NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Kertas dan Tinta Hitam

Langkah kakiku menyusuri lorong sekolah yang mulai sepi karena sebagian besar siswa lebih memilih menghabiskan waktu istirahat di kantin atau lapangan. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar koridor menciptakan bayangan panjang yang mengikuti setiap gerakanku. Di tanganku, buku catatan hitam itu terasa seperti beban yang menyenangkan—sebuah wadah bagi dunia baru yang sedang kususun.

Aku berhenti tepat di depan pintu ganda kayu yang berat. Papan kecil di atasnya bertuliskan "Perpustakaan" dalam huruf kanji yang rapi. Tanpa ragu, kudorong pintu itu perlahan, berusaha agar engselnya tidak mengeluarkan suara yang bisa merusak kesunyian sakral di dalamnya.

Aroma kertas tua, tinta, dan sedikit wangi lavender langsung menyambut indra penciumanku. Ini adalah tempat yang sempurna. Tenang, beradab, dan penuh dengan rahasia yang tersembunyi di balik sampul buku.

[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]

[Target Terdeteksi: Penulis Pesaing/Rekan]

[Lokasi: Sektor Literatur Kontemporer]

Aku mengikuti intuisi yang diberikan oleh sistem, melangkah melewati rak-rak tinggi yang dipenuhi buku-buku sejarah dan sains. Langkahku terhenti saat aku mencapai barisan rak fiksi. Di sana, di sebuah meja pojok yang tersembunyi oleh tumpukan ensiklopedia, duduk seorang gadis yang memancarkan aura berbeda dari siswa lain yang kutemui pagi ini.

Rambut hitamnya yang panjang terurai sempurna hingga ke pinggang, kulitnya sepucat porselen, dan matanya yang tajam tertuju pada layar laptop di depannya. Jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang menunjukkan bahwa pikirannya sedang berlari kencang. Dia mengenakan bando putih yang memberikan kesan elegan sekaligus tegas.

Utaha Kasumigaoka.

Aku tidak langsung menyapanya. Alih-alih mengganggu, aku berjalan menuju rak di belakangnya, mengambil sebuah buku secara acak, dan mulai membacanya sambil berdiri. Aku ingin merasakan ritme kerjanya. Dari sini, aku bisa mendengar suara detak tuts laptop yang beraturan, seolah-olah dia sedang menggubah sebuah simfoni lewat kata-kata.

"Menatap punggung seorang gadis tanpa izin adalah tindakan yang tidak hanya tidak sopan, tapi juga sangat menyeramkan, kau tahu?" suara lembut namun sarat dengan sarkasme itu memecah keheningan tanpa dia perlu menoleh sedikit pun.

Aku menutup buku di tanganku dengan dentuman pelan, lalu melangkah maju hingga berdiri di samping mejanya. "Menilai seseorang berdasarkan sudut pandang sempit tanpa mengetahui tujuannya juga bisa dianggap sebagai prasangka yang tidak adil, Kasumigaoka-senpai."

Gerakan jemarinya berhenti seketika. Utaha mendongak, matanya yang sedikit sayu namun tajam menatapku dengan rasa ingin tahu yang tidak berusaha ia sembunyikan. Dia menutup laptopnya setengah, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi dengan gaya yang sangat dewasa.

"Seorang murid pindahan yang tahu namaku, dan memiliki keberanian untuk membalas perkataanku dengan gaya bahasa seorang filsuf yang sedang krisis identitas," Utaha tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip sebuah tantangan. "Siapa kau? Dan apa yang kau inginkan dari 'sudut pandang sempit' ini?"

"Ren Saiba," jawabku singkat sembari menarik kursi di seberangnya tanpa menunggu undangan. "Aku hanya seorang musafir yang sedang mencari inspirasi di antara debu perpustakaan ini. Dan sepertinya, aku baru saja menemukan variabel yang paling menarik di seluruh sekolah ini."

Utaha sedikit menaikkan alisnya. "Variabel? Kau bicara seolah-olah hidup ini adalah sebuah naskah yang sedang kau tulis."

"Bukankah memang begitu?" aku meletakkan buku catatanku di atas meja, membiarkannya melihat sampulnya yang polos namun misterius. "Beberapa orang adalah karakter figuran yang hanya lewat, sementara yang lain adalah pusat dari plot. Dan kau, Senpai... kau terlihat seperti seseorang yang sedang berjuang melawan writer's block pada bab klimaksnya."

Keheningan sesaat menyelimuti kami. Mata Utaha menyipit, seolah sedang mencoba membedah isi kepalaku. Kata-kataku tepat sasaran, dan aku bisa melihat sedikit keterkejutan di balik tatapan dinginnya.

"Kau cukup berbahaya untuk seorang anak baru," bisiknya, kali ini dengan nada yang lebih rendah dan menggoda. "Lalu, jika kau begitu pintar, menurutmu apa yang harus dilakukan penulis ini untuk menyelesaikan babnya?"

Aku mencondongkan tubuh sedikit ke depan, aroma lavendernya kini tercium lebih jelas. "Terkadang, kau tidak butuh logika untuk menyelesaikan sebuah cerita. Kau hanya butuh konflik baru yang tidak terduga—sesuatu yang membuat detak jantungmu lebih cepat daripada suara keyboard-mu."

Aku mengedipkan mata padanya sebelum bangkit berdiri, mengambil buku catatanku kembali. Aku tidak ingin memberikan semua jawabannya sekarang. Biarkan rasa penasaran itu tumbuh seperti benih yang haus akan air.

"Sampai jumpa di bab berikutnya, Utaha-senpai," ujarku sambil berbalik pergi, meninggalkan Utaha yang masih terpaku menatap punggungku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Di sudut mataku, sebuah notifikasi sistem menyala terang.

[Kemajuan Misi: 30% - Interaksi dengan 'Rival Kreatif' Berhasil]

[Hadiah Tambahan: Peningkatan Aura Karisma (Passive)]

Aku tersenyum puas. Hari pertama di sekolah ternyata jauh lebih produktif dari yang kuharapkan.

Langkahku menjauh dari meja Utaha dengan ritme yang tetap tenang, meskipun aku bisa merasakan sepasang mata tajam itu masih tertancap di punggungku. Aku tidak menoleh. Dalam permainan ketertarikan, pria yang terlalu cepat berbalik hanya akan terlihat seperti peminta perhatian. Aku ingin dia yang mencari tahu siapa Ren Saiba sebenarnya.

Aku berjalan menuju pintu keluar perpustakaan, namun sebelum benar-benar keluar, langkahku melambat saat melewati deretan rak paling ujung yang menghadap langsung ke arah taman dalam sekolah. Di sana, di sebuah kursi kayu panjang yang tersembunyi di balik bayangan rak, duduk seorang gadis yang hampir saja terlewatkan oleh pandanganku.

Dia tidak membaca buku yang berat seperti Utaha, juga tidak memancarkan energi yang meluap seperti Yui. Dia hanya duduk di sana, dengan wajah datar yang nyaris tanpa ekspresi, menatap lurus ke arah dedaunan yang bergoyang ditiup angin. Rambut bob pendeknya yang rapi membingkai wajahnya dengan cara yang sangat sederhana—terlalu sederhana hingga ia tampak seperti menyatu dengan latar belakang.

Kato Megumi.

Jika Utaha adalah sebuah bab klimaks yang penuh emosi, maka gadis di depanku ini adalah spasi putih di antara kalimat; sering diabaikan, namun tanpanya, cerita tidak akan pernah bisa dibaca dengan jelas.

Aku berhenti tepat di sampingnya, menyandarkan bahuku pada rak buku yang dingin. "Pemandangan di luar sana memang lebih jujur daripada barisan teks di rak ini, bukan?"

Kato sedikit memiringkan kepalanya, menoleh ke arahku dengan gerakan yang sangat pelan. Tidak ada keterkejutan di matanya. Tidak ada rona merah atau tatapan waspada. Hanya sebuah tatapan kosong namun dalam yang seolah menembus topeng yang kupakai.

"Ah... kau bicara padaku?" suaranya sangat datar, namun memiliki kejernihan yang menenangkan. "Biasanya orang-orang hanya melewatiku seolah aku adalah bagian dari perabotan sekolah ini."

"Mungkin mereka terlalu sibuk mencari warna yang mencolok hingga lupa bahwa warna putih adalah dasar dari semua spektrum," balasku sembari melirik buku catatan di tanganku. "Ren Saiba. Dan aku lebih suka memperhatikan perabotan yang memiliki pikiran daripada orang-orang yang hanya bicara tanpa isi."

Kato berkedip sekali. Sebuah reaksi kecil, namun bagiku, itu sudah cukup. "Aku Kato Megumi. Dan Ren-kun... kau tipe orang yang suka menggunakan kata-kata sulit untuk hal yang sederhana, ya?"

Aku terkekeh pelan. "Itu kutukan bagi seseorang yang mencoba menulis tentang kehidupan, Kato-san. Kita cenderung ingin menghias kenyataan agar tidak terlihat terlalu membosankan."

"Begitu ya..." Kato kembali menatap ke luar jendela. "Tapi menurutku, hal-hal yang biasa-biasa saja sudah cukup bagus. Tidak perlu dihias secara berlebihan."

Aku terdiam sejenak, merenungkan kata-katanya. Di dunia fusion yang penuh dengan karakter eksentrik dan drama yang meledak-ledak, ketenangan Kato adalah sebuah anomali yang sangat berharga. Dia adalah variabel yang paling sulit diprediksi oleh sistem karena sifatnya yang begitu pasif.

[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]

[Kemajuan: 45% - Perspektif 'Main Heroine' yang Tersembunyi Berhasil Didapatkan]

"Terima kasih atas perspektifnya, Kato-san," ujarku sembari mulai melangkah pergi. "Terkadang, spasi putih memang lebih bermakna daripada kata-kata yang penuh hiasan. Aku harap kita bisa bicara lagi tanpa perlu aku menggunakan 'kata-kata sulit' di lain waktu."

"Ya, sampai jumpa lagi, Ren-kun," jawabnya tanpa menoleh, namun aku bisa melihat sudut bibirnya sedikit terangkat—sebuah senyum yang nyaris tidak terlihat.

Aku keluar dari perpustakaan dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Baru beberapa jam di sekolah ini, dan aku sudah bertemu dengan tiga variabel utama: Yui sang matahari, Utaha sang badai puitis, dan Kato sang danau yang tenang.

Saat aku berjalan menyusuri koridor menuju kelas untuk mengambil tas, sebuah getaran terasa di saku celanaku. Aku mengeluarkan ponsel dan melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal, namun aku bisa menebak siapa pengirimnya dari gaya bahasanya.

“Seorang musafir yang mencari inspirasi tidak akan meninggalkan jejak jika dia tidak berniat untuk diikuti. Jangan berpikir kau menang hanya karena berhasil membuatku menutup laptop, Saiba-kun.”

Aku tersenyum nakal menatap layar ponselku. Utaha. Dia rupanya bergerak lebih cepat dari yang kubayangkan. Aku tidak membalas pesan itu. Biarkan dia menunggu. Biarkan dia bertanya-tanya.

Langkahku terhenti saat aku sampai di depan kelas. Dari kejauhan, aku melihat Rin sedang berdiri di depan pintu kelas 3-J, wajahnya terlihat cemas sambil memegang sebuah kotak bekal yang dibungkus kain berwarna biru. Begitu dia melihatku, kecemasannya langsung berubah menjadi amarah yang meledak-ledak.

"KAKAK! Kau dari mana saja?! Aku sudah menunggumu selama sepuluh menit! Kau pikir bekal ini akan jalan sendiri ke mejamu?!"

Aku mempercepat langkahku, lalu dengan santai mengacak rambutnya saat aku sampai di depannya. "Aku hanya sedang mengumpulkan variabel untuk masa depan kita, Rin. Jangan terlalu galak, nanti wajah manismu itu bisa berubah permanen jadi menyeramkan."

"H-Hmph! Makan saja ini dan jangan banyak bicara!" Rin menyodorkan kotak bekal itu ke dadaku dengan keras, wajahnya memerah padam sebelum ia berbalik dan berlari pergi menuju gedungnya sendiri.

Aku menatap kotak bekal di tanganku, lalu menatap koridor yang mulai ramai lagi oleh siswa. Hari pertama ini baru setengah jalan, dan aku sudah merasa bahwa dunia ini akan memberiku lebih banyak kejutan daripada yang dijanjikan oleh sistem.

Aku kembali masuk ke kelas, siap untuk menikmati makan siangku, tanpa menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata tajam milik Yukinoshita Haruno yang sedang berkunjung ke gedung kelas tiga sedang memperhatikanku dengan senyum manipulatif yang mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!