Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: MENCARI MODAL PERTAMA
#
Bayu berjalan sempoyongan di gang-gang gelap. Lengannya masih berdarah. Dia sobek bagian bawah kaosnya yang udah lusuh, lalu ikat kencang di luka. Perban darurat. Nggak steril. Tapi lebih baik daripada mati kehabisan darah.
Darah berhenti ngalir pelan. Tapi rasa sakitnya masih menusuk tiap kali dia gerakin tangan.
Bayu bersandar di dinding gang. Napas panjang. Kepalanya pusing. Perut keroncongan keras.
Terakhir makan kapan? Kemarin? Lusa?
Dia nggak inget.
Tangannya masuk ke saku celana. Meraba amplop tipis. Lima ratus ribu. Uang terakhir.
Kalau dipakai beli makan dan obat... habis dalam dua hari. Terus gimana? Mati pelan-pelan di jalanan?
Nggak.
Gue butuh uang. Banyak. Cepat.
Otaknya berputar. Memori Kenzo mulai mengalir lagi. Seperti file yang ter-download otomatis.
Ada satu tempat. Tempat gelap. Tempat di mana uang mengalir cepat tapi berbahaya.
Arena judi underground.
Kenzo pernah ke sana. Bukan buat judi. Tapi karena dia dikasih tugas sama Raka buat nganterin uang. Kenzo lihat sendiri orang-orang bertaruh jutaan rupiah dalam sekali lempar dadu. Puluhan juta dalam satu pertarungan tinju.
Dan yang paling penting...
Arena itu masih buka. Setiap malam. Di distrik pelabuhan tua.
Bayu mengangkat kepalanya. Matanya menatap ujung gang yang gelap.
"Kalau gue mau modal... gue harus ke sana."
Suaranya pelan. Tapi tegas.
Dia berjalan. Meski tubuhnya sakit semua. Meski kakinya hampir nggak kuat nahan berat badan.
Dia harus ke sana.
***
Pelabuhan tua bau amis. Campuran ikan busuk, solar, dan sampah laut. Bayu berjalan melewati dermaga bobrok. Kapal-kapal kecil terguncang ombak kecil. Nggak ada lampu terang. Cuma bohlam redup yang sesekali berkedip.
Di ujung dermaga, ada gudang besar. Cat-nya mengelupas. Pintu besinya berkarat. Tapi dari dalam... terdengar suara. Teriakan. Musik keras. Sorak-sorai.
Arena.
Bayu berhenti di depan pintu. Ada dua penjaga. Tubuh besar. Tato penuh di lengan. Wajah garang.
Mereka menatap Bayu dari atas ke bawah. Lalu tertawa.
"Heh, bocah. Salah jalan, ya?" kata salah satu penjaga sambil menyilangkan tangan di dada.
Bayu menatap mereka datar. "Aku mau masuk."
Penjaga itu tertawa makin keras. "Masuk? Lu pikir ini taman bermain? Ini arena dewasa, bocah. Balik sono ke mamah lu."
Bayu nggak bergerak. "Aku punya uang."
Dia keluarkan amplop dari saku. Buka. Tunjukkan lima ratus ribu di dalamnya.
Kedua penjaga itu menatap uang itu. Lalu saling pandang. Tertawa lagi.
"Lima ratus ribu? Buat masuk aja nggak cukup, bocah. Minimal sejuta."
Bayu menggigit bibir dalam. Diam sebentar.
"Kalau aku ikut bertarung... bisa masuk gratis?"
Penjaga yang satunya berhenti ketawa. Menatap Bayu lebih serius. "Lu mau bertarung?"
"Iya."
"Di arena itu nggak ada aturan. Bisa patah tulang. Bisa mati. Lu yakin?"
Bayu menatap matanya tanpa berkedip. "Aku yakin."
Kedua penjaga itu terdiam. Lalu yang satunya mengangkat bahu. "Terserah lu. Masuk aja. Tapi kalau mati, jangan salahkan kami."
Pintu besi terbuka dengan bunyi berdecit keras.
Bayu masuk.
***
Di dalam gudang, suasana liar. Ratusan orang berdesakan. Asap rokok tebal memenuhi udara. Bau alkohol menyengat. Di tengah, ada ring kecil yang dibatasi tali tambang lusuh.
Di dalam ring, dua orang sedang bertarung. Telanjang dada. Penuh darah. Saling pukul brutal tanpa teknik. Cuma kekuatan kasar.
Penonton berteriak. Melambaikan uang. Bertaruh.
"HAJAR! HAJAR DIA!"
"BUNUH! BUNUH BANGSAT ITU!"
Bayu berjalan melewati kerumunan. Matanya mencari meja pendaftaran.
Di sudut, ada meja kayu tua. Seorang pria gemuk duduk di sana. Kumis tebal. Baju hawaii norak. Rokok menggantung di bibir.
"Mau daftar?" tanya pria itu tanpa menatap Bayu. Matanya tetap tertuju ke ring.
"Iya."
"Nama?"
Bayu terdiam sebentar. Nggak bisa pakai nama Kenzo. Terlalu riskan.
"Bayu."
Pria itu menuliskan di buku besar lusuh. "Berapa taruhan?"
"Lima ratus ribu."
Pria itu menatap Bayu. Lalu tertawa mengejek. "Lima ratus ribu? Minimal lima juta, bocah."
"Aku nggak punya lima juta."
"Terus ngapain kesini?!"
Bayu menatapnya tajam. "Aku bertarung. Kalau menang, aku ambil sepuluh juta. Kalau kalah... lu ambil tubuhku."
Pria itu berhenti tertawa. Menatap Bayu lebih serius. "Tubuh lu? Buat apaan?"
"Jual organ. Apapun. Terserah lu."
Hening sebentar.
Pria itu menarik napas panjang. Lalu menyeringai. "Gila. Tapi gue suka. Oke. Deal."
Dia menulis lagi di buku. "Lu lawan Big Joe. Ronde berikutnya."
"Big Joe?"
"Iya. Juara lima kali berturut-turut. Belum pernah kalah."
Bayu nggak bereaksi. Cuma mengangguk pelan.
Pria gemuk itu menatap Bayu dari atas ke bawah. Lalu tersenyum tipis. "Anak muda... lu kayaknya belum pernah liat Big Joe. Semoga lu nggak mati di ring."
Bayu berbalik. Berjalan ke sudut ring. Menunggu gilirannya.
Di kepalanya, cuma satu hal.
Gue harus menang. Apapun caranya.
***
Lima belas menit kemudian. Pertandingan sebelumnya selesai. Salah satu petarung diseret keluar. Nggak sadarkan diri. Wajahnya bengkak parah.
"RONDE BERIKUTNYA!" teriak pria gemuk itu lewat megafon. "BIG JOE VERSUS... BAYU!"
Teriakan penonton menggelegar.
"BIG JOE! BIG JOE! BIG JOE!"
Dari sudut lain, seorang pria raksasa masuk ring. Tingginya hampir dua meter. Berat badan mungkin seratus dua puluh kilogram. Penuh otot. Tato naga di punggung. Wajahnya datar. Matanya dingin.
Dia berdiri di tengah ring. Menatap Bayu yang masih di luar.
Penonton tertawa keras saat melihat Bayu.
"ITU LAWANNYA?! KURUS KAYAK LIDI!"
"SATU PUKULAN LANGSUNG MATI TUH!"
"BIG JOE BAKAL MENANG CEPAT!"
Bayu naik ke ring pelan. Tubuhnya memang kurus. Penuh luka. Lengannya masih diperban dengan kain lusuh berdarah.
Tapi matanya... matanya nggak takut.
Big Joe menyeringai. "Bocah... lu salah pilih arena."
Bayu menatapnya datar. "Kita lihat aja."
Wasit, seorang pria botak bertubuh besar, berdiri di tengah. "Nggak ada aturan! Nggak ada batas waktu! Yang pingsan atau mati... kalah!"
Dia mundur cepat.
"MULAI!"
Big Joe langsung maju. Cepat. Tinju kanannya meluncur ke wajah Bayu.
Tapi Bayu lebih cepat.
Dia menunduk. Menghindar. Lalu maju ke jangkauan dekat.
Dan dia melakukan hal yang nggak ada yang duga.
Dia menggigit telinga Big Joe. Keras. Sampai robek.
"AAARRRGHHH!"
Big Joe berteriak histeris. Darah muncrat dari telinganya.
Bayu meludah potongan telinga itu ke lantai. Lalu dia tinjunya meluncur. Keras. Tepat ke tenggorokan Big Joe.
Big Joe tersedak. Napasnya tersumbat.
Bayu nggak kasih waktu. Dia tendang lutut Big Joe dari samping.
KRAK!
Lutut patah. Big Joe jatuh berlutut.
Lalu Bayu ayunkan siku ke pelipis Big Joe. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
BRAK! BRAK! BRAK!
Big Joe ambruk. Wajahnya ke lantai. Nggak bergerak.
Pingsan.
Hening.
Semua orang di arena itu terdiam. Mulut terbuka. Nggak percaya.
Tiga puluh detik.
Bayu ngalahin Big Joe dalam tiga puluh detik.
Lalu... teriakan meledak.
"GILA!"
"SIAPA ITU BOCAH?!"
"GUE MENANG TARUHAN!"
Bayu berdiri di tengah ring. Napasnya ngos-ngosan. Tubuhnya gemetar. Tapi dia masih berdiri.
Pria gemuk itu naik ke ring. Menatap Bayu dengan mata berbinar. Lalu tersenyum lebar.
"Anak muda..." dia menepuk bahu Bayu keras. "Mau kerja sama gue?"
Bayu menatapnya. Lalu tersenyum tipis.
"Tergantung tawarannya."