Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungi Faisal
Karina memeluk surat itu erat-erat, di dalam kotak cendana tersebut, selain dokumen legalitas perusahaan, terdapat sebuah kotak beludru biru kecil yang isinya adalah sebuah cincin berlian, cincin yang seharusnya diberikan Faisal padanya di hari pertunangan mereka yang batal dua puluh tahun silam.
Ternyata selama dua puluh tahun Karina mengabdi pada pria yang salah, padahal ada pria lain yang dengan setia menjaga warisan Ayahnya dan menantinya di ambang pintu kehidupan.
Penyesalan itu datang menghujam seperti ribuan anak panah yang dilepaskan secara bersamaan, Karina menatap cincin berlian di dalam kotak beludru biru itu, kilauannya masih murni, tidak pudar oleh waktu, sangat kontras dengan hidupnya yang selama dua puluh tahun ini terasa kusam dan penuh kepalsuan.
"Bodoh... betapa bodohnya aku," isak Karina dan suaranya parau memenuhi ruang kerja yang sunyi.
Tujuh ribu tiga ratus hari Faisal berdiri di bayang-bayang, memastikan Grup Wijaya tidak runtuh demi masa depan Karina, sementara Karina sendiri justru sibuk memeras keringat untuk membangun kerajaan bagi pria yang akhirnya mengkhianatinya.
"Dua puluh tahun aku mengabdikan diri pada monster, padahal ada malaikat yang menjagaku dari jauh," gumamnya dengan tangan menutupi wajah.
Pikiran Karina melayang pada kenangan pahit saat ia mengurus pembukuan Agus yang berantakan, ia teringat saat ia harus menahan lapar agar Agus bisa makan enak bersama kliennya. Karina teringat saat ia harus tersenyum melayani mertuanya yang cerewet, sementara Faisal, di sisi lain kota ini, mungkin sedang menatap langit yang sama dan memikirkan apakah Karina sudah makan dengan baik atau apakah Karina bahagia.
Penyesalan itu kian menyesakkan saat ia menyadari bahwa Faisal adalah orang yang membantu Ayahnya saat kecelakaan, Faisal yang menopang pundak Baskoro Wijaya saat putri tunggalnya lebih memilih mengurus bengkel material milik Agus daripada menjenguk Ayahnya sendiri yang tengah kritis.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya, Faisal? Kenapa kamu membiarkanku merasa begitu kesepian selama ini?" Karina berteriak lirih ditengah kehampaan.
Namun, jauh di lubuk hatinya, Karina tahu jawabannya. Faisal tidak ingin Karina kembali karena merasa berhutang budi, Faisal ingin Karina kembali karena Karina sadar akan harga dirinya sendiri.
Karina mengambil cincin itu, merasakan logam dinginnya menyentuh kulitnya. Karina merasa tidak pantas, bagaimana mungkin ia bisa menerima cinta setulus itu setelah ia membuang dua puluh tahun masa mudanya untuk pria seperti Agus? Karina merasa dirinya sudah rusak, sudah ternoda oleh pengkhianatan dan kegetiran hidup.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja diketuk pelan. Yessi masuk dengan wajah cemas dan membawa secangkir teh hangat.
"Nona? Anda tidak apa-apa?" tanya Yessi lembut, ia melihat surat-surat yang berserakan dan mata Karina yang bengkak.
Karina segera menghapus air matanya dan mencoba menegakkan punggungnya kembali meskipun jiwanya terasa remuk, "Yessi... apakah menurutmu seseorang bisa memaafkan waktu yang terbuang?" tanya Karina.
Yessi terdiam sejenak dan menatap kotak beludru biru di tangan Karina, sebagai orang yang lama di Grup Wijaya, Yessi tahu persis siapa pemilik cincin itu sebenarnya.
"Waktu tidak bisa diputar kembali, Nona. Tapi, masa depan bisa diperbaiki, Tuan Faisal tidak pernah menghitung waktu yang hilang. Baginya, setiap detik yang ia habiskan untuk menjaga warisan Tuan Baskoro adalah detik yang ia persembahkan untuk anda, penyesalan adalah cara hati memberitahu kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya," jawab Yessi.
Karina menatap Yessi lalu beralih kembali ke surat Ayahnya, paragraf terakhir itu seolah menjadi kompas baru baginya, Ayahnya hanya ingin Karina mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu.
Karina menarik napas dalam dan mengunci kembali brankas itu, namun ia tetap menggenggam kunci perak dan kotak beludru tersebut. Karina menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap, wajah yang selama dua puluh tahun ini ia sembunyikan di balik uap dapur dan tumpukan laporan keuangan Agus, kini tampak bersinar di bawah lampu kristal ruang kerja ayahnya.
Ada garis-garis halus di sudut matanya, jejak-jejak perjuangan dan kesedihan, namun mata itu kini memiliki binar yang berbeda. Bukan lagi binar keputusasaan, melainkan api tekad yang membara.
"Ayah, terima kasih sudah menungguku pulang. Terima kasih telah menjagaku lewat tangan Faisal," gumam Karina.
Karina menggenggam kotak beludru biru itu dengan erat, logam cincin di dalamnya terasa hangat dalam kepalan tangannya. Karina menyadari bahwa membalas dendam pada Agus hanyalah setengah dari perjalanannya, setengah sisanya jauh lebih penting yaitu memulihkan harga diri yang sempat ia injak-injak sendiri demi cinta yang salah.
"Yessi," panggil Karina tanpa menoleh.
"Ya, Nona?" tanya Yessi.
"Mulai besok, aku ingin jadwal pertemuanku dengan para direksi diperketat. Aku ingin mengambil alih seluruh proyek strategis yang sempat terbengkalai dan mengenai Agus...," Karina menjeda kalimatnya dan bibirnya membentuk senyum tipis.
"Pastikan dia melihat namaku di setiap papan iklan digital di pusat kota, aku ingin dia tahu bahwa matahari yang ia pikir telah ia padamkan, kini terbit lebih terang dari sebelumnya," lanjutnya.
"Baik, Nona. Akan saya laksanakan," jawab Yessi.
"Dan satu lagi," ucap Karina dan kali ini ia berbalik menatap asisten setianya itu.
"Hubungi Faisal, katakan padanya aku ingin bertemu besok malam. Bukan sebagai klien, bukan juga sebagai rekan bisnis, katakan padanya... aku ingin mengajaknya makan malam di tempat yang biasa aku datangi dengannya saat dua puluh tahun lalu," lanjutnya.
Yessi tersenyum lebar dan matanya berbinar haru, "Tentu, Nona. Tuan Faisal pasti akan sangat bahagia mendengarnya," ucap Yessi.
Setelah Yessi keluar dan Karina berjalan perlahan menuju kamar kedua putrinya, ia membuka pintu sedikit dan melihat Ella dan Aisha secara bergantian. Di mana mereka sudah tertidur lelap, wajah mereka begitu tenang, begitu mirip dengan Karina saat masih muda dan setelah itu, Karina kembali ke kamarnya untuk istirahat.
'Aku tidak akan membiarkan Ella dan Aisha melihat Ibunya sebagai korban lagi, aku akan menunjukkan pada kalian bagaimana seorang wanita bangkit dari abu kehancuran dan membangun dunianya sendiri. Aku berjanji, mulai detik ini, tidak akan ada lagi air mata kesedihan di rumah ini, yang ada hanyalah kebahagiaan yang akan kita perjuangkan bersama,' batin Karina.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Karina tidur dengan nyenyak. Tidak ada lagi mimpi buruk tentang tagihan yang menunggak atau mertua yang mencaci-maki, iaa bermimpi tentang taman mawar milik Ibunya yang kembali bermekaran dan tentang tangan seorang pria yang menjabat tangannya dengan begitu kokoh, menjaganya dari kejauhan hingga ia siap untuk melangkah kembali.
Karina Wijaya telah kembali dan Jakarta akan segera tahu bahwa Putri Mahkota yang sempat menghilang itu, kini siap bertahta kembali.
.
.
.
Bersambung.....