(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman atau pelukan.
Langkah sepatu menggema dilantai marmer itu, seorang pria tampan berjas dokter masuk dengan wajah dingin, ia masuk kedalam kamar Marco.
Dokter tampan itu meletakkan tas dokter nya lalu mulai memeriksa Rania, ia mengerutkan keningnya sebentar lalu menatap Marco.
"Istrimu keracunan" ujar dingin dan langsung tanpa basa-basi.
Marco mengeraskan rahangnya matanya merah dan urat dileher terlihat jelas lalu...
PRANK!
"Kumpulkan semua maid yang bertugas dalam makanan istriku!" Bentak nya marah pada Marry.
Marry mengangguk pelan lalu segera keluar dari kamar Marco.
Vano dan Cantika berada disamping Rania, Cantik memeluk Rania erat Rania yang tak sadarkan diri. Vano mengusap dahi Rania pelan, mata nya tajam dan tidak seperti tatapan anak seusianya.
"Daddy...." panggil Vano pelan. Marco menatap Vano.
Vano turun dari ranjang dan menghampiri Marco.
"Aku ingin melindungi Bunda dan Adik-adik ku, aku ingin jadi Kakak yang kuat dan berguna untuk mereka dan menjadi orang yang bisa Daddy percaya dan banggakan" ujar Vano serius dan penuh tekad.
Marco terdiam menatap lama putranya senyum tipis terbit di bibirnya bukan senyum tipis manis tapi senyum yang berbahaya. Marco memegangi kedua pundak Vano lalu menepuk nya bangga.
"Bagus, kalau begitu bersiaplah Son" ujar nya bangga dan Vano mengangguk.
Vano menggendong Cantika dan membawa nya keluar meninggalkan Marco, Jerry dan Dokter tampan itu.
"Putra mu luar biasa" ujar Dokter tampan itu menatap punggung Vano yang menjauh.
Marco menatap tajam Dokter tampan itu.
"Bagaimana janin nya? " tanya Marco dingin.
Dokter tampan itu menatap Rania lalu menatap Marco serius.
"Kali ini nyawa nya terselamatkan, tapi jika lain terjadi lagi aku tidak menjamin bahwa anak dalam perut istrimu bisa lahir" jawab nya terus terang.
Dia Xavier William kakak Jerry William, meskipun keluarga Smith dan Moretti tidak akur namun Marco dan dua bersaudara itu tidak ikut dalam permusuhan kedua keluarga.
Waktu seakan melambat di dalam kamar itu. Aroma obat dan cairan antiseptik bercampur dengan hawa dingin yang membeku di antara tiga lelaki dewasa dengan beban masing-masing.
Marco memejamkan mata sesaat, menahan gejolak yang hampir meledak. Rahangnya mengeras. Urat di pelipisnya berdenyut jelas.
“Siapa pun yang berani menyentuh istriku…” gumamnya rendah, lebih seperti ancaman daripada kalimat biasa. “Akan menyesal pernah dilahirkan.”
Xavier dokter tampan yang dikenal dengan ketenangannya menyilangkan tangan di depan dada. Tatapannya tetap profesional, meski ia tahu badai apa yang sedang ditahan pria di hadapannya.
Xavier menghela napas pelan. “Marco, emosi tidak akan menyelesaikan ini. Racunnya bukan jenis sembarangan. Ini diracik dengan dosis yang diperhitungkan. Pelakunya tahu apa yang dia lakukan.”
Marco melangkah mendekati ranjang. Tangannya yang besar menggenggam jemari Rania yang pucat. Lembut… kontras dengan aura membunuh yang mengelilinginya.
-----
Para maid berbaris di ruang tamu, Marry berdiri disamping Jerry. Marco keluar kamar dan duduk di sofa single.
"Siapa yang memasak makanan Istriku?" tanya Datar.
Tak ada yang menjawab.
Salah satu maid mulai terisak pelan.
“Baik,” ujarnya ringan. “Kalau tidak ada yang mau bicara… maka semuanya akan menerima konsekuensinya.”
“Tu—Tuan… saya hanya mengantar nampan…” salah satu maid jatuh berlutut.
Marco menatapnya tanpa ekspresi.
“Siapa yang memasak?”
Maid itu gemetar hebat. “Dapur utama, Tuan… tapi bumbu terakhir ditambahkan oleh_”
".... Marry" jawab pelayan itu gemetar saat mendapatkan tatapan tajam Marry.
Marry langsung menunduk kebawah, tangan nya mencengkram kuat baju maid nya.
Marco menatap Marry lama dan tatapan itu sulit diartikan.
"Marry kau kah?...." tanya Marco datar namun jika didengar dengan lebih jelas suara pria itu sedikit gemetar.
Marry menunduk semakin dalam lalu mengangkat pandangan nya menatap Marco.
"Iya" jawab nya tegas.
Marco mengepalkan tangannya lalu menatap tajam Marry.
"Bawa dia keruang bawah!" perintah nya tegas.
Dua bodyguard langsung menyeret Marry ke ruang bawah tempat biasanya pengkhianat di eksekusi.
Marco berbalik naik kelantai dua menuju kamar nya, Rania sudah sadar namun masih lemah Xavier baru saja selesai menyuntikkan obat pada Rania setelah selesai Xavier keluar dari kamar Marco.
"Hubby..." panggil Rania pelan.
Marco mendekat dan naik keatas ranjang, ia memeluk Rania erat namun berhati-hati agar tidak menyakiti Rania.
Rania mengusap rambut Marco membiarkan pria itu memeluk dan menyandarkan kepalanya didada Rania.
"Bagaimana perasaan mu? Kau baik-baik saja? Apakah masih sakit?" tanya Marco, suara pria itu serak. Tangan Marco menyentuh perut Rania dan mengusapnya pelan.
"Mulai sekarang aku sendiri yang akan mengurus mu sayang" ujar Marco.
"Ada apa? Siapa pelakunya?" tanya Rania pelan..
Rahang Marco kembali mengeras ia semakin dalam membenamkan wajah nya di dada Rania.
"Marry" jawab Marco pelan.
Rania membulatkan mata nya, ia menutup mulut nya sebentar.
"k-kemana kau membawa nya?" tanya Rania.
"Ruang bawah, besok aku akan menghukum nya sendiri" ujar Marco.
Rania menggerakkan tangan nya mengangkat wajah Marco untuk melihat nya.
"jangan langsung menghukum nya, mungkin saja Marry melakukan nya karna dia merasa putus asa ataupun karna ada alasan lain" ujar Rania mengusap wajah Marco.
"Apapun alasannya, meracuni mu solusi nya, apalagi sampai mencelakai anak kita!" ujar Marco tegas.
Rania sedikit tersentak membuat Marco langsung melembutkan tatapan nya dan mengusap pipi Rania.
"maaf sayang" ujar nya pelan. Rania menggeleng pelan.
"Coba cari tau dulu, lalu tentukan apakah kau akan menghukum nya atau memeluknya" ujar Rania.
Karna Rania tau Marry sangat penting bagi Marco. Marry adalah ibu keduanya yang membesarkan nya dan menjaganya sejak Marco kecil.
Dulu Marry juga pernah cerita bahwa Marco sejak kecil berbeda dengan para sepupu nya, Marco sangat dingin dan tidak suka sentuhan fisik dengan wanita bahkan dengan Anna yang posisinya adalah ibu kandung Marco.
Marco sering kali mengurung diri dan menjauh dari keluarga nya. namun marry dengan sabar merawat nya meski sudah berkali-kali dilukai oleh Marco kecil. Entah itu dilempar dengan barang-barang yang dekat dengan nya ataupun dengan mainan yang dipegangnya nya.
Meski begitu Marry selalu sabar dan merawat Marco dengan caranya sendiri tanpa melakukan sentuhan fisik dengan Marco.