NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AROMA KOPI PERTAMA

05:30 AM. Analogue Heart, Pesisir Selatan Yunani.

Udara pagi di Yunani tidak pernah gagal memberikan sensasi seperti pelukan dingin yang segar. Di lantai dua rumah batu mereka, yang merangkap sebagai ruang tinggal, Raka sudah berdiri di dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah. Suara grinder kopi manual yang ia putar menghasilkan bunyi retakan biji biji kopi Arabika lokal yang ritmis.

Dulu, suara retakan seperti itu biasanya berarti ia sedang mengisi magasin peluru atau mematahkan leher lawan dalam senyap. Sekarang? Ia hanya sedang berusaha mengejar rasio emas antara air panas dan bubuk kopi demi memuaskan selera Ratu nya yang sangat pemilih.

"Raka... kecilkan suaranya. Kepalaku terasa seperti sedang diretas oleh palu," sebuah suara serak dan manja terdengar dari arah tempat tidur yang hanya dibatasi oleh rak buku besar.

Raka tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat. "Ini suara kemajuan, Li. Kalau kau ingin kopi kelas dunia, kau harus tahan dengan suara prosesnya."

Liana muncul dari balik rak, mengucek matanya dengan punggung tangan. Ia mengenakan kemeja linen milik Raka lagi. Kemeja itu terlalu besar, merosot di satu bahunya yang mulus, memperlihatkan tali tipis pakaian dalamnya dan sisa sisa kemerahan dari diskusi panas mereka di balkon semalam. Rambutnya berantakan, tipe berantakan yang bagi Raka jauh lebih menarik daripada model rambut mana pun di majalah fashion.

Liana berjalan mendekat, menyeret kakinya yang telanjang di atas lantai kayu, lalu tanpa permisi menyusupkan tangannya ke pinggang Raka, memeluknya dari belakang. Ia menyandarkan wajahnya di punggung Raka yang hangat dan kokoh.

"Kau wangi sabun pinus dan... bahaya," gumam Liana, suaranya teredam oleh kain kemeja Raka.

"Bahaya?" Raka menuangkan air panas ke dalam v60 dengan presisi seorang penembak jitu. "Aku hanya sedang menyeduh kopi, Li."

"Tetap saja. Kau selalu terlihat seperti sedang merencanakan kudeta militer bahkan saat memegang teko leher angsa itu," Liana mendongak, menatap profil samping wajah Raka. "Sangat seksi, tapi juga sangat mengintimidasi kopinya."

Raka meletakkan tekonya, berbalik dalam pelukan Liana. Ia menatap mata wanita itu yang masih setengah terpejam. "Kau butuh kafein atau butuh perhatian, hm?"

Liana memberikan senyum nakal, jemarinya mulai bermain-main dengan kancing kemeja Raka yang terbuka di bagian atas. "Apakah aku harus memilih salah satu? Karena di draf protokol baruku, aku berhak mendapatkan keduanya sebelum jam enam pagi."

Raka tertawa pelan, suara bariton yang kini terdengar jauh lebih rileks. Ia menangkup wajah Liana, ibu jarinya mengusap bibir wanita itu yang sedikit bengkak. "Kopi dulu. Lalu kita buka toko. Setelah itu, aku akan memberikan perhatian yang kau minta di sela sela jam istirahat."

"Janji?"

"Janji."

Setelah menghabiskan kopi mereka di teras sambil memandangi nelayan yang mulai melaut, mereka turun ke lantai bawah. Inilah Analogue Heart.

Toko buku itu tidak besar, tapi setiap jengkalnya adalah hasil kerja keras mereka. Rak rak kayu ek yang tinggi menjulang, dipenuhi dengan buku buku berbahasa Yunani, Inggris, dan beberapa koleksi langka berbahasa Indonesia yang dikirim Bimo lewat jalur logistik gelap. Lantainya dialasi karpet persia tua yang empuk, dan di sudut ruangan terdapat dua kursi kulit tua yang terlihat sangat nyaman untuk membaca selama berjam jam.

Liana mengambil kemoceng bulu ayam, namun alih alih membersihkan debu, ia malah menggunakannya untuk menggoda leher Raka yang sedang menata tumpukan novel baru di rak depan.

"Li, hentikan. Debunya akan beterbangan," protes Raka, meski ia tidak benar-benar menjauh.

"Kau terlalu kaku, Kapten. Lihat rak ini," Liana menunjuk ke bagian Fiksi Romantis. "Buku buku ini butuh sedikit kasih sayang. Kau menaruhnya terlalu simetris, seperti barisan prajurit saat upacara. Buku harus terlihat sedikit... mengundang."

Liana menggeser beberapa buku, memiringkannya sedikit, dan menaruh satu buku dengan sampul bergambar pasangan yang sedang berpelukan di posisi paling depan. "Nah, begini kan lebih hidup."

Raka memperhatikan buku itu, lalu menatap Liana. "Kau tahu, aku masih tidak percaya kita melakukan ini. Menjual mimpi dalam bentuk kertas."

Liana mendekat, berdiri di antara Raka dan rak buku. Ia meletakkan tangannya di dada Raka, merasakan detak jantung yang kini stabil. "Kita tidak hanya menjual buku, Raka. Kita sedang membangun bukti bahwa kita ada. Bahwa kita bukan lagi bayangan di server Yudha. Setiap halaman yang disentuh orang di sini adalah sidik jari nyata kita di dunia."

Raka menunduk, mencium puncak kepala Liana. Aroma kertas tua dan wangi tubuh Liana adalah kombinasi yang membuatnya merasa benar benar pulang. "Aku suka cara berpikirmu, Ratu Data."

"Dan aku suka caramu menatapku seolah aku adalah satu satunya kode yang tidak bisa kau pecahkan," goda Liana. Ia menarik kerah baju Raka, membawanya ke dalam ciuman singkat yang manis namun penuh gairah. "Ayo, buka pintunya. Aku mendengar suara Pak Kostas di luar."

Siang harinya, saat matahari Yunani sedang terik teriknya, bel di atas pintu berdenting. Seorang pria dengan kemeja bunga bunga yang terlalu cerah, kacamata hitam yang terlalu besar, dan topi jerami melangkah masuk.

"Astaga, bau tempat ini seperti perpustakaan sekolah yang tidak pernah dikunjungi muridnya!" teriak pria itu dengan suara cempreng yang sangat akrab.

Liana yang sedang berada di balik meja kasir langsung berdiri tegak. "Bimo?!"

Raka muncul dari ruang belakang sambil membawa sekotak buku. Matanya membelalak. "Bimo? Apa yang kau lakukan di sini? Jalur komunikasimu bilang kau ada di Brasil."

Bimo melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang sedikit sembab namun penuh binar jenaka. Ia langsung berlari dan memeluk Raka atau lebih tepatnya menabrakkan dirinya ke dada Raka. "Brasil terlalu panas dan banyak nyamuk! Lagi pula, siapa yang akan memastikan kalian tidak berubah menjadi patung batu karena terlalu banyak bermesraan?"

Liana keluar dari balik meja dan memeluk Bimo juga. "Kau terlihat... mengerikan dengan kemeja itu, Bim."

"Ini fashion, Li! Fashion pelarian!" Bimo melepaskan pelukannya, matanya berkeliling menatap toko buku itu. Tiba tiba, ekspresinya melunak. Ia berjalan menuju rak buku bahasa Indonesia, menyentuh punggung buku dengan jari yang sedikit gemetar. "Kalian benar benar melakukannya... Toko buku biru laut."

Suasana yang tadinya ceria mendadak berubah menjadi emosional. Bimo berbalik, menatap Raka dan Liana dengan mata yang berkaca kaca. "Kalian tahu... saat di Unit 09 dulu, kita sering bercanda tentang masa pensiun. Tapi melihat ini secara nyata... rasanya seperti melihat hantu hantu kita akhirnya bisa beristirahat."

Raka merangkul bahu sahabatnya itu. "Kami tidak akan ada di sini tanpa bantuanmu, Bim. Kau yang menjaga jalur logistik tetap bersih."

Bimo mengusap matanya dengan kasar, mencoba kembali ke mode cerianya. "Ah, sudahlah! Jangan buat aku menangis, itu merusak skincare ku. Mana kopinya? Dan aku harap kalian punya makanan yang lebih enak dari ransel militer."

Malam itu, mereka menutup toko lebih awal. Di meja makan kayu di lantai atas, Bimo mengeluarkan sebuah laptop kecil dari tasnya.

"Aku punya sesuatu untuk kalian," kata Bimo misterius. Ia memutar layar laptopnya. Di sana, tertampil sebuah slide foto foto lama. Foto-foto saat mereka masih di Unit 09, sebelum pengkhianatan Yudha.

Ada foto Raka yang sedang membersihkan senjata dengan wajah super serius, foto Liana yang tertidur di depan tumpukan server dengan sisa cokelat di pipinya, dan foto mereka bertiga sedang tertawa di kantin pangkalan.

"Aku menyelamatkan ini dari sektor yang tidak terjamah saat pangkalan Maladewa meledak," bisik Bimo.

Liana menutup mulutnya, air mata mengalir tanpa suara. "Aku bahkan tidak ingat pernah tersenyum selebar itu."

"Kau selalu tersenyum kalau Raka tidak melihat, Li," goda Bimo, mencoba mencairkan suasana. "Dan Raka... lihat wajahmu di sini. Kau terlihat seperti robot yang baru saja diprogram untuk mengerti apa itu lelucon."

Raka menatap foto foto itu dalam diam. Nostalgia itu menghantamnya dengan keras. Rasa sakit, kehilangan, dan pengkhianatan itu masih ada, namun kini semua itu terasa jauh, seperti mimpi buruk yang sudah lewat.

"Terima kasih, Bim," kata Raka tulus.

Malam semakin larut. Setelah Bimo tertidur di sofa dengan dengkuran yang bisa menggetarkan jendela, Raka dan Liana kembali ke kamar mereka. Mereka berdiri di balkon, menatap laut yang gelap di bawah sinar bulan.

Liana menyandarkan kepalanya di bahu Raka. "Bimo membawa kembali banyak memori ya?"

"Ya. Tapi dia juga membawa penegasan bahwa kita sudah melampaui itu semua," Raka memeluk Liana dari samping. "Kita bukan lagi orang orang di foto itu, Li. Kita adalah kita yang sekarang."

Liana berbalik, menatap Raka dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku suka kita yang sekarang. Terutama bagian di mana kau tidak harus memakai rompi anti peluru untuk memelukku."

Liana menarik Raka masuk ke dalam kamar, menutup pintu balkon, dan membiarkan malam kembali menjadi milik mereka sepenuhnya. Di antara aroma kopi yang masih tersisa dan kenangan lama yang baru saja dibuka, mereka menemukan bahwa gairah mereka tidak pernah pudar justru semakin kuat, karena kini mereka mencintai bukan sebagai rekan seperjuangan yang takut akan hari esok, tapi sebagai dua manusia yang memiliki seluruh waktu di dunia.

"Nakal sekali tanganmu malam ini, Kapten," bisik Liana di tengah kegelapan, diiringi suara tawa rendah Raka yang penuh perasaan.

"Ini bukan protokol militer, Li. Ini murni... improvisasi."

Dan di pesisir Yunani yang tenang, toko buku Analogue Heart berdiri kokoh, menjaga rahasia dua hantu yang akhirnya benar benar hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!