Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Sumpah Sang Komandan
Bau hangus yang menyengat hidung memaksa Zoya membuka mata.
Tidak ada sinar matahari yang masuk karena semua jendela sudah dipaku mati dengan papan kayu oleh Kalandra. Tapi asap tipis berwarna kelabu jelas terlihat melayang di udara kamar, menyelinap masuk dari celah bawah pintu.
"Kebakaran?" batin Zoya panik.
Zoya langsung melompat dari kasur, menyambar pisaunya yang ada di nakas, lalu berlari keluar kamar dengan jantung berdegup kencang.
"Mas Kalandra!" teriak Zoya saat membuka pintu.
Pemandangan di dapur membuatnya mengerem mendadak.
Bukan Hanggara. Bukan bom molotov.
Kalandra, Sang Komandan Reskrim yang ditakuti penjahat satu kota, sedang berdiri di depan kompor dengan memakai celemek merah muda bermotif bunga-bunga—celemek hadiah dari deterjen yang tidak pernah Zoya pakai. Tangan kanannya memegang spatula kayu, sementara tangan kirinya sibuk mengibas-ngibaskan asap dari wajan teflon yang mengepul hitam.
"Sialan, kenapa gosongnya cepet banget sih? Padahal di YouTube bilangnya api sedang," gerutu Kalandra pada wajan itu.
Zoya menurunkan pisaunya, bahunya merosot lega sekaligus takjub.
"Mas, kamu lagi masak apa eksperimen senjata kimia?" tanya Zoya sambil berjalan mendekat, menginjak lantai marmer yang dingin tanpa alas kaki.
Kalandra menoleh kaget. Wajahnya cemong kena noda hitam entah dari mana.
"Eh, udah bangun?" Kalandra cengengesan, mencoba menutupi wajan dengan badannya yang besar. "Ini... scrambled egg ala chef. Cuma agak... well-done dikit tingkat kematangannya."
Zoya melongok dari balik punggung suaminya. "Itu bukan well-done, Mas. Itu karbon murni. Kamu mau ngeracunin aku biar Hanggara nggak perlu repot-repot?"
"Sembarangan. Ini penuh cinta tahu," Kalandra mematikan kompor, lalu dengan paksa memindahkan gumpalan hitam dan kuning itu ke piring. "Duduk. Aku ambilin roti bakar. Rotinya aman kok, cuma pinggirnya doang yang item dikit."
Zoya duduk di kursi bar dapur. Dia menatap piring di depannya dengan tatapan analitis yang biasa dia pakai untuk memeriksa organ dalam.
"Jangan diteliti gitu. Makan aja. Protein," perintah Kalandra sambil meletakkan segelas susu hangat di depan Zoya. Dia sendiri tidak makan, hanya berdiri di seberang meja sambil menatap istrinya lekat-lekat.
Zoya mengambil garpu. Dia mencoba memotong telur itu. Namun, saat dia mengangkat garpu ke mulutnya, tangan kanannya kembali berulah.
Getaran itu datang lagi.
Tremor halus yang menyebalkan. Garpu di tangannya bergoyang, membuat potongan telur jatuh kembali ke piring. Tring.
Zoya membeku. Rasa malu dan trauma semalam kembali menghantamnya. Dia meletakkan garpu itu pelan-pelan, lalu menyembunyikan tangannya di bawah meja.
"Aku nggak laper," ucap Zoya pelan, memalingkan wajah.
"Zoya."
Kalandra memutari meja bar. Dia tidak marah. Dia tidak memaksa Zoya makan.
Pria itu justru berlutut.
Ya, Kalandra berlutut dengan satu kaki tepat di samping kursi Zoya, membuat posisi kepalanya sejajar dengan tangan Zoya yang bersembunyi di paha.
"Keluarin tangannya," pinta Kalandra lembut.
"Nggak mau. Jelek."
"Zoya, keluarin."
Zoya menyerah. Dia mengeluarkan tangan kanannya yang masih sedikit gemetar. Kalandra langsung menyambar tangan itu, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya yang besar, kasar, dan hangat.
"Dengerin aku," ucap Kalandra, menatap lurus ke manik mata Zoya. Tatapannya intens, serius, tanpa setitik pun candaan.
"Semalam kamu bilang tangan ini tangan pembunuh. Kamu bilang tangan ini nggak berguna buat nyelamatin orang hidup. Kamu salah."
Kalandra mencium punggung tangan Zoya, lalu menempelkannya ke pipinya sendiri yang kasar karena belum cukuran.
"Mulai hari ini, kalau tanganmu gemetar lagi... pakai tanganku."
Zoya tertegun. "Maksud Mas?"
"Aku serius. Kalau kamu harus bedah orang tapi kamu nggak kuat pegang pisau, aku yang bakal pegangin pisaunya buat kamu. Kalau kamu harus hajar orang tapi kamu takut, aku yang bakal tonjok mukanya buat kamu. Kalau kamu mau nyekek Hanggara tapi tanganmu lemas, pinjam tanganku. Aku bakal jadi tanganmu, Zoya."
Kalandra mempererat genggamannya, menyalurkan kekuatan.
"Kamu otak, aku otot. Kamu mikir, aku yang eksekusi. Jadi berhenti merasa sendirian. Tangan ini..." Kalandra mengangkat tangan Zoya lagi. "...tangan ini nggak perlu nanggung beban dunia sendirian lagi. Ada aku."
Air mata Zoya merebak. Bukan karena sedih, tapi karena rasa haru yang menyesakkan dada. Dia menatap suaminya—pria yang dulu dia anggap musuh bebuyutan karena dijodohkan paksa—kini terlihat seperti pahlawan kesiangan dengan celemek bunga-bunga.
"Mas gombal banget sih pagi-pagi," cibir Zoya, berusaha menutupi rasa malunya, meski pipinya sudah merah padam.
"Biarin. Istri sendiri ini," Kalandra nyengir lebar, merasa menang karena berhasil membuat Zoya tersipu. "Jadi gimana? Telurnya dimakan ya? Sayang kalau dibuang, telur organik mahal."
Zoya tersenyum kecil. "Iya, bawel. Suapin tapi. Tanganku masih males gerak."
"Siap, Nyonya Besar!"
Kalandra bangkit dengan semangat, mengambil garpu. Suasana tegang dan suram semalam seolah lenyap digantikan hangatnya matahari pagi—meski jendela mereka tertutup rapat.
Namun, baru saja suapan pertama mendekati mulut Zoya...
Kring! Kring! Kring!
Ponsel Kalandra yang tergeletak di meja berdering nyaring, memecah momen romantis itu seperti kaca dilempar batu.
Kalandra mendengus kesal. "Siapa sih? Ganggu orang pacaran aja."
Dia melirik layar ponselnya. Wajah kesalnya langsung berubah serius.
"Papa?" gumam Kalandra bingung. Ayahnya, Jenderal Purnawirawan Dirgantara, jarang menelepon pagi-pagi buta kecuali ada hal mendesak.
Kalandra meletakkan garpu, lalu menggeser tombol hijau. "Halo, Pa? Tumben telepon pagi—"
"Kalandra!"
Suara bentakan panik dari seberang sana membuat Kalandra spontan berdiri tegak. Zoya ikut tegang melihat perubahan ekspresi suaminya.
"Pa? Kenapa? Papa sakit?" tanya Kalandra cepat.
"Bukan Papa! Ibumu, Kalan! Ibumu!" Suara ayahnya terdengar bergetar, penuh ketakutan yang belum pernah Kalandra dengar seumur hidupnya.
"Mama kenapa?"
"Ibumu diculik barusan! Di depan salon langganannya!" teriak ayahnya histeris. "Sopirnya dipukul sampai pingsan. Ada saksi bilang dia diseret masuk ke mobil van putih. Dan... dan pelaku ninggalin boneka, Kalan! Boneka Barbie yang pakai baju persis kayak ibumu!"
Dunia Kalandra runtuh. Garpu di piring jatuh berdenting.
Zoya langsung paham tanpa perlu mendengar suara di telepon. Dia melihat wajah suaminya memucat.
"Hanggara..." desis Zoya. "Dia nggak main-main soal Ibu."