Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Belajar Mengaji Lagi
Pagi berikutnya datang seperti biasa, tenang, rapi, dan tanpa banyak kejutan.
Langit masih berwarna lembut ketika aktivitas pesantren mulai berjalan. Udara segar belum sepenuhnya tergantikan oleh hangat matahari. Beberapa santri kecil sudah menyelesaikan setoran hafalan mereka. Suara ember ditarik dari sumur terdengar dari belakang dapur. Di halaman, daun-daun kering disapu dengan ritme yang hampir seperti musik latar kehidupan.
Hanin sudah duduk di ruang belajar sejak selesai salat Dhuha. Seperti kemarin. Seperti hari-hari sebelumnya.
Iqro sudah tersusun di depannya. Mushaf diletakkan rapi di samping. Ia sedang menyiapkan catatan kecil ketika Aisyah masuk sambil membawa termos air hangat.
“Kamu datang lebih awal,” ucap Aisyah.
Hanin tersenyum kecil. “Biasa aja. Kamu aja yang agak telat.”
Aisyah duduk di sampingnya. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi jelas ada sesuatu yang masih tertinggal dari percakapan kemarin.
Tentang Arsenio dan pertanyaannya. Tentang cara pria itu tahu terlalu banyak.
Namun pagi ini terasa terlalu tenang untuk langsung membahasnya. Ia juga tak mau pria itu merasa tak nyaman jika diajukan banyak pertanyaan.
Jam menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit ketika suara mobil kembali terdengar memasuki halaman. Keduanya saling pandang sekilas.
“Disiplin juga,” gumam Aisyah.
Tak lama kemudian, langkah kaki mendekat. Terdengar ketukan pelan di pintu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Silakan masuk,” jawab Hanin.
Arsenio masuk seperti biasa. Tenang. Sopan. Tidak berlebihan. Ia duduk setelah menunduk ringan sebagai tanda hormat.
Hari ini wajahnya terlihat lebih santai dibanding kemarin. Tidak ada ketegangan seperti sebelumnya.
Pelajaran dimulai tanpa banyak basa-basi. Huruf demi huruf diulang. Makharijul huruf diperbaiki. Panjang pendek dibenahi.
Arsenio tetap seperti biasanya ... serius, fokus, dan tidak gengsi mengulang kesalahan.
Jika salah, ia akan langsung mengulang tanpa diminta. Jika ragu, ia akan bertanya.
Dan waktu kembali berjalan cepat. Satu jam berlalu. Lalu satu jam lagi. Tanpa terasa dua jam sudah lewat.
Ketika sesi selesai, Aisyah kembali mengambil teh dan beberapa kue kecil. Hari ini suasananya terasa lebih ringan.
Mungkin karena tidak ada pertanyaan aneh. Tidak ada topik sensitif. Tidak ada kejutan.
Arsenio memegang cangkir tehnya, lalu berkata pelan, “Oh ya, aku masih belum mengenal daerah sini.”
Aisyah menoleh. “Belum pernah jalan-jalan?”
Arsenio menggeleng. “Belum. Setiap datang langsung ke sini. Lalu pulang.” Ia tersenyum tipis. “Sepertinya sayang kalau tidak mengenal tempatnya.”
Hanin mengangguk kecil. “Memang di sini sederhana,” ucapnya, “tapi banyak tempat yang tenang.”
Ada jeda sebentar. Ketiga orang itu tampak menarik napas untuk menghilangkan kegugupan..
Lalu Arsenio berkata dengan nada ringan, “Kalau begitu … boleh aku minta ditemani jalan sebentar?”
Aisyah sedikit terkejut. “Sekarang?”
“Tidak harus sekarang,” jawab Arsenio cepat. “Mungkin nanti atau besok. Katanya di desa ini ada sungai yang airnya mengalir deras dengan air yang begitu jernih.”
Ia melanjutkan, “Aku hanya ingin tahu seperti apa desa ini.”
Permintaan itu terdengar sederhana. Tidak berlebihan. Dan juga tidak terdengar aneh. Setiap orang yang datang ke suatu daerah, pasti ingin mengenalnya.
Namun Hanin terdiam sejenak sebelum menjawab. Wajahnya berubah sedikit, bukan tidak nyaman, tapi seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Aku … minta maaf, Mas,” ucap Hanin dengan suara pelan.
Aisyah menoleh padanya. Ingin tahu kenapa temannya itu meminta maaf.
“Aku mungkin tidak bisa menemani.”
Arsenio tampak tidak keberatan, tapi jelas ingin tahu. “Kenapa?” tanyanya dengan suara lembut.
Hanin menarik napas kecil. “Karena tiga hari ke depan … aku juga mungkin tidak bisa mengajar.”
Aisyah ikut menoleh. “Kamu belum bilang,” ucapnya pelan.
Hanin tersenyum kecil, sedikit bersalah. “Aku baru tahu tadi malam.”
Ia lalu melanjutkan ucapan untuk menjelaskan, “Aku akan ke kota. Ada acara di rumah Ustaz Hamid.”
“Acara?” tanya Arsenio.
“Pertunangan putrinya. Ghania.”
Ada jeda sesaat.
Dan tiba-tiba dia berkata, “Oh.”
Nada suara Arsenio berubah sedikit. Seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu.
“Kalau begitu kebetulan.”
Hanin mengernyit. Tak paham arah ucapan pria itu.
“Kebetulan?”
Arsenio mengangguk. “Aku juga diundang.”
Ruangan mendadak terasa hening. Aisyah menatap Hanin. Hanin menatap Arsenio. Gadis itu tak tahu kalau Ghania mau bertunangan. Memang ustaz Hamid tak mengundang semua santri, ia berencana nanti ketika menikah, barulah semua santri boleh datang.
“Aku diminta datang oleh Ustaz Hamid,” lanjut Arsenio dengan tenang. “Awalnya aku tidak yakin bisa hadir tapi sekarang sepertinya waktunya cocok.”
Aisyah tersenyum kecil. “Berarti nanti kalian berdua bisa ketemu di sana.”
Arsenio mengangguk. “Sepertinya begitu.”
Suasana kembali santai. Tidak ada ketegangan. Dan tidak ada lagi rasa canggung.
Percakapan berlanjut ringan, tentang perjalanan ke kota, tentang persiapan acara, dan tentang bagaimana biasanya suasana pertunangan di rumah keluarga pesantren.
Tidak lama. Tidak terlalu dalam. Hanya cukup untuk menjaga suasana tetap hangat.
Setelah beberapa menit, Arsenio meletakkan cangkirnya. “Terima kasih untuk hari ini,” ucapnya.
Ia berdiri. Hanin dan Aisyah ikut berdiri.
“Semoga acaranya lancar,” kata Arsenio kepada Hanin.
“Terima kasih,” jawabnya.
Arsenio menunduk ringan.
“Kalau begitu … sampai bertemu di rumah Ustaz Hamid.”
“InsyaAllah,” kata Hanin.
Arsenio lalu mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Ia keluar dari ruangan dengan langkah yang tenang seperti biasa.
Tak lama kemudian, suara mobil kembali terdengar menjauh dari halaman pesantren. Dan ruangan itu kembali hening.
Hanin lalu pamit dengan Aisyah, dia akan menyiapkan baju untuk di pakai selama di kota nanti. Sambil berjalan menuju kamarnya, pikiran Hanin melayang kemana-mana.
"Kenapa setiap mengingat pertunangannya Ghania jantungku berdetak lebih cepat. Ada apa ini? Kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu? Tapi apa? Tak mungkin ada apa-apa. Ini hanya perasaanku saja. Yang akan bertunangan Ghania, kenapa aku pula merasa akan terjadi sesuatu," gumam Hanin dalam hatinya.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??