NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Pagi itu, sinar matahari baru saja mengintip dari balik tirai rumah. Awan sudah berdiri di depan cermin ruang tamu, merapikan dasinya dengan gerakan cekatan. Setelan jas mahalnya membalut tubuh tegapnya, memberikan kesan otoritas yang kuat. Saat ia mendengar langkah kaki Jasmine menuruni tangga, ia menoleh sejenak, namun tangannya tetap sibuk merapikan lengan kemeja.

"Gue ada rapat pagi. Lo kalo mau makan udah gue siapin di meja. Jangan lupa minum susu yang udah gue taruh di atas kulkas sama vitamin lo," ucap Awan tanpa menoleh sepenuhnya, suaranya datar namun bernada perintah.

Jasmine berhenti di anak tangga terakhir, ia hanya mengangguk pelan. Wajahnya masih terlihat letih.

"Dan satu lagi. Kalo ada apa-apa, langsung telepon gue. Jangan sok kuat. Gue berangkat dulu," pungkas Awan. Ia menyambar kunci mobil dan tas kerjanya, lalu melangkah keluar tanpa menunggu balasan dari Jasmine. Pintu tertutup dengan suara dentuman yang berat.

Jasmine menghela napas panjang. Ia berjalan menuju dapur, namun baru saja ia ingin menyentuh gelas susunya, tepat lima menit setelah keberangkatan Awan, keheningan rumah itu hancur.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Jasmine! Gue tahu lo di dalem! Buka atau gue dobrak!" suara melengking Celine menggema, penuh dengan kebencian yang sudah di ubun-ubun.

Jasmine membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba tenang dan melangkah menuju pintu. Ia berpikir mungkin jika ia bicara baik-baik, Celine akan mengerti. Namun, begitu pintu terbuka, ia tidak disambut oleh kata-kata, melainkan tatapan tajam yang menghina.

"Dasar janda kecentilan!" umpat Celine.

Tanpa aba-aba, Celine memberikan dorongan kuat pada bahu Jasmine. Jasmine yang sedang dalam kondisi lemah dan tidak siap, kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan jatuh tersungkur di atas lantai marmer yang keras.

"Ah!" Jasmine memekik tertahan. Rasa nyeri luar biasa menjalar dari perut bagian bawahnya.

Jasmine menunduk, dan matanya membelalak ketakutan saat melihat cairan merah mulai merembes di daster tipisnya. Darah. Ia pendarahan.

"Mbak... sakit... tolong..." rintih Jasmine sambil memegangi perutnya yang kaku.

Namun, Celine bukannya panik atau menolong. Ia justru berdiri di ambang pintu, bersedekap, dan tertawa nyaring seolah baru saja memenangkan lotre. "Rasain lo! Emang enak! Itu pelajaran buat lo karena udah berani-berani nyolong perhatian Awan dari gue!"

Di tengah jalan menuju kantor, Awan menepuk dahinya dengan keras. "Brengsek, berkas proyek Sudirman!" umpatnya. Berkas penting yang seharusnya ia bawa tertinggal di atas meja ruang tamu karena ia terlalu fokus memberi instruksi pada Jasmine tadi.

Awan langsung memutar balik mobilnya, melakukan U-turn tajam yang membuat ban mobilnya mencit keras. Ia hanya butuh beberapa menit untuk sampai kembali ke rumah. Namun, saat mobilnya memasuki halaman, pemandangan di pintu depan membuat darahnya mendidih hingga ke puncak kepala.

Ia melihat Celine sedang tertawa puas di depan pintu yang terbuka, sementara di lantai, Jasmine sedang meringis kesakitan dengan noda merah yang mulai melebar di bawah tubuhnya.

Awan melompat keluar dari mobil bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati.

"CELINE BANGSAT!" raung Awan. Suaranya menggelegar, membuat tawa Celine terhenti seketika. "LO APAIN JASMINE?! GUE UDAH BILANG JANGAN SENTUH DIA!!"

Wajah Awan merah padam, matanya berkilat penuh amarah yang menakutkan—sesuatu yang belum pernah Celine lihat selama bertahun-tahun mereka bersama. Celine melangkah mundur, wajahnya memucat. "A-awan? Kamu kok balik lagi? Aku... aku cuma kasih dia pelajaran sedikit—"

"DIEM LO! PERGI DARI SINI SEBELUM GUE BENER-BENER HILANG KENDALI!" bentak Awan.

Awan tidak memedulikan Celine lagi. Ia langsung berlutut di samping Jasmine. Tangannya yang besar gemetar saat menyentuh bahu perempuan itu. Ia melihat wajah Jasmine yang sudah sepucat kertas dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

"Kak... tolong anak aku..." bisik Jasmine dengan suara yang nyaris hilang.

"Lo tahan bentar ya. Gue bawa ke rumah sakit sekarang. Tahan, Jas!" ucap Awan dengan suara yang lebih lembut namun penuh urgensi.

Awan menggendong Jasmine dengan gerakan sigap, membawanya masuk ke dalam mobil. Ia tidak menoleh sedikit pun pada Celine yang berdiri gemetar di halaman. Fokusnya hanya satu: menyelamatkan "warisan" terakhir saudara kembarnya.

Beberapa jam kemudian, di lorong rumah sakit yang dingin, Awan duduk dengan kepala tertunduk dan tangan yang saling bertaut. Kemeja putihnya sudah ternoda bercak darah Jasmine yang mulai mengering.

Dokter akhirnya keluar dan memberikan kabar bahwa Jasmine mengalami pendarahan akibat guncangan fisik dan stres, namun beruntung kandungannya masih bisa diselamatkan. Jasmine hanya harus melakukan bed rest total dan tidak boleh ada tekanan sedikit pun.

Awan masuk ke ruang rawat dengan langkah berat. Ia melihat Jasmine berbaring lemah dengan selang infus di tangannya.

"Kenapa lo nggak telepon gue pas dia datang?" tanya Awan tiba-tiba. Suaranya terdengar ketus, tapi ada nada cemas yang sangat nyata di sana.

Jasmine menoleh pelan. "Aku pikir... aku bisa jelasin ke Mbak Celine..."

"Gue kan udah bilang kalau ada apa-apa ngomong sama gue! Telepon gue! Lo mau bikin gue mati muda?!" bentak Awan, meski kali ini ia membentak sambil mengusap wajahnya yang letih. Ia frustrasi karena hampir saja ia gagal menjaga amanah Hero.

"I-iya maap Kak..." cicit Jasmine pelan, matanya berkaca-kaca.

"Gausah minta maaf! Cukup lakuin yang gue omongin tadi! Jangan sok kuat!" Awan melangkah mendekat ke sisi ranjang.

Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Awan kemudian mengulurkan tangannya yang kaku. Secara perlahan dan penuh keraguan, ia meletakkan telapak tangannya di atas perut Jasmine yang masih tertutup selimut. Ia bisa merasakan kehangatan di sana.

Awan mengelus perut Jasmine dengan gerakan yang sangat lembut, sangat kontras dengan kata-katanya yang kasar tadi.

"Gue udah janji sama Hero buat jaga lo sama anak lo," gumam Awan, suaranya kini merendah, hampir seperti bisikan kepada keponakannya yang belum lahir. "Jangan bikin gue merasa bersalah sama dia. Jangan pernah bikin gue ngerasa gagal lagi."

Jasmine terpaku. Ia menatap tangan Awan yang besar di atas perutnya. Untuk sesaat, ia seolah melihat sosok Hero dalam diri Awan—bukan karena wajahnya yang sama, tapi karena proteksi yang begitu kuat. Namun, ia segera sadar. Awan melakukan ini bukan karena cinta, tapi karena beban janji kepada saudara kembarnya.

Awan menarik tangannya kembali, kembali memasang wajah dinginnya yang kaku. "Mulai besok, gue bakal sewa perawat buat jaga lo di rumah. Dan buat Celine... jangan harap dia bisa masuk ke rumah itu lagi."

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!