NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Aditya

​Di tengah gempuran badai penderitaan yang melanda hidup Mirasih, ada satu titik cahaya yang membuatnya tidak benar-benar menyerah pada kegelapan. Cahaya itu bukan berasal dari lampu minyak di gudangnya, melainkan dari sepasang mata teduh milik seorang pemuda bernama Aditya.

​Aditya adalah putra tunggal dari Wak Inah, seorang buruh cuci yang tinggal di gubuk kecil di pinggir desa. Jika Mirasih dulu adalah anak juragan di desa yang terhormat, maka Aditya adalah jelata yang bahkan untuk makan sehari-hari pun harus memeras keringat lebih banyak. Namun, bagi Mirasih, strata sosial tidak pernah menjadi pembatas. Ia mengenal Aditya sejak mereka masih kecil, saat Aditya sering membantu Ayah Mirasih di penggilingan padi untuk sekadar mendapatkan uang jajan sekolah.

​Persahabatan mereka tumbuh dari hal-hal sederhana. Dari sebungkus kacang rebus yang dibagi dua, hingga obrolan-obrolan tentang mimpi di bawah pohon randu besar yang berdiri kokoh di batas desa.

​Setelah orang tua Mirasih meninggal dan kehidupannya berubah menjadi budak di rumah Pamannya sendiri, Aditya adalah satu-satunya orang yang tidak memalingkan muka. Penduduk desa lain mungkin merasa kasihan, tapi mereka terlalu takut pada Paman Broto yang temperamental atau terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak dengan Aditya.

​Setiap sore, saat Mirasih diperintahkan Bibi Sumi untuk mencuci tumpukan baju di sungai yang letaknya agak jauh dari pemukiman, Aditya sudah menunggu di sana.

​"Sini, Mir. Biar aku yang sikat kain yang berat-berat ini," ucap Aditya suatu sore, sambil merebut pakaian kotor dari tangan Mirasih yang mulai kasar dan pecah-pecah karena deterjen murah.

​"Jangan, Dit. Nanti kalau ada yang lihat dan bilang pada Paman, kamu bisa dipukul," bisik Mirasih cemas, matanya melirik ke arah jalan setapak.

​Aditya tidak peduli. Ia tetap menyikat baju-baju itu dengan tangannya yang kekar namun terampil. "Biarkan saja. Aku tidak tega melihat tanganmu sampai berdarah begini. Kamu itu bukan pembantu, Mir. Kamu itu..." Aditya menggantung kalimatnya, menatap Mirasih dengan tatapan yang sarat akan rasa sayang dan harga diri yang tinggi. "...kamu tetap Mirasih yang aku kenal. Yang hatinya seputih melati."

​Di sungai itulah, dalam gemericik air yang jernih, Mirasih menemukan tempat untuk mengadu. Ia menceritakan bagaimana setiap malam ia hanya diberi makan nasi aking, bagaimana Siska sengaja menumpahkan air kotor ke lantai yang baru saja ia pel, hingga bagaimana Paman Broto mulai sering pulang dalam keadaan mabuk dan memaki-maki namanya.

​Aditya mendengarkan dengan rahang mengeras. Tangannya mencengkeram pinggiran batu kali hingga buku jarinya memutih. Rasa amarah meledak di dadanya melihat gadis yang ia cintai diperlakukan lebih rendah daripada binatang. Namun, Aditya sadar, ia hanyalah anak petani miskin. Ia tidak punya kekuatan untuk melabrak Paman Broto, tidak punya uang untuk menebus Mirasih, dan tidak punya rumah yang layak untuk melindungi gadis itu.

​"Mir," panggil Aditya suatu hari, saat matahari mulai merayap turun ke cakrawala, mewarnai langit dengan semburat jingga yang pedih. "Aku tidak bisa melihatmu begini terus. Setiap kali aku pulang ke rumah dan makan, aku selalu merasa berdosa membayangkan kamu kelaparan di gudang itu."

​Mirasih menunduk, memainkan ujung kainnya. "Ini takdirku, Dit. Mungkin ini hukuman karena aku tidak ikut mati bersama Bapak dan Ibu."

​"Jangan bicara begitu!" Aditya memegang kedua bahu Mirasih. "Ini bukan takdir, ini kejahatan! Dan aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkanmu selamanya."

​Aditya menatap tajam ke depan, ke arah jalan besar yang menuju luar kota. Sebuah keputusan besar telah ia ambil. Ia tahu, jika ia tetap di desa menjadi buruh tani, ia tidak akan pernah bisa mengubah keadaan. Ia butuh sesuatu yang lebih besar dari sekadar tenaga otot untuk melawan keserakahan Paman Broto.

​"Aku mau merantau, Mir," ucapnya pelan namun mantap.

​Mirasih tersentak. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. "Merantau? Tapi... kalau kamu pergi, aku dengan siapa di sini? Siapa yang akan mendengarkan ceritaku? Siapa yang akan melindungiku saat aku di sungai?"

​Suara Mirasih gemetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Aditya adalah satu-satunya kewarasan yang tersisa di hidupnya. Jika pemuda itu pergi, ia benar-benar akan sendirian di tengah serigala.

​Aditya menggenggam tangan Mirasih erat-erat, mencoba menyalurkan keberanian yang ia sendiri pun sebenarnya sedang ia kumpulkan. "Aku pergi untuk menjemputmu, Mir. Aku akan ke Jakarta, ikut dengan mandor bangunan yang tempo hari menawariku kerja. Katanya gajinya besar. Aku akan menabung . Aku akan bekerja siang dan malam."

​Ia mengambil napas panjang, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad. "Aku janji, Mir. Setahun... beri aku waktu setahun. Aku akan kembali dengan uang yang cukup. Aku akan melamarmu secara resmi, di depan Pamanmu, di depan seluruh orang desa. Aku akan membawamu keluar dari rumah neraka itu. Kita akan bangun rumah sendiri, meski kecil, tapi itu milik kita. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu."

​Mirasih terisak. Harapan itu terasa begitu manis, namun juga begitu jauh. "Tapi setahun itu lama sekali, Dit..."

​"Ingatlah janji ini setiap kali mereka menyakitimu, Mir," bisik Aditya, tangannya mengusap air mata di pipi Mirasih. "Jadikan aku alasanmu untuk bertahan. Jangan biarkan mereka mematahkan semangatmu. Aku akan pulang. Aku pasti pulang demi kamu."

​Sore itu, di bawah pohon randu yang menjadi saksi bisu, mereka saling bertukar janji. Aditya memberikan sebuah gelang tali hitam sederhana kepada Mirasih. "Pakai ini. Kalau kamu rindu atau merasa takut, pegang gelang ini. Anggap itu tanganku yang sedang menggenggammu."

​Malam harinya, Aditya benar-benar berangkat. Mirasih mengintip dari balik celah dinding gudangnya, melihat bayangan Aditya yang memanggul tas usang, berjalan menjauh menembus kegelapan malam. Hati Mirasih terasa robek, namun di saat yang sama, ada sebuah api kecil yang mulai menyala di dadanya. Api harapan.

​Hari-hari setelah keberangkatan Aditya terasa seribu kali lebih berat. Paman Broto semakin kasar karena kalah judi lagi, dan Bibi Sumi semakin semena-mena.

​"Heh! Kerja yang benar! Jangan cuma melamun!" teriak Bibi Sumi sambil melemparkan kain pel basah ke wajah Mirasih. "Sudah untung kamu kami tampung di sini, jangan jadi parasit!"

​Mirasih hanya diam. Ia menelan semua makian itu. Saat punggungnya terasa pegal karena harus mencuci tumpukan karpet, atau saat telinganya panas mendengar hinaan Siska yang memamerkan baju barunya, Mirasih akan memegang gelang tali di pergelangan tangannya.

​Aditya sedang bekerja untukku. Aku harus kuat, batinnya berbisik.

​Seringkali, saat ia dikurung di gudang tanpa lampu, Mirasih membayangkan masa depan mereka. Ia membayangkan Aditya pulang dengan kemeja rapi, membawa hantaran, dan membawanya pergi jauh dari desa ini. Ia membayangkan mereka hidup tenang, menanam sayur di halaman rumah sendiri, jauh dari bayang-bayang Paman Broto.

​Janji Aditya adalah satu-satunya alasan mengapa Mirasih masih mau membuka matanya setiap pagi. Baginya, Aditya adalah penyelamat yang sedang berjuang di medan perang, dan ia adalah sang penunggu yang harus menjaga benteng hatinya agar tidak runtuh.

1
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
kelamaan kamu mnjadi bodoh Mirasih ,
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
Halwah 4g: ashiapppppppppp kaa...lagi pasang kuda-kuda dia..masih bucin akut dulu 🤭
total 1 replies
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukuman yang seperti apa akan di terima Broto dan Sumi
manusia busukk
Asphia fia
mampir
Halwah 4g: trimksih kaa 😍
total 1 replies
Evi Anjani
mampir🥰
Halwah 4g: terima ksih kka cantikkkkkk 😍
total 1 replies
Amiera Syaqilla
pengantinnya seram tapi kok juga cantik banget sih😅
Halwah 4g: iya ka🤭 biar gek jlek2 bnget
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis amat thor sama gendruwo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!