Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. INTIM
Ucapan Alaric itu menghantam Liora seperti petir di langit cerah.
"Malam pertama yang tertunda?" Liora menelan ludah, gugup.
Wajah gadis itu seketika memerah padam, dari pipi hingga ke ujung telinga. Napasnya tercekat, lidahnya kelu untuk beberapa detik, sementara jantungnya berdetak begitu keras sampai rasanya bisa terdengar di seluruh ruangan.
Alaric yang berlutut di hadapan Liora justru tersenyum puas melihat reaksi istrinya itu. Wajah merah padamnya membuat Alaric semakin sulit mengendalikan dirinya.
Senyum nakal.
Senyum yang jelas-jelas menikmati kegugupan istrinya.
"Kenapa?" goda Alaric pelan. "Jangan bilang kau sudah punya selingkuhan."
Liora mendongak tajam. "Apa?"
"Pedagang itu," lanjut Alaric santai, seolah benar-benar serius. "Yang kelihatannya seperti penggoda wanita. Yang kau bela mati-matian. Dia pasti selingkuhanmu, 'kan."
BUGH!
Tanpa sadar, Liora memukul lengan Alaric dengan keras, atau setidaknya sekeras yang bisa ia lakukan.
"Jangan sembarangan bicara!" serunya kesal. "Dia bukan selingkuhan! Mana mungkin aku selingkuh! Dia hanya-"
"-anak buahmu?" potong Alaric cepat, alisnya terangkat.
Liora mendengus. "Iya! Anak buahku!"
Alaric memegang dadanya dramatis. "Oh, tapi dari yang kudengar, kau sangat akrab dengannya. Bahkan kau tidak seakrab itu denganku."
Liora menghela napas panjang.
"Aku jadi sedih. Ternyata istriku tidak tertarik denganku," kata Alaric masih bersikap dramatis.
Liora tertegun. "Hah?"
Sebelum Liora sempat mencerna nada melodramatis itu, Alaric sudah tertawa lepas. Tawa rendah, hangat, benar-benar berbeda dari Duke Ravens yang dikenal dunia.
"Kau harusnya melihat wajahmu sekarang, Sayang," kata Alaric sambil menggeleng. "Menggemaskan."
"Alaric!" Liora memerah makin parah.
Belum sempat ia bereaksi lebih jauh, Alaric tiba-tiba bangkit berdiri, lalu dalam satu gerakan mulus, ia mengangkat tubuh Liora dari kursi.
"A-Alaric!" Liora refleks meraih bahu Alaric dan melingkarkan kedua tangannya memeluk leher pria itu. "Aku berat!"
Alaric menatap Liora remeh, sama sekali tidak terganggu. "Kau masih ringan untukku," katanya tenang. "Kau lupa siapa aku? Aku bahkan bisa mengangkat naga untukmu."
Liora terdiam.
Benar. Ia lupa bahwa pria ini adalah Duke yang memimpin pasukan, pria yang mengangkat pedang seberat besi seolah tak berbobot.
Namun tetap saja ...
Dibawa begitu saja membuat pipi Liora panas.
Alaric berjalan menuju ranjang dan membaringkan Liora dengan pelan, nyaris penuh kehati-hatian, seolah ia sedang meletakkan sesuatu yang sangat berharga.
Alaric tidak langsung mendekat. Ia duduk di samping Liora, jemarinya menyentuh rambut gadis itu, memainkan helaian lembap dengan gerakan pelan.
"Boleh aku tahu," ucap Alaric lembut, "tentang kenalanmu itu. Dan hubunganmu dengannya."
Tatapan Alaric serius kini. Lalu melanjutkan, "Dan apa dia yang memberimu informasi tentang Count?"
Liora mengangguk pelan. "Iya."
Sesuai dugaan Alaric tentu saja.
Liora menarik napas, lalu berkata perlahan, "Kau sudah tahu ibuku berasal dari kerajaan Aurelion, bukan?"
Alaric mengangguk.
"Ibuku adalah pemilik Guild Aurelion," lanjut Liora. "Kelompok rahasia yang bergerak di bidang informasi ... dan pembunuh bayaran."
Alaric tidak menyela.
"Mereka adalah mata dan telinga kerajaan," lanjutnya. "Itulah alasan kenapa kerajaan kita selalu selangkah lebih maju dalam perang. Kaisar dan Permaisuri mencintai kedamaian ... tapi dunia tidak selalu ramah."
Liora tersenyum pahit.
"Setelah ibuku meninggal, Cassian datang kepadaku. Dan aku diangkat menjadi Ketua," lanjut Liora.
Alaric tertegun. "Ketua?"
"Setelah aku mengalahkannya dalam duel pedang," tambah Liora ringan.
"Kau bisa menggunakan pedang?" tanya Alaric, benar-benar terkejut.
Liora tertawa kecil. "Cukup terampil. Dulu."
Gadis itu menatap langit-langit.
"Saat jadi kandidat putri mahkota, aku berlatih bersama Caelum, berduel dengannya dan para kesatria kerjaan. Tapi setelah kembali ke kediaman Count aku memilih bersembunyi. Tidak menarik perhatian. Akan bahaya juga jika dia tahu aku bisa menggunakan pedang," lanjut Liora.
Alaric mendengarkan dalam diam.
"Aku menemukan penggelapan dana, perdagangan ilegal dan hal-hal yang lebih buruk dari Count," lanjut Liora. "Aku menunggu. Mengumpulkan bukti. Sampai aku bisa lepas dari Count tanpa terseret saat dia jatuh. Memberitahu Kaisar dan Permaisuri dan meminta bantuan agar aku lepas dari Count. Dan cara satu-satunya hanya pernikahan."
"Tapi Count belum diadili sampai sekarang," ucap Alaric.
"Karena kejahatannya jauh lebih dalam. Dan kini kau tahu sisanya. Kaisar ingin tahu siapa saja yang berkomplot dengan Count," jawab Liora.
Alaric mengangguk pelan. "Terima kasih sudah memberitahuku."
Liora tersenyum.
Alaric lalu mengusap pipinya. Ibu jarinya menyentuh bibir Liora dengan sangat hati-hati, seolah meminta izin tanpa kata.
Napas Liora tertahan.
Tatapan mereka bertaut.
Alaric mendekat, perlahan, takut kalau Liora tidak senang. Dan saat ia lihat Liora tidak ada penolakan, Alaric mencium bibir Liora dengan lembut, singkat, lalu menarik diri untuk mengamati reaksi Liora kembali.
Liora tidak menolak.
Dan kali ini, Alaric kembali mencium Liora, lebih dalam, lebih hangat. Tangannya merengkuh tubuh Liora, menariknya ke dalam pelukan.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada ketergesaan.
Hanya dua jiwa yang akhirnya berhenti menjaga jarak.
Alaric semakin mendekat perlahan.
Hingga akhirnya helai demi helai pakaian mereka terlepas.
Alaric sudah diselimuti keinginan besar untuk memiliki Liora seutuhnya.
Sentuhan pertama Alaric begitu ringan, hanya jemarinya yang menyentuh punggung tangan Liora, seolah meminta izin tanpa kata. Liora menegang sejenak, lalu mengangguk kecil.
Dan barulah Alaric menggenggamnya.
Tidak keras. Tidak tergesa.
Alaric menuntun Liora dalam setiap sentuhan dan keintiman mereka, membiarkan sang gadis menyesuaikan diri dengan kedekatan itu. Napas mereka bersinggungan, hangat dan gugup.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alaric lembut.
Liora menatapnya lalu mengangguk dengan wajah bersemu merah.
Alaric melanjutkan. Perlahan. Sabar. Lembut. Ia menyatukan dirinya dengan Liora, menerobos dinding yang membuat Alaric mengerang bahwa ia tahu kini gadis di bawahnya ini sepenuhnya miliknya.
Hanya milik Alaric.
Saat air mata Liora jatuh karena rasa sakit, Alaric mengangkat tangannya dan menghapus air dengan ibu jari, gerakan kikuk namun penuh perhatian.
"Aku tahu ini sakit, tapi aku janji ini tidak lama," kata Alaric pelan. "Kita bisa berhenti kapan saja kalau kau mau."
Namun Liora menggeleng. Tidak mau menyerah atas keintiman mereka ini hanya karena rasa sakit.
Maka ketika rasa sakit datang, Liora menangis, tersedu, menggenggam erat bahu Alaric. Tubuhnya menegang, napasnya terputus-putus. Mencoba mengambil napas panjang ketika Alaric merobek hal yang menjadi harga diri setiap perempuan di dunia ini.
Tidak menyangka akan sesakit ini.
Dan Alaric tidak menjauh.
Pria itu memeluknya erat, menahan seluruh beban tubuh Liora seolah ingin menjadi penyangga dunia baginya.
"Aku di sini" bisik Alaric berulang kali. "Aku tidak akan ke mana-mana. Tarik napas bersamaku. Pelan ... begitu."
Alaric sabar. Sangat sabar.
Ia terus menciumi wajah dan pucuk kepala Liora untuk menenangkan gadis itu dari rasa sakitnya.
Menunggu hingga gemetar itu mereda, hingga tangis berubah menjadi isak pelan, hingga napas Liora kembali teratur.
Dan perlahan, dengan waktu, dengan kepercayaan, rasa sakit itu berganti kehangatan. Ketegangan berubah menjadi penerimaan.
Malam yang awalnya dipenuhi ketakutan berubah menjadi sesuatu yang sunyi dan intim.
Sesuatu yang hanya milik mereka.
Hingga Alaric tahu kalau ia tidak akan bisa lagi hidup tanpa Liora.
Api di perapian meredup ketika keindahan penyatuan dua insan itu telah usai.
Liora tertidur di sisi Alaric, wajahnya damai, napasnya teratur. Walau ada kelelahan di wajah Liora setelah malam panjang mereka.
Alaric menatap istrinya lama.
Ia mengangkat tangannya, membelai rambut Liora dengan gerakan lembut, seolah takut membangunkannya.
Lalu, dengan suara nyaris seperti doa Alaric berkata, "Apa pun yang terjadi, aku akan melindungimu. Aku bersumpah demi nyawaku dan harga diriku."
Dan sumpah itu, di bawah atap Ravens, lahir tanpa saksi, namun penuh makna.
Malam itu, keintiman yang tertunda akhirnya terjawab dalam kelembutan, kesabaran, dan kepercayaan.
Bahwa kini hati Alaric sepenuhnya milik Liora.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Othor;
Untuk kalian yang belum tahu hikarki atau urutan kebangsawanan, garis besarnya seperti ini kurang lebih ya.
Urutan Umum Gelar Bangsawan (Tertinggi ke Terendah)
1. Kaisar/Permaisuri (Emperor/Empress): Penguasa kekaisaran, gelar tertinggi.
2. Raja/Ratu (King/Queen): Penguasa kerajaan, di bawah kaisar.
3. Adipati Agung/Adipati Wanita Agung (Grand Duke/Duchess): Tingkat di bawah Raja/Ratu, sering di wilayah kekuasaan khusus.
4. Pangeran/Putri (Prince/Princess): Anggota keluarga kerajaan, di bawah Adipati Agung/Raja.
5. Adipati/Adipati Wanita (Duke/Duchess): Tingkat tertinggi dari Peerage (gelar bangsawan turun-temurun), di bawah Pangeran.
6. Marquess/Marchioness: Di bawah Adipati, di atas Earl/Count.
7. Earl/Count (Countess): Di bawah Marquess, di atas Viscount (Earl adalah versi Inggris dari Count).
8. Viscount/Viscountess: Di bawah Earl/Count, di atas Baron.
9. Baron/Baroness: Pangkat terendah dalam Peerage.
10. Baronet (Sir): Gelar kebangsawanan turun-temurun non-peer, di bawah Baron.
11. Ksatria (Knight): Gelar kehormatan, di bawah Baronet, diberi gelar "Sir" tetapi bukan peer (bangsawan sejati).
Catatan Penting
-Gelar seperti Kaisar, Raja, Pangeran, dan Adipati seringkali dipegang oleh keluarga kerajaan, dan memiliki prioritas lebih tinggi.
-Bangsawan Inggris (Peerage): Lima tingkatan utama adalah Duke, Marquess, Earl, Viscount, dan Baron.
Selebihnya bisa kalian searching di google ya.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣
semoga Alaric baik² saja, othor membuyku menangis lagi 😭
ommoooo