Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - BAYANGAN DI MALAM GELAP
MALAM HARI - PARKIRAN GEDUNG MAHENDRA GROUP
Pukul sembilan malam, gedung kantor sudah sepi. Hanya beberapa lampu menyala di lantai atas, termasuk ruangan Arjuna yang masih sibuk dengan laporan proyek Singapura.
Akselia berdiri di samping mobil Arjuna, mengamati sekeliling dengan waspada. Parkiran basement yang redup, suara gemericik air dari pipa bocor, dan keheningan yang terlalu mencurigakan.
Ponselnya bergetar, pesan dari Arjuna.
[Lima menit lagi selesai. Siapkan mobil!]
Akselia mengetik balasan singkat, lalu memasukkan ponsel ke saku. Tangannya refleks menyentuh sisi pinggang, tempat dia menyembunyikan pisau lipat kecil. Bukan senjata mematikan, tapi cukup untuk pertahanan darurat.
Sesuatu bergerak di sudut matanya. Akselia menoleh cepat, bayangan di balik pilar beton. Satu... Dua... Tiga orang.
Instingnya berteriak bahaya.
Tapi dia tidak lari, tidak panik. Justru melangkah maju, menjauhi mobil Arjuna, menjauhkan ancaman dari atasan yang harus dilindunginya.
"Keluar," perintahnya dengan suara keras, bergema di parkiran. "Aku tahu kalian di sana."
Hening beberapa detik.
Lalu tiga pria berjaket hitam keluar dari balik pilar. Bertubuh besar, wajah tertutup masker. Tangan mereka memegang tongkat besi.
"Cewek," kata salah satu dari mereka... suara parau, meremehkan. "Gampang nih."
"Siapa yang suruh kalian?" tanya Akselia, tetap tenang meski adrenalin mulai memuncak.
"Bukan urusanmu." Pria kedua melangkah lebih dekat, memutar tongkat besi di tangannya. "Kami cuma dapat perintah bikin Arjuna Mahendra kapok, dan kamu kebetulan menghalangi jalan kami."
Pria ketiga tertawa. "Sekalian aja kita habisin pengawalnya, biar dia tahu konsekuensi tolak tawaran bos kami."
Bos mereka... Kevin... Pasti Kevin.
Akselia mundur perlahan, menilai situasi. Tiga lawan satu, mereka lebih besar, lebih berat. Tapi ukuran bukan segalanya, Pak Dharma sudah mengajarkannya itu.
"Terakhir kali aku tanya," katanya sambil melepas blazer, membiarkannya jatuh ke tanah. "Siapa yang suruh kalian?"
"Keras kepala ya?" Pria pertama maju, mengayunkan tongkat besi ke kepala Akselia.
Akselia menunduk tongkat meleset, mengenai pilar beton dengan bunyi dentang keras. Dalam satu gerakan cepat, dia menyapu kaki pria itu dengan tendangan rendah. Pria itu terjatuh, tongkatnya terlepas.
Pria kedua menyerang dari samping. Akselia berputar, menangkis tongkat dengan lengan kiri, rasa sakit menjalar tapi dia abaikan lalu membalas dengan siku keras ke rahang pria itu. Darah muncrat dari mulutnya.
"Brengsek!" Pria ketiga maju bersamaan dengan pria pertama yang sudah bangkit.
Dua lawan sekaligus, lebih sulit.
Akselia mundur ke sudut parkiran, memastikan punggungnya terlindungi tembok. Tidak memberi mereka kesempatan mengepung dari belakang.
Pria pertama ayun tongkat horizontal. Akselia lompat ke samping, lalu menendang perut pria itu... dia mundur terengah-engah.
Pria ketiga datang dari arah berbeda, tongkat mengarah ke tulang rusuk Akselia. Tidak sempat menghindar sepenuhnya, tongkat mengenai sisi tubuhnya. Rasa sakit meledak, napas tercekat.
Tapi Akselia tidak jatuh.
Dia menahan sakit, meraih tongkat yang masih menempel di tubuhnya, menariknya keras. Pria ketiga terbawa maju, kehilangan keseimbangan. Akselia putar tubuh, siku keras menghantam pelipis pria itu.
Pria itu ambruk ke tanah, tidak sadarkan diri.
Dua tersisa.
Tapi Akselia sudah kelelahan, napas memburu. Sisi tubuhnya berdenyut sakit, lengan kirinya bengkak dari tangkisan tadi.
Pria kedua yang tadi kena sikunya bangkit lagi, wajah penuh darah tapi mata menyala amarah. "Kamu akan mati, jalang!"
Dia dan pria pertama menyerang bersamaan, tongkat besi dari dua arah berbeda.
Akselia tidak bisa menghindar keduanya.
Jadi dia memilih.
Dia melompat ke depan, langsung ke arah pria pertama membiarkan tongkat pria kedua meleset di belakang. Dalam jarak dekat, Akselia tangkap lengan pria pertama, kunci dengan kedua tangannya, lalu dengan sisa tenaga memutar tubuhnya dan membanting pria itu ke tanah dengan bantingan judo sempurna.
Bunyi keras... Pria itu tidak bangun lagi.
Satu tersisa.
Pria kedua mundur, menatap Akselia dengan mata melebar campuran amarah dan ketakutan. "Kamu... sialan kamu---"
Akselia melangkah maju, napas berat, tapi tatapan matanya tajam seperti pisau. "Sekarang, kamu mau jawab pertanyaanku atau aku patahkan kakimu satu per satu?"
Pria itu melempar tongkat besinya, lalu lari.
Akselia mau mengejar, tapi kakinya hampir tidak kuat menopang. Sisi tubuhnya terlalu sakit. Dia bersandar di pilar, menarik napas dalam-dalam.
"Selia!"
Arjuna berlari dari arah lift, wajah panik. Di belakangnya, dua satpam gedung.
"Astaga, kamu..." Arjuna melihat dua pria tidak sadarkan diri di tanah, lalu melihat Akselia yang terluka. "Apa yang terjadi?"
"Penyerangan," jawab Akselia, masih terengah-engah. "Tiga orang, dua berhasil saya lumpuhkan, satu kabur."
Arjuna langsung perintahkan satpam. "Panggil ambulans dan polisi! Sekarang!"
Lalu dia menghampiri Akselia, memeriksa lukanya. "Kamu terluka parah..."
"Cuma memar, tidak apa-apa."
"Jangan keras kepala!" Arjuna menyangga tubuh Akselia yang mulai lemas. "Kamu baru saja lawan tiga preman bersenjata sendirian, itu bukan 'tidak apa-apa'."
Akselia menatap Arjuna. Untuk pertama kalinya, dia melihat kekhawatiran tulus di mata pria itu. Bukan sekadar khawatir kehilangan pegawai, tapi khawatir sebagai... teman?
"Maaf, Pak," katanya pelan. "Tugas saya melindungi Bapak, saya harus…."
"Tugasmu melindungi aku, bukan bunuh diri!" Arjuna memotong. "Kalau mereka bertiga menyerangmu bersamaan, kamu bisa mati, Selia!"
"Tapi saya tidak mati."
Arjuna menggeleng, antara kesal dan kagum. "Kamu keras kepala sekali."
***
RUMAH SAKIT - SATU JAM KEMUDIAN
Akselia duduk di ranjang UGD, dokter baru selesai memeriksa lukanya. Memar besar di sisi tubuh, bengkak di lengan kiri, lecet di beberapa tempat. Tapi tidak ada tulang patah atau cedera serius.
"Kamu beruntung," kata dokter sambil menuliskan resep. "Kalau pukulan itu lebih keras sedikit, tulang rusukmu bisa retak. Istirahat minimal tiga hari. Jangan aktivitas berat."
Setelah dokter pergi, Arjuna masuk dengan dua polisi.
"Nona Selia," sapa salah satu polisi, pria gemuk dengan kumis tebal. "Kami dari kepolisian Jakarta Pusat. Bisa ceritakan kronologi kejadiannya?"
Akselia menceritakan semuanya dari ancaman yang diterima Arjuna pagi tadi, sampai penyerangan di parkiran. Dia tidak menyebutkan curiganya tentang Kevin, karena tidak ada bukti konkret.
"Dua pelaku yang tertangkap sedang diinterogasi," kata polisi kedua, perempuan muda dengan rambut pendek. "Tapi kemungkinan mereka tidak akan bicara. Biasanya preman bayaran seperti ini loyal pada atasan mereka."
"Terus investigasi saja," perintah Arjuna. "Saya akan pastikan ada konsekuensi untuk siapa pun yang di balik ini."
Setelah polisi pergi, Arjuna duduk di kursi samping ranjang.
"Diana menghubungiku tadi," katanya pelan. "Dia bilang kamu bertemu dengannya kemarin?"
Akselia tersentak sedikit. "Ya. Dia beri saya informasi tentang Kevin Pratama."
"Informasi apa?"
"Tentang... affair-nya Kevin."
Arjuna mengangguk perlahan. "Diana itu teman lamaku, dia bisa dipercaya. Tapi dia juga punya agenda sendiri, balas dendam ke Kevin karena kakaknya."
"Saya tahu, dia cerita."
"Bagus... Selama kamu tahu posisimu, tidak masalah." Arjuna menatap Akselia serius. "Tapi saya harus tanya, Selia. Kenapa kamu benar-benar kerja untukku? Uang saja rasanya bukan alasan cukup untuk perempuan sekuat kamu."
Akselia terdiam, pertanyaan yang sama dengan Diana.
"Karena saya benci Kevin Pratama," jawabnya akhirnya, setengah jujur. "Dan bekerja untuk musuh terbesarnya adalah cara terbaik untuk... mendekat padanya."
"Mendekat untuk apa?"
Akselia menatap langsung ke mata Arjuna. "Untuk menghancurkannya."
Hening beberapa detik.
Lalu Arjuna tersenyum... senyum tipis tapi penuh pengertian. "Aku tidak tahu apa yang Kevin lakukan padamu, tapi kalau kamu mau menghancurkannya..." dia berdiri, menepuk bahu Akselia lembut, "...aku akan bantu. Karena itu juga tujuanku."
Akselia merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Bukan cinta, tapi rasa hormat. Dan mungkin, awal dari persahabatan yang tulus.
"Terima kasih, Pak."
"Panggil aku Arjuna kalau di luar kantor." Dia berjalan ke pintu, lalu berhenti. "Dan Selia, hati-hati. Kevin Pratama bukan musuh biasa, dia berbahaya. Dan setelah malam ini, dia pasti sudah tahu kamu bukan pengawal biasa."
Setelah Arjuna pergi, Akselia berbaring, menatap langit-langit rumah sakit.
Tubuhnya sakit di mana-mana. Tapi hatinya... hatinya merasa hidup.
Kevin sudah bergerak.
Dan dia sudah membuktikan, dia bisa bertahan. Bahkan lebih dari itu, dia bisa menang.
"Ini baru permulaan, Kevin," bisiknya sambil menutup mata. "Dan aku tidak akan berhenti sampai kamu kehilangan segalanya. Seperti aku kehilangan segalanya gara-gara kamu."
author terbaik.. 😍
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.
Terima kasih.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?