NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:265.8k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Puncak Gairah di Balik Kaca London

Setelah piring wagyu steak yang dimasak Arlan tandas tak bersisa, kehangatan mulai menjalar kembali ke ujung-ujung jemari Amara. Tenaganya pulih, namun rasa kenyang itu segera digantikan oleh ketegangan lain saat ia menyadari sepasang mata elang Arlan tak pernah lepas memperhatikannya sejak suapan terakhir. Arlan bangkit dari duduknya, tidak memberikan kesempatan bagi Amara untuk membereskan piring.

"Makanannya sudah habis, tenagamu sudah kembali," bisik Arlan dengan suara yang lebih dalam dari sebelumnya. Ia menarik tangan Amara, menuntunnya menjauh dari meja makan menuju ruang tengah yang luas, di mana dinding kaca raksasa memamerkan jutaan lampu London yang berkelap-kelip di bawah guyuran salju yang semakin lebat. "Sekarang, bayar imbalanmu, Amara."

Dengan gerakan yang cepat dan penuh dominasi, Arlan mêlµ¢µ†ï pakaian Amara satu per satu. Coat tebal, daster, hingga helai terakhir kain yang menutupi tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai marmer yang dingin. Amara berdiri †êlåñjåñg bulat, kulitnya yang putih nampak berkilau di bawah temaram lampu penthouse. Arlan kemudian memutar tubuh Amara, mendorongnya lembut hingga dada dan perut þðlð§ Amara menempel pada permukaan kaca jendela yang dingin dan sedikit berembun.

"T-Tuan... ini sangat dingin," rintih Amara, sementara tangannya mencari pegangan pada bingkai jendela baja di sampingnya. Di luar sana, salju turun dengan anggun, namun di dalam sini, api sedang berkobar.

Arlan tidak menjawab. Ia justru mengambil posisi yang tidak pernah Amara bayangkan sebelumnya. Seorang Arlan Aditama, pria yang biasanya begitu angkuh dan memerintah, kini berlutut di atas lantai marmer tepat di belakang Amara. Ia menatap lekat ßðkðñg Amara yang sintal dan putih bersih, yang kini nampak menonjol karena posisi Amara yang menempel pada kaca.

Arlan mulai mendaratkan ¢ïµmåñ-¢ïµmåñ panas di kedua belah ßðkðñg Amara, menghisap kulitnya hingga meninggalkan tanda kemerahan yang kontras. Amara membelalakkan mata, jantungnya berpacu liar. "Tuan... Apa yang Tuan lakukan? Tolong bangun..."

"Diam, Amara. Nikmati saja," geram Arlan. Lidahnya yang hangat mulai menelusuri belahan ßðkðñg Amara, mêñjïlå†ïñɏå dengan rakus seolah Amara adalah hidangan penutup yang paling ia nantikan.

Tak berhenti di situ, Arlan menarik kedua þåhå Amara agar terbuka lebih lebar. Wajahnya kini berada tepat di depan area kêwåñï†ååñ Amara yang sudah mulai basah kembali. Tanpa ragu, Arlan membenamkan wajahnya di sana. Lidahnya yang lihai mulai menyapu klï†ðrï§ Amara, mêñghï§åþñɏå dengan tarikan yang sangat kuat dan menuntut.

"AAAKHH! TUAANNN!" Amara menjerit tertahan, kepalanya terkulai lemas menempel pada kaca jendela. Sensasi lïÐåh Arlan yang kasar namun lembut itu menghancurkan seluruh pertahanan sarafnya. Ia meremas pinggiran jendela dengan kuku-kukunya, kakinya gemetar hebat hingga ia hampir terjatuh jika Arlan tidak mencengkeram pinggulnya dengan kuat.

Arlan semakin lïår. Ia menyusupkan lïÐåhñɏå lebih dalam, mengaduk-aduk bagian dalam Amara yang panas dan lï¢ïñ. Amara merasa seolah-olah seluruh tubuhnya sedang meleleh. Cairan asmaranya merembes deras, membasahi wajah dan dagu Arlan, namun pria itu justru semakin bersemangat mêñghï§åþñɏå.

Puncaknya, Amara merasakan gelombang yang sangat dahsyat menghantam råhïmñɏå. Sensasi itu begitu hebat dan tak terbendung hingga otot-otot kandung kemihnya ikut melemas dalam kontraksi yang gila.

"Nngghhh! T-Tuan... saya... saya tidak kuat! Ahhh!"

Amara memekik panjang saat ia mencapai ðrgå§mê yang paling ßrµ†ål dalam hidupnya. Cairannya muncrat begitu deras, bahkan saking tidak kuatnya menahan kenikmatan dari lïÐåh Arlan, Amara sampai mengeluarkan sedikit urine yang bercampur dengan cairan asmaranya, membasahi lantai marmer dan kaki Arlan. Ia †êrkêñ¢ïñg-kêñ¢ïñg karena syok kenikmatan yang diberikan tuannya.

Arlan mendongak, wajahnya basah kuyup oleh cairan Amara, namun ia justru menyeringai puas. Ia berdiri, memutar tubuh Amara yang sudah lemas tak berdaya agar menghadapnya, lalu menyudutkan gadis itu kembali ke kaca yang kini sudah berembun karena napas mereka yang memburu.

"Lihat betapa berantakannya kau, Amara," bisik Arlan sambil membuka celananya sendiri, memamerkan kêjåñ†åññɏå yang sudah berdenyut-denyut menuntut masuk. "Ini baru pemanasan. Aku akan membuatmu memohon lebih dari ini di depan seluruh kota London."

***

Amara masih dalam kondisi mati rasa, tubuhnya bergetar hebat setelah þêlêþå§åñ yang begitu memalukan sekaligus nikmat di bawah lïÐåh Arlan. Namun, Arlan tidak membiarkan gadis itu jatuh ke lantai. Dengan satu tangan yang kuat, ia merangkul pinggang Amara dan memutarnya kembali hingga punggung Amara menempel pada dadanya, sementara bagian depan tubuh Amara kembali menghadap ke arah dinding kaca yang dingin.

"Lihat ke depan, Amara," bisik Arlan dengan suara bariton yang serak tepat di telinganya. "Lihat pantulanmu di sana."

Amara membuka matanya yang sayu. Di balik kegelapan malam London yang bersalju, kaca jendela itu berfungsi seperti cermin temaram. Ia melihat pantulan dirinya sendiri: seorang gadis polos yang kini †êlåñjåñg bulat, rambutnya berantakan, bibirnya bengkak, dan tubuhnya yang memerah karena gåïråh. Di belakangnya, berdiri Arlan Aditama—sang þrêÐå†ðr yang tampak begitu gagah dan mengerikan dengan kêjåñ†åñåñ yang sudah menegang maksimal.

Arlan mencengkeram bahu Amara, menekannya agar dada Amara kembali menempel pada kaca, sementara ia sedikit menekuk lututnya untuk mencari posisi. Tanpa aba-aba, Arlan mêñghµjåmkåñ miliknya yang besar ke dalam lïåñg Amara yang masih berdenyut kencang dalam sekali hentakan dalam.

Jlêß!

"AAAKHHH!" Amara memekik, matanya membelalak lebar menatap pantulannya sendiri di kaca. Ia melihat bagaimana tubuhnya †êr§êñ†åk ke depan saat Arlan mengisi dirinya hingga ke dasar.

"Buka matamu, Amara! Lihat betapa lïårñɏå dirimu sekarang," geram Arlan sambil mulai mêmðmþå dengan ritme yang cepat dan kasar.

Setiap kali Arlan mêñghµjåm, Amara bisa melihat di pantulan kaca itu bagaimana þåɏµÐåråñɏå yang besar bergoyang hebat mengikuti irama gêmþµråñ Arlan. Ia melihat ekspresi wajahnya yang mê̂ñ̃jµlï̈ñ̃g nikmat, mulutnya yang menganga mencari udara, dan air mata yang mengalir di pipinya. Ia tampak seperti wanita yang benar-benar kehilangan akal sehatnya.

"T-Tuan... ahh... hhh... pelan... ahh!"

"Jangan memohon pelan saat tubuhmu terus mêñjêþï†kµ seperti ini!" Arlan semakin menggila. Ia memegang kedua tangan Amara dan menempelkannya ke kaca di atas kepala gadis itu, membuat tubuh Amara terekspos sepenuhnya.

Suara benturan kulit mereka—þlåk, þlåk, þlåk—bergema di ruang tamu yang mewah itu, beradu dengan suara derit napas Amara yang semakin memburu. Di luar sana, salju turun dengan tenang, namun di balik kaca ini, Arlan sedang menghancurkan sisa-sisa martabat Amara dengan kekuatan penuh.

Setiap kali Arlan mendorong masuk, uap panas dari napas Amara menciptakan embun di kaca tepat di depan wajahnya. Amara terpaksa menyaksikan sendiri bagaimana Arlan "mêñggågåhïñɏå" habis-habisan dari belakang, melihat bagaimana sang Tuan Besar memperlakukannya seperti pelayan þêmµå§ ñ壧µ yang paling ia puja.

"Lihat dirimu, Amara... Kau sangat menyukainya, bukan? Menjadi jålåñgkµ di depan kota ini?" Arlan berbisik sambil menggigit bahu Amara, memberikan dorongan terakhir yang begitu kuat hingga Amara merasa dunianya seolah meledak menjadi jutaan kepingan cahaya putih salju.

Amara menjerit panjang, tubuhnya mengejang hebat di pelukan Arlan saat puncak kenikmatan kembali menghantamnya. Di pantulan kaca itu, ia melihat dirinya sendiri menyerah total, hancur berkeping-keping di tangan pria yang kini mengisi råhïmñɏå dengan ¢åïråñ hangat yang berdenyut.

1
kori fvnky
Luar biasa
kori fvnky
Biasa
ida wati
ibu sama adik2nya amara kemana thor, kok amara sakit ga ada sama sekali?
ida wati
idihhhh 🤨
Rahmat
Amara yg mau lahiran aku yg gemetaran
Linda Ayu Tong-Tong
waaah adeknya kenzo mau lounching niih
ida wati
ada ya seorang ibu modelan begini?
ida wati
pake nanya 😏
Fitria Syafei
kk cantik kereen 😍😍 terimakasih 🥰
ida wati
GILAAAA 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak aing 🤣🤣🤣
ida wati
wah beneran sakit jiwa si arlan 🤦🏻‍♀️
ida wati
sakit jiwa si arlan 😄😄😄
ida wati
sedih /Smug/
ida wati
ya ampun pelecehan banget ini /Sob/
Inara Cantik
mantul
ida wati
mananya yg mendesak? 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
ya ampun tega banget sama anaknya 😏
Linda Ayu Tong-Tong
kak author..novel arya kok lom update di sebelah..kami semua nunggu lilidut lho😁😁
Mineaa
Luaaarrrrrr biassaaaa..... kereeeeennn.....
ida wati
parahhh parahhh pak duda 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!