Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesombongan Sekte
Sekte Langit Merah tidak percaya pada rumor.
Mereka percaya pada kekuatan sendiri.
Di mata mereka, zona hitam hanyalah wilayah yang belum disentuh oleh tangan yang cukup kuat. Tekanan yang dirasakan benua dianggap sebagai sisa resonansi atau fenomena langka, tapi itu bukanlah sesuatu yang layak ditakuti berlebihan.
“Menghindari tanpa menyelidiki hanya akan mempermalukan dunia kultivasi,” kata tetua muda sekte itu dengan yakin.
Maka tim elit dikirim.
Mereka tidak membawa bendera, serta tidak membuat pengumuman.
Mereka masuk dengan satu keyakinan sederhana: jika ada sesuatu di dalam, mereka akan memaksanya keluar.
Begitu memasuki lembah, langkah mereka melambat.
Qi di sini tidak menekan, tidak juga mendukung. Ia netral, terlalu netral. Seolah lembah itu tidak peduli siapa yang datang, selama tahu diri.
“Fokus,” perintah pemimpin tim. “Jangan terpecah.”
Tanah di depan mereka tiba-tiba bergetar pelan.
Sesuatu bergerak di bawah permukaan.
Bukan satu.
Yang pertama muncul adalah makhluk panjang bersisik hitam keunguan, tubuhnya melingkar di antara pepohonan dengan keheningan menyesakkan. Mata kuning vertikalnya membuka perlahan.
Ular Penjaga Sisa Sumpah.
Ia tidak mengaum.
Ia tidak mengancam.
Ia hanya mengangkat kepala, cukup tinggi untuk membuat seluruh tim terlihat kecil.
Salah satu murid menelan ludah.
“Ini… iblis kelas apa?”
Pertanyaan itu tidak pernah dijawab.
Serangan datang tanpa aba-aba.
Tubuh ular itu bergerak seperti bayangan cair. Formasi hancur dalam satu tarikan napas. Satu kultivator terangkat, tubuhnya patah sebelum sempat mengerang.
Pemimpin tim mencoba membalas, qi menyala, teknik dilepaskan.
Namun tanah di belakang mereka runtuh.
Dari balik akar pohon tua, sesuatu merangkak keluar perlahan.
Ia memiliki delapan kaki serta bulu hitam kelam. Mata majemuk yang memantulkan ketakutan.
Janda Lembah Berdoa.
Jaring qi menutup udara. Gerakan terhenti, jeritan terpotong. Ini bukan pertempuran.
Ini pengusiran brutal.
Dan saat makhluk terakhir dari Sekte Langit Merah roboh, dua iblis itu berhenti.
Tidak mengejar.
Tidak melampaui batas lembah.
Seolah mereka hanya menjalankan satu aturan sederhana:
yang masuk tanpa izin, keluar sekarang juga atau tidak sama sekali.
Di tengah lembah, jauh dari semua itu.
Ci Lung sedang mengutak-atik bangku kayu.
Ia menekan salah satu kaki bangku, lalu duduk perlahan.
Krak.
Bangku itu miring.
“…yah, yaelahhh,” katanya datar.
Ia berdiri lagi, mengambil potongan kayu kecil, menyelipkannya di bawah kaki bangku.
“Kok hidup gua isinya beginian terus yah.”
Dari kejauhan, aura iblis yang mengamuk perlahan mereda. Ci Lung tidak menoleh sedikitpun seolah tidak peduli. Ia sibuk mengikat ulang tali pancing yang kusut.
Tali itu putus.
Ia menatapnya lama.
“…lu juga ya anjirlah.”
Satu orang dari Sekte Langit Merah berhasil keluar dari lembah.
Satu.
Ia berlari tanpa peduli martabat, darah mengotori jubahnya. Saat mencapai wilayah aman, ia langsung roboh dan hanya mampu mengucapkan satu kalimat sebelum pingsan:
“Jangan masuk kedalam…itu bukan wilayah kosong…”
Laporan itu menyebar cepat.
Zona hitam diperbarui.
STATUS: AKTIF
PENJAGA: MULTIPLE (IBLIS BERNAMA)
REKOMENDASI: JANGAN MENYENTUH ATAU MENDEKATI LEMBAH SEDIKITPUN
Malam mulai muncul.
Ci Lung duduk di bangku kayu yang akhirnya stabil, meski terlihat aneh. Ia memandangi joran pancing yang masih setengah rusak.
“Besok aja dah capek banget gua,” katanya sambil menguap.
Sistem berkedip pelan.
[Poin Pengakuan Dunia +0,05]
[Poin Pengakuan Dunia +0,05]
Ci Lung mengernyit.
“Lah, kenapa nambah lagi?”
“Gua kan cuma benerin bangku bjir.”
Sistem diam.
Karena dunia di luar lembah baru saja belajar satu hal penting:
yang paling berbahaya di tempat itu…bukan iblisnya.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠