NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa

Penerus Warisan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:38.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.

Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.

Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.

Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.

“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”

Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Penilaian Mata Elang

Angin malam menderu menghantam dinding tebing utara, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di dalam Gua Nomor 99, Lin Xuan duduk bersila di atas ranjang batunya.

Ia mengangkat tangan kanannya. Di bawah cahaya temaram, jari telunjuknya terlihat sedikit membengkak. Terdapat retakan halus pada kulit di sekitar buku jarinya, merembeskan setetes darah hitam.

"Kekuatan pantulan dari Seni Jari Pemutus Kehidupan benar-benar ganas," gumam Lin Xuan datar. "Bahkan dengan Tulang Besi Hitam di tahap puncak, dagingku hampir meledak menahan kompresi energi dari sembilan pilar."

Di dalam Lautan Kesadarannya, Gu Tianxie mendengus pelan. "Chen Fei memiliki Seni Zirah Logam Berat. Tingkat kepadatan zirah itu setara dengan artefak pertahanan tingkat rendah. Kau memusatkan seluruh kekuatan fisik dan Qi murni ke satu titik seluas jarum untuk menembusnya. Tentu saja daging fanamu menjerit."

Hantu tua itu terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada penuh perhitungan. "Namun, Qi elemen logam milik bocah itu sangat murni. Saat kau menghancurkan jantungnya, Cincin Samsara Darah menyedot sedikit esensi logamnya. Gunakan energi itu sekarang. Ini saat yang tepat untuk mendorong fisikmu menuju tahap Tulang Tembaga Darah."

Lin Xuan mengangguk. Ia menutup matanya dan mulai memutar Kitab Suci Tulang Asura. Energi merah pekat dari cincinnya mengalir ke seluruh tubuh, membawa sisa-sisa esensi logam dari tubuh Chen Fei.

Tulang-tulangnya berderit keras, bergesekan satu sama lain seolah sedang ditempa ulang di dalam tungku pandai besi.

Suhu di dalam gua turun drastis, namun tubuh Lin Xuan mengeluarkan uap panas.

Tiba-tiba, mata Lin Xuan terbuka lebar. Uap panas di sekelilingnya membeku seketika.

"Ada yang datang," bisik Lin Xuan. Niat Membunuh yang baru saja ia tekan kembali bangkit, namun ia segera menyembunyikannya ke kedalaman Dantian, menggantikannya dengan aura seorang kultivator cacat yang kelelahan.

Tap. Tap.

Suara langkah kaki yang sangat pelan terdengar dari luar gua. Tidak ada fluktuasi Qi yang memicu Formasi Peringatan, namun tekanan spiritual yang bocor dari sosok itu membuat udara di dalam gua terasa seberat timah.

"Mu Chen," sebuah suara berat dan berwibawa menembus pintu batu. "Buka pintunya."

Itu bukan Wang Long. Itu adalah Tetua Mo, Pemimpin Balai Hukuman.

Lin Xuan menarik napas panjang. Ia bangkit, mengatur posturnya agar terlihat sedikit bungkuk dan menahan sakit, lalu membuka pintu batu tersebut.

Di luar, Tetua Mo berdiri di bawah cahaya bulan. Jubah hitamnya berkibar pelan. Mata elangnya yang tajam langsung menatap lurus ke dalam pupil hitam Lin Xuan, seolah mencoba menguliti jiwa pemuda itu.

"Salam, Tetua Mo," Lin Xuan membungkuk hormat, menyembunyikan lengan kanannya sedikit di balik tubuhnya.

Tetua Mo tidak membalas sapaan itu. Ia melangkah masuk ke dalam gua yang lembap dan miskin Qi tersebut, mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu kembali menatap Lin Xuan.

"Satu jari," kata Tetua Mo dingin. "Kau menghancurkan zirah logam dan meridian jantung Chen Fei dengan satu sentuhan. Tidak ada fluktuasi Qi pedang. Tidak ada ledakan elemen. Diaken penjaga arena mengatakan, jari telunjukmu sekeras pusaka tingkat bumi."

Tetua Mo melangkah maju, jaraknya kini hanya satu lengan dari Lin Xuan. Tekanan dari kultivator Puncak Core Formation menekan bahu Lin Xuan hingga lututnya nyaris bergetar.

"Tetua Feng memeriksa meridianmu dan menyatakan bahwa fondasimu hancur," lanjut Tetua Mo, suaranya merendah menjadi bisikan yang mengancam. "Cermin Pelacak Darahku tidak menemukan aura Seni Iblis di tubuhmu. Namun, hari ini kau membuktikan bahwa kau bisa membunuh ahli Foundation Establishment seperti memencet serangga. Jelaskan padaku, Mu Chen. Monster macam apa kau ini sebenarnya?"

Tangan Tetua Mo tiba-tiba melesat ke depan, mencengkeram pergelangan tangan kanan Lin Xuan dengan kecepatan kilat.

Qi murni milik Tetua Mo langsung menyusup ke dalam lengan Lin Xuan, memeriksa kondisinya secara paksa.

Lin Xuan tidak melawan. Jika ia melawan, identitasnya akan langsung terbongkar. Di dalam kepalanya, Gu Tianxie telah menciptakan ilusi segel darah yang sempurna.

Alis Tetua Mo berkerut dalam. Ia merasakan meridian di lengan kanan Lin Xuan benar-benar kacau balau, terpelintir dan hancur seperti benang yang kusut. Namun, yang membuat sang Tetua terkejut adalah kepadatan tulangnya. Tulang pemuda ini luar biasa berat, padat, dan memancarkan aura kuno yang tertidur.

"Meridianmu memang sampah," gumam Tetua Mo, perlahan melepaskan cengkeramannya. "Tapi tulangmu... fisik ini bukanlah fisik manusia biasa. Rahasia apa yang kau temukan sebelum kau masuk ke sekte ini?"

Lin Xuan menundukkan wajahnya, memasang ekspresi pahit. Ini adalah momen yang sudah ia persiapkan. Di dunia kultivasi, keajaiban mendadak selalu membutuhkan penjelasan yang masuk akal.

"Tetua sangat jeli," jawab Lin Xuan pelan. "Saat hamba jatuh ke dasar jurang malam itu, hamba menemukan sisa-sisa kerangka seekor binatang buas kuno. Di dekat kerangka itu, tumbuh sebuah buah berwarna hitam legam yang sekeras besi. Hamba yang kelaparan dan terluka parah memakannya untuk bertahan hidup."

Lin Xuan menelan ludah, melanjutkan kebohongannya dengan sempurna. "Buah itu hampir membakar hamba hidup-hidup. Tulang-tulang hamba patah dan menyatu kembali berkali-kali. Hamba tidak tahu nama buah itu, tapi sejak saat itu, kekuatan fisik hamba melampaui batas normal, meski meridian hamba menjadi sangat rapuh terhadap aliran Qi."

Tetua Mo mengelus jenggotnya, matanya menyipit menilai. Buah Penempa Tulang? Atau mungkin Buah Besi Hitam dari era kuno? batinnya. Di Benua Timur, legenda tentang kultivator rendahan yang menemukan harta karun alam dan mendapatkan kekuatan fisik brutal memang sering terdengar. Ini menjelaskan mengapa Lin Xuan tidak memancarkan aura Qi yang kuat saat membunuh Chen Fei. Ia murni menggunakan kekuatan otot dan tulang yang ditempa oleh keajaiban alam.

"Begitu rupanya," Tetua Mo mengangguk pelan, kecurigaannya sedikit mereda. Ia menatap Lin Xuan dengan pandangan yang kini bercampur antara kasihan dan tertarik. "Keberuntungan yang luar biasa, sekaligus kutukan. Tubuhmu menjadi senjata yang mengerikan, tapi tanpa meridian yang utuh, kau tidak akan pernah bisa melangkah jauh di Jalan Dao. Umurmu akan tetap sama dengan manusia fana biasa."

"Hamba hanya ingin bertahan hidup, Tetua," kata Lin Xuan datar.

Tetua Mo berbalik, berjalan menuju pintu gua. Sebelum melangkah keluar, ia menghentikan langkahnya.

"Keadilan di arena adalah mutlak. Balai Hukuman tidak akan menghukummu atas kematian Chen Fei," kata Tetua Mo tanpa menoleh. "Namun, tetua dari Fraksi Wang tidak memegang prinsip yang sama denganku. Kakek Wang Long, Tetua Wang, adalah orang yang sangat picik. Jika kau mati di luar wilayah sekte, aku tidak akan bisa mencarikan keadilan untukmu."

Itu adalah sebuah peringatan, sekaligus pernyataan cuci tangan.

"Hamba mengerti. Terima kasih atas petunjuk Tetua," Lin Xuan membungkuk.

Tetua Mo melesat pergi, menghilang ke dalam kegelapan malam bagaikan burung gagak raksasa.

Begitu tekanan spiritual Tetua Mo lenyap, Lin Xuan menegakkan tubuhnya. Ekspresi pahit dan lemah di wajahnya langsung menguap, digantikan oleh senyum sinis yang membekukan darah.

"Buah Besi Hitam," Gu Tianxie tertawa terbahak-bahak di dalam Lautan Kesadaran Lin Xuan. "Alasan klasik yang sangat murahan, tapi justru karena kemurahannya, rubah tua itu mempercayainya! Dia sekarang menganggapmu sebagai raksasa bodoh tanpa masa depan kultivasi."

"Biarkan dia berpikir begitu," Lin Xuan berjalan kembali ke ranjang batunya. "Semakin mereka meremehkanku, semakin tajam pedang yang bisa kusembunyikan di balik punggungku."

Sementara itu, di Paviliun Giok Api milik Wang Long.

Suasana di dalam paviliun terasa sangat mencekam. Barang-barang berharga, guci porselen, dan meja giok telah hancur berantakan di lantai.

Wang Long berlutut di tengah ruangan, wajahnya pucat pasi. Lengan kanannya yang cacat bergetar menahan amarah dan ketakutan.

Di depannya, duduk seorang pria tua berjubah merah tua dengan rambut beruban yang disanggul rapi. Wajahnya dipenuhi keriput tajam yang membuatnya terlihat seperti elang kelaparan. Itu adalah Tetua Wang.

"Bodoh!"

PLAK!

Sebuah tamparan Qi murni melayang dari tangan Tetua Wang, menghantam pipi Wang Long hingga pemuda itu terpelanting dan memuntahkan darah.

"Kau membiarkan Chen Fei menandatangani Gulungan Kematian melawan seseorang yang bahkan tidak kau ketahui batas kekuatannya?!" raung Tetua Wang. "Kita kehilangan satu lagi pion Foundation Establishment, dan kau membuat klan kita menjadi bahan tertawaan di seluruh Puncak Dalam!"

Wang Long merangkak kembali ke posisi berlutut. "Kakek... maafkan cucumu! Bajingan itu menyembunyikan kekuatannya! Dia menipu kita semua dengan meridiannya yang cacat!"

"Alasan!" Tetua Wang berdiri, menatap cucunya dengan jijik. "Kekuatan sejati tidak pernah peduli pada tipu muslihat. Jika kau cukup kuat, kau bisa menghancurkan segala tipu dayanya dengan kekuatan mutlak. Tapi kau sekarang cacat, dan nyalimu telah dipatahkan oleh seorang Murid Dalam rendahan!"

Tetua Wang menarik napas panjang, mencoba menenangkan amarahnya. Bagaimanapun juga, Wang Long adalah cucu kesayangannya. Darah klan Wang tidak boleh dihina tanpa pembalasan.

"Aku baru saja mendapat kabar dari informanku di Balai Hukuman," kata Tetua Wang dengan suara yang lebih dingin. "Tetua Mo baru saja memeriksa Mu Chen. Anak itu memakan Buah Besi Hitam di dasar jurang. Fisiknya luar biasa, tapi masa depan kultivasinya telah hancur total. Dia hanyalah anjing penjaga yang kebetulan memiliki gigi tajam."

Mata Wang Long melebar. "Buah Penempa Fisik? Pantas saja dia bisa menghancurkan zirah logam Chen Fei! Kakek, kita harus membunuhnya! Jika kita biarkan, reputasiku tidak akan pernah pulih!"

Tetua Wang tersenyum kejam. "Tentu saja dia harus mati. Tapi tidak di dalam sekte. Jika Tetua Mo menangkap bukti bahwa faksi kita membunuh murid secara diam-diam, aku akan kehilangan kesempatanku merebut posisi Wakil Pemimpin Sekte bulan depan."

Tetua Wang berjalan ke arah jendela, menatap ke arah bayangan gunung di kejauhan.

"Bulan depan, Sekte Awan Hijau akan mengadakan Misi Wajib Penaklukan Binatang Roh di Pegunungan Seribu Pedang. Ini adalah ujian rutin bagi seluruh Murid Dalam. Aku akan menggunakan wewenangku di Balai Tugas untuk memastikan nama Mu Chen masuk dalam daftar regu garda depan."

Wang Long menyeka darah dari sudut bibirnya, matanya mulai menyala dengan harapan buas. "Pegunungan Seribu Pedang? Itu adalah wilayah tanpa hukum. Jika dia mati dicabik binatang roh..."

"Bukan binatang roh yang akan mengurusnya," potong Tetua Wang. Ia melempar sebuah token hitam berbentuk taring serigala ke lantai, tepat di depan lutut Wang Long.

"Aku telah mengeluarkan sepuluh ribu Batu Roh tingkat menengah dari kas klan untuk menyewa kelompok pembunuh bayaran dari dunia bawah. Organisasi Gigi Hitam."

Wang Long menahan napas. Gigi Hitam adalah kelompok pembunuh kultivator liar yang sangat ditakuti. Mereka tidak peduli pada aturan sekte, murni membunuh demi Batu Roh. Pemimpin mereka dikabarkan adalah seorang ahli Core Formation yang kejam.

"Regu Gigi Hitam akan menunggunya di kedalaman pegunungan," lanjut Tetua Wang. "Seberapapun kerasnya tulang anak itu, dia tidak akan selamat dari racun, formasi jebakan, dan keroyokan para pembunuh profesional. Mu Chen tidak akan pernah kembali ke sekte ini hidup-hidup."

Wang Long mengambil token taring itu, senyum bengis merobek wajahnya. "Terima kasih, Kakek. Aku akan memastikan darahnya mengering di pegunungan itu."

Di balik bayangan takdir, jaring kematian yang baru dan jauh lebih besar mulai ditebarkan. Lin Xuan mungkin telah menaklukkan panggung arena, namun dunia kultivasi yang sesungguhnya berada di luar tembok sekte di mana tidak ada aturan, dan mayat bisa dihilangkan tanpa jejak.

1
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnnn mangh suannnn
saniscara patriawuha.
gassssddd...
saniscara patriawuha.
sikattttt manggg suannnn
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Jooossss 👍
REY ASMODEUS
selamat datang tingkatan baru... selamat datang sang azura dan selamat menikmati kehancuran wahai benua tengah. 🤣🤣🤣
Budi Wahyono
5 mawar untuk lin xuan
REY ASMODEUS
ini namanya konspirasi pertandingan tingkat dewa🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
gasdddd deuiiiii anuuuu kenceungggh..
Bisri Ilhamsyah
mantap ceritanya
REY ASMODEUS
Thor aku serakah. up lqgi 12 bab boleh ? 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
Sang_Imajinasi: kita gas besok
total 1 replies
REY ASMODEUS
aku suka gayamu azura🤣🤣🤣🤣,
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnnn.....
Sang_Imajinasi: siap💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
merinding bosku. ini baru azura sang pembantai. biarkan pion maju kedepan sedangkan sang bayangan menari dengan rima berdarahnya di balik bayangan
saniscara patriawuha.
krakkkkkk bunyi yanggg gurih gurih renyahhhh....
saniscara patriawuha.
gassssss polllll deuiiii...
saniscara patriawuha.
sukatttttt mangggg suannnn...
REY ASMODEUS
sekte kabut ilusi. kalian slaah kasih nama harusnya sekte ilusi suka ngibul🤣🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
silent.... mematikan....itu benar mantap Thor... lanjutkan 💪
saniscara patriawuha.
sikatttt sampeee lumattt
saniscara patriawuha.
gasssssd pollllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!