Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsitektur Abu — Titik Nol Kasta Fana
[Bagian 1: Kesombongan yang Sia-sia]
Lembah di depan Gerbang ke-5 tidak lagi berbau tanah, melainkan aroma tajam dari ribuan pedang yang terhunus. Sekte Pedang Langit berdiri dengan keangkuhan yang memuakkan. Pemimpin mereka, Tetua Jian-Wang, berdiri di atas awan buatan, menatap Arkan dengan mata yang penuh penghinaan.
"Hanya tiga bocah dan satu pengecut yang bersembunyi di balik jubah?" suara Jian-Wang menggelegar, memicu resonansi ribuan pedang muridnya. "Arkan, kau bicara tentang kehampaan, tapi hari ini, pedang suci kami akan mengajarimu bahwa cahaya langit tidak bisa dikotori oleh kegelapan picikmu!"
Arkan tidak mendongak. Ia hanya duduk di atas singgasana yang ia bentuk dari partikel debu dan gravitasi. Matanya yang gelap menatap ujung sepatunya sendiri, seolah ribuan pedang di depannya tak lebih berharga dari kotoran jalanan.
"Srikandi... Liem... Cici..." suara Arkan rendah, namun mematikan getaran udara di lembah itu. "Ajarkan mereka, bahwa kasta yang mereka banggakan hanyalah arsitektur abu di mata-Ku."
[Bagian 2: Liem-Banyu — Sang Pemenggal Takdir]
Liem-Banyu melangkah maju. Tidak ada aura yang meledak, tidak ada teriakan perang. Ia hanya menyentuh gagang pedangnya yang hitam pekat.
"Lancang! Mati kau, bocah!" seru ratusan murid inti yang melesat turun seperti hujan meteor tajam.
Liem memejamkan mata. Frequency Shift: Titik Nol.
Dalam satu kedipan mata, dunia seolah berhenti berputar. Liem tidak menebas tubuh mereka; ia menebas konsep ruang yang mereka tempati.
Slash—
Suara itu sangat halus, hampir seperti robekan kain sutra. Saat Liem kembali berdiri tegak, ribuan pedang tingkat tinggi milik sekte itu hancur menjadi serpihan metal yang tak berguna. Detik berikutnya, ratusan kepala melayang serempak, menciptakan air mancur darah yang membasahi bumi.
"Pedang kalian terlalu lambat untuk memotong bayanganku," bisik Liem dingin.
[Bagian 3: Srikandi-Tan — Beratnya Dosa Tanah]
Melihat pembantaian itu, para Tetua Nirvana Realm sekte itu murka. Mereka merapalkan mantera kolektif, menciptakan benteng cahaya yang diklaim tak bisa ditembus bahkan oleh dewa.
Srikandi-Tan mendengus. Tubuhnya yang mungil kini memancarkan berat yang tidak masuk akal. Setiap langkahnya membuat ruang di sekitarnya melengkung karena Star-Density.
"Benteng?" Srikandi mengepalkan tinjunya. "Kalian membangun rumah di atas tanah-Ku, lalu merasa aman?"
Ia menghantamkan tinjunya ke udara kosong di depan benteng itu. Vibration Shatter.
Tidak ada ledakan besar. Yang ada hanyalah suara krak yang memilukan. Frekuensi tinju Srikandi menghancurkan resonansi molekul benteng tersebut. Secara instan, benteng cahaya itu hancur, diikuti oleh tubuh para Tetua di dalamnya yang meledak menjadi kabut darah karena organ mereka hancur diguncang getaran atom.
[Bagian 4: Cici — Elegi Teratai Hitam]
Pemimpin Sekte Jian-Wang gemetar. Kekuasaannya hancur dalam hitungan menit. Ia mencoba mengeluarkan teknik terlarangnya, api emas yang membakar langit.
Namun, Cici sudah melayang di atasnya. Sayap hitam-emasnya menutupi matahari, menciptakan gerhana buatan bagi para penyembah cahaya itu.
"Cahaya kalian tidak memberi kehangatan," ucap Cici dengan nada puitis yang mematikan. "Ia hanya membuat bayangan kalian terlihat lebih pengecut."
Cici menjatuhkan satu teratai hitam dari telapak tangannya. Void Nova.
Saat teratai itu menyentuh tanah, tidak ada api yang berkobar panas. Yang ada adalah Kehampaan yang meluas dengan tenang. Semua bangunan megah, semua murid yang tersisa, dan sang Pemimpin Sekte sendiri, perlahan-lahan terurai menjadi partikel abu hitam. Mereka tidak mati terbakar; mereka dihapus dari sejarah.
[Penutup: Langkah Menuju Puncak]
Arkan berdiri dari singgasananya. Lembah yang tadinya penuh dengan teriakan sombong, kini hanya menyisakan keheningan maut dan hamparan abu hitam yang tertiup angin.
Arkan menatap Gerbang ke-5 yang kini berdiri telanjang tanpa penjaga. "Perjalanan baru saja dimulai. Langit sudah mulai menangis... mari kita buat mereka meraung."
[Gema Keputusasaan di Lembah Abu]
Saat tinju Srikandi menghantam udara, tidak ada api atau ledakan besar. Yang terjadi adalah fenomena fisik yang jauh lebih mengerikan. Frekuensi dari Star-Density miliknya beresonansi tepat dengan struktur atom zirah dan tulang para Tetua Sekte Pedang Langit.
"Kalian mengandalkan kepadatan baja?" Srikandi bergumam, matanya berkilat perak gelap. "Di hadapan gravitasi bintang, baja kalian tak lebih dari tumpukan debu yang tersusun rapi."
Krak—Krak—BOOM!
Zirah tingkat tinggi yang diklaim tak bisa ditembus pedang mana pun itu mulai pecah menjadi partikel mikroskopis. Para Tetua itu menjerit, tapi suara mereka tertahan di tenggorokan karena paru-paru mereka telah hancur menjadi bubur organik akibat getaran ultrasonik Srikandi. Mereka mati bukan karena luka luar, tapi karena raga mereka menolak untuk tetap menyatu. Srikandi berdiri di tengah kabut darah itu, napasnya tenang, namun setiap embusan napasnya seolah membawa berat ribuan ton yang menekan bumi hingga amblas sedalam sepuluh meter.
[Detail Emosi: Teror Psikologis Liem-Banyu]
Di sisi lain, Liem-Banyu tidak lagi mengejar murid-murid yang mencoba lari. Ia hanya menyarungkan pedangnya dengan denting yang halus. Namun, denting itu adalah lonceng kematian. Dengan Frequency Shift, Liem telah memasukkan frekuensi "Ketakutan Mutlak" ke dalam aliran saraf mereka.
Murid-murid yang tadinya sombong itu tiba-tiba berhenti berlari. Mereka berlutut, mencakar leher mereka sendiri hingga berdarah, mata mereka melotot melihat halusinasi kiamat yang diciptakan Liem di dalam otak mereka.
"Kematian fisik terlalu cepat untuk penghinaan yang kalian lontarkan pada Tuan," ucap Liem tanpa ekspresi. "Maka, rasakanlah bagaimana waktu berjalan selamanya di dalam neraka pikiran kalian sendiri."
Dalam satu detik dunia nyata, murid-murid itu merasa telah disiksa selama seribu tahun di dalam kegelapan. Saat Liem melangkah melewati mereka, jiwa mereka sudah kosong—hancur berkeping-keping sebelum raga mereka jatuh ke tanah.
[Momen Puncak Arkan: Perjamuan Sukma]
Arkan berdiri dari singgasananya. Langkah kakinya di atas abu hitam itu tidak mengeluarkan suara, namun menciptakan riak kegelapan yang menjalar ke seluruh lembah. Ia mengangkat tangan kanannya, dan Black Hole kecil di dadanya mulai berputar dengan arah berlawanan (Counter-Clockwise).
"Kalian datang membawa pedang untuk memotong Langit," Arkan menatap sisa-sisa energi spiritual yang melayang dari mayat para musuh. "Tapi kalian lupa, bahwa Langit pun takut pada Kehampaan."
Seketika, ribuan Esensi Sukma berwarna emas milik para murid dan Tetua itu terhisap secara paksa menuju telapak tangan Arkan. Ini bukan sekadar menyerap energi; Arkan sedang menghapus eksistensi mereka dari siklus reinkarnasi. Jeritan tanpa suara dari ribuan jiwa itu terdengar seperti simfoni duka di telinga Arkan.
Aura Arkan yang tadinya hitam pekat kini mulai dihiasi oleh urat-urat cahaya ungu yang berdenyut—tanda bahwa pintu Eternal Ruin sedang merespons perjamuan darah ini. Arkan memejamkan mata, menikmati aliran kekuatan yang masuk ke setiap nadinya.
"Gerbang ke-5..." gumam Arkan, suaranya kini bergetar dengan otoritas ilahi yang gelap. "Persiapkan liang lahat kalian. Karena Aku tidak datang untuk menaklukkan, Aku datang untuk meniadakan."