Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Ia mulai menceritakan tentang masa-masa setelah SMA bagaimana mereka sempat terpisah karena kesibukan masing-masing, tantangan yang mereka hadapi, dan akhirnya bagaimana mereka bisa kembali bertemu, saling memahami, dan memutuskan untuk bertunangan
Nadira mendengarkan dengan campuran geregat dan kagum. Setiap detil baru membuatnya semakin penasaran
“Della… duh… rasanya campur aduk banget. Senang kalian bahagia, tapi… aku nggak nyangka sampai sejauh ini tanpa aku tahu detilnya”
Della tersenyum, matanya bersinar
“Makanya aku datang, Dira. Aku pengen kamu tahu langsung dari aku, biar semua jelas. Lagipula, kita kan teman lama… harusnya kamu nggak ketinggalan cerita penting, kan?”
Nadira menarik napas panjang, tersenyum pelan. Geregetnya mulai mereda, tapi rasa ingin tahu tetap membara
“Ya… ya, aku senang kalian bahagia… tapi jangan kira aku nggak akan banyak tanya, ya!”
Della tertawa
“Nah, itu baru Dira yang aku kenal. Yuk, kita ngobrol santai sambil minum teh. Aku punya banyak cerita seru buat kamu”
Nadira masih menatap Della, rasa gereget bercampur penasaran
“Eh… terus, kapan kalian nikahnya? Aku kan pengen tahu nih, biar nggak ketinggalan kabar penting,” tanya Nadira, matanya berbinar
Della tersenyum tipis, sedikit malu-malu, lalu mencondongkan badan sambil membuka paper bag kecil yang dibawanya
“Sebenarnya… 1 minggu lagi, Dira,” ujarnya sambil menyerahkan paper bag itu “Ini undangannya… dan sekalian baju bridesmaid untuk kamu”
Nadira terkejut setengah mati. Mulutnya menganga, matanya melebar
“Hahh?! 1 minggu lagi?! Della… serius?!”
Della tertawa ringan, matanya bersinar
“Iya, serius. Makanya aku datang sekarang, biar kamu bisa siap-siap. Jangan kaget ya, aku pengen kamu jadi salah satu bridesmaid aku”
Nadira mengambil paper bag itu dengan tangan gemetar, hati campur aduk antara geregat, senang, dan penasaran
“Duh… Della, kok cepet banget sih persiapannya! Tapi… ya udah deh, aku ikut senang, tapi jangan kira aku nggak bakal banyak nanya soal detailnya, ya!”
Della tersenyum lebar, menepuk bahu Nadira
“Nah, itu baru Dira yang aku kenal. Yuk, kita santai sambil minum teh… nanti aku jelasin semuanya, dari awal sampai baju bridesmaid ini”
Nadira menatap paper bag di tangannya dengan campuran rasa gereget dan penasaran
“Della… aku nggak nyangka kamu bawa baju bridesmaid sekarang juga,” gumamnya sambil tersenyum kaku
Della tertawa ringan
“Iya, biar kamu bisa lihat duluan, nyoba ukurannya, dan… supaya nggak panik nanti. Lagipula, cuma 1 minggu lagi kan?”
Nadira menggeleng, masih kaget tapi tak bisa menahan senyum
“Duh… iya, iya, aku ikut senang sih… tapi kok cepet banget semuanya! Kamu tuh memang selalu rapi banget persiapannya”
Della menyerahkan baju itu, dan Nadira membukanya perlahan. Warna dan desainnya cantik, pas dengan selera Della. Hatinya ikut hangat, tapi tetap gereget karena sadar betapa cepatnya pernikahan sahabatnya ini
“Wah… ini… cakep banget, Dell. Aku nggak sabar nyoba,” kata Nadira sambil tersenyum malu-malu
Della tersenyum nakal
“Nah… itu baru reaksi Dira. Yuk, langsung coba aja, nanti aku bantu kalau ada yang kurang pas. Eh, tapi jangan salah… kamu bakal jadi pusat perhatian juga, lho!”
Nadira tertawa kecil, menahan rasa gereget dan groginya
“Duh, duh… ya udah, aku ikut senang aja deh… tapi jangan kira aku nggak bakal nanya satu per satu soal semuanya nanti ya, Dell!”
Della menepuk bahu Nadira, matanya bersinar
“Nah, itu baru Dira yang aku kenal. Santai aja… kita nikmati dulu momen ini sambil ngobrol. Aku bakal ceritain semua persiapan, mulai dari dekorasi, tamu, sampai kejutan kecil buat hari H nanti”
Nadira tersenyum sambil membuka baju bridesmaid yang cantik itu. Warna dan modelnya pas di matanya, tapi rasa gereget masih bercampur penasaran. Ia memandang Della, setengah tak percaya
“Della… serius cuma seminggu lagi? Rasanya baru kemarin kita ngobrol soal rencana pernikahan, sekarang udah deket banget, ya?” Nadira menggeleng, masih setengah panik tapi tak bisa menahan senyum
Della tertawa ringan
“Iya, Dira. Makanya aku datang sekarang, biar kamu bisa siap-siap, nggak panik nanti. Lagipula, kamu kan harus jadi bridesmaid favoritku!”
Nadira tersenyum nakal, mulai mencoba baju itu di kamar tamu untuk memakai kemudian kembali ke ruang tamu.
“Eh… Dell, ini rok agak panjang nggak ya? Atau aku harus pangkas dikit?” tanya Nadira, matanya bersinar penasaran
Della menepuk bahu Nadira sambil tertawa
“Santai, Dira… semua udah diukur pas. Tapi kalau mau dicoba gerak dikit-dikit, biar yakin, silakan aja”
Nadira mencoba beberapa pose lucu di depan cermin, sambil sesekali tertawa sendiri dan sesekali mengerutkan dahi karena grogi. Della ikut tertawa, menertawakan campuran gereget dan lucunya Nadira
“Duh… ya ampun, Dira, kamu lucu banget!” kata Della sambil menepuk bahu sahabatnya lagi
Nadira tersenyum, rasa geregetnya perlahan berubah menjadi hangat, ikut bahagia melihat persiapan sahabatnya begitu dekat.
Pagi itu kampung terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Bahkan sebelum matahari benar-benar naik, Nadira atau yang akrab dipanggil Dira oleh keluarga dekat sudah berjalan cepat menuju rumah Della dengan tas kecil di tangan. Udara masih dingin, embun belum sepenuhnya menghilang dari daun-daun pisang di pinggir jalan.
Dari kejauhan, rumah Della sudah tampak berbeda.
Tenda putih berdiri kokoh di halaman, dihiasi rangkaian bunga pastel yang lembut. Kursi-kursi tersusun rapi. Beberapa ibu-ibu berkebaya sibuk hilir mudik membawa nampan, suara mereka saling bersahutan penuh semangat.
“Eh, gulanya kurang sedikit!”
“Airnya tambahin lagi, tamu sudah mulai datang!”
Aroma masakan dari dapur belakang menyeruak—wangi santan, bawang goreng, dan rempah yang menghangatkan perut.
Nadira melangkah masuk ke kamar rias yang sudah dipenuhi aktivitas. Lampu-lampu besar menyala terang, memantulkan kilau di cermin panjang.
Ia berdiri di depan cermin itu, mengenakan gaun bridesmaid yang seminggu lalu ia coba dengan setengah gereget dan setengah tak percaya.
Kini gaun itu benar-benar melekat di tubuhnya.
Hari ini bukan lagi sekadar cerita.
Hari ini benar-benar hari pernikahan Della.
Makeup artist sibuk merapikan sentuhan terakhir di wajah Nadira. Kuas lembut menyapu pipinya, highlighter tipis membuat wajahnya tampak lebih segar.
“Tolong jangan banyak gerak ya, Kak,” ujar sang MUA lembut.
Nadira mengangguk, meski jantungnya terasa lebih aktif dari biasanya.
Di luar kamar, alunan musik tradisional Sunda mulai terdengar pelan, kacapi dan suling berpadu, menciptakan suasana yang sakral sekaligus hangat. Pernikahan Della memang digelar dengan sentuhan adat Sunda yang kental, lengkap namun tetap sederhana dan intim.
Suara MC terdengar samar mengatur jalannya acara.
Tamu-tamu mulai berdatangan.
Nadira menarik napas panjang, menatap dirinya sendiri di cermin.
“Ini beneran ya…” gumamnya pelan.
Tirai kamar pengantin tersibak perlahan.
Dan di sana Della berdiri dalam balutan kebaya putih gading yang berkilau lembut. Rambutnya disanggul anggun, siger menghiasi kepalanya, wajahnya tenang namun jelas menyimpan getar haru.
Untuk beberapa detik, Nadira lupa bagaimana cara berkedip.
Seminggu lalu mereka masih tertawa sambil mencoba gaun bridesmaid.
Sekarang sahabatnya sudah siap menjadi istri seumur hidup.
“Dira…” panggil Della pelan.
Nada suaranya tidak lagi riang seperti biasanya. Ada getar yang berbeda.
Nadira mendekat, menahan senyum sekaligus rasa sesak aneh di dadanya.
“Kamu cantik banget,” ucapnya tulus.
Della tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca.
“Jangan bikin aku nangis sebelum akad”
Nadira tertawa kecil, lalu mendekat.
“Masih nggak percaya… seminggu lalu kamu tiba-tiba datang bawa undangan, sekarang kamu udah mau nikah aja”
Della menggenggam tangan Nadira erat.
“Terima kasih ya, Dira… kamu mau ada di sini. Aku senang banget kamu jadi bagian hari ini”
Hati Nadira menghangat. Rasa gereget dan sedikit iri yang sempat muncul seminggu lalu kini berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut—ikhlas dan bangga.