Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata Kata Yang Terhenti
Setelah mendengar penjelasan Rahman, keduanya segera meninggalkan pondok untuk kembali ke rumah masing-masing.
Mereka berpisah di ujung jalan, mengendap dari rumah ke rumah agar tidak ketahuan oleh warga. Aisyah menghilang lebih dulu ke arah rumahnya. Fariz menunggu beberapa detik, memastikan tidak ada yang melihat, lalu berlari pelan ke arah jendelanya.
Ia melompat masuk dengan hati-hati, mendarat di lantai kamar tanpa bunyi, lalu menutup jendela perlahan.
Napasnya belum teratur. Jantungnya masih berdetak cepat. Tapi ia sampai dengan selamat.
Fariz duduk di samping lemari, punggung bersandar di dinding kayu yang dingin. Ia mengeluarkan lembar-lembar kertas lusuh yang Rahman berikan beberapa hari lalu di perpustakaan. Kertas yang belum sepenuhnya ia baca karena terlalu banyak yang terjadi sejak saat itu.
Sekarang ia membukanya perlahan, satu per satu, dengan cahaya lampu minyak yang redup.
Tulisan tangan Kyai Salman. Tidak serapi di buku tebal yang tadi malam Aisyah bawa. Lebih seperti catatan cepat, kalimat-kalimat yang ditulis di tengah pemikiran yang sedang berlari.
"Dia bersama dengan pengikutnya, mengendalikan hanya dengan satu kata dan perintah."
Fariz berhenti di kalimat itu.
Satu perintah.
Seperti yang Rahman bilang barusan. Orang-orang di desa ini tidak bisa keluar kecuali atas perintahnya. Satu kata. Satu perintah. Dan semuanya bergerak.
Ia membalik lembar berikutnya.
"Aku sudah berusaha untuk masuk ke dalam, tapi mereka selalu menghalangiku dengan lapisan yang tak bisa disentuh, kecuali Dia Yang Menghendaki."
Kalimat terakhir itu digaris tebal. Seperti Kyai Salman menulis ulang beberapa kali sampai tintanya lebih pekat dari kata-kata lain di sekitarnya.
Kecuali Dia Yang Menghendaki.
Fariz menutup lembar-lembar itu perlahan. Menyimpannya kembali di balik lemari, di tempat yang sama dengan buku tebal yang tadi malam ia bawa pulang dari pondok.
Ia menarik napas panjang. Lalu merebahkan tubuh di atas kasur.
Pikirannya berat. Satu per satu bukti bahwa dirinya adalah pewaris tugas Kyai Salman semakin jelas. Dan semakin jelas itu, semakin ia merasakan beban yang tidak pernah ia minta tapi tidak bisa ia tolak.
"Iz!"
Suara Ratna dari luar membangunkannya.
Matahari sudah naik. Sinarnya menyapu wajah Fariz dari celah jendela. Ia langsung bangkit dari kasur, jantungnya berdetak cepat.
Tidak lagi.
Ia tidak mau ketinggalan Subuh lagi.
Fariz berlari ke kamar mandi, mengambil wudhu dengan cepat, air dingin menyentuh wajahnya, napasnya belum teratur tapi tangannya terus bergerak. Selesai wudhu, ia keluar dengan wajah masih basah.
"Ayo makan, Iz." Sucipto sudah duduk di meja makan, menatapnya.
"Aku mau shalat dulu, Pak." Fariz berdiri di ambang pintu, tangannya masih mengusap sisa air di wajahnya.
"Makan dulu."
Bukan ajakan. Tapi perintah.
Suara Sucipto turun satu oktaf, matanya menatap Fariz dengan cara yang tidak memberi ruang untuk menolak. Seperti sedang menguji apakah Fariz akan berani melawan atau tidak.
Fariz berdiri di situ beberapa detik. Dadanya sesak. Seperti ada yang menekan dari dalam, membuat napasnya pendek dan tidak nyaman.
Kemarin ia ketinggalan Subuh dan menunda qadha karena Ratna memanggilnya. Hari ini ayahnya memaksanya menunda lagi. Dengan cara yang lebih keras. Lebih jelas.
Ia mendesah pelan. Lalu menarik kursi dan duduk.
Sarapan berlangsung dalam diam.
Tidak ada pembicaraan apa pun. Sucipto dan Ratna terus menatap Fariz, mengamati setiap sudut wajahnya, kedua tangannya, seperti tidak mau ada sesuatu yang terlewatkan. Seperti sedang memastikan bahwa anak mereka masih di sini, masih dalam jangkauan, masih bisa dikontrol.
Fariz menyuap nasi dengan mekanis. Rasanya hambar di lidah. Dadanya masih sesak, seperti ada yang macet di tenggorokan dan tidak bisa turun.
"Hari ini Bapak mau di rumah saja, Bu." Sucipto bicara pada Ratna tapi matanya tidak lepas dari Fariz.
"Loh, kerjaan Bapak gimana?" Ratna mengunyah makanan di mulutnya.
"Badan Bapak agak capek. Jadi hari ini mau istirahat dulu." Sucipto melirik ke arah Fariz sekali lagi, memastikan Fariz mendengar.
Fariz mendengar. Dan ia mengerti.
Ayahnya tidak capek. Ayahnya hanya ingin memastikan Fariz tidak kemana-mana.
Begitu selesai makan, Fariz langsung berdiri dan masuk ke kamar.
Sajadah yang dari tadi pagi sudah ia gelar masih terbentang di lantai. Ia tidak melipatnya. Langsung berdiri di atasnya, mengangkat tangan, dan memulai shalat qadha Subuh.
Dua rakaat. Gerakannya lebih cepat dari biasanya. Seperti sedang mengejar sesuatu yang sudah terlambat tapi tetap harus dikejar.
Di luar, Ratna dan Sucipto saling menatap. Tidak menyangka putra mereka akan tetap melaksanakan shalat yang sudah jauh tertinggal waktunya.
Tidak ada yang bicara. Tapi keduanya tahu bahwa ada sesuatu yang berubah dalam diri Fariz. Sesuatu yang membuat mereka tidak bisa sepenuhnya yakin lagi bahwa anak mereka masih anak mereka.
Suasana di rumah semakin tidak karuan.
Sucipto tidak mengizinkan Fariz menutup pintu kamarnya. Setiap kali Fariz mencoba menutup, Sucipto akan memanggil dari luar dengan alasan yang dibuat-buat. Jadi pintu itu tetap terbuka, dan Fariz tahu ia sedang diawasi.
Waktu berlalu lambat. Fariz hanya duduk di kamar, kadang membaca lembar-lembar kertas Kyai Salman yang ia sembunyikan, kadang menatap langit-langit, kadang tidak melakukan apa-apa selain menunggu malam datang.
Malam itu, Sucipto memindahkan meja dan kursi ke samping pintu kamar Fariz. Duduk di sana dengan segelas teh hangat. Seperti penjaga yang sedang berjaga.
"Bu," katanya cukup keras, sengaja supaya Fariz mendengar, "besok Bapak mau ajak Fariz lagi ke sawah. Soalnya sudah beberapa hari ini Bapak harus kerja sendirian terus. Rasanya capek."
"Ibu setuju, Pak." Ratna menjawab dari dapur. "Daripada dia diam terus di kamar."
Terlalu banyak sandiwara yang dimainkan Sucipto dan Ratna. Terlalu jelas. Terlalu keras. Sampai Fariz yang duduk di dalam kamar bisa merasakan bahwa semua ini bukan lagi tentang kerja di sawah atau capek. Ini tentang sesuatu yang lebih besar.
Fariz menatap pintu kamarnya yang terbuka. Sucipto duduk di luar dengan punggung menghadapnya, tapi Fariz tahu ayahnya bisa mendengar setiap gerakan dari dalam kamar ini.
Dua hari terakhir ini, ada yang berubah.
Ratna yang dulu selalu membangunkannya untuk Subuh, sekarang membiarkannya tidur. Sucipto yang dulu tidak pernah menghalanginya shalat, sekarang memaksa makan dulu. Pintu kamar yang dulu bisa ditutup, sekarang harus terbuka.
Semuanya berubah setelah pertemuan Sucipto dengan Darma Wijaya di pendopo.
Dan Fariz tahu ini baru permulaan.
Suara jangkrik dan angin malam terdengar dari balik jendela.
Keresahan, beban, rasa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, semuanya semakin kuat di dada Fariz sampai ia tidak bisa diam lagi. Ia bangkit dari kasur, berjalan pelan ke kamar mandi, lalu menutup pintunya dari dalam.
Pintu kamarnya tidak boleh ditutup.
Tapi pintu kamar mandi bisa.
Ia mengambil wudhu sekali lagi. Air dingin menyentuh wajahnya, tangannya, kakinya. Lalu kembali ke kamar kemudian ia menggelar sajadah kecil di lantai kamar, berdiri, dan memulai shalat tahajud.
Dua rakaat. Gerakannya pelan. Tidak terburu. Di malam yang sunyi seperti ini, setiap gerakan terasa lebih berat, lebih bermakna.
Selesai salam, ia tidak langsung berdiri.
Ia duduk di situ. Tangan terlipat di pangkuan. Kepala tertunduk.
Mulutnya bergerak. Tapi tidak ada suara keluar dulu. Seperti sedang mencoba, tapi kata-katanya macet di suatu tempat antara kepala dan bibir.
Lalu suaranya keluar. Pelan. Gemetar.
"Ya Allah..."
Berhenti.
Hening cukup lama. Hanya suara napasnya yang pendek.
Lalu mulai lagi.
"Kenapa... kenapa aku?"
Suaranya retak di ujung. Tidak selesai. Seperti ada yang menahannya untuk tidak melanjutkan karena ia takut kalau ia terus bicara, yang keluar bukan doa tapi tangis.
Ia mencoba lagi. Kali ini lebih pelan.
"Kenapa bukan..."
Berhenti. Tidak melanjutkan nama siapa pun. Karena ia tahu itu bukan pertanyaan yang adil. Bukan pertanyaan yang seharusnya ia tanyakan.
Tapi keluar juga.
Hening panjang.
Fariz tidak melanjutkan lagi. Hanya duduk di situ, tangan terkepal di pangkuan, bahu sedikit bergetar, seperti sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu berat untuk ditahan sendirian tapi tidak tahu bagaimana cara melepaskannya.
Di luar, desa tertidur lelap.
Di dalam kamar itu, Fariz duduk sendirian dengan beban yang tidak bisa ia ceritakan pada siapa pun kecuali Dia.
Dan Dia mendengar. Meski kata-katanya tidak selesai. Meski doanya lebih seperti keluhan yang terputus-putus.
Dia mendengar.
Sekarang wajahnya sudah lebih tenang, meski matanya sedikit memerah.
Perlahan Ia merangkak lalu duduk di samping lemari, dan mengeluarkan lembar-lembar kertas Kyai Salman yang belum sepenuhnya ia baca. Membukanya perlahan, satu per satu, sampai ia tiba di halaman terakhir.
Tulisan di halaman ini berbeda dari yang lain.
Tidak serapi di halaman-halaman sebelumnya. Lebih tidak stabil, seperti ditulis dengan tangan yang sudah tidak kuat memegang pena terlalu lama. Beberapa huruf miring, beberapa kata hampir tidak terbaca.
Fariz membacanya pelan, mata bergerak dari satu baris ke baris berikutnya.
"Ada sesuatu yang masuk ke tubuhku, tapi aku tidak pernah takut, karena yang ada di tubuhnya jauh lebih kuat ketika panggilan itu hadir."
Fariz berhenti di kalimat itu.
Membacanya ulang.
Yang ada di tubuhnya.
Bukan tubuhku. Tapi tubuhnya.
Kyai Salman tidak bicara tentang dirinya sendiri. Ia bicara tentang orang lain. Tentang seseorang yang akan menerima warisan ini setelah ia pergi.
Tentang Fariz.
Ia melanjutkan membaca. Kalimat terakhir di lembar itu tertulis dengan tangan yang semakin gemetar, tinta yang semakin tipis, seperti Kyai Salman sudah tidak punya banyak waktu lagi.
"Hari ini mungkin hari terakhirku menulis ini semua, karena tanganku sudah tak mampu lagi untuk..."
Kalimat itu tidak selesai.
Berhenti di tengah. Seperti Kyai Salman menulis sampai tangannya benar-benar tidak bisa bergerak lagi, dan ia terpaksa berhenti, meninggalkan kalimat itu menggantung di udara tanpa penutup.
Fariz menatap kalimat yang tidak selesai itu lama.
Lalu ia melipat lembar-lembar itu kembali. Menyimpannya di balik lemari. Dan berbaring di kasur dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Di luar, Sucipto masih duduk di kursinya dengan kepala tertunduk. tertidur lelap meski sudah berusaha untuk menahan rasa kantuk.
Fariz menutup mata. Tapi tidur tidak datang dengan mudah.
Karena di kepalanya, kalimat terakhir Kyai Salman terus berputar.
"Yang ada di tubuhnya jauh lebih kuat ketika panggilan itu hadir."
Dan Fariz tidak tahu apakah ia siap untuk apa pun yang ada di dalam tubuhnya itu.