Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: CEO Tumbang
"Hatchi! Sialan, kenapa tiba tiba ada debu di ruangan ini!" rutuk Dominic sambil menggosok hidungnya yang terasa sangat gatal.
Dia melempar bolpoin mahalnya ke atas meja. Matanya melirik tajam ke penjuru ruangan eksklusif itu, mencari cari asal debu yang berani beraninya masuk ke wilayah kekuasaannya.
"Hatchi!"
Satu bersin lagi menyusul. Kali ini suaranya jauh lebih keras sampai membuat layar komputernya sedikit bergetar. Dominic mematung di tempat duduknya. Jantungnya yang tadi berdegup kencang karena adu mulut dengan Harper kini berdetak gila gilaan karena panik. Tubuhnya seketika terasa aneh. Kepalanya mendadak pusing, dan tenggorokannya mulai terasa kering kerontang.
Dia menatap pantulan dirinya di layar monitor yang gelap. Hidung mancungnya terlihat kemerahan.
"Tidak, tidak, tidak. Ini sama sekali tidak mungkin," gumam Dominic ngeri. Dia menyentuh keningnya sendiri dengan telapak tangan kanan. Terasa agak hangat. Atau mungkin itu cuma sugesti otaknya saja?
Dominic menelan ludah dengan susah payah. Dia pria dengan harta triliunan. Kesehatan adalah aset utamanya yang paling berharga. Dia tidak boleh sakit parah. Dia menekan tombol interkom di mejanya berulang kali dengan kasar.
"Harper! Lepas alat bodoh di telingamu itu dan masuk ke ruanganku sekarang juga!" teriak Dominic keras keras ke arah mesin kecil tersebut.
Di luar sana, Harper yang sedang fokus mengetik laporan keuangan menoleh perlahan. Dia melepas satu penyuara telinga, lalu menatap bosnya dari balik kaca transparan dengan wajah sangat datar.
"Ada apa lagi?" jawab Harper lewat interkom mejanya. Nada suaranya terdengar sangat malas.
"Aku sekarat!" jerit Dominic nyaris histeris.
Harper memutar bola mata. Dia bangkit berdiri pelan, merapikan blazernya sejenak, lalu berjalan gontai memasuki ruangan CEO. Dia tidak terlihat khawatir sama sekali melihat bosnya yang sedang pucat pasi itu.
"Sekarat apa? Kau baru saja berteriak dengan kekuatan penuh sampai gendang telingaku sakit. Paru parumu masih berfungsi sangat baik," sindir Harper santai. Dia berdiri sekitar dua meter dari meja kerja Dominic, sengaja menjaga jarak aman.
"Jangan mendekat!" Dominic buru buru mengangkat kedua tangannya sebagai tanda dilarang melangkah maju. "Kau bisa tertular penyakit mematikan ini. Cepat telepon rumah sakit paling bagus. Aku butuh dokter sekarang juga."
"Dokter umum?" tanya Harper menahan tawa melihat tingkah konyol bosnya.
"Dokter umum itu cuma untuk orang sakit perut! Panggil dokter spesialis bedah. Yang paling hebat dan mahal di kota ini. Siapkan ruang operasi kalau perlu. Kurasa ada bakteri mutan mematikan yang baru saja masuk ke saluran pernapasanku dan mulai menyerang organ dalamku." Dominic mengusap lehernya dengan wajah luar biasa panik.
"Kau cuma bersin dua kali, Dom." Harper melipat tangan di depan dada.
"Dua kali berturut turut itu tanda gagal jantung awal! Bukunya ada, aku pernah membacanya di forum medis luar negeri saat aku tidak bisa tidur. Forum itu ditulis oleh pakar kesehatan terkemuka di benua Eropa. Cepat telepon helikopter evakuasi medis! Kita harus terbang ke rumah sakit pusat sekarang juga sebelum aku kehilangan kesadaran total di kursi ini!"
"Itu cuma flu ringan biasa akibat alergi debu. Cuaca di luar sedang turun hujan, dan kau malah dengan keras kepala memaksa AC sentral di ruangan raksasa ini menyala pada suhu delapan belas derajat." Harper menunjuk ke arah ventilasi udara raksasa di atas langit langit yang terus menghembuskan hawa dingin es seperti di kawasan kutub utara.
"Jangan berani membantah analisaku! Ini penyakit serius mematikan. Aku merasa lemas. Tulangku ngilu semua. Kepalaku rasanya seperti ditusuk ribuan jarum tajam. Ini akan menjadi akhir dari Vance Corp!" Dominic menjatuhkan kepalanya ke atas meja, pura pura pingsan dramatis.
Harper menarik napas panjang. Dia sudah terbiasa menghadapi drama konyol Dominic. Bosnya ini memang super jenius dalam merusak pasar saham saingan bisnis, tapi sangat bodoh dalam urusan anatomi tubuh dasar manusia. Dominic sering menganggap luka gores kecil akibat kertas sebagai pendarahan fatal yang butuh transfusi darah secepatnya.
"Aku tidak akan memanggil spesialis bedah tingkat tinggi hanya untuk mengobati hidung meler," ucap Harper sangat tegas.
Dominic mengangkat kepalanya kembali. Wajahnya cemberut parah seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen di pasar malam.
"Kau ini sekretaris macam apa? Bosmu sedang berjuang antara hidup dan mati, tapi kau malah diam saja! Kalau aku mati sekarang, denda satu miliarmu tidak akan pernah lunas!" ancam Dominic dengan suara hidung yang kini mulai tersumbat parah.
"Tunggu di situ. Jangan ke mana mana." Harper memutar tubuhnya, berjalan keluar ruangan tanpa basa basi lagi.
"Mau ke mana kau? Jangan pernah tinggalkan aku sendiri! Bagaimana kalau aku kejang kejang di lantai?" teriak Dominic dari belakang, tapi Harper terus melangkah tanpa peduli dan langsung menutup pintu kayu mahoni tersebut.
Dominic kembali menjatuhkan kepalanya ke meja. Dia meratap meratapi nasibnya sendiri yang terasa sangat malang. Dia mulai membayangkan siapa yang akan memimpin rapat dewan direksi pimpinan jika dia harus koma berbulan bulan di ruang gawat darurat rumah sakit mewah.
Lima belas menit berlalu dengan sangat lambat bagi Dominic.
Pintu ruangan Dominic akhirnya kembali terbuka lebar. Pria angkuh itu segera mengangkat kepalanya dengan penuh harap, mengira akan melihat rombongan tenaga medis berpakaian serba putih lengkap dengan tabung oksigen dan tandu darurat masuk ke ruangannya.
Namun, yang masuk hanyalah sang sekretaris barbar, Harper Sloane.
Wanita itu berjalan cepat mendekati meja kerja Dominic. Di tangan kirinya ada semangkuk plastik bening tipis yang mengeluarkan asap panas dan aroma kaldu ayam yang sangat kuat. Di tangan kanannya, ada satu strip obat tablet berwarna hijau terang yang pinggirannya sudah sobek berantakan, jelas sekali itu adalah obat batuk pilek murahan yang biasa dijual bebas di minimarket seberang jalan kantor.
Brak.
Harper meletakkan mangkuk plastik dan obat itu tepat di depan hidung Dominic yang makin kemerahan.
Dominic menatap mangkuk itu dengan ekspresi jijik luar biasa. Matanya memicing tajam melihat nasi hancur yang berenang pasrah di dalam kuah kuning pucat tersebut.
"Apa ini?" tanya Dominic pelan.
"Bubur ayam instan dan obat warung," jawab Harper tanpa dosa.
"Kau memberiku makanan kaleng buatan pabrik dan obat murahan antah berantah ini? Kau pikir lambungku ini mesin pencerna sampah? Makanan aneh ini pasti mengandung banyak pengawet berbahaya! Di mana dokter bedahku?"
Harper menatap tepat ke arah kedua bola mata bosnya yang sedang merengek manja itu. Tatapan Harper kosong, dingin, namun penuh ancaman nyata.
"Makan ini atau mati saja."
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣