesabaran kami lagi. Satu per satu, ayam-ayam itu mati bergeletakan di dalam kandang yang susah payah dibangun Bapak. Kerja keras berbulan-bulan itu musnah dalam hitungan hari. Kandang yang tadinya ramai dengan suara kokok dan petok, mendadak sunyi sesunyi hati Bapak saat memandang tumpukan ayam yang tak tertolong lagi.
Kematian massal ayam-ayam itu meninggalkan kesunyian yang ganjil di belakang rumah. Bapak tak lagi pulang membawa keranjang bambu. Ia memutuskan berhenti. Kandang kayu yang ia paku dengan penuh harapan kini kosong dan berbau apek, menjadi monumen kegagalan kecil yang diam-diam melukai hatinya.
Namun, bagi kami anak-anaknya, Perumnas Mandala adalah kanvas baru yang penuh warna. Di sini, lingkungan jauh lebih hidup. Anak-anak sebaya tumpah ruah di jalanan setiap sore. Kakakku menemukan dunianya bersama Lina, sementara aku mulai membangun "kerajaanku" sendiri.
Di antara sekian banyak teman, aku paling kompak dengan Timbul. Secara umur, dia sebenarnya lebih tua dariku, lebih sebaya dengan kakakku. Tapi entah kenapa, kami punya frekuensi yang sama. Timbul adalah mentor sekaligus kawan setia dalam kenakalan-kenakalan kecil.
Tiap sore, saat matahari Medan mulai meredup dan berubah oranye, kami punya ritual wajib. Kami akan duduk di sudut gang, memegang sebungkus Indomie yang tidak dimasak. Kami meremasnya hingga hancur di dalam plastik, menaburkan bumbunya, lalu mengocoknya kuat-kuat.
"Ini baru paten, Ray," kata Timbul sambil menyuapkan remahan mie kering yang asin dan gurih itu ke mulutnya.
Aku menikmatinya sambil duduk di sampingnya. Saat itu, tubuhku kurus kerempeng, tulang bahuku menonjol meski porsi makanku luar biasa rakus. Mama selalu heran ke mana larinya semua nasi dan lauk yang kuhabiskan. Mungkin, kalori itu habis terbakar oleh lariku yang kencang dan emosiku yang meluap-luap.
Jika ada satu hal yang bisa membuatku lupa akan predikat "Anak Si Teleng" atau perut yang hanya terisi mie gomak hambar, itu adalah suasana sore di Perumnas Mandala. Sore di sini bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah simfoni kehidupan yang riuh.
Begitu jarum jam menunjukkan pukul empat, Mandala berubah menjadi arena besar. Tidak ada sunyi. Yang ada hanyalah teriakan "Alib Brondog!" yang menggema di gang-gang sempit, suara tawa anak-anak perempuan yang asyik dengan lompat tali dari jalinan karet gelang, hingga deru napas kami yang berlomba lari seolah-olah sedang memperebutkan medali emas olimpiade.
Zaman itu, kebahagiaan kami tidak tersandera oleh layar digital. Jempol kami tidak sibuk menggeser layar, melainkan kotor oleh debu saat membidik gundu atau lecet karena memanjat pagar.
Di depan rumah kami, berdiri sebuah pohon jambu air yang sangat tinggi. Pemilik aslinya sudah lama pindah, membiarkan pohon itu tumbuh perkasa sebagai warisan bagi anak-anak sekitar. Bagiku, pohon itu adalah singgasana.
Meskipun tubuhku kurus kerempeng, aku adalah pemanjat yang lincah. Dengan bertelanjang dada dan hanya memakai sandal jepit andalanku, aku akan merayap naik ke dahan-dahan yang paling tinggi. Dari atas sana, dunia terasa lebih kecil dan masalah rumah terasa lebih jauh.
"Raymond! Turun kau! Nanti jatuh!" teriak Mama dari bawah.
Tapi aku hanya nyengir, duduk di dahan besar sambil menikmati buah jambu yang merah merona. Dari ketinggian itu, aku bisa melihat seluruh blok perumnas. Aku melihat Timbul yang sedang asyik bermain gambar, aku melihat kepulan asap dari dapur-dapur tetangga, dan aku merasa berdaulat atas diriku sendiri. Di atas pohon itu, aku bukan anak dari seorang penjudi; aku adalah raja dari pohon jambu.
Mandala kala itu masih sangat asri. Pepohonan tumbuh subur di tiap halaman, memberikan keteduhan yang membuat udara Medan yang panas menjadi sedikit bersahabat. Bau tanah basah setelah hujan sore hari menyatu dengan aroma masakan ibu-ibu dari balik jendela.
Kami bermain sampai sisa-sisa cahaya matahari menghilang di ufuk barat. Barulah ketika suara adzan atau lonceng gereja terdengar, satu per satu dari kami pulang dengan lutut yang hitam karena tanah dan baju yang basah oleh keringat.
Masa itu adalah benteng pertahananku. Di antara desakan ekonomi dan keretakan hubungan Bapak dan Mama, sore hari di Mandala memberikan aku "oksigen" untuk tetap waras. Permainan tradisional itu mengajarkanku tentang solidaritas, tentang bagaimana rasanya menang tanpa harus sombong, dan bagaimana rasanya kalah—sesuatu yang sayangnya sedang dialami oleh Bapak di meja judinya.
Aku rindu masa itu. Masa di mana satu-satunya kekhawatiran terbesar adalah ketika sandal jepitku putus saat sedang asyik bermain kejar-kejaran, bukan kekhawatiran tentang uang sekolah yang belum terbayar.