NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: PILIHAN TERAKHIR

Hari ke-1.600. Pagi. Rumah Sakit Jiwa.

"Pak, Ibu harus segera dirawat. Kalau tidak, bisa parah."

Dokter itu bicara tegas. Matanya serius di balik kacamata tebal. Jas putihnya rapi. Lembaran berkas di tangannya tebal.

Di depannya, Dewi duduk di kursi. Tatapannya kosong. Rambutnya kusut nggak disisir berhari-hari. Bajunya kotor—bekas muntah kemarin malam. Ia tak sadar. Sudah tiga hari ia tak mau mandi, tak mau makan, tak mau ngapa-ngapain. Cuma duduk. Memandang tembok. Kadang tertawa sendiri. Kadang nangis.

Di sampingku, Risma terbaring di kursi rodanya. Aku bawa ia kemana-mana sekarang. Nggak bisa ditinggal. Ia takut sendiri. Sejak malam ular itu, ia selalu ingin di dekatku.

Matanya ke Dewi. Basah. Ia tahu. Ibunya sakit. Ibunya nggak seperti dulu.

Dokter melanjutkan, "Depresi berat dengan gejala psikotik. Ibu Dewi butuh rawat inap minimal sebulan. Terapi intensif. Obat-obatan. Biaya sekitar 5 juta."

5 juta.

Aku diam. Tangan di saku meremas-remas. Hanya ada 200 ribu. Itu pun hasil jualan barang bekas kemarin.

Dan di kantong satunya, surat dari pengacara Joko. Kucel karena sudah kubaca berkali-kali.

Tawaran damai: cabut laporan, Joko bebas. Tapi bayar 10 juta sebagai ganti rugi. Katanya "uang perdamaian".

Joko atau Dewi.

Dendam atau keluarga.

Aku lihat Risma. Risma lihat aku. Matanya dalam. Seperti tahu apa yang kupikirkan.

Lalu tangannya bergerak. Susah payah. Menunjuk Dewi. Lalu ke dirinya sendiri. Lalu ke arahku.

"Pa... Ibu... aku... kita..."

Suaranya lirih. Hampir tak terdengar. Tapi jelas. Jelas sekali.

Aku nangis. Risma memilih ibunya. Ia rela Joko bebas, asal ibunya selamat.

Tapi di kepalaku, bayangan Joko terus muncul. Wajahnya saat kirim ular ke kamar Risma. Saat tertawa lihat rumah kami terbakar. Saat bilang anakku cacat dengan nada mengejek.

Apa aku rela penjahat itu bebas? Berkeliaran? Mungkin suatu hari balas dendam lagi?

Risma pegang tanganku. Erat. Tangannya kecil, kurus. Tapi genggamannya kuat.

Matanya menatapku. Lama. Sangat lama. Seperti bilang, "Pa, aku butuh Ibu. Budi butuh Ibu. Bapak butuh Ibu. Lupakan Joko."

Aku peluk Risma. Tubuh kecilnya. Hangat. Wangi sabun cucian.

"Iya, Nak. Bapak pilih Ibu."

 

Satu jam kemudian. Kantor pengacara.

Ruangannya dingin. AC nya keras. Aku duduk di kursi kayu. Kaku. Di depanku, berkas damai setebal 10 halaman.

Tanganku gemetar pegang pulpen.

Joko di seberang. Tangan bebas—polisi sudah lepas karena aku cabut laporan. Wajahnya tersenyum. Senyum puas. Senyum yang ingin kutampar habis-habisan.

"Pintar, Pak. Pilih keluarga."

Aku ingin teriak. Ingin hancurkan meja. Ingin cekik lehernya sampai mati.

Tapi aku ingat Dewi. Di ruang RSJ. Sendirian. Tak sadar. Butuh biaya.

Aku ingat Risma. Yang rela ibunya selamat daripada Joko dihukum.

Aku ingat Budi. Yang setiap malam nangis minta ibu.

Pulpenku menyentuh kertas.

Satu tanda tangan. Dua tanda tangan. Tiga.

Selesai.

Joko tertawa kecil. Dari tasnya, ia keluarkan amplop cokelat. Dorong ke arahku.

"Ini uang damai, Pak. 10 juta. Semoga ibu Bapak lekas sembuh."

Ia berdiri. Merapikan jas. Lalu melenggang pergi. Pintu terbuka. Tertutup. Ia hilang.

Aku pegang amplop itu. Rasanya berat. Bukan karena uang. Tapi karena ini harga dari membiarkan penjahat bebas.

Dari jendela, kulihat Joko melambaikan tangan. Lalu naik mobil. Pergi.

Tanganku menggenggam amplop. Gemetar.

 

Sore harinya. Rumah Sakit Jiwa. Ruang perawatan.

Aku bawa Dewi. Tas kecil berisi pakaian ganti. Al-Qur'an kecil. Foto kami berempat.

Dewi diam saja. Nggak protes. Nggak nangis. Nggak bereaksi apa-apa. Matanya kosong menatap lorong panjang rumah sakit. Bau obat menyengat. Beberapa pasien berjalan dengan tatapan sama.

Perawat membawa kami ke ruang perawatan. Ruangan sederhana. Ranjang besi. Lemari kecil. Jendela berjeruji.

Saat akan masuk, Dewi berhenti.

Menoleh ke aku. Matanya... untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, matanya fokus.

"Mas... aku takut."

Suaranya lirih. Seperti anak kecil.

Aku pegang tangannya. Hangat. Masih hangat.

"Nggak apa-apa, Ri. Aku di sini. Nanti aku jenguk setiap hari."

Dewi nangis. Nangis pertama kali setelah berminggu-minggu. Isaknya pecah. Tubuhnya gemetar.

"Mas, jangan tinggalin aku. Jangan..."

Aku peluk dia. Erat. Kuat. Wangi rambutnya masih sama. Seperti dulu. Saat masih pacaran. Saat baru menikah. Saat Risma lahir.

"Nggak akan, Ri. Nggak akan. Aku di sini. Risma, Budi, kita semua nunggu Ibu sembuh."

Perawat membawa Dewi masuk. Pintu tertutup.

Aku di luar. Sendirian. Lorong panjang. Lampu neon mendengung. Bau obat menyengat.

Aku ingat lorong ini. Seperti lorong UGD dulu, saat Risma lahir. Saat Dewi sekarat. Saat aku duduk di lantai, nggak tahu harus berbuat apa.

Sekarang sama. Tapi beda.

Dulu Dewi sekarat fisik. Sekarang jiwanya.

Aku duduk di kursi tunggu. Pandangi pintu itu.

"Kuat, Ri. Kamu pasti kuat."

 

Malam pertama tanpa Dewi.

Rumah terasa kosong. Hening. Jang aneh.

Biasanya suara Dewi dari dapur, "Mas, makan!" Biasanya ia nyanyi-nyanyi kecil sambil masak. Biasanya ia marah-marah kalau aku telat pulang.

Sekarang? Hanya suara jangkrik dari luar.

Aku di kamar. Risma di kursi. Budi tidur di sampingku.

Risma gelisah. Matanya terus mencari. Ke pintu. Ke dapur. Ke kamar Dewi. Berulang-ulang.

Aku tahu. Ia cari ibunya.

"Nak, Ibu sakit. Ibu dirawat dulu. Biar sembuh."

Risma menatapku. Matanya berkaca. Lalu bibirnya bergerak. Susah payah. Tapi jelas.

"Bu... Bu... Ibu..."

Aku nangis. Risma panggil ibunya. Tapi ibunya tak ada. Cuma tembok kosong di depan mata.

Aku gendong dia. Bawa keliling rumah. Dari kamar ke ruang tamu. Dari ruang tamu ke dapur. Dari dapur ke teras.

"Ibu nanti pulang, Nak. Ibu sembuh dulu. Ibu minum obat dulu. Nanti Ibu pulang, Ibu peluk Risma."

Risma diam. Tapi air matanya jatuh. Jatuh di baju ku. Basah. Hangat.

Aku gendong dia lebih erat. Nggak tahu harus ngomong apa lagi.

Di samping, Budi bangun. Lihat aku gendong Risma. Ia mendekat. Megang kakiku.

"Pa, Kakak nangis?"

Aku usap kepala Budi. "Iya, Nak. Kakak kangen Ibu."

Budi diam. Lalu naik ke pangkuanku. Berdesakan bertiga di kursi kecil.

"Pa, Budi juga kangen Ibu."

Malam itu, kami tidur bertiga di kursi. Berpelukan. Menghangatkan satu sama lain.

 

Hari-hari berlalu. Dewi di RSJ. Aku di rumah dengan anak-anak.

Setiap pagi, aku antar Budi sekolah. Lalu balik, urus Risma. Mandiin. Suapin. Ganti popok. Kasih obat. Ajak ngobrol.

Setiap siang, aku ke pasar. Jadi kuli angkut. Kadang dapat 30, kadang 50. Lumayan buat beli susu dan obat.

Setiap sore, aku jenguk Dewi. Bawa kabar anak-anak. Bawa foto. Bawa senyum.

Dewi mulai membaik. Perlahan. Ia mulai mau makan. Mau mandi. Mulai sadar.

Suatu sore, aku datang. Dewi duduk di taman rumah sakit. Wajahnya lebih segar. Rambutnya disisir rapi.

"Mas."

Aku kaget. Ia panggil aku. Pertama kalinya setelah berminggu-minggu.

"Dewi? Kamu... kamu ingat aku?"

Dewi tersenyum. Senyum tipis. Seperti Risma.

"Ingat, Mas. Aku ingat semuanya. Ular itu. Kebakaran. Risma. Budi. Aku ingat."

Aku nangis. Jatuh berlutut di depannya.

"Ri... Ri... syukur... syukur..."

Dewi pegang tanganku. "Maafin aku, Mas. Aku udah nyusahin."

Aku geleng keras. "Nggak, Ri. Kamu nggak nyusahin. Kamu istriku. Kamu ibunya anak-anakku. Kamu segalanya buat aku."

Kami berpelukan. Di taman rumah sakit jiwa. Pasien lain lihat. Tapi kami nggak peduli.

 

Dua minggu kemudian. Dewi pulang.

Aku jemput dengan Risma dan Budi. Risma di kursi, matanya berbinar begitu lihat Dewi keluar dari pintu RSJ.

Dewi kurusan. Lingkaran hitam di mata. Tapi matanya... matanya hidup lagi. Nggak kosong seperti dulu.

"Ibu!" Budi lari. Lompat ke pelukan Dewi. Nangis.

Dewi gendong Budi. Cium pipinya. Cium keningnya. Cium lagi.

Risma di kursi, tangannya bergerak tak terkontrol. Ingin meraih. Ingin menyentuh.

Dewi hampiri. Peluk Risma. Lama. Erat.

"Nak, Ibu pulang. Maafin Ibu. Maafin Ibu udah ninggalin kalian."

Risma nangis. Nangis tanpa suara. Tapi air matanya mengalir deras. Tangannya meraih wajah Dewi. Menyentuh pipinya. Lembut. Seperti dulu.

Dewi nangis. "Nak... Nak... Ibu sayang kamu."

Aku lihat mereka. Air mataku jatuh. Bahagia. Lega. Syukur.

 

Tapi kebahagiaan ini nggak lama.

Seminggu setelah Dewi pulang, Budi lari ke aku. Malam-malam. Jam 10.

"Pa! Pa! Ada orang di luar! Lihat terus ke rumah!"

Aku ke jendela. Lihat bayangan. Sama seperti dulu. Hitam. Sendirian.

Joko.

Dia berdiri di ujung gang. Memandang rumahku. Nggak bergerak. Nggak bawa batu. Nggak bawa ular. Cuma berdiri.

Lima menit. Sepuluh menit. Lalu ia pergi. Hilang di kegelapan.

Aku nggak tidur semalaman. Jaga di jendela. Takut ia kembali.

Besok paginya, surat datang. Amplop putih. Nama Joko di pojok.

Aku buka. Tanganku gemetar.

Isinya singkat:

"Pak, saya tahu Ibu Bapak sudah pulang. Saya juga tahu Bapak pilih keluarga. Saya hargai itu. Tapi saya belum selesai. Tunggu."

Aku genggam surat itu. Meremas sampai kusut. Darahku mendidih. Tapi juga takut.

Dari kamar, suara Risma. "Pa... Pa..." panggilnya.

Aku masuk. Risma di kursi. Matanya ke aku. Tersenyum. Senyum tipis itu. Senyum yang selalu bikin aku lupa semua masalah.

"Nak, Joko belum selesai. Dia akan datang lagi."

Risma diam. Tapi tangannya... tangannya menunjuk ke arah Budi yang tidur. Lalu ke dirinya sendiri. Lalu ke aku.

Seperti bilang, "Kita bersama, Pa. Kita kuat."

Aku lihat Budi. Tidur nyenyak dengan boneka kesayangannya. Aku lihat Risma. Tersenyum di kursi. Aku lihat ke kamar Dewi. Istriku tidur, perlahan pulih.

Aku tersenyum. Meski takut. Meski cemas. Tapi aku tersenyum.

"Iya, Nak. Kita bersama. Kita kuat."

Malam itu, kami tidur bertiga di satu kamar. Aku, Risma, Budi. Dewi di kamar sebelah. Pintu kubuka lebar-lebar biar bisa lihat mereka semua.

Rumah kecil itu penuh cinta. Penuh perjuangan. Penuh harapan.

Tapi di luar, bayangan Joko masih ada. Menunggu waktu yang tepat. Menyusun rencana baru.

Aku tahu. Perang ini belum selesai.

Tapi untuk malam ini, kami aman. Untuk malam ini, kami bersama.

Dan itu cukup.

 

[BERSAMBUNG KE BAB 31: BAYANG-BAYANG JOKO]

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!