NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Civil Engineering

Pagi itu, Seoul seolah merefleksikan suasana hati Takara. Langit tertutup awan mendung yang rendah, menggantung berat di atas gedung-gedung beton tanpa secuil pun sinar matahari yang menembus. Udara terasa lebih lembap dan dingin, menusuk hingga ke tulang melalui trench coat tipis yang ia kenakan.

Ini seharusnya menjadi hari terakhirnya. Hari di mana ia menandatangani dokumen final, menjabat tangan para direksi, lalu kembali ke Brisbane untuk mengerjakan detail teknis dari meja kerjanya yang nyaman. Namun, rasa sesak karena batalnya janji temu dengan Jake semalam masih menyisakan lubang kecil di dadanya.

Sesampainya di gedung agensi, suasana terasa lebih sibuk dari biasanya. Takara dibawa langsung menuju ruang rapat utama, tempat CEO dan tim legal sudah menunggu dengan tumpukan dokumen setinggi beberapa inci.

"Miss Takara, silakan duduk," sapa sang CEO dengan senyum formal namun penuh penekanan. "Kami sudah meninjau ulang seluruh presentasi Anda kemarin. Dan dewan direksi mengambil keputusan bulat."

Takara mengangguk, bersiap untuk menandatangani kontrak penyerahan desain. Namun, kalimat selanjutnya membuat jemarinya yang memegang pena membeku.

"Kami tidak ingin Anda hanya mendesain dari jauh. Proyek ini terlalu personal dan detailnya sangat bergantung pada visi Anda tentang 'ruang bernapas' itu. Karena itu, kami mengubah klausul kontraknya," lanjut sang CEO. "Kami meminta Anda tetap di Seoul. Kami ingin Anda menjadi Lead On-site Supervisor sampai gedung ini selesai dibangun."

Takara tertegun. Matanya mengerjap perlahan. "Maksud Anda... saya harus menetap di sini? Untuk berapa lama?"

"Paling tidak enam bulan hingga satu tahun ke depan. Kami sudah berkoordinasi dengan firma Anda di Brisbane, dan mereka menyetujuinya. Anda akan memiliki kantor khusus di sini."

Di satu sisi, ini adalah pencapaian karier yang luar biasa. Menjadi pengawas utama proyek sebesar ini di Seoul adalah mimpi setiap arsitek muda. Namun di sisi lain, menetap di Seoul berarti ia akan berada di "kandang" yang sama dengan Jake. Ia akan melihat Jake setiap hari, tapi mungkin tetap tidak bisa menyentuhnya. Ia akan bernapas di udara yang sama, tapi tetap terhalang oleh protokol agensi yang kaku.

Takara menatap jendela besar di ruang rapat. Di luar, hujan mulai turun membasahi kaca.

Jika gue tinggal di sini, apakah ini akan mendekatkan gue sama Jake, atau justru bakal bikin gue makin sakit hati karena terus-menerus melihatnya sebagai sosok yang tak terjangkau?

Setelah rapat selesai dan Takara menandatangani kontrak "perpanjangan tinggal" tersebut dengan perasaan campur aduk, ia berjalan keluar menuju lobi. Langkahnya terhenti saat melihat seseorang berdiri di dekat mesin kopi otomatis di koridor staf.

Itu adalah Jake. Ia mengenakan baju latihan yang basah oleh keringat, handuk tersampir di lehernya. Ia tampak sedang menunggu seseorang. Begitu melihat Takara, matanya membelalak kaget, lalu segera berubah menjadi binar harapan.

Ia tidak mendekat, karena ada beberapa staf yang lalu lalang, tapi ia mengangkat ponselnya, memberi kode.

Tring!

📲 Jake: Gue denger gosip dari staf legal... lo nggak jadi pulang hari ini? Lo bakal tinggal di sini setahun buat jagain proyeknya?!

📲 Jake: Ra, bilang kalau itu bener. Plis. Gue bakal seneng banget sampai mau mati rasanya kalau lo beneran tinggal di sini.

Takara menatap Jake dari kejauhan. Laki-laki itu tampak menahan diri untuk tidak berlari dan memeluknya. Takara menarik napas panjang, lalu jemarinya bergerak di layar.

📲 Takara: Iya, Jake. Gue nggak jadi pulang. Gue bakal tinggal di Seoul... buat ngawasin gedung baru lo.

📲 Takara: Tapi inget, gue di sini buat kerja, bukan buat lo gangguin setiap malem ya!

Jake membaca pesan itu dan langsung menutupi wajahnya dengan handuk untuk menyembunyikan senyum lebarnya yang tak terkontrol. Di tengah langit Seoul yang muram dan hujan yang turun deras, bagi mereka berdua, matahari seolah baru saja terbit kembali.

———

Keputusan sudah bulat. Takara tidak akan kembali ke Brisbane dalam waktu dekat. Firma arsitekturnya di Australia memberikan dukungan penuh, bahkan mereka bergerak cepat untuk memfasilitasi kebutuhan Takara selama di Seoul.

Sore itu, sebuah email masuk ke ponsel Takara berisi detail akomodasi barunya. Pihak firma telah menyewa sebuah unit apartemen studio modern di kawasan yang tidak terlalu jauh dari kantor agensi. Apartemen itu memiliki jendela besar yang menghadap ke arah Namsan Tower, pemandangan yang jauh berbeda dengan hamparan sungai Brisbane, namun memberikan kesan "hidup" yang baru bagi Takara.

"Oke, setidaknya gue punya tempat tinggal tetap sekarang," gumam Takara sambil menatap kunci digital di ponselnya.

Ia segera membereskan koper-kopernya dari hotel. Rasanya aneh, datang sebagai tamu namun kini bersiap menjadi penghuni kota ini. Ia mengirim pesan singkat pada ibunya dan Dami, mengabarkan bahwa ia akan tinggal lebih lama. Jawaban mereka? Pekikan kegembiraan di grup WhatsApp keluarga yang hampir membuat ponsel Takara bergetar tanpa henti.

Namun, ada satu detail dalam email firma yang membuat Takara sedikit mengernyit. Ia tidak akan bekerja sendirian. Mengingat skala proyek ini sangat besar dan melibatkan struktur bangunan yang kompleks, firma mengutus seorang Civil Engineering (Teknik Sipil) untuk mendampinginya sebagai pengawas teknis.

"Siapa ya?" Takara menggulir layar ke bawah.

Nama yang tertera adalah Arlo Alexander. Takara mencoba mengingat-ingat. Nama itu terdengar sangat familier. Oh, benar! Arlo adalah mantan anak magang di firma Brisbane dua tahun lalu. Menurut cerita para seniornya, saat, Arlo sedang menyelesaikan tesisnya.

Kabar terakhir yang Takara dengar, Arlo baru saja menyelesaikan studi S2-nya di salah satu universitas teknik terbaik di Jerman dengan predikat cum laude. Dan ternyata, besok pagi adalah pertemuan pertama mereka.

Malam itu, Takara sedang membereskan barang-barangnya di apartemen baru saat Jake menelepon lewat video call. Wajah Jake tampak cerah meski ia terlihat lelah sehabis latihan.

"Gimana apartemen barunya? Bagus nggak?" tanya Jake antusias.

"Bagus banget, Jake. Gue bisa liat lampu kota dari sini," jawab Takara sambil menunjukkan sudut kamarnya. "Oh ya, besok gue bakal ketemu sama partner kerja gue dari Brisbane. Dia bakal bantu gue ngawasin struktur bangunannya."

Jake yang tadinya sedang minum air, mendadak berhenti. Matanya menyipit.

"Partner? Cowok atau cewek?"

"Cowok. Namanya Arlo. Dia dulu anak magang di kantor gue, pinter banget, lulusan Jerman pula," jelas Takara tanpa dosa.

Malam semakin larut. Takara mencoba memejamkan mata, namun pikirannya terus melompat-lompat. Ia memikirkan presentasi besok di depan kontraktor lokal, ia memikirkan Arlo, dan tentu saja, ia memikirkan Jake yang kini hanya berjarak beberapa kilometer darinya.

Seoul bukan lagi sekadar kota di dalam drama yang ia tonton. Seoul kini adalah medan tempurnya. Tempat ia akan membuktikan bahwa desainnya bukan cuma sekadar coretan indah, tapi sebuah karya nyata yang akan melindungi orang-orang di dalamnya, termasuk laki-laki yang baru saja menutup telepon dengannya tadi.

Ia menarik selimutnya erat-erat saat angin musim gugur bersiul di celah jendela apartemennya.

"Besok adalah awal yang sesungguhnya," bisiknya pada kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!