Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Tiga Jejak
Tiga Jejak
“Pak, ada percobaan akses ke server pusat tiga hari lalu.”
Arka tidak langsung bereaksi.
Ia tetap menatap layar rapat di depannya.
“Internal?”
“Tidak, Pak. Eksternal. Tapi…”
Kepala divisi IT terlihat ragu.
“…ini aneh.”
Baru sekarang Arka menoleh.
“Aneh bagaimana?”
“Metodenya bersih. Mereka tidak menyerang. Mereka menguji.”
Ruangan rapat hening.
“IP berbeda?” tanya Arka.
“Tiga.”
Jantungnya berdetak lebih berat.
“Tiga titik berbeda, tapi pola berpikirnya terhubung. Seperti… satu tim.”
Arka berdiri perlahan.
“Data apa yang mereka incar?”
“Struktur kepemilikan. Direktori dewan. Riwayat perubahan akta perusahaan.”
Bukan uang.
Bukan akses rekening.
Bukan sabotase.
Identitas.
Arka berjalan mendekati layar.
“Tingkat keberhasilan?”
“Firewall lapis tiga sempat ditembus. Mereka berhenti sebelum menyentuh data privat.”
Berhenti.
Bukan gagal.
Berhenti.
Arka menyipitkan mata.
“Umur estimasi pelaku?” tanyanya.
Tim IT saling pandang.
“Kalau melihat pola coding dan gaya eksplorasi… ini terdengar gila, Pak.”
“Katakan.”
“…seperti anak-anak.”
Sunyi.
Ruangan terasa lebih dingin.
Arka tidak tertawa.
Tidak marah.
Ia hanya terdiam.
Tiga IP.
Tiga pola.
Datang dalam tiga hari berbeda.
Dan lima tahun lalu—
Aruna melahirkan.
Dokter yang dulu ia suap untuk mencari catatan bersalin hanya memberi satu kalimat:
Kehamilan risiko tinggi. Lebih dari satu janin.
Lebih dari satu.
Arka merasakan sesuatu merambat di dadanya.
“Lokasi IP?” suaranya tenang.
Tim IT memperbesar peta digital.
Titik itu muncul.
Tidak jauh.
Sangat tidak jauh.
Arka mengenali area itu.
Jalan kecil.
Dekat café.
Kembarasa Bakery.
Tangannya mengepal perlahan.
“Jangan blokir IP itu.”
Semua menoleh.
“Pak?”
“Biarkan satu celah terbuka. Lapis keempat. Yang tidak terlihat seperti celah.”
“Untuk…?”
Arka menatap layar itu lama sekali.
“Untuk melihat apakah mereka kembali.”
---
Sore itu, seperti biasa, mobil hitam terparkir di ujung jalan.
Tapi hari ini berbeda.
Arka tidak hanya melihat.
Ia menunggu.
Di dalam café, tiga anak itu sedang duduk di meja pojok.
Arven membaca buku tebal.
Arsha menggambar sesuatu yang terlihat seperti skema jaringan.
Dan satu lagi…
Anak laki-laki paling pendiam duduk dengan tablet kecil di tangannya.
Arkana.
Ia menatap layar… lalu berhenti.
Keningnya berkerut.
Firewall baru.
Celah kecil.
Disengaja.
Arkana mengangkat wajahnya.
Menoleh ke arah jendela.
Ke arah mobil hitam itu.
Tatapan mereka bertemu.
Arka tidak mengalihkan pandangan kali ini.
Dan Arkana tidak menunduk.
Beberapa detik.
Diam.
Analitis.
Seolah dua pikiran sedang membaca satu sama lain.
Arkana menutup tabletnya pelan.
“Ven.”
Arven menoleh.
“Ada pintu yang dibuka.”
Arsha langsung mendekat.
“Masuk?”
Arkana menggeleng pelan.
“Dia nunggu.”
Kalimat itu membuat Arven ikut menoleh ke jendela.
Mobil hitam itu.
Pria di dalamnya.
Tenang. Mengamati.
Bukan predator.
Bukan orang asing.
Seseorang yang… menunggu keputusan.
Arsha berbisik pelan,
“Dia tahu.”
Arven menatap kedua saudaranya.
“Kita nggak masuk hari ini.”
Arkana berdiri.
Dan untuk pertama kalinya—
Tiga anak itu berjalan keluar café.
Aruna sedang di dapur. Tidak melihat.
Langkah kecil mereka berhenti beberapa meter dari mobil.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Arka keluar.
Perlahan.
Tanpa jas. Tanpa formalitas.
Hanya seorang pria berdiri di hadapan tiga anak yang mungkin adalah dunianya.
Jarak di antara mereka tidak sampai lima meter.
Tak ada yang bicara dulu.
Angin sore berembus pelan.
Arsha yang pertama memecah diam.
“Om suka parkir di sini.”
Arka tersenyum tipis.
“Iya.”
Arven menatapnya lurus.
“Om tahu siapa kami?”
Pertanyaan itu seperti peluru tanpa suara.
Arka tidak langsung menjawab.
Tatapannya bergeser satu per satu.
Tiga wajah.
Tiga pasang mata.
Dan ia melihat dirinya sendiri… dalam versi kecil.
“Aku sedang mencoba mencari tahu,” jawabnya akhirnya.
Arkana yang paling tenang bertanya pelan—
“Kalau ternyata tahu… Om akan pergi lagi?”
Itu bukan pertanyaan anak kecil.
Itu ujian.
Arka merasakan dadanya sesak.
“Tidak,” katanya pelan. “Kali ini tidak.”
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun—
Jarak itu mulai retak.
Tapi dari kejauhan—
Aruna berdiri di pintu café.
Dan wajahnya pucat.
---