NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bertani / Slice of Life / Komedi
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Tumbal Giok

"Kenapa nih?" batin Banyu kaget.

Dia buru-buru menekan dadanya, menutupi Kendi Penyuling Jiwa yang bergetar heboh di balik kaosnya. Untung tidak ada yang memperhatikan. Orang-orang di pasar loak sibuk dengan urusan masing-masing.

Banyu celingukan. Matanya menyapu sekitar. Lapak tempat dia berdiri adalah lapak batu akik dan giok murah meriah.

"Jangan-jangan..."

Banyu berjongkok, pura-pura memilih batu. Begitu dia mendekatkan badannya ke hamparan batu-batu itu, getaran di dadanya makin kencang. Seperti HP yang di-silent tapi ada telepon masuk terus-terusan.

"Wah, beneran. Lu doyan batu ya?"

Banyu mengambil sebongkah batu giok mentah (bahan rough) seukuran kepalan tangan bayi. Kendi di dadanya langsung bereaksi keras, seolah berteriak: "MAU! MAU!"

"Bang, ini bahannya berapaan?" tanya Banyu santai.

Si Abang penjual yang lagi ngerokok menjawab malas, "Yang kecil seratus, yang gede dua ratus. Itu giok Aceh, lumayan buat dibikin cincin."

Banyu menelan ludah. Duit di dompetnya tinggal enam ratus ribu, sisa tabungan terakhir. Itu jatah hidup sampai sawi-sawinya panen. Kalau dipakai beli batu ginian, bisa-bisa dia puasa seminggu.

Tapi rasa penasaran Banyu mengalahkan akal sehatnya. Kendi ini sudah memberinya nyawa kedua dan harapan bisnis. Masa minta jajan batu aja gak dikasih?

"Yaudah Bang, saya ambil yang ini, sama yang dua kecil itu. Total empat ratus ya?" tawar Banyu.

Setelah debat alot ala emak-emak pasar, akhirnya deal di angka empat ratus ribu. Banyu pulang dengan hati berdebar, membawa tiga bongkah batu giok mentah di saku jaketnya. Sepanjang jalan pulang, kendi itu terus bergetar girang.

Sampai di kamar kos, Banyu mengunci pintu rapat-rapat.

Dia meletakkan batu-batu itu di meja, lalu mengeluarkan kendi dari kalung dadanya. Dia masih bingung caranya "memberi makan" si kendi. Apakah harus dihancurkan dulu?

"Coba tempelin aja kali ya."

Banyu menempelkan kendi itu ke batu giok terbesar.

Ssshhhh...

Seperti es batu yang disiram air panas, batu giok yang keras itu mendadak luluh. Cahaya hijaunya meredup, lalu permukaannya retak-retak dan hancur menjadi debu halus. Dalam hitungan detik, batu seharga dua ratus ribu itu lenyap, menyisakan onggokan pasir putih tak berharga di meja.

"Gila! Dimakan beneran!" Banyu melongo. "Lu laper apa doyan?"

Tanpa ampun, kendi itu menyerap habis "sari pati" dari dua batu lainnya. Zzzzt! Habis sudah uang empat ratus ribu Banyu, berubah jadi debu.

Banyu menatap kendi yang kini tampak lebih berkilau. "Waduh, boros juga lu ya. Awas aja kalau gak ada timbal baliknya. Rugi bandar gue."

Malam harinya, saat jadwal "panen" Cairan Ajaib tiba, Banyu menanti dengan cemas.

Dia membalikkan kendi itu di atas gelas kecil.

Tetes pertama... Jatuh. Banyu mau menutup botol, tapi tiba-tiba... Tetes kedua!

"Alhamdulillah!" seru Banyu girang.

Ternyata ini efeknya! Setelah "makan" giok, produksi Cairan Ajaib naik dua kali lipat.

Banyu langsung menenggak tetes kedua untuk dirinya sendiri, merasakan kehangatan yang menjalar menyegarkan badannya. Sisa tetes pertama dia simpan untuk dicampur air buat siram tanaman.

"Oke, strateginya jelas sekarang," gumam Banyu penuh semangat. "Gue harus kaya raya. Biar bisa beli giok banyak-banyak, biar produksi Cairan Ajaib makin deres. Kalau perlu nanti gue mandi pake nih air!"

---

Hari panen pun tiba.

Kebun belakang kos-kosan Pak Rahmat kini sudah berubah jadi hamparan hijau yang memukau. Sawi-sawi itu tumbuh raksasa, segar, dan berkilau. Kalau disandingkan dengan sawi pasar biasa, ibarat membandingkan mobil baru keluar dari showroom dengan mobil rongsokan.

Sesuai janji, Banyu memetik beberapa ikat sawi terbaik dan membawanya ke dapur Bu Yati.

"Bu, ini sawi hasil panen perdana. Tolong dimasak ya, buat kita makan bareng," kata Banyu sambil menyerahkan sekeranjang sawi.

Bu Yati melotot melihat sawi-sawi itu. "Ya ampun, Ny... ini sawi beneran? Kok kinclong banget kayak plastik? Sayang amat mau dimasak."

"Justru harus dimasak, Bu. Biar tau rasanya. Ayo dong, Bu," bujuk Banyu.

"Iya deh, iya. Ibu tumis bawang putih aja ya, biar kerasa aslinya."

Tak lama kemudian, aroma tumisan sawi yang menggugah selera memenuhi dapur. Wanginya beda, lebih segar dan manis daripada tumisan biasa.

Bu Yati meletakkan piring saji di meja makan dengan ragu. "Ini beneran aman dimakan kan, Ny?"

"Aman seratus persen, Bu! Tanpa pestisida, pupuknya organik racikan temen saya. Cobain deh."

Bu Yati menyendok sedikit, lalu memasukkannya ke mulut.

Kriuk!

Suara renyahnya terdengar jelas. Bu Yati terdiam. Matanya membelalak.

"Gimana, Bu?" tanya Banyu cemas.

"Ya Allah..." Bu Yati menutup mulutnya. "Enak banget! Manis, renyah, gak ada pait-paitnya sama sekali! Banyu, ini sawi apa gula?"

Tepat saat itu, Laras masuk dapur, baru pulang kerja.

"Wah, rame nih. Lagi makan apa, Bu? Wanginya enak banget," sapa Laras.

"Ini Laras, cobain sawi si Banyu! Enak banget, sumpah Ibu gak bohong!" seru Bu Yati antusias.

Laras tertawa kecil, melirik Banyu. "Oh, ini sawi yang waktu itu ya? Oke, aku cobain."

Laras mencicipi sebatang sawi. Detik berikutnya, ekspresi wajahnya berubah total. Dia menatap piring itu seolah itu makanan bintang lima Michelin.

"Mas Banyu..." Laras menatap Banyu serius. "Ini... ini enak parah! Sawi biasa mah lewat! Kok bisa sih rasanya kayak gini?"

Banyu tersenyum lebar, dadanya membusung bangga. Validasi dari dua wanita ini sudah cukup.

"Kan udah dibilang, ini varietas super," jawab Banyu sok cool. "Abisin aja, Ras. Masih banyak di belakang."

"Eh jangan, ini kan buat dijual," tolak Laras cepat, meski matanya masih melirik piring itu.

"Tenang aja, buat tetangga mah gratis. Itung-itung tester," kata Banyu santai.

Malam itu, Banyu tidur dengan senyum mengembang. Produknya sudah teruji. Besok adalah hari besar.

Subuh-subuh buta, Banyu sudah memanen seluruh sawi di kebun. Dia menatanya rapi di atas gerobak motor bututnya. Sawi-sawi itu terlihat begitu menggoda, hijau segar di bawah lampu jalan.

"Bismillah. Otw jadi Sultan!"

Banyu menstarter motor gerobaknya, brebet brebet brebet, lalu melaju menembus kabut pagi menuju pasar induk kota. Perjuangan dagang yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Nugroho Sodiq
harusnya dibalik thor..waktu di dlm kendi yg cepet, tapi dunia asli lmbat..biar cepet panen..😄
Yandi Hidayat
sangat bagus
Wega Luna
papi Raka paling keren,,,,🤭🤭🤭🤭GK ada Raka Raka yg lain kalo GK Raka nya Vania Bella🤭🤭🤭
Gege
bener bener apik dan epic bangeed...asal ga kesurupan setan NT yang ngajarin kalimat mbuledd ajaa buat kejar setoran pasti rame terus ini novel...
Jujun Adnin
sampe tamat
Aji L
setengah hektar tu 5.000 m²
DipsJr: wah iya ya... 😅
makasih infonya tandi di revisi. 🙏
total 1 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣untung besar ,buat jajan di luar negeri
Gege
apik dan epic
Gege
sangat apik dan epic setiap episodenya... mungkin bisa dibuatkan cerita nelayan tajir... dengan pola yang sama tapi banyak mainan air..😄🤣
isnaini naini
gas lah pak mo..ayo brngkt...
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣 siapa yg nolak nyu ,gratis lagi
Jujun Adnin
lanjut
Apriyantho Apri
Perbanyak upgrade nya dong,please...
DipsJr: cuman bisa 3 kak. biar awet. 😔
total 1 replies
D'ken Nicko
kurang banyak babnya thor
Jujun Adnin
lagi
isnaini naini
siska mungkin pnya trauma masa lalu kali ya...kok klo liat orang bawaan nya skeptis melulu awas...nanti jth cinta loh...
isnaini naini
gpp nyu 100jt buat hdiah cuma2 tp scra tdk lngsng km sdh pnya koneksi aman lah...walau agak pait jg sih...100jt gt loh...😇
isnaini naini
smngt ya nyu buat author jg...
isnaini naini
benih lope2nih kyknya....
isnaini naini
gimana pak tomat busuk...kapok lu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!