Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama bekerja
Setelah pintu mobil tertutup rapat, Lala segera memajukan tubuhnya sedikit ke arah kursi depan.
"Pak, nanti mampir ke Bank BRI yang di pertigaan ujung sana ya," ucap Lala memberi instruksi agar supir tidak kelewatan.
"Baik, Kak," jawab Pak Supir singkat sambil mulai melajukan kendaraan.
Tak butuh waktu lama, mobil pun menepi tepat di depan kantor bank. Aku bergegas turun sementara yang lain menunggu di mobil. Beruntung, antrean tidak mengular, hanya ada tiga orang di depanku.
Setelah menyelesaikan urusan penarikan tunai, aku segera kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke supermarket. Sebenarnya di dekat tempat kerja ada warung kecil, tapi barang-barangnya kurang lengkap untuk kebutuhan mingguan.
Saat aku sedang asyik memilah barang di rak supermarket, Mbak Puji mendekat.
"Yan, kamu tadi narik berapa?" tanyanya pelan.
"Hanya satu juta Mbak, kenapa?" jawabku sambil menoleh.
Mbak Puji tersenyum malu-malu, wajahnya tampak sedikit sungkan. "Aku pinjam seratus dulu dong, Yan. Aku lupa bawa pakaian dalam, cuy!"
Aku yang sedang memegang botol sabun sontak terkekeh geli. "Hahaha! Maaf ya Mbak, bukan maksud ngeledek. Tapi kok bisa sih hal sepenting itu sampai lupa?"
"Yah, mau gimana lagi, namanya juga pelupa. Seingatku kemarin sudah kumasukkan tas kecil," rengeknya manja. "Ini saja make up-ku ketinggalan juga. Tadi pagi kucari-cari nggak ada, aku lupa mau kasih tahu kamu."
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Sambil tersenyum, aku merogoh dompet dan menyerahkan selembar uang merah ke tangannya. "Ya ampun, Mbak Puji... ini, pakai dulu. Hadeh, ada-ada saja."
"Makasih ya, Yan! Kamu penyelamatku," serunya girang sebelum menghilang di balik rak pakaian.
Tak lama kemudian, Lala datang menghampiriku yang masih di lorong perlengkapan mandi. "Gimana, Yan? Udah selesai belum?"
"Belum Kak, sebentar. Masih ada beberapa barang yang belum aku ambil," jawabku. Merasa tidak enak karena dia sudah menunggu lama, aku melanjutkan, "Kalau Kakak mau pulang duluan nggak apa-apa, tinggalin aja alamatnya. Nanti aku sama Mbak Puji naik taksi online aja."
Lala menggeleng pelan sambil tersenyum tenang. "Enggaklah, aku temenin aja kalian belanja. Oh iya, teman kamu itu siapa namanya? Aku lupa."
"Mbak Puji maksud Kakak?" Lala mengangguk. "Eh, kemana dia? Kok nggak ada?" aku ikut menoleh mencari keberadaannya, namun hasilnya nihil. "Mungkin lagi ke belakang atau ke bagian pakaian, Kak. Nanti juga nyusul, dia tahu kok aku masih di area sabun-sabun ini."
Lala mengangguk mengerti. Baru saja namanya dibicarakan, sosok Mbak Puji muncul dari balik lorong dengan wajah lega.
"Duh, kirain kalian beneran ninggalin aku!" seru Mbak Puji sambil mengatur napas.
Lala terkekeh melihat wajah paniknya. "Mana ada, Puji. Kita kan berangkat bareng, ya pulang bareng."
Setelah semua keperluan mingguan terpenuhi, aku, Lala, dan Mbak Puji melangkah keluar dari supermarket yang ber-AC itu menuju teras depan yang agak terik.
"Semua sudah aman kan? Kalau begitu aku pesan taksi dulu ya," ujar Lala sambil mengutak-atik ponselnya. Aku mengangguk setuju. Tak butuh waktu lama, taksi pesanan Lala tiba di depan kami.
Kami pun mulai menaikkan barang-barang. Karena bawaanku cukup banyak dan ada barang kecil milik Mbak Puji juga, aku memutuskan untuk memangku sebagian belanjaan. "Aku pangku aja deh, Kak. Takut nanti ada yang ketinggalan di bawah jok saat turun," kataku memastikan.
Di dalam taksi, Lala kembali mengingatkan jadwal kami hari ini. "Habis ini kalian dandan rapi, tapi mandi dulu ya. Harus wangi! Setelah itu baru turun ke bawah. Ini kan hari pertama kalian mulai kerja," pesannya dengan nada senior namun ramah.
"Oh ya, salon buka jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Tapi kadang kalau lagi ramai banget, ya kita lembur," tambah Lala lagi.
Mendengar kata lembur, aku pun penasaran dan bertanya, "Apakah lemburan itu juga digaji, Kak?"
Lala mengangguk mantap. "Ya pastilah dibayar! Ya kali kerja lembur nggak dibayar, bisa demo kita nanti," jawabnya sambil terkekeh, membuat suasana di dalam mobil jadi santai.
Kami terus mengobrol ringan sepanjang jalan hingga akhirnya taksi berhenti tepat di depan ruko salon. Kami turun satu per satu sambil menenteng plastik belanjaan yang cukup berat. Kebetulan, di depan ruko sudah ada Mbak Rianti. Beliau memperhatikan kami bertiga yang tampak repot dengan bawaan masing-masing.
"Kalian dari mana? Kok banyak banget belanjanya?" tanya Mbak Rianti sambil menghampiri kami.
Aku hanya bisa nyengir kuda sambil berusaha menyeimbangkan plastik di tangan kiri dan kanan. "Kami habis dari supermarket belanja buat stok satu minggu, Mbak. Biar nggak bolak-balik keluar," jawabku jujur.
Mbak Rianti tersenyum kecil melihat kekompakan kami di hari pertama ini. "Wah, sudah persiapan matang ya. Ya sudah, cepat masuk, taruh barang-barang kalian di mes atas, terus siap-siap. Jangan sampai telat turun ya!"
Kami pun segera bergegas masuk ke dalam ruko, melewati area salon yang sudah mulai terlihat ramai.
Kami segera menaiki tangga menuju mes yang berada di lantai atas. Napas Mbak Puji terdengar agak tersengal karena membawa kantong belanjaan yang berisi
Perlengkapan daruratnya tadi dan keperluan mingguan. Sesampainya di kamar, kami langsung meletakkan belanjaan di sudut ruangan.
"Duh, Yan, kaki aku rasanya mau copot, tapi seneng akhirnya punya bedak sama baju ganti," celetuk Mbak Puji sambil merebahkan diri sejenak di kasur.
"Eits, jangan rebahan dulu Mbak! Tadi Kak lala bilang apa? Mandi lalu adan cantik memakai seragam lalu turun. Ini hari pertama kita kerja lo, jangan sampai Mbak Rianti lihat kita berantakan belum mandi." ujarku mengingatkan sambil mengambil handuk. Ya sebelum kita kekamar lala sempat bilang,
'Cepat mandi lalu dadan terus pakai seragam lalu turun. Ini hari pertama kalian bekerja. Jamgan sampai telat.'
Kami pun bergantian mandi dengan cepat. Setelah segar dan badan terasa sudah wangi, lanjut dadan di kamar.
Mbak puji yang langsung sibuk membuka bungkusan make up barunya dengan semangat. Ia memoles wajahnya dengan teliti seolah tak mau terlalu menor, ia ingin dadan yang natural saja.
"Gimana, Yan? Udah cantik belum? Nggak pucat lagi kan?" tanya Mbak Puji sambil memamerkan senyumnya setelah memakai lipstik.
"Nah, gitu dong! Kalau segar begini kan tamu salon juga senang lihatnya," jawabku sambil merapikan seragam kerjaku.
Tepat pukul sepuluh kurang sedikit, kami turun ke lantai bawah. Suasana salon sudah mulai hidup.
Lampu-lampu kristal kecil di langit-langit sudah menyala, dan aroma aromaterapi menenangkan tercium di setiap sudut.
Kak Lala terlihat sudah berdiri di dekat meja kasir, sementara Mbak Rianti sedang mengecek daftar reservasi.
"Wah, ini dia dua personel baru kita. Segar-segar ya," puji Mbak Rianti saat melihat kami turun.
Lala mendekat dan berbisik pelan padaku sambil melirik Mbak Puji, "Untung tadi beli make up ya, kalau nggak, mungkin Puji sudah kayak hantu saking pucatnya." Aku hanya bisa menahan tawa mendengar bisikan itu.
"Oke semuanya, kumpul sebentar," instruksi Mbak Rianti. "Hari ini ada beberapa pelanggan yang sudah booking untuk facial dan hair do. Yani dan Puji, kalian perhatikan dulu cara kerja senior kalian di jam pertama ini, setelah itu baru saya lepas pelan-pelan. Paham?"
"Paham, Mbak!" jawab kami serempak.
Hari pertama kerja di salon pun dimulai. Rasa gugup dan lelah belanja tadi pagi mendadak hilang, berganti dengan semangat melihat pintu depan salon yang mulai terbuka saat pelanggan pertama datang.
Bersambung...