Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: WISUDA DAN BOTOL AIR YANG TERSIMPAN
Pagi di Surabaya kali ini tidak terasa menyengat. Langit biru pucat membentang di atas gedung auditorium universitas yang hari ini tampak lebih megah dengan umbul-umbul warna-warni yang berkibar ditiup angin laut. Harum bunga sedap malam dan melati menyeruak di antara kerumunan orang tua yang mengenakan kebaya dan batik terbaik mereka. Di tengah hiruk-pikuk itu, Jonatan berdiri mematung di depan cermin besar di lobi gedung.
Ia nyaris tidak mengenali sosok di depannya. Toga hitam yang berat itu tersampir di bahunya yang kini tampak lebih bidang. Topi wisuda dengan kuncir yang masih berada di sebelah kiri itu terasa asing di kepalanya. Di balik jubah itu, ia mengenakan kemeja putih bersih—hasil tabungannya bekerja lembur di lab selama tiga bulan terakhir. Tidak ada lagi bau timah atau noda oli yang tertinggal di ujung kukunya. Namun, saat ia meraba saku celananya, ia merasakan bentuk botol plastik kecil yang selalu ia bawa. Botol itu kini kosong, namun di dalamnya masih tersisa butiran debu Oetimu yang menempel di dinding plastik.
"Jon! Kamu ganteng sekali, e!"
Suara Sarah membuyarkan lamunannya. Gadis itu tampil anggun dengan kebaya kutubaru berwarna merah marun, wajahnya dirias tipis namun matanya memancarkan kebanggaan yang tak terbendung. Di sampingnya, Gani berdiri dengan setelan jas yang dipastikan harganya bisa membiayai makan Jonatan selama setahun.
"Jangan menangis dulu, Jon. Acaranya bahkan belum dimulai," goda Gani sambil menepuk bahu Jonatan. Gani, yang biasanya sombong dengan kemewahannya, hari ini terlihat tulus. Ia tahu persis betapa berdarah-darahnya perjalanan Jonatan hingga sampai ke titik ini.
"Aku tidak menangis, Gan. Hanya saja... rasanya seperti mimpi yang terlalu panjang," bisik Jonatan.
Prosesi wisuda dimulai dengan dentuman musik Gaudio yang menggema, menggetarkan dada setiap wisudawan. Jonatan duduk di barisan depan, tempat bagi para lulusan terbaik. Di deretan kursi kehormatan, Pak Johan duduk dengan wajah tegak. Mata pria tua itu sesekali melirik ke arah Jonatan, memberikan anggukan kecil yang sarat makna. Pak Johan bukan sekadar dosen baginya; ia adalah jangkar yang menjaga Jonatan agar tidak hanyut saat badai sengketa dan kemiskinan nyaris menenggelamkannya.
Saat nama "Jonatan Oetimu" dipanggil oleh dekan, seisi ruangan mendadak hening sejenak sebelum akhirnya meledak dalam tepuk tangan. Jonatan berjalan menuju panggung dengan langkah yang mantap. Setiap langkahnya di atas karpet merah itu terasa seperti injakan pada tanah merah Oetimu. Ia membayangkan ayahnya, Pak Berto, yang mungkin saat ini sedang duduk di dekat radio tua di balai-balai desa, menunggu kabar kelulusannya. Ia membayangkan ibunya, Bu Maria, yang mungkin sedang mengusap air mata sambil menatap ladang yang kini mulai hijau.
Rektor memindahkan kuncir toganya ke sebelah kanan. Sebuah gerakan sederhana, namun bagi Jonatan, itu adalah simbol runtuhnya rantai ketidakmungkinan yang selama ini mengikat keluarganya.
"Selamat, Jonatan. Teruslah menjadi air bagi tanah yang kering," bisik Rektor saat menjabat tangannya.
Usai upacara, Jonatan tidak segera berpesta bersama teman-temannya. Ia mencari sudut yang sepi di taman kampus, tempat di bawah pohon mahoni di mana dulu ia sering menahan lapar sambil mengerjakan tugas kalkulus. Ia mengeluarkan botol plastik kosong itu dari sakunya.
"Kita sudah sampai, Bapa, Mama," gumamnya pelan. Ia mencium botol itu, lalu menyimpannya kembali.
Tak lama kemudian, Pak Johan menghampirinya. Pria itu melepaskan jubah profesornya, hanya menyisakan kemeja batik yang terlihat bersahaja.
"Jadi, apa rencana sang Insinyur sekarang? Banyak perusahaan manufaktur besar di Jakarta menanyakan kontakmu setelah sidang etik kemarin," tanya Pak Johan, duduk di samping Jonatan tanpa ragu.
Jonatan menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan. "Mereka menawarkan gaji yang besar, Pak. Cukup untuk membuat rumah mewah di Kupang dan membelikan Bapa saya truk baru."
"Lalu?"
Jonatan tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah menemukan tujuannya. "Tapi mereka hanya ingin saya duduk di belakang meja, menghitung efisiensi mesin-mesin mereka agar keuntungan mereka bertambah. Oetimu tidak butuh efisiensi korporasi, Pak. Oetimu butuh kemandirian."
Pak Johan mengangguk perlahan. "Aku sudah menduganya. Kau tidak bisa lagi kembali menjadi sekadar karyawan setelah kau melihat bagaimana air mengubah sebuah desa."
"Saya ingin membangun sesuatu, Pak. Bukan sekadar proyek universitas, tapi sebuah yayasan. Saya menamainya 'Oetimu Mandiri'. Saya ingin desain pompa ini diproduksi secara massal oleh bengkel-bengkel lokal di NTT. Saya ingin anak-anak muda di sana belajar bagaimana merawat mesin mereka sendiri, bukan menunggu teknisi dari Jawa yang tidak akan pernah datang."
Pak Johan merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat. "Ini bukan uang. Ini adalah kontak dari organisasi nirlaba internasional yang fokus pada kedaulatan air. Mereka tertarik dengan risetmu. Mereka tidak akan memberimu gaji buta, tapi mereka akan memberimu modal untuk membangun workshop pertamamu di Oetimu."
Jonatan menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Ini adalah langkah pertama menuju rencana besarnya.
"Tapi ingat, Jonatan," sela Pak Johan. "Jalanmu akan lebih sulit daripada saat kau menjadi mahasiswa. Kau akan berhadapan dengan birokrasi yang lebih kaku, politisi yang ingin mengklaim kerjamu, dan mungkin musuh lama seperti Tuan Markus yang tidak akan pernah suka melihat warga desa menjadi pintar. Kau siap?"
"Saya sudah pernah dipukuli di tengah malam di samping sumur saya sendiri, Pak. Saya rasa, saya sudah cukup siap untuk menghadapi sisanya," jawab Jonatan dengan nada dingin namun penuh keyakinan.
Sore itu, saat matahari Surabaya mulai tenggelam, menciptakan siluet jingga di balik jembatan Suramadu, Jonatan berjalan menuju gerbang kampus untuk terakhir kalinya. Sarah dan Gani sudah menunggunya untuk makan malam perpisahan.
"Setelah ini kau pulang?" tanya Sarah.
"Hanya untuk sebentar. Mengambil doa dari Mama, lalu aku akan mulai berkeliling. Masih banyak desa yang belum punya air, Sarah," jawab Jonatan.
Sarah menatapnya dalam, ada rasa kagum yang bercampur dengan sesuatu yang lebih pribadi. "Aku akan menyusulmu setelah ujian profesiku selesai. Kamu butuh orang hukum di yayasanmu itu, kan? Biar tidak ada lagi Tuan Markus lain yang berani memasang segel kuning seenaknya."
Jonatan tertawa, rasa hangat menyelimuti hatinya. Perjuangan ini memang berat, tapi ia tidak lagi memikulnya sendirian. Gani pun berjanji akan membantu dari sisi koneksi bisnis ayahnya untuk penyediaan material panel surya dengan harga pabrik.
Malam itu, Jonatan mengemasi barang-barangnya di masjid tempatnya menumpang. Ia melipat toganya dengan rapi, namun ia tidak memasukkannya ke dalam koper. Ia memberikannya kepada penjaga masjid, seorang pria tua yang selalu memberinya air minum saat ia pulang larut malam.
"Simpan ini, Pak. Berikan pada anak Bapak nanti. Bilang padanya, baju ini bukan untuk kesombongan, tapi untuk pengingat bahwa tidak ada tanah yang terlalu kering untuk tidak bisa ditanami mimpi."
Dengan tas kain yang kini berisi amplop dari Pak Johan dan botol air Oetimu, Jonatan melangkah menuju stasiun kereta. Ia tidak lagi pulang sebagai anak yang melarikan diri dari kemiskinan. Ia pulang sebagai seorang perancang masa depan.
Perjalanan 21 bab ini baru saja menutup satu pintu, namun di depannya, pintu-pintu menuju desa-desa di pelosok NTT sedang menunggu untuk dibuka. Jonatan menarik napas panjang, bau solar stasiun kereta terasa lebih ramah sekarang.
"Oetimu, aku pulang. Tapi kali ini, aku membawa seluruh dunia bersamaku."
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian