Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga. Syarat Dari Queen
"Papa."
Queen menatap video yang sepertinya baru saja direkam itu. Ayahnya tampak menua sepuluh tahun. Tubuhnya kurus terbungkus kulit. Rambutnya yang dulu hitam tebal kini tampak sebagian banyak telah memutih, Cahaya kehidupan di matanya mulai tampak redup, tetapi senyumnya masih begitu hangat.
Pesan lain masuk, itu dari Xavier. Dia mengatakan tidak bisa pulang selama dua hari karena ada urusan di luar kota. Jika ini adalah Queen yang dulu, mungin ia akan percaya dengan mudahnya, tapi sekarang Queen hanya tertawa. Queen lalu mengetik jawabannya dengan satu kata, 'Baik'
Setelah membalas pesan dari Xavier, Queen menghubungi nomor tak dikenal itu. Dering pertama panggilannya langsung terhubung.
"Nona Queen, maaf aku mengirimkan video tadi."
"Tidak masalah. Ayo ubah ke panggilan video. Aku ingin bicara dengan papaku."
Queen mengedipkan matanya beberapa kali agar air matanya berhenti. Ia lalu menghapus air mata di wajahnya dan merapikan rambutnya sebelum memasang senyum ceria seperti biasanya.
Tak lama panggilan beralih ke video. Queen melihat latar belakang putih dan kaca besar, di mana selama ini papanya dirawat. Saat mendengar suara batuk papanya, Queen hampir kembali menitikkan air mata, tetapi dia berusaha menahannya. Saat panggilan video tersambung, Queen tersenyum. Namun, meski begitu di depan papanya itu terlihat seperti senyum getir, "Pah."
"Queen." suara tuan Allan terdengar lemah.
"Ya, Pah. Ini aku. Papa apa kabar?"
Air mata Tuan Allan tak terbendung. Sudah dua tahun putrinya tidak mau berbicara dengannya karena dia menentang pernikahannya dengan Xavier. Tuan Allan sangat menyayangi Queen. Itulah sebabnya dia tidak ingin Queen menikah dengan Xavier, tetapi perlindungan yang dia berikan dianggap sebagai penolakan keras. Queen yang masih labil memutuskan untuk kawin lari dengan Xavier dan bahkan Queen dengan terang terangan memberikan jatah 10 persen saham dari kakeknya untuk pria itu sebagai bentuk protesnya.
Setelah menikah dengan Xavier, Queen mendiamkan ayahnya dan juga Blake kakak laki-laki satu satunya. Dia memusuhi keluarganya sendiri hanya demi Xavier. Tanpa sadar air mata Queen turut mengalir.
"Jangan menangis putri cantikku. Jangan menangis. Papa baik baik saja. Apakah pria itu memperlakukan kamu dengan baik?" Tuan Allan bahkan terlihat begitu hati hati saat menyebut suami Queen.
"Pah." Suara Queen bergetar. "Maafkan aku. Aku bersalah padamu. Aku anak yang tidak patuh dan berdosa. Apakah papa mau memaafkanku?"
"Kamu tidak salah apa-apa, Queen. Papa yang bersalah padamu."
Queen lagi lagi menghapus air matanya. Dia tersenyum, "Apakah papa ingin melihat putriku, Sofia?"
Tuan Allan tersenyum dan mengangguk. Dia batuk batuk lagi. Queen menatapnya dengan cemas. Setelah memastikan papanya baik-baik saja. Queen mengitari ranjang menuju boks bayinya. Sofia yang masih berusia dua minggu tampak tidak terganggu sama sekali. Tuan Allan menatap cucunya dari layar ponsel dengan penuh haru.
"Cucuku."
"Papa harus sehat dan panjang umur. Aku dan sofia akan datang untuk mengunjungimu."
Setelah panggilan dengan papanya berakhir, Queen terisak penuh penyesalan. Dia telah memusuhi keluarganya selama dua tahun hanya demi penjahat itu, sungguh benar-benar kerugian besar.
Queen teringat masa masa dimana dia begitu dimanjakan dan dilindungi oleh keluarganya, karena dia anak perempuan satu satunya, tetapi dia begitu buta dan malah memunggut setan dari jalanan dan memilih menyakiti keluarga yang selama ini selalu menyayanginya. Queen bersumpah akan membuat Xavier dan Mia menyesali perbuatannya.
Suara tangisan Sofia mengembalikan kesadaran Queen. Wanita itu lantas mengangkat Sofia kedalam gendongannya dan mulai menyusui gadis kecil itu. Meski baru berusia dua minggu, Sofia terlihat sedikit lebih besar dari pada bayi pada umumnya, itu karena ASI Queen memiliki kualitas yang bagus.
Usai memberi ASI pada putrinya, Queen mengambil ponsel miliknya dan menghubungi kenalannya. Meski sudah lama tidak menginjakkan kakinya di perusahaan, tetapi nama Queenza Celeste masih cukup dikenal oleh kebanyakan orang, terutama mereka yang bekerja sama dengan Celestial Corporation.
Queen menghubungi nomor sahabat baik kakak laki-lakinya. Dia pengusaha perhiasan. Setelah berbicara panjang lebar, mereka akhirnya membuat kesepakatan. Dalam waktu satu jam, Sahabat dari kakaknya itu datang langsung ke villa milik Queenza.
"Sudah lama tidak menghubungiku, tahu tahu kamu menjual koleksi terbaikmu. Cepat katakan padaku, kenapa kamu menjual semua perhiasanmu? Apakah kamu sudah bangkrut? Ku sarankan padamu, sebaiknya kembalilah pada keluargamu, kamu tidak akan kekurangan seperti ini."
"Jangan berisik Aldrich, Kamu terlalu ikut campur. Aku hanya bosan menyimpannya. Lagi pula aku tidak punya banyak kesempatan untuk memakainya. Oh ya, satu hal lagi, sembunyikan masalah ini dari kakakku, jangan sampai dia tahu soal ini terlebih dahulu, aku akan memberitahunya sendiri."
Aldrich tersenyum, "Oh baiklah putri kecilku."
Di sebelah Aldrich seorang pegawai yang ahli dalam menilai perhiasan segera bergabung. Sebenarnya Aldrich tidak meragukan Queen sama sekali, tetapi inilah prosedurnya. Queen tidak ragu menyodorkan hampir 13 kotak perhiasannya.
Setelah beberapa waktu, Aldrich tersenyum puas. "Aku akan mengambil semuanya. Aku akan mentransfer uangnya padamu."
"Tidak perlu sekarang. Aku akan datang ke toko perhiasanmu beberapa hari lagi. Berikan saja tanda buktinya agar aku bisa menyimpannya."
"Oh baiklah, Putri kecil." Aldrich menuliskan tanda terima dan membubuhkan stampel khusus miliknya. Setelah mengemas semua perhiasan itu, Aldrich dan pegawainya pergi.
Queen tidak ingin menyenangkan Xavier. Karena kartu debitnya dipegang oleh suaminya itu. Sangking cintanya, Queen sama sekali tidak peduli pada dirinya sendiri. Dia menyerahkan kartu berharganya untuk Xavier. Akan tetapi, dia tidak terburu-buru untuk meminta kartunya. Biarkan saja dulu dia menikmati semuanya. Queen ingin menjatuhkan Xavier di saat yang tepat.
Keesokan harinya Bryan benar-benar datang ke villa milik Queenza. Mobilnya berhenti tepat di depan Villa milik Queenza. Bryan sesaat terpaku menatap villa di hadapannya, sekilas ingatan berkelebat di pikirannya hingga membuat kepala Bryan terasa berat. Bryan kemudian memegangi kepalanya.
Ethan yang duduk di kursi depan menatap cemas dari spion depan.
"Apakah anda baik baik saja, Tuan?"
"Ya, aku tidak apa-apa. Mungkin aku kurang beristirahat."
Bryan juga tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Dia merasa begitu familiar dengan tempat ini. Bryan lalu turun dari mobil diikuti oleh Ethan. Saat di depan pintu, Ethan segera mengetuk dan tak lama kemudian seorang wanita membukakan pintu.
Hari ini Queenza memakai gaun tanpa lengan berwarna kuning. Rambutnya diikat ke atas, Bibirnya yang merah alami tampak sangat menggoda. Tanpa sadar Ethan dan Bryan tertegun memandangi Queen. Bryan mengerutkan alisnya. Wajah ini, kenapa sepertinya aku pernah melihatnya?
"Kalian ini?" Queen menyipitkan matanya. Dia seolah tidak mengenali Bryan. Padahal di kehidupan sebelumnya, dia pernah bertemu dengan pria ini beberapa kali. Pria ini sering datang hanya umtuk menatap dirinya dan putrinya. Mungkin karena dia merindukan istri dan anaknya, sehingga dia sering datang.
"Perkenalkan saya Ethan, asisten tuan Bryan Lewis dan ini tuan Bryan Lewis."
Queenza menyambut kedua tamunya dengan ramah. Dia ttahu jika tujuannya ini salah, tetapi Queen merasa dengan bantuan Bryan Lewis, misi menghancurkan Xavier akan lebih ber damage. Ia juga tidak perlu mengotori tangannya sendiri. Dia memang menaruh dendam pada Xavier dan Mia, tetapi untuk berurusan langsung dengan mereka, dia merasa itu tidak perlu.
"Perkenalkan, nama saya Queenza Celeste." Queenza mengulurkan tangannya dan Bryan menyambutnya dengan jabatan hangat, Ethan juga turut bersalaman dengan calon ibu susu dari Baby Ellara.
"Kita langsung saja, Nyonya Queenza, Anda mengatakan jika anda memiliki golongan darah RH-null. Apakah anda benar-benar memiliki golongan darah itu?"
Queenza menarik sudut bibirnya, "Menurut anda, apakah saya terlihat begitu luang untuk membuat lelucon mengenai hal sepenting ini? Di sini ada nyawa putri anda yang dipertaruhkan? Saya hanya ingin membantu dan meminta sedikit bantuan. Lagi pula, saat ini belum ada donor asi untuk putri anda bukan? Semakin lama dia tidak mendapatkan ASI untuk sumber kehidupannya, kemungkinan besar nyawanya akan terancam. Jadi anda bisa mengetesnya sendiri. Apakah saya memiliki golongan darah itu atau tidak." Ekspresi Queen terlihat begitu tenang tanpa ada emosi tergambar di matanya.
Tangan Bryan terkepal. Dia merasa marah dengan ucapan Queen yang begitu arogan. Akan tetapi, apa yang dia ucapkan tidak ada yang salah.
"Baiklah. Jika begitu, anda tentu tidak keberatan jika saya mengambil sampel darah anda untuk memastikannya, bukan? Seperti yang anda katakan, ini menyangkut nyawa putri saya, saya tidak ingin bertaruh dengan coba-coba. Saya harus memastikan jika golongan darah anda cocok dengan putri saya.
Queenza mengangguk dengan tenang. Ethan membuka koper di tangannya dan mulai mengeluarkan alat-alat yang diperlukan untuk mengambil sampel darah Queen.
Selama proses, Bryan begitu penasaran dengan syarat yang ingin diajukan oleh Queen, dia pun bertanya, "Nyonya, jika saja semuanya cocok dan anda menjadi ibu susu dari putri saya, syarat apa yang anda ingin ajukan?"
Queenza menatap Bryan sesaat, dia tersenyum, "Syarat saya tidak banyak, Bantu saya untuk menekan Celestial Corporation, Buat harga saham di celestial hancur dan akuisi perusahaan itu untuk saya."
Bryan mengerutkan keningnya, "Celestial? Apa hubunganmu dengan perusahaan itu? Apakah kamu memiliki musuh di sana?"
"Tidak. Itu perusahaan milik keluargaku. Perusahaan yang didirikan oleh James Celeste."
Mendengar ucapan Queen, alis Bryan berkerut dalam. Queen tertawa melihat kerutan di wajah Bryan.
Queenza kembali berkata, "Tujuanku bukan untuk benar-benar menghancurkan perusahaan keluargaku, tetapi taktik ini khusus untuk mengusir para serangga di perusahaan itu. Sudah lama para parasit itu memakan hasil kerja kakak saya. Saya tidak ingin melihat mereka yang serakah menjadi kekenyangan. Jika Celestial hancur sekarang, mereka pasti akan melepaskan saham sahamnya, saat itu saya ingin anda membeli semua saham itu atas nama saya. Untuk masalah uang, anda tidak perlu khawatir, saya yang akan menyiapkan dananya, hanya saja saya harus meminjam nama Grup keluarga Lewis."
Bryan dan Ethan tidak pernah menyangka pemikiran wanita ini agak eksentrik. Mereka tidak bisa tidak memandang kagum terhadap Queen.