Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Aku Nadira
Nadira masuk ke dalam kamar sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit dan pegal. Napasnya tersengal berat karena lelah.
"Mereka lebih mirip kayak hewan dibanding manusia," dumelnya.
"Lama-lama aku juga jadi jatuh sakit, mengurus wanita lumpuh itu."
Nadira mendudukkan tubuh di tepi ranjang lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia sudah tidak sabar menghubungi Andini.
"Untung tadi pas ke pasar aku sempat isi pulsa. Aku akan coba telpon Mas Arga. Andini pasti ingin bicara denganku," gumamnya.
Nadira mencari kontak Arga dan segera menghubunginya. Tak membutuhkan waktu lama, panggilan itu langsung mendapat jawaban.
"Mas Arga, ini aku Nadira," kata Nadira dengan antusias.
Sudah hampir dua minggu dia tidak menghubungi putrinya, berpikir jika mereka mungkin mencarinya.
"Kamu mau bicara pada Andini, kan? Dia udah tidur," jawab Arga dengan dingin. Kekecewaan terdengar dari getar suaranya.
Nadira terdiam, rasa kecewa menyelinap karena reaksi Arga yang tak sesuai ekspektasi. Ia pikir, setelah menghilang cukup lama pria itu akan menanyakan keadaannya.
"Andini sakit...," ucap Arga di sebrang sana.
"Sakit?" ulang Nadira.
"Sakit apa? Gimana keadaannya sekarang?" tanya Nadira cemas.
"Demam. Tapi, udah baikan. Dia di rumah bidan Rini sekarang," jawab Arga, suaranya datar.
"Bidan Rini?" beo Nadira.
Ia tertegun. Ingatan tentang percakapannya bersama Andini terakhir kali terlintas. Bagaimana gadis itu bercerita tentang bidan desa dengan penuh semangat.
"Ternyata semudah itu kamu move-on, ya, Mas?" tuduh Nadira sinis.
Dadanya terasa sesak bagai ditimpa batu.
Helaan napas panjang terdengar dari sebrang sana. Keheningan menyelimuti sesaat sebelum menjawab, "Andini butuh ibu yang nggak ninggalin dia!" kata Arga telak.
"Mas..."
Suara Nadira menggantung di udara. Lidahnya kelu, tidak tahu harus menjawab apa.
Begitu juga Arga. Dadanya kembang kempis, ia memilih untuk mengakhiri panggilan, "Aku akan menelpon kamu besok setelah Andini bangun!"
Panggilan terputus.
Tatapan Nadira menerawang jauh. Tangannya menggenggam ponsel dengan kuat. "Bukannya mengurus anak dengan baik, dia malah kasmaran dengan gadis yang lebih muda. Dasar pria nggak tau diri."
"Dia pasti berpikir untuk memanfaatkan bidan itu, dan jadi mokondo!" maki Nadira.
"Aku harus dapetin uang lebih cepat. Aku bakal pulang dan gagalin pernikahan mereka. Enak aja, aku susah payah cari duit di sini buat masa depan Andini, sementara dia enak-enakan kawin lagi di sana."
---
Sedangkan di tempat lain, Arga menghela napas panjang berusaha menenangkan diri. "Dia pasti berpikir aku ada hubungan dengan bidan Rini."
"Biarin aja. Itu juga udah bukan urusannya lagi," batin Arga. Ia kembali menyesap kopi yang sudah terasa dingin hingga tersisa ampasnya.
Arga menyelimuti tubuh dengan sarung yang dia bawa. Tatapan pria itu kosong mengarah pada bangunan kosong di hadapannya.
"Mas Arga."
Rini kembali muncul sambil memeluk selimut dan sebuah bantal. "Mas Arga tidur di dalam rumah itu aja." Rini menunjuk rumah barunya yang belum ditempati.
"Loh, nggak papa, Rin. Saya tidur di sini aja, nanti Dini nyariin," tolak Arga sambil menggelengkan kepala.
Rini tidak menanggapi. Ia berjalan menuju rumah barunya dan membuka pintu. "Di luar dingin, Mas. Nanti masuk angin. Kalo Mas Arga sakit lagi, kasian Dini," kata Rini perhatian.
"Di dalam udah ada kasur. Mas Arga bisa istirahat di sana. Seharian kerja pasti capek."
Arga terdiam sejenak. Ia sebenarnya merasa sungkan, namun ucapan Rini memang ada benarnya. Jika ia sakit, kemungkinan dia akan merepotkan gadis itu lagi.
"Beneran nggak papa, Rin?"
"Nggak papa, Mas. Biar bisa istirahat dengan bener. Besok kan harus kerja lagi." Rini menyerahkan selimut juga bantal pada Arga.
Lagi-lagi, tangan mereka bersentuhan. Namun, kali ini keduanya mencoba bersikap biasa, mengesampingkan perasaan yang mulai menguasai hati.
Rini tersenyum gugup. Gadis itu kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Arga yang terpaku dengan perasaan yang semakin bergemuruh.
"Kenapa dia melihatku seperti itu?" gumam Arga merasakan ada yang berbeda dengan tatapan dan senyuman Rini padanya.
Adzan subuh berkumandang.
Arga masih tertidur lelap di atas karpet. Ia merasa segan untuk tidur di ranjang meksipun Rini sudah mengizinkannya. Rasa lelah karena bekerja seharian juga kurang tidur sejak kemarin malam, membuat matanya terasa berat untuk terbuka.
Ia meringkuk begitu nyaman dan hangat di bawah selimut tebal. Sebelum sebuah tangan mungil mengganggu.
"Ayah, bangun. Sudah subuh!"
Andini naik ke atas perut ayahnya lalu menepuk-nepuk pipi Arga.
Mata Arga terbuka perlahan. "Dini, kamu udah bangun?"
Arga menoleh ke arah pintu. Melihat Rini berada di sana sambil menahan senyuman, dia segera mendudukkan tubuh merasa malu.
"Mas Arga kenapa tidur di sini? Lantainya keras, kalo badannya sakit gimana?" tanya Rini sembari mendekat. Ia membuka gorden jendela rumah satu per satu.
"Iya, Ayah. Kenapa Ayah tidur di sini? Kenapa nggak di kamar?" tanya Andini dengan santai, seolah itu rumah mereka.
"Huss, kamu ini. Ini rumah Bu bidan. Mana boleh tidur di sembarang tempat," bisik Arga, merasa tak enak hati dengan ucapan Andini yang sudah pasti bisa didengar Rini.
"Tapi Bu bidan nggak papa, Ayah. Bu bidan nggak bakal marah. Kalo Ayah nanti masuk angin, Dini juga yang harus kerokin," gerutu gadis itu sambil melipat tangan di depan dada.
Arga segera bangkit berdiri. "Ayah mau sholat dulu," katanya mengakhiri percakapan mereka dengan cepat.
"Dasar Ayah. Padahal Bu bidan udah perhatian sama dia, tapi Ayah malah pura-pura nggak ngerti," batin Andini merasa gemas.
Andini duduk di kursi depan rumah sambil menikmati susu hangat. Sementara Arga tengah melakukan pembayaran.
"Ini beneran hanya segini, Rin? Andini kan nginep dia malam di sini."
"Ini bukan hotel, Mas. Bayar obat sama cairan infusnya aja. Nggak usah sungkan. Aku malah senang Andini di sini, jadi ada temen," jawab Rini terdengar santai dan tenang, padahal dia sedang menyembunyikan gelombang kegugupan dalam hatinya.
"Oh, gitu, ya."
Arga merogoh saku celananya dan mengeluarkan sejumlah uang sesuai jumlah yang harus dibayar.
"Sekali lagi makasih udah mau direpotin Andini, ya, Rin," kata Arga lalu berjalan keluar menghampiri putrinya.
"Bu bidan, Andini pulang dulu, ya," kata Andini antusias lalu mencium punggung tangan Rini.
Rini membungkukkan sedikit tubuh dan mengusap puncak kepala Andini. "Sehat-sehat, ya. Jangan buat ayah kamu cemas terus."
Andini mengangguk mantap. "Nanti Andini main lagi ke sini, boleh kan, Bu bidan?"
"Boleh. Dua hari lagi, kebetulan Bu bidan mau pindahan ke rumah baru. Andini datang, ya. Bantu Bu bidan."
"Mau, Bu bidan. Hari Minggu, kan?"
Rini mengangguk dan Andini bersorak kegirangan.
"Ayah, nanti hari minggu Andini boleh main di rumah Bu bidan lagi, kan?" Andini menarik-narik ujung baju ayahnya.
Arga mengangguk singkat. "Boleh, asal jangan nakal."
Arga segera berjongkok membelakangi Andini. "Ayo, pulang. Ayah harus segera berangkat kerja. Kamu di rumah jangan ke mana-mana," pesan Arga.
Andini langsung melingkarkan tangan di leher ayahnya, lalu melambaikan tangan ke arah Rini sambil tersenyum ceria.
"Dadah Bu bidan!"
Rini membalas dengan lambaian tangan. Ia memperhatikan anak dan ayah itu yang semakin jauh dan menghilang. Hatinya mendadak terasa kosong.
"Ya Allah, apa mungkin sekarang udah waktunya aku mikirin untuk berumah tangga, ya? Ternyata ada anak di rumah itu, rasanya rumah jadi hangat dan rame."
"Tapi, sama siapa?"
Rini tersenyum pahit, sejak dulu ia tidak dekat dengan pria manapun karena terlalu fokus belajar, mewujudkan cita-citanya menjadi seorang bidan.
---
Arga segera pergi ke tempat kerja setelah mengantar Andini pulang. Tak lupa, ia juga menyediakan makanan dan jajanan di rumah supaya gadis itu tidak rewel. Namun, jika fisik pria itu ada di tempat kerja, pikirannya justru sibuk memikirkan putrinya yang sendirian di rumah.
"Andai aku nggak cerai dengan Nadira, Andini nggak perlu sendirian di rumah," batin Arga berteriak.
"Nadira nggak mungkin kembali. Dia sudah punya kehidupan baru dan bahagia bersama suami barunya."
"Tapi Andini, dia butuh seorang ibu."
Arga menghela napas panjang sambil menegakkan tubuh. "Kenapa aku justru membayangkan Bidan Rini di saat kayak gini," bisiknya lalu menggeleng tegas, berusaha mengenyahkan pikiran yang terasa mustahil itu.
Sedangkan di rumah, Andini asik menggambar di buku gambarnya. Gadis itu tersenyum ceria. Binar di matanya tak bisa membohongi, jika dirinya sangat bahagia.
"Ini... Ayah, aku, dan Bidan Rini."
Bersambung...