Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Pimpinan Baru Pabrik
Di pabrik tempat Bastian bekerja, para karyawan sedang sibuk menyambut atasan mereka yang hendak melakukan sidak ke sana.
Ghibah antar karyawan pun dimulai. Bastian hanya diam mendengarkan teman-temannya bergosip ria.
Sebagai karyawan baru, ia tak ingin ikut campur dan tak mau tau. Baginya yang terpenting adalah menerima gaji tepat waktu tanpa potongan.
Bastian sedang menabung untuk mengumpulkan uang karena hendak membeli ponsel.
"Eh, kamu tau gak kalau anak dari pemilik baru pabrik ini tuh katanya masih single." Ucap salah seorang buruh laki-laki.
"Oh ya?" sahut teman yang lain berjenis kela_min sama.
Dominan pekerja di sana adalah laki-laki terutama buruh. Hanya beberapa staf kantor saja yang berjenis kela_min wanita.
"Anak bos baru perempuan apa cowok?"
"Perempuan lah. Dia anak tunggal katanya,"
"Wah, jadi menantu bos enak dong. Udah dapat istri cantik, kaya pula. Haha..."
"Jangan mimpi ketinggian, nanti kau nyung_sep makin blang_sak mukamu!"
"Ya sesekali mimpi cewek cantik kaya gak masalah kan,"
"Di sini yang paling ganteng ya Bastian lah. Cuma sayang dia udah kawin," godanya.
"Ya kalau aku jadi Bastian, istri di rumah tetap yang pertama. Anak bos jadi istri kedua. Hehe..."
"Poligami nih yee..."
"Ya gak masalah kan demi merubah nasib isi dompet. Masa jadi buruh seumur hidup dengan gaji pas-pas an begini. Apalagi akhir-akhir ini ekonomi lagi lesu, banyak PHK pula."
"Woi, Bas. Diem aja Lu! Bicara dong!" tegur salah satu rekan Bastian seraya menyenggol lengan suami dari Seruni tersebut.
"Bicara apa?" tanya Bastian.
"Ya, kamu mau gak poligami?"
"Punya satu istri saja gak ada habisnya, ngapain nambah bini!" tegas Bastian menjawabnya.
"Tampangmu itu ganteng dan keren, Bas. Cuma sayang isi dompet kau setipis tisu. Hehe..."
"Mending kau deketin tuh anak bos pemilik baru pabrik ini yang masih single. Pasti dijamin hidupmu akan berubah kawan," ucapnya seraya menepuk pundak Bastian.
Ia hanya mampu geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil atas saran dari temannya itu yang menurutnya ko_nyol.
☘️☘️
Pabrik tempat Bastian bekerja baru saja terjadi akuisisi. Alhasil saat ini yang terjadi baik manajemen hingga pemilik baru terutama pemegang saham pastinya berganti.
"Bersiap, Bu Direktur dari pusat datang!" teriak kepala pabrik.
Tap...tap...tap...
Tak berselang lama, derap langkah sol sepatu bergema memenuhi area pintu masuk pabrik.
"Selamat datang, Bu Direktur!" teriak seluruh karyawan pabrik.
"Terima kasih atas penyambutan kalian yang luar biasa,"
Deg...
Bastian yang sejak tadi menundukkan kepalanya seketika mendongak saat telinganya mendengar suara wanita yang begitu familiar baginya.
"Maura," gumam Bastian lirih seraya pupil matanya melebar terkejut menatap paras cantik yang dulu pernah singgah di hatinya. Mantan kekasih.
Saat ini Bastian berada pada baris kedua dari depan.
Ya, Maura Hadinata baru saja menjabat sebagai direktur utama pabrik di mana Bastian bekerja. Orang tua Maura beberapa waktu yang lalu baru saja berhasil mengakuisisinya dari perusahaan lain.
Sebenarnya pabrik yang tak jauh dari Tapal Batas tersebut hanyalah cabang. Pabrik utama berada di Bulungan, Kalimantan Utara. Kantor pusat berada di Jakarta.
Bastian sama sekali tak menyangka jika Maura kini menjadi pimpinan di pabrik tempatnya mencari bekerja.
Langkah kaki Maura perlahan berjalan sembari melihat dengan seksama seluruh karyawan pabrik di sana. Ketika kedua pasang mata mereka saling bertemu pandang, sontak membuat langkah Maura terhenti.
Maura mengerjapkan kedua matanya beberapa kali sembari menatap Bastian yang juga melihat ke arahnya.
"Bastian," batin Maura ikut terkejut.
Maura sama sekali tak menyangka jika ia akan dipertemukan dengan mantan kekasihnya di pabrik terpencil ini.
"Bu Maura," sapa sekretarisnya yang bernama Linda. "Ada apa, Bu?" tanyanya cukup heran melihat Maura berhenti melangkah dan menatap salah satu buruh pabrik di sana yang berparas tampan.
Sebagai sekretaris, Linda tak tau perihal asmara masa lalu yang terjadi antara Maura dengan Bastian. Ia baru menjabat setahun belakangan sebagai sekretari Maura.
"Bu Maura, para karyawan yang lain sedang melihat ke arah Anda." Bisik Linda.
Seketika lamunan Maura pun buyar. Ia berusaha mengusir kecanggungan yang ada dan tak ingin membuat curiga karyawan lainnya atas reaksi dirinya yang menatap intens ke arah Bastian.
Maura dan Linda akhirnya kembali melanjutkan langkah ke sebuah ruangan pimpinan.
Duduk di kursi kebesarannya, Maura sejak tadi terus memikirkan keberadaan Bastian di pabriknya. Alhasil Maura tak fokus dengan laporan sekretaris dan kepala pabrik cabang.
"Bagaimana bisa ada Bastian di sini? Apa dia kerja di pabrik ini?" batin Maura.
"Bu," panggil Linda.
Namun Maura masih tak merespon panggilan sekretarisnya. Linda dan kepala pabrik saling menoleh satu sama lain. Mereka pun bingung melihat sikap Maura yang tampak aneh dan terus melamun seakan memikirkan sesuatu.
"Bu Maura," panggil Linda sekali lagi dengan nada suara lebih keras dari sebelumnya.
"Ah, maaf. Bagaimana kondisi pabrik di sini secara keuangan maupun kondisi peralatan operasional?" sahut Maura berusaha fokus pada tujuan dia datang ke sini yakni untuk sidak pabrik.
"Maaf, Bu. Apa ibu kurang enak badan?" tanya Linda yang cukup heran karena sebelumnya kepala pabrik dan dirinya sudah menjelaskan beberapa saat yang lalu.
Akan tetapi, kini Maura meminta penjelasan atas hal yang sama. Terlihat sekali di mata Linda bahwa bosnya itu sedang tak baik-baik saja. Padahal biasanya Maura yang dikenalnya setahun belakangan tak seperti ini saat bekerja, pikir Linda.
"Oh, tidak. Saya hanya sedang ada pikiran saja. Maaf jadi ganggu profesionalitas kalian saat menyampaikan laporan tadi ke saya," ujar Maura berkilah.
"Tidak apa-apa, Bu. Apa ada lagi yang ingin ibu tanyakan ke kepala pabrik?"
Pandangan Maura pun kini beralih menatap kepala pabrik yang duduk di samping Linda. Kepala pabrik cabang bernama Pak Yanto, berjenis kela_min laki-laki dengan perkiraan usia yakni lima puluh enam tahun.
"Saya minta data karyawan pabrik cabang di sini secara lengkap. Tolong berikan segera. Saya tunggu tak sampai sepuluh menit laporan tersebut sudah ada di mejaku," pinta Maura dengan tegas.
"Ba_ik, Bu." Ucap Pak Yanto sedikit terbata karena terkejut mendengar permintaan Maura barusan. Linda pun tak kalah kaget.
Pak Yanto berpamitan dan segera pergi dari sana untuk melakukan tugas dari Maura tadi. Menyisakan Linda dengan sejuta pertanyaan aneh di benaknya.
"Bu Maura kenapa sih kok jadi aneh? Mau cari apa di data karyawan?" batin Linda.
Bersambung...
🍁🍁🍁