David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas mendapat banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil memenangkan Laila.
Akankah keduanya berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 1) Will You Marry Me?
Mohon dukungannya. Kalau udah mampir jangan cuma diliat doang. Like dong~ :(
...*...
...*...
...— Happy Reading —...
...———————...
...____...
..._...
Mendung terlihat mengepul di langit-langit Sao Paulo. Seolah menggambarkan perasaan Laila yang tampak abu-abu.
Ia menatap sendu selembaran keras yang merupakan kontrak perjanjian pernikahannya dengan David Mendoza. Seseorang yang tanpa sengaja, ia dekati demi tujuan bisnis. Pria kejam dan licik yang semestinya tidak ia ajak bicara, pada malam pesta Black Hot Party.
"Kenapa melamun? Apa kau ragu?" David yang terduduk angkuh itu, bertanya dengan melebarkan senyum dinginnya seraya menopang dagu. Seketika menyengat hati Laila yang berkecamuk.
"Setelah menandatangi perjanjian itu, biaya operasi suamimu akan langsung kau terima, nyonya Laila. Tenang saja, aku takkan menipumu. Karena aku adalah David Mendoza." Jelas David, menyeringai.
"Kau... hanya perlu berpura-pura menjadi istriku selama setahun. Kau juga harus tahu, bahwa tidak semua orang dapat memberikan syarat yang semudah ini, untuk uang pinjaman sebesar lima ratus juta rupiah," imbuhnya merogoh kocek jasnya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil yang telah ia miliki dari jauh-jauh hari.
David membuka kotak cincin itu. Meletakkannya dihadapan Laila lalu melantunkan, "so... Will You Marry Me?"
Laila termangu. David tentu tidak puas dengan reaksi itu. Ia pun berkata seraya hendak menarik surat kontrak pernikahan tersebut, "namun kalau kau ragu, aku..."
Tapppp.
Tiba-tiba, Laila merenggut kontrak itu. Tanpa basa-basi, ia lantas mendaratkan tandatangannya.
Tidak dapat dipungkiri, David seketima mengembangkan senyumnya yang mengibarkan bendera kemenangan.
"Aku sudah menyetujui pernikahan ini. Sekarang, mana uangnya." Ucap Laila, mengulurkan tangan.
Bukannya memberi apa yang diinginkan Laila, David dengan liciknya malah meminta, "sebelum itu, bagaimana dengan satu ciuman terlebih dahulu? Toh kita sudah menjadi pasangan suami-istri."
Deggg.
Laila membelalakkan mata. Ada kemarahan, keterkejutan dan sedikit penyesalan yang membentang dalam dada. Andai hari itu dia tidak menganggu David, mungkin jalan hidupnya bisa saja berbeda.
Sementara perasaan David berbanding terbalik. Wanita yang semula dikiranya turis asing dan sudah merenggut hatinya sejak pandangan pertama, akhirnya telah sah menjadi istrinya.
Dengan gagah berani, ia beranjak untuk mendekati Laila yang hampir menangis karena takut dibohongi. Lalu tanpa izin, David mendaratkan satu kecupan manis yang sudah lama ia tahan, ke pipi mulus Laila.
Chupppp.
"Te Amo, Laila."
**********
Beberapa hari yang lalu, sebelum itu semua terjadi. Dimana malam terasa tenang dan damai. Namun, tidak ada yang pernah tahu bahwa di dekat dermaga, David dan gerombolannya tengah berbuat keji.
Sebuah karung yang terbungkus rapi nampak bergerak-gerak dihadapan mereka. Tentu saja, isinya adalah manusia. Orang itu terus meronta dan melenguh sejak tadi, berharap dapat belas kasih.
"Bagaimana, tuan?" salah seorang bawahan berbisik, mempertanyakan aba-aba selanjutnya dari David Mendoza terkait karung berisi orang tersebut.
David yang terduduk bersilang kaki dengan aura kejam itupun, menghembus asap rokoknya. Ketika asap itu menghilang dari wajahnya, senyuman licik terukir di bibir bersamaan dengan satu perintah yang tanpa basa-basi.
"Musnahkan." Singkat namun mematikan. Seketika, karung tersebut di lempar ke laut.
Tidak sampai disana, David lantas berdiri. Mengambil pistol dari balik saku jasnya, lalu kemudian menembakkannya ke karung yang masih mengambang itu.
Dor... Dor... Dor.
Dalam waktu singkat, air laut itu bercampur dengan darah. Dan dibawah pantulan cahaya lampu yang menyorot ke laut, tatap mata David terlihat dingin. Seiras dengan sifatnya yang tidak kenal ampun.
Keesokan paginya, David bersikap biasa saja. Seakan kemarin, tidak terjadi apa-apa. Ia tampak merapikan jasnya depan cermin. Menyiapkan diri, hendak ke perusahaan yang telah melambungkan namanya.
Tilulit.
Deringan ponsel membuatnya teralih. Ia menghentikan sejenak persiapannya dan segera mengangkat panggilan.
"Hm?" sapanya kepada si penelepon.
"Yo, David. Bagaimana kabarmu kawan?"
"Baik."
"Astaga, cuek sekali."
"Kalau tidak ada hal penting, aku akhiri panggilan ini." David mulai jengkel.
"Tunggu... Tunggu. Aku cuma mengingatkan, jangan lupa datang ke black hot party besok. Disana, akan ada banyak wanita cantik."
Mendengar itu, David mendengus. Kemudian langsung memutuskan panggilan. Ia termangu dan bergumam, "black hot party."
Black Hot Party adalah sebuah pesta yang diadakan setahun sekali di Sao Paulo. Orang-orang yang menghadiri pesta itu, rata-rata dari kalangan konglomerat.
Selain untuk bersenang-senang, pesta yang diselenggarakan di sebuah kabar pesiar itu, merupakan sarana untuk menjalin bisnis. Baik yang halal maupun haram.
Tetapi David tidak begitu peduli. Toh dia sudah sangat terkenal di Sao Paulo.
David Mendoza, adalah nama lengkapnya. Ia seringkali dipanggil Dev. Namun itu tidaklah penting. Karena yang paling utama ialah, David merupakan Chief Executive Officer (CEO) dari ODM Company, perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di Brazil.
Untuk kekayaan, tidak usah diragukan lagi. Sebab saking kayanya, David masuk ke dalam seratus orang terkaya di dunia dan berada pada urutan ke 23, dengan kekayaan total mencapai 56 Trilliun rupiah.
Selain menjadi CEO di ODM Company, David adalah seorang ketua kartel kelas kakap. Sesosok yang amat ditakuti di dunia bawah tanah.
Bahkan jauh sebelum menggeluti bisnis minyak dan gas, David terlebih dahulu terjun dalam dunia kriminal. Ia tumbuh dan besar dalam lingkungan itu.
ODM Company bukanlah miliknya, melainkan warisan sang paman tercinta. The Black Tiger lah, yang benar-benar ia kembangkan dengan usahanya sendiri. Sebuah organisasi gelap yang memperjualbelikan obat-obatan terlarang. Selain itu, adapula rumor yang mengatakan kalau mereka juga memperdagangkan manusia. Sehingga, sekali mendengar namanya saja orang-orang sudah bergidik ketakutan.
Itulah mengapa, David Mendoza amat terkenal dan disegani di Sao Paulo. Tidak ada yang berani berurusan dengannya apalagi mencari masalah. Karena balasannya adalah kematian.
**********
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang waktu setempat, ketika Laila dan Aini tiba di bandara internasional Sao Paulo.
"Huuum, jadi ini toh wangi Brazil," gumam Laila menghirup udara dengan merentangkan kedua tangan, setelah keluar dari dalam terminal.
"Ini kali pertama aku ke luar negeri loh." Sahut Aini, disebelahnya.
Laila tersenyum geli dan menjawab, "sama. Tapi, kita juga jangan lupa. Kalau tujuan kita datang kesini bukan buat berlibur. Namun, untuk bekerja atau enggak, ya jadi babu." Senyuman itu pun, seketika berubah menjadi wajah yang murung.
"Huwaa, nasib." Aini ikut berkeluh.
Dengan langkah berat, Laila dan temannya itu pun bergegas menyeret koper hingga memasuki sebuah mobil, untuk segera menuju hotel tempat dimana atasan mereka menunggu.
Laila Cakrawala, adalah warga asli Indonesia yang bekerja di suatu perusahaan teknologi, Miu Company.
Karena bekerja sebagai kepala bidang pemasaran, Laila mau tidak mau harus ikut bersama sang pemilik Miu Corp, untuk memantau juga meliput pembangunan kantor cabang perusahaan itu, yang kebetulan dibangun di Sao Paulo.
Di dalam kamar hotel, Bella Viona selaku sang CEO melakukan briefing terhadap Laila dan Aini.
"Aini, tugasmu besok adalah menyatukan seluruh pengeluaran ini, dalam satu file." Ucap Bella, meletakkan tumpukan-tumpukan berkas yang menggunung, di atas meja. Sampai membuat Aini membelalakkan mata, dengan muka pucat.
"Ini harus diselesaikan besok, Bu?" tanya Aini.
"Tentu saja."
Mendengar itu, separuh nyawa Aini sudah melayang melewati mulutnya. "Bahkan dua hari pun tidak cukup untuk menginput data-data ini, Bu."
"Tapi apa boleh buat, semua demi bonus lima puluh juta yang akan saya terima nantinya. Haah, kukira mau berlibur, ternyata malah tetap jadi babu." Lanjutnya, dengan suara lemas karena hampir kehilangan nyawanya.
Bella tersenyum lega dan kemudian menatap tajam Laila.
Laila terhenyak dan merasa tegang. Bahkan meneguk air liurnya saja, rasanya susah.
"Dan kau Laila," Bella menghunjuk Laila. "Tugasmu besok adalah, ikut denganku ke acara Black Hot Party."
Laila tersentak, "be... belek hot party?"
Bella mengangguk, "ya. Alasanku membawamu kemari adalah karena selain cekatan, kau pandai berbahasa Inggris dan Portugis. Jadi aku harap, kau tidak mengecewakanku, Laila."
"Jika perjalanan bisnis ini berhasil menarik investor asing ke Miu Corp, maka bukan bonus lima puluh juta lagi yang akan kau dapat. Melainkan seratus juta," sambung Bella membuat mata Laila langsung terpatri gambar uang.
Sebab kalau soal uang, Laila takkan lari kemana. "Baik, Bu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."
"Ta--tapi... Bagaimana kalau gagal?" terusnya bertanya.
Bella memantulkan aura seram, "bonusnya juga gagal lah."
Gluk.
Laila pun termangu, pikirannya beradu.
Sesudah melewati diskusi yang panjang dan membosankan, Laila mencoba menenangkan diri dengan menghirup udara segar di luar.
Ia tampak duduk di kursi taman sekitaran hotel. Ditemani sinar rembulan, dan video call suaminya yang tersayang.
"Hallo sayangku, itu kau lagi dimana?" tanya suaminya, Dio. Di dalam panggilan video, pria itu nampak melambai-lambai dengan raut gembira. Namun, tali infus serta pakaian pasien yang dikenakannya membuat Laila terluka.
Dengan suara sengau Laila menjawab, "aku sedang di taman dekat hotel, sayang. Ngomong-ngomong, kau sudah makan?"
"Sudah sayang. Tapi rasanya hambar, karena tiada dirimu yang selalu menyuapiku. Aku merindukanmu, cepatlah pulang sayangku." Ujar Dio, yang langsung memecahkan tangisan Laila.
Laila tiada berkata-kata. Tangisnya menggambarkan apa yang ingin dia katakan. Air matanya mengalir begitu deras, tidak kuasa menahan rindu sekaligus perasaan tidak tega melihat suaminya yang sudah setahun terbaring lemah di rumah sakit, akibat kanker tulang.
Dio adalah alasan mengapa Laila sangat bekerja keras dan terobsesi dengan uang, karena biaya pengobatan yang cukup besar.
Dalam waktu yang cukup lama, wanita itu menangis seraya beberapa kali mencium layar ponsel. Doa-doa yang mengalun dalam hati, tiada berhenti. Berharap suami yang sedang sakit, segera dipulihkan oleh sang ilahi.
**********