Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TALAK YANG BERGETAR
Langkah kaki Rangga terasa berat sekali, seolah-olah bumi yang ia pijak berusaha menelan tubuhnya hidup-hidup. Bau aspal basah dan asap kendaraan di jalanan Jakarta tidak lagi terasa mengganggu, karena seluruh indranya sudah mati rasa. Di kepalanya, cuma ada satu bayangan yang berputar-putar layaknya kaset rusak: tawa manja Laras dan tangan pria lain yang melingkar di pinggang istrinya. Dada Rangga sesak sekali, rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghimpit jantungnya sampai remuk.
Begitu sampai di depan pintu kontrakan, Rangga tidak langsung masuk. Dia berdiri mematung, menatap pintu kayu yang catnya sudah mengelupas itu. Rumah ini... rumah yang dia bangun dengan tetesan keringat, rumah tempat Rinjani tumbuh, seketika terasa seperti penjara yang dingin. Belum sempat dia menyentuh gagang pintu, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di belakang motor bututnya. Laras turun dengan wajah yang merah padam, napasnya memburu, menatap Rangga seolah-olah suaminya itu adalah tumpukan sampah yang baunya menyengat.
"Ngapain masih berdiri di depan situ? Masuk! Beresin barang-barang kamu sekarang juga!" bentak Laras sambil mendorong bahu Rangga kasar.
Laras masuk ke dalam rumah bagaikan badai. Dia tidak lagi peduli pada ketenangan rumah. Tanpa ba-bi-bu, wanita itu mengambil kardus-kardus bekas dari dapur lalu melemparkannya ke depan kaki Rangga yang masih mematung di ruang tamu. "Ayo! Mau nunggu apa lagi sih? Aku udah nggak sudi lihat muka kamu di rumah ini! Rumah ini aku yang bayar pakai uang hasil kerjaku, jadi kamu nggak punya hak sejengkal pun di sini!"
Seketika, Laras berlari ke arah lemari pakaian di kamar. Dia menarik paksa baju-baju Rangga—kaus-kaus yang sudah tipis, kemeja ojek yang kusam, dan celana jeans yang penuh tambalan—lalu melemparkannya ke lantai ruang tamu dengan kasar. "Ambil semua barang rongsokan kamu ini! Bawa pergi! Aku mau Mas Badru bisa sering main ke sini tanpa harus lihat barang-barang miskin kamu!"
Rangga cuma bisa diam. Matanya menatap tumpukan baju itu dengan pandangan kosong. "Laras... kok kamu tega sekali? Ada Rinjani di dalam, dia bisa dengar..." suara Rangga parau sekali, nyaris hilang tertelan isak yang tertahan di tenggorokan.
"Alah, nggak usah bawa-bawa anak deh! Rinjani juga pasti malu punya bapak kayak kamu! Lihat tuh kemeja kamu, baunya oli, warnanya dekil! Kamu itu cuma bikin sial hidupku tahu nggak!" Laras mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan membantingnya ke atas meja kayu di depan Rangga. "Nih! Tanda tangan sekarang! Surat cerai. Aku nggak mau nunggu besok atau lusa. Detik ini juga aku mau status kita selesai!"
"Aku nggak akan tanda tangan sebelum kita bicara baik-baik, Ras..."
"Bicara apa lagi sih? Ah, kamu itu beneran nggak punya harga diri ya? Udah jelas aku selingkuh, udah jelas aku nggak cinta sama kamu, masih mau bertahan? Kamu itu mau numpang hidup terus atau gimana? Sadar diri dong, Rangga! Kamu itu cuma parasit miskin!" Laras kembali mendorong dada Rangga dengan kedua tangannya. Kekuatannya luar biasa karena didorong oleh rasa benci yang sudah memuncak.
Rangga terhuyung ke belakang, kaki belakangnya tersangkut kaki meja, dan dia jatuh terduduk di lantai yang dingin. Di saat itulah, pintu kamar kecil di sudut ruangan terbuka. Rinjani kecil berdiri di sana dengan wajah pucat. Matanya yang bulat berkaca-kaca menatap pemandangan memilukan itu. Bocah itu melihat ayahnya yang selalu memeluknya hangat kini tersungkur di lantai, sementara ibunya berdiri angkuh seperti monster.
"Ayah...!" Rinjani berlari histeris, memeluk leher Rangga sambil menangis kencang. "Ibu jangan pukul Ayah! Rinjani takut... Ibu jahat! Jangan usir Ayah!"
"Diam kamu, Rinjani! Masuk kamar!" bentak Laras tanpa sedikit pun rasa iba pada anaknya sendiri. "Lihat kan, Rangga? Gara-gara kamu anak ini jadi cengeng begini! Kamu nggak becus jadi bapak, cuma bisa kasih contoh kemelaratan!"
Suasana rumah yang biasanya hangat kini berubah jadi mencekam. Tangisan Rinjani yang memilukan memenuhi setiap sudut ruangan, tapi Laras seolah sudah tuli. Hati wanita itu sudah keras seperti batu, tertutup oleh kemilau harta yang dijanjikan oleh Badru. Rangga merasakan pelukan kecil Rinjani yang gemetar di lehernya. Air mata putrinya membasahi pundak Rangga, dan seketika itu juga, ada sesuatu yang patah di dalam diri Rangga.
Rasa sakit yang tadi berupa kesedihan, kini perlahan berubah menjadi ketegasan yang dingin sekali. Rangga melepaskan pelukan Rinjani dengan lembut, lalu berdiri. Dia tidak lagi menunduk. Dia berdiri tegak, menatap langsung ke dalam mata Laras yang penuh kebencian.
Meski air mata masih mengalir di pipinya yang kusam, sorot mata Rangga seketika berubah. Tidak ada lagi kelembutan suami yang selama ini selalu mengalah. Yang ada cuma tatapan seorang pria yang harga dirinya sudah sampai pada batas terakhir. Laras yang tadinya ingin memaki lagi, seketika terdiam melihat perubahan aura pada suaminya.
"Sudah cukup, Larasati..." suara Rangga rendah, berat, dan bergetar karena emosi yang tertahan.
"Kok diem? Ayo tanda tangan! Jangan sok jagoan deh di depan anak!" Laras mencoba menutupi kegugupannya dengan suara lantang.
Rangga tidak menyentuh surat cerai itu. Dia justru menatap berkeliling, menatap setiap jengkal rumah yang dia rawat, lalu kembali menatap Laras. "Lima tahun aku banting tulang, Ras. Aku tahan lapar supaya kamu bisa pakai baju bagus. Aku ngojek sampai pagi supaya kamu bisa pamer ke temen-temen kamu kalau suamimu bertanggung jawab. Aku diam meski kamu sering injak-injak harga diriku karena aku pikir kamu cuma capek kerja..."
Rangga maju satu langkah. Laras mundur sedikit, nyalinya menciut seketika menatap kemarahan yang tenang itu. "Tapi hari ini, kamu sudah keterlaluan. Kamu nggak cuma khianati aku, tapi kamu juga sakiti Rinjani. Kamu buang kehormatanmu demi laki-laki yang belum tentu mau kasih kamu mahar setulus cintaku."
Laras tertawa sumbang, meski hatinya berdebar takut. "Ah, banyak bicara! Cepetan pergi deh!"
Rangga menarik napas panjang, sangat dalam, seolah mengumpulkan sisa napas terakhirnya di rumah ini. Dia menatap Rinjani yang masih terisak di lantai, lalu menatap Laras untuk terakhir kalinya.
"Larasati binti Ahmad... kamu bilang aku beban? Kamu bilang aku parasit? Baiklah kalau itu maumu." Rangga menjeda kalimatnya. Keheningan yang menyiksa seketika menyelimuti ruangan itu. Suara rintik hujan di luar terdengar lebih keras dari biasanya.
"Detik ini juga, aku lepaskan semua hak dan kewajibanku atas kamu. Aku kembalikan kamu pada orang tuamu. Laras, aku talak kamu! Aku jatuhkan talak tiga untukmu!"
Kalimat itu meluncur dari bibir Rangga dengan tegas namun penuh luka. Suasana seketika hening dan mencekam. Laras tertegun, mulutnya setengah terbuka. Dia tidak menyangka Rangga yang biasanya lembek dan selalu mengalah bisa bicara sekeras itu.
"Mulai sekarang, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu bebas mau sama Badru atau siapa pun itu. Tapi ingat, Laras... jangan pernah cari aku atau Rinjani lagi. Karena saat kamu jatuh nanti—dan aku yakin kamu akan jatuh—jangan pernah harap ada tanganku yang bakal bantu kamu berdiri lagi."
Rangga berbalik, mengabaikan Laras yang masih mematung kaku. Dia mengambil tas punggung yang sudah disiapkan, lalu menggendong Rinjani yang masih menangis. Tanpa membawa baju-baju yang dilemparkan Laras ke lantai, Rangga melangkah keluar menuju pintu.
"Ayah... kita pergi?" tanya Rinjani kecil di sela isaknya.
"Iya sayang. Kita cari tempat yang lebih baik. Tempat di mana nggak ada orang jahat yang suka marah-marah," bisik Rangga sambil mencium kening putrinya.
Rangga melangkah keluar dari kontrakan itu tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Di belakangnya, Laras masih berdiri diam, baru menyadari kalau pria yang selama ini menjadi tameng hidupnya kini benar-benar telah pergi, membawa serta keberuntungan yang selama ini Laras sia-siakan. Langit Jakarta yang hitam seolah ikut merestui langkah Rangga yang pergi membawa sejuta luka, menuju takdir yang entah akan membawanya ke mana.
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,